The Beloved Roulette #8

Title: The Beloved Roulette #8

Author: Mysti Adelliza

Genre: Drama

Casts: Park Yoochun (DBSK/JYJ), Min Sunghyo (OC), Shim Changmin (DBSK), Kim Jaejoong (DBSK/JYJ), Park Changi (OC), Jung Yunho (DBSK), Kim Junsu (DBSK/JYJ), Park Minrin (OC), Shin Ririn (OC), Min Minmi (OC)

Author’s Note:  Jangan lupa komentarnya 😀

***

Yoochun jelas mendapati atmosfer tidak menyenangkan di taman itu, namun melihat betapa tegangnya semua orang, dia pikir bertanya bukanlah tindakan bijaksana sekarang. Ajakan pulang mungkin akan lebih baik?

Guys,” dia tak sengaja mengeluarkan bahasa yang lebih banyak dipakai ketika dia kecil, “bagaimana kalau… kita pulang?”

Sunghyo memandangnya, mungkin untuk pertama kalinya sejak dia dan Junsu menginjakkan kaki di taman itu. Yoochun bisa melihat Sunghyo senantiasa memandangi Changi sejak tadi, dengan mata terpicing, kedua tangan mengepal dan rahang mengatup. Agaknya sesuatu terjadi pada Changi, mengetahui kalau dia menjadi fokus semua orang di taman itu. Meskipun begitu, Sunghyo kelihatan yang paling menampakkan ekspresi. Apa itu air di matanya? Berpikir demikian, terbit keinginan dalam hati Yoochun untuk memastikannya.

“Ide bagus, Oppa!” Namun suara memekakkan Minmi memecahkan pemikirannya. Minmi sudah berdiri di samping Yoochun, ketika Yoochun menoleh. “Ayo kita pulang!” seru gadis itu.

Yoochun menyeringai. Gadis ini selalu riang berlebihan jika berbicara dengannya dan selalu berinisiatif mendekati lebih dulu. Dia juga demikian terhadap Jaejoong, Yunho dan Changmin. Dan tak hanya itu saja, Yoochun dapat melihat kalau gadis ini kelihatan haus. Haus akan pria. Pernah sekali dia membicarakan pacar Junsu ini dengan Jaejoong. Dan Jaejoong menyetujuinya secara total. “Gadis itu melihat setiap pria di rumah ini dengan tatapan menelanjangi, kau tahu?” Dia ingat Jaejoong berkata demikian. Dan Yoochun tak bisa lebih sepakat lagi.

Kini, bahkan, Minmi menarik tangannya, mengejutkannya.

“Ayo!” ajak Minmi dengan suara melengking yang orang-orang bilang imut.

Yoochun tidak pernah keberatan pada perempuan agresif, sebetulnya. Dia hanya keberatan pada perempuan yang sudah menjalin hubungan dengan sahabatnya. Terlebih yang jelas-jelas mencari perhatian pria lain bahkan di depan pacarnya sendiri. Yoochun melihat Junsu yang kini sedang mengurus neneknya, yang ternyata membawa bawaan banyak yang beliau sembunyikan di balik bangku taman. Sahabatnya itu terlalu tumpul, seperti biasa. Konyolnya lagi, semua perempuan di sekitarnya selalu biasa saja melihat kelakuan si Minmi ini. Apa karena mereka terlalu saling percaya? Yoochun bisa melihat kalau satu persatu dari para perempuan itu mulai bergerak untuk keluar dari taman. Hm, mungkin bukan saling percaya, tapi lebih ke… tidak peduli?

Well, ini hanya aku yang digoda, lagi pula, pikir Yoochun, bukan masalah besar buat mereka. Bukan masalah besar juga baginya. Kendati demikian, dia tidak bisa menahan rasa penasarannya untuk tidak mengecek Sunghyo. Apa dia juga tidak peduli? Yoochun berpikir seperti itu, sambil mencari Sunghyo, yang kini rupanya… sedang memandanginya! Yoochun menahan senyum ketika kemudian Sunghyo membuang muka di detik mereka beradu pandang. Dia peduli, ternyata, pikir Yoochun.

Oppa, jangan bengong terus. Semuanya sudah beranjak dari taman,” ujar Minmi dengan manja, masih menarik tangan Yoochun.

“Ah, ya,” sahut Yoochun. Dia melirik Junsu yang kini sedang memanggul koper si nenek di bahunya. “Kau tidak ingin pulang bersama Junsu?”

“Junsu Oppa bilang aku boleh duluan karena dia mau membantu neneknya membawa barang,” jawab Minmi masih dengan kegembiraan yang di luar batas.

“Kalau begitu, mengapa kau tidak bersama teman-temanmu yang lain?” tanya Yoochun sambil menunjuk para perempuan yang kini sudah cukup jauh itu.

“Hm…” Minmi nampak berpikir, kemudian memunculkan suara cempreng manjanya kembali, “Kenapa ya? Minmi juga bingung kenapa. Minmi sedang tidak ingin saja bersama mereka. Inginnya bersama Oppa.”

Oh, ayolah, paling tidak kau harus pintar kalau ingin menjadi rubah penggoda, gumam Yoochun dalam hati. Sambil mengerutkan wajah, dia melihat Sunghyo yang kini sudah tidak memperhatikannya lagi. Gadis tinggi itu kini melakukan apa yang kini dilakukan oleh Junsu dan Yunho; memanggul barang-barang si nenek.

Yoochun perlahan melepaskan pegangan tangan Minmi di lengannya. Lalu dengan lembut dan penuh senyum, dia berkata, “Maaf, ya, Minmi yang manis, tapi kau duluan saja. Aku ingin membantu Junsu.”

“Oh,” Minmi melongo ketika Yoochun dengan cepat meninggalkannya dan bersegera membantu Junsu dan Yunho.

Ketiga pria itu mengelilingi sang nenek sambil membawa barang-barang beliau, mulai meninggalkan taman.

Melihat itu, Minmi segera melangkahkan kaki, mendekati para pria itu, dengan senyum tiga jarinya. “Kalian bertiga memang lelaki sejati, semangat membantu wanita yang sedang kesusahan,” ujar Minmi sambil memandangi otot lengan Yunho yang kelihatan jelas karena mengangkat wadah makanan besar di bahunya.

Junsu terbahak. “Kalau begitu, Sunghyo juga lelaki sejati?” ledek Junsu sambil menunjuk Sunghyo. Gadis itu ada di depan sang nenek, yang membuatnya sempat tidak kelihatan oleh Minmi, sedang menyeringai dan memeluk kardus besar yang kelihatan berat.

Minmi membeliak. “Oh, Sunghyo masih ada di sini? Kupikir sudah duluan bersama yang lain.”

“Sunghyo menunggu Yoochun,” ujar Junsu.

Sunghyo melotot pada Junsu, menyebabkan pria itu tertawa, menyebabkan Yoochun ikut tertawa. Yoochun berhenti tertawa ketika Sunghyo meliriknya.

“Oh, begitu,” Minmi berucap dengan nada kurang tertarik. Dia kemudian mengalihkan pandangan pada Yunho yang berada di sampingnya. “Kalau Oppa, bagaimana?”

“Bagaimana apanya?” tanya Yunho.

“Minrin tidak menunggu Oppa?” Minmi menampilkan nada manja yang sama seperti yang tadi dia lancarkan pada Yoochun, membuat Yoochun menggeleng-gelengkan kepala.

Yunho tertawa kering, memandangi punggung para gadis yang sudah lumayan jauh di depan. “Yah, sepertinya dia sedang tidak ingin melakukan itu,” ujar Yunho dengan kepala tertunduk.

“Tidak perlu sedih, Nak,” sang nenek tiba-tiba berujar, setelah cukup lama diam sejak Junsu muncul. “Kau tidak kehilangan sesuatu yang berharga.”

“Hah?” Yunho mendongak dan melongo. “Maksud Nyonya?”

“Kau akan mengerti sendiri nantinya,” sahut nenek itu.

“Mungkin maksudnya Oppa tidak akan apa-apa ditinggal Minrin?” tebak Minmi.

“Benar sekali,” sahut sang nenek.

“Tuh kan benar, makanya Oppa jangan sedih, ya?” Minmi berkata sambil mengaitkan lengannya pada lengan Yunho yang bebas. Minmi melakukannya dengan natural, seolah itu adalah hal yang biasa dilakukan. “Minrin memang jalan duluan dan meninggalkan Oppa sendirian sekarang, kan ada Minmi di sini. Minmi bakal membuat Oppa ceria lagi.”

Sang nenek yang tadinya tidak terlalu mengacuhkan kini jadi mencermati Minmi. Beliau kemudian bergerak mendekati cucunya ketika Minmi dan Yunho sudah berjalan menjauh di depannya. “Perempuan itu sebenarnya siapa?” tanya sang nenek.

“Dia pacarku, Nek,” jawab Junsu. “Imut kan? Sudah begitu, dia baik sekali pada semua orang. Nenek dengar tadi saat dia menghibur Yunho? Dia selalu mendahulukan orang lain lebih daripada dirinya. Dia kini pasti sedang menasihati Yunho.”

“Pacarmu?” Sang nenek bertanya keras, mengagetkan Junsu. “Kukira dia pacar anak ini,” ujar si nenek sambil merujuk Yoochun dengan matanya, “kulihat tadi dia bercentil-ria dengan anak ini. Kuabaikan saja karena kupikir mereka memang sedang pacaran. Tapi ternyata–”

“Sebentar, Nek. Anda salah paham. Saya tidak bercentil-ria dengan Minmi tadi,” Yoochun membela diri.

“Lantas apa namanya kalau bukan? Dia menggandengmu dan bermanja-manja denganmu,” serbu sang nenek. “Sekarang bahkan dia melakukannya pada anak lelaki yang satu itu,” kata si nenek seraya membeliak pada Yunho. “Astaga. Banyak sekali perempuan menakutkan di sekelilingmu, cucuku. Dan kini kau bahkan memacari salah satunya.”

“Nek,” Junsu mengerucutkan bibirnya, “nenek salah mengerti. Itu memang cara Minmi mengakrabkan diri pada semua orang; menggandeng dan bermanja-manja. Tapi dia tidak akan melakukan lebih daripada itu. Dia sendiri yang bilang begitu kepadaku.”

“Apa kau yakin, Nak?” Sang nenek memicingkan mata. “Dari sudut pandangku, itu bukan hanya bentuk keakraban biasa.”

“Nenek hanya belum mengenal Minmi,” Junsu berujar, mengabaikan neneknya yang masih memandangi Minmi curiga–pandangan sama yang beliau berikan pada Changi tadi. “Kalau nenek sudah bicara dengannya, menghabiskan waktu dengannya, nenek pasti mengerti bagaimana Minmi.”

Yoochun menyunggingkan senyum, yang agak miring. Jadi ini yang dipikirkan oleh Junsu selama gadisnya melompat ke sana kemari untuk menggoda? Kasihan sekali dia. Yoochun mengamati sahabatnya itu, yang masih mengumbar-umbar kebaikan Minmi kepada neneknya. Mungkin aku harus memberitahunya?

Atau… tidak?

“Aku melihat kau tersenyum licik barusan.” Terdengar suara lirih Sunghyo di telinganya.

Yoochun berhenti, membenarkan dua tas jinjing berat yang dia bawa, menoleh lalu menemukan Sunghyo yang kini berjalan tak jauh darinya. “Apa?” Yoochun bertanya, memastikan yang barusan dia dengar benar atau tidak.

“Aku tahu kau mendengarku,” ujar Sunghyo sambil menahan ekspresinya agar tetap datar, tidak memandang Yoochun sama sekali. “Entah apa yang ada dalam pikiranmu saat tersenyum begitu.”

Yoochun benar-benar menghadap Sunghyo sekarang. “Kalau kau penasaran, kau bisa bertanya.”

“Dan apa aku akan mendapatkan jawaban yang sesungguhnya? Sepertinya tidak.” Sunghyo mengangkat bahu malas.

Cengiran Yoochun nampak. “Kau bisa membuktikannya sendiri, mana yang sesungguhnya, mana yang bukan,” ujarnya.

Sunghyo tak bisa menahannya lagi, kini melemparkan raut wajah mengerutnya pada Yoochun. Tapi dia tidak mengucapkan apa-apa. Hanya memandangi Yoochun dengan alis menaut dalam.

“Aku senang kau bicara padaku lagi,” ujar Yoochun kemudian, menampilkan senyuman yang benar-benar kelihatan senang.

Advertisements

4 thoughts on “The Beloved Roulette #8

  1. nandadisti says:

    jadi sebenernya sifatnya minmi gimana? kaya yang junsu kira, atau yoochun kira?
    belom selesai masalah changi, muncul lagi si minmi – _-
    kak, ep 9 10 11 di protek ya? minta passwordnya dong kak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s