The Beloved Roulette #7

Title: The Beloved Roulette #7

Author: Mysti Adelliza

Genre: Drama

Casts: Park Yoochun (DBSK/JYJ), Min Sunghyo (OC), Shim Changmin (DBSK), Kim Jaejoong (DBSK/JYJ), Park Changi (OC), Jung Yunho (DBSK), Kim Junsu (DBSK/JYJ), Park Minrin (OC), Shin Ririn (OC), Min Minmi (OC)

Author’s Note: Enjoy. Jangan lupa komentarnya 😀

***

“Neneknya Junsu?” tanya Yunho sambil menelengkan kepala.

“Ya,” sahut sang nenek.

Changi memandangi nenek itu sekali lagi, sadar kalau sejak awal wanita tua ini sangat mencurigakan–muncul tiba-tiba dan menakuti dirinya. Tidak juga melupakan fakta kalau nenek ini menyebarkan fitnah. Ya, walaupun tidak seratus persen salah, karena Changi sebenarnya memang tertarik pada Yunho. Tetapi, karena dia dan Yunho belum menjalin hubungan apa-apa, menurut Changi, itu tetap fitnah. Ditambah, nenek yang pada awalnya baik terhadapnya kini memandanginya dengan keji. Tidak tahu kenapa. Changi mengingat-ingat lagi, kapan nenek itu berubah menjadi sengit terhadapnya. Oh, dia ingat. Nenek itu mulai sinis kepadanya saat dia mendekatkan diri pada Yunho. Padahal… apa yang salah? Dia memang selalu sedekat ini dengan Yunho.

Sebetulnya, tak hanya nenek itu saja. Minrin juga sama sinisnya.

Yah, tapi Changi tak bisa menyalahkan Minrin. Minrin cemburu karena Yunho kekasihnya. Tapi, nenek ini… apa urusannya? Cih. Changi mengutuk nenek itu. Orang luar, tapi sok ikut campur, cacinya di dalam hati.

Nenek itu kini balas memandangnya. “Kulihat kau sekarang mengeluarkan aura kebencian, Nak…” ujar sang nenek, yang sepertinya menangkap jelas pandangan penuh benci Changi. “Ya, aku tahu, aku memang menjengkelkan. Pandangan bencimu beralasan. Banyak juga yang sering melemparkan pandangan seperti itu kepadaku.”

Changi mengulas senyum, yang agak… miring.

“Tapi, kalian mungkin tak percaya… aku melihat langsung ke hati seseorang. Aku tahu mana orang yang berhati busuk namun disembunyikan dengan sangat baik, dan mana yang jujur langsung dari hatinya. Dan aku selalu tak tahan untuk tidak nyinyir pada yang berhati busuk, apalagi yang disembunyikan di balik topeng malaikat. Aku selalu ingin langsung mengungkap dan mengupasnya di tengah banyak orang, jadi… maafkan aku, ya, Nak,” sang nenek berucap sungguh-sungguh, “aku hanya ingin mengupasmu.”

Semua, secara harfiah, menganga.

Changi sudah tak tahan lagi. Nenek ini terlalu banyak bicara omong-kosong, yang jelas merugikannya. “Saya tidak paham mengapa Anda harus melakukan semua ini. Anda bahkan berkata seolah saya berbuat salah, padahal Anda baru bertemu saya beberapa menit,” serbu Changi.

“Masalahnya, kamu memang berbuat salah. Bukan ‘seolah’ berbuat salah,” balas nenek itu.

“Apa? Mengapa Anda bisa bilang begitu? Memang Anda menyaksikan sendiri saya melakukan kesalahan yang Anda tuduhkan? Anda punya bukti menuduh saya semua ini?” tantang Changi.

Nenek itu tersenyum. “Yah, memang tidak ada bukti yang bisa kuperlihatkan…” jawab nenek itu sambil mengangkat bahunya. “Satu-satunya hal yang bisa kutekankan adalah… aku bisa melihat langsung ke dalam hatimu. Dan kau menginginkan pria ini saat kau melihatnya.”

“Anda pikir saya dan teman-teman saya akan percaya kebohongan itu? Kami bahkan tak mengenal Anda, tidak tahu siapa nama Anda. Anda mungkin saja juga berbohong kalau Anda neneknya Junsu!” sergah Changi.

Nenek itu terkejut, kemudian mengalihkan pandangan pada Yunho. “Maaf, Nak, boleh tahu berapa umurmu?” tanyanya.

“Eh?” Yunho yang sejak tadi ingin melerai pertengkaran ini, namun bingung kapan waktunya, kini tambah bingung. Melihat seorang tua yang menanyainya, Yunho merasa wajib untuk menjawabnya. “Saya kelahiran tahun 1986.”

“Duh, sama seperti uri Junsu, meskipun di akte dituliskan tahun berikutnya… ah, tapi, astagaa…” Nenek itu menutup mulutnya, menunjukkan kaget yang dramatis. “Kalau pemuda ini sama umurnya dengan Junsunie, kenapa kau, hei gadis berambut keriting, tidak memanggil Junsu dengan Oppa juga?” Keluarlah pertanyaan inti yang dimaksudkan sang nenek, yang awalnya tidak dikira.

Changi membeliak.

“Changi memang tidak pernah memanggil pria lebih tua yang lain dengan panggilan Oppa, kecuali…” Minrin berhenti berkata sambil melihat kekasihnya, lalu melanjutkan, “…Yunho.”

“Bahkan Changi tidak memanggil Changmin dengan Oppa,” timpal Minmi, “padahal suaminya sendiri.”

“Lantas kenapa kalau aku tidak memanggil orang itu Oppa?” serbu Changi.

“Lantas kenapa kau memanggil Yunho dengan Oppa?” Namun Minrin lebih keras menyerbu Changi.

Changi bengong, tak menduga dia menerima pertanyaan yang tak bisa dia jawab dari Minrin. Changi merenungkan di dalam hatinya. Ya, mengapa hanya Yunho yang kupanggil Oppa? Oppa adalah panggilan penting, bagi kami; para gadis di rumah itu. Aku ingat Minrin, Minmi, Ririn dan aku berjanji akan memanggil seseorang yang spesial dengan panggilan itu, meskipun Sunghyo bilang dia tidak setuju. Dan, waktu itu, aku asal mengiyakan saja, demi kelanjutan persahabatan kami. Meski sebetulnya tak ada yang pernah kupanggil Oppa. Tapi… Yunho? Aku merasa dia pantas dipanggil itu. Aku menghormatinya. Dia berwibawa. Dia selalu baik kepadaku. Dia memperlakukanku seperti wanita terhormat, selalu mendahulukanku, selalu menjunjung tinggi diriku. Aku dan Yunho selalu bilang kalau kami bagaikan adik kakak, tapi… dia memberikan hal yang tak bisa Changmin berikan. Apa aku… dengan Yunho…?

“Kau menyukai Yunho?” Suara Minrin terdengar dingin dan memecah.

Changi memandang Minrin, memandang orang yang dia bilang sahabat namun selalu membuatnya kesal itu.

“Tidak mungkin! Jangan mengada-ada, Minrin-ah!” Sunghyo, yang sangat mendukung percintaan Changi dan Changmin, yang memperoleh cerita keseluruhan hubungan Changi-Changmin sejak kecil itu, angkat suara.

“Aku tidak mengada-ada,” sahut Minrin.

Sunghyo memandang sebal pada nenek yang kini sudah duduk di kursi taman itu. Ini semua karena nenek ini, omel Sunghyo dalam hati.

“Oh, astaga, Nak,” sang nenek berujar ketika menemukan pandangan Sunghyo, “kau menyalahkanku? Pandanganmu itu…”

“Tapi Anda memang patut disalahkan, Nyonya,” Changi merutuk sang nenek. “Jika Anda tidak menyebarkan pemikiran negatif Anda, tidak ada yang…” Changi kebingungan akan kelanjutan apa yang harus dia katakan.

“Aku sudah curiga padamu bahkan sebelum ini, Changi!” Minrin mendadak meledak. “Dari semua sikapmu pada Yunho, sudah tampak jelas. Tidak ada sikap ‘menganggap kakak’ yang seperti itu. Kau menginginkan perhatiannya. Kau menginginkannya. Kau mau dia melihatmu. Apa kau lupa kalau aku selalu berusaha mengatakan ini padamu? Tapi kau bilang tidak. Dan semua membelamu. Terutama Sunghyo. Entah apa yang sudah kau doktrinkan kepadanya.”

Sunghyo melotot, lalu memandang Minmi. Minmi hanya mengangkat bahu.

“Minrin-ah…” Changi memanggil.

“Kalau kau sangat menginginkan Yunho,” tegas Minrin, “ambil saja.”

“Minrin!” Yunho, yang konyolnya kehilangan ketegasannya sejak tadi, akhirnya membuka mulut.

Tapi, Minrin tidak mempedulikannya. Dia masih terus memandang Changi. “Tapi, berikan Changmin kepadaku,” pungkas Minrin.

“Astaga… Ternyata kau hanya memikirkan dirimu sendiri sejak tadi?” Sunghyo menjeblak, walau dengan suara yang pelan.

Namun demikian, di taman sepi yang bahkan tak ada suara angin malam itu, Minrin bisa mendengarnya. “Kenapa tidak? Changi juga memikirkan dirinya sendiri! Dia ingin Yunho, juga ingin Changmin! Dia ingin yang satu, tapi tak ingin melepaskan yang satunya lagi!” Minrin mengalihkan serangannya pada Sunghyo.

“Bukankah kau yang melakukan itu?” Sunghyo mulai terdengar meradang. “Changi bilang padaku, kau selalu menginginkan Changmin. Kau diam-diam terus memandangi suami Changi dengan pandangan berhasrat, tapi kau–”

“Changi bilang begitu padamu?” Minrin bertanya. Sarkasme terdengar dalam intonasinya.

“Y-ya… tapi aku juga lihat sendiri. Walaupun ketika kutanya, kau bilang tidak. Kau selalu bersikap berbeda kalau ada di dekat suaminya Changi dan kau–”

“Sudah, hentikan, Sunghyo!” sergah Changi.

Sunghyo, yang memberikan seluruh kepercayaan dan keberaniannya untuk membela Changi, kaget. Ini kedua kalinya Changi membentaknya, dan itu pada saat dia membelanya. Sunghyo berkerut kening, apa dia berbuat salah?

Tepat beberapa detik setelah itu, suara nyaring ini muncul. “Oh, ya, ampun, apa yang kalian lakukan di sini?”

Semua menengok ke sumber suara.

Junsu dan Yoochun ada di seberang taman.

“Yoochun bilang, kalau lewat sini lebih cepat. Padahal sudah kubilang kalau tempat ini agak mengerikan kalau malam. Karena selalu sepi. Aku tak menyangka ada keramaian. Dan ternyata kalian!” seru Junsu riang, sambil menghampiri mereka. Ketika itu, dia sadar, semua sedang berdiri kaku di posisinya masing-masing. Dan hampir semuanya tegang.

Ketika Junsu kebingungan dan menengok ke sana-sini untuk mencari jawaban, dia menemukan wanita tua yang duduk santai di kursi taman. “Tidak mungkin…” Junsu berkata sambil mendekat. “Nenek!?”

“Oh, kau, Junsunie,” sahut sang nenek dengan senyum.

“Jadi dia benar neneknya Junsu Oppa?” tanya Minmi.

“Tentu saja! Memang siapa yang bilang tidak?” sahut Junsu. “Beliau adalah nenek kebanggaanku. Beliau seorang cenayang terkenal, kalian tahu tidak?”

***

Advertisements

8 thoughts on “The Beloved Roulette #7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s