TRICK Chapter 1

Title                 : TRICK Chapter 1

Author             : Mysti Adelliza

Main Casts      : Shim Chang Min (DBSK), Shim Chan Gi (OC)

Support Casts : Kim Young Woon–Kangin (Super Junior), Lee Dong Hae (Super Junior), Min Min Mi (OC), Man Hee Hyo (OC)

Genre              :  Thriller

Length             : Chaptered

Authors’ Note : Annyeong, readers. Kali ini saya persembahkan chapter 1 dari “Trick.” Semoga kalian menyukainya. Komentar selalu kami tunggu. 🙂

***

Reruntuhan genteng bergemuruh tepat di sampingku, begitu berisik dan rusuh, menyiagakanku ke tingkat yang paling tinggi. Sofa yang tadinya kugunakan untuk tidur-tiduran kuinjak untuk menyempurnakan kuda-kuda, bersiap menghadapi apa yang membuat genteng ruang televisiku runtuh. Kutemukan tumpukan pecahan genteng dan bongkahan semen keras di hadapanku. Sesaat, aku menyelidikinya, hingga kemudian, muncul kepala berambut keriting yang familier. Sosok rambut keriting itu lantas keluar dari sana sepenuhnya, bangkit dan bertolak pinggang.

“Ah. Gentengnya payah,” ujarnya enteng. Sangat enteng. Sampai-sampai menimbulkan denyut aneh di dahiku.

“Kau gila, ya? Kali ini kau menghancurkan atap rumah?” tanyaku emosional.

“Jangan konyol,” sahutnya semakin santai, “aku tidak menghancurkannya. Atapnya yang dibangun dengan tidak benar.” Dia pun membersihkan remahan semen keras di kaos putih tanpa lengan dan baju kodok hijaunya.

“Sebetulnya apa yang kaulakukan di atas sana?” tanyaku, masih dengan nada tinggi yang sama. “Kau berlatih bela diri yang kaukarang sendiri itu lagi?”

“Tidak, aku hanya menunggu,” jawabnya.

Impulsif sekali!

Aku sangat yakin rumah ini dibangun dengan cermat. Aku memastikan sendiri bahan-bahan dan peralatan yang digunakan untuk membangun rumah ini. Aku bahkan mengawasi pembangunannya. Dan aku sangat yakin kalau sekadar duduk-duduk menunggu tidak mungkin dapat menghancurkan atapnya.

Kepalaku menengadah ke atas. Sekarang atapku bolong. Benar-benar bolong! Bintang dan bulan mengintip konyol dari bolongan itu.

Kini aku memandangnya, mencari tahu apa lagi sebenarnya yang kini dia rencanakan, atau dia libatkan. Dia balas memandangku, dengan pandangan ingin tahu yang kurang lebih sama dengan yang kuarahkan padanya.

“Apa?” tanyanya, terdengar seperti tantangan.

“Apa–katamu?” Aku tak bisa menahan diriku untuk tidak marah. “Apa? APA? Kau menghancurkan atap rumah, menjadikannya lubang sebesar pesawat luar angkasa, dan yang kauucapkan atas itu adalah ‘APA’??!”

“Aku kan sudah bilang, aku tidak menghancurkannya!” Dia pun terdengar kesal. Kulihat tangannya menyisir rambut keriting lusuhnya ke belakang dengan gusar. “Atap ini yang dibangun dengan tidak benar!”

Bagian belakang kepalaku nyeri, berdenyut keras bersamaan dengan kemarahanku yang makin menggelegak. Aku menggemeretakkan gigi setelah terpikir untuk membentaknya, menahan amarahku. Aku tidak boleh marah di sini. Ini di rumah. Bagaimana jika–

Eomma, Appa.” Sebuah suara mungil menyeruak, suara yang kutakutkan. Aku menengok dan menemukan Donghoon menodongkan pistol airnya kepadaku.

Kemarahanku pelan-pelan surut karena melihat wajahnya. “Donghoonie…” ucapku.

“Dor! Dor! Dor!” seru anak itu.

Aku bersyukur sekali anak ini belum bisa mengisi pistol mainannya sendiri, jadi tidak ada air yang bermuncratan ke mukaku. Aku berpura-pura jatuh ke sofa saat dia menembakiku dan dia malah berhenti. Si kecil itu lalu mencibir sambil berkacak pinggang. “Appa saaangat tidak seru!” keluhnya, mengejutkanku.

Tidak seru? Dia bilang tidak seru? Aku dibilang tidak seru oleh anak umur lima tahun? Memangnya ada yang salah dengan akting jatuhku?

“Dor! Dor! Dor!” Dia berseru lagi sambil memonyongkan mulut kecilnya. Kali ini dia berganti sasaran, dia mengarahkan pistol mainannya ke arah Changi, si wanita–penghancur atap rumahku itu. Dan wanita itu kini jatuh, tepat saat Donghoon menyelesaikan bunyi tembakannya. Tubuh kurusnya menampar sofa di hadapanku. Saat aku mencermatinya dengan bingung, alih-alih seharusnya aku hanya menengok padanya, Donghoon melompat pada Changi, mendarat di tubuh kurusnya, mempanikkanku seketika.

“Dong-Donghoonie…” ujarku seraya menggenggam kedua bahu kecilnya. “Jangan seperti itu…”

“Panggil aku, Donghoon si keadilan!” seru Donghoon. 

Suara cempreng dan kekanakannya yang kurang jelas membuatku memiringkan kepala ke dekat mulutnya.

“Aku si Donghoon keadilan,” ulangnya.

“Maksudmu, penegak keadilan?” tanyaku.

Donghoon tiba-tiba berdiri dan mengangkat kedua tangannya ke arah yang sama, kanan, lalu memutarnya ke kiri. “Akulah si Donghoon si keadilan…!” serunya.

Tak kusengaja, aku membuang pandangan. Kemudian, sambil tertawa, aku mencoba mengangkat tubuh kecil Donghoon menjauh dari Changi yang masih menutup matanya dan tak bergerak. Aku jadi bertanya-tanya, apa wanita gila ini pingsan sesungguhnya atau tidak. Saat aku sudah menurunkan Donghoon dari tubuhnya, aku melihat Changi menggerak-gerakkan sebagian wajahnya, seperti orang yang terkena serangan stroke.

Apa kini penyakitnya sudah merambah ke kelainan syaraf? 

“Dia zombie, Appa!” teriak Donghoon padaku. “Ayo kita habiskan dia!”

Mwoya?” Aku tidak mengerti maksudnya dengan seruan ‘habiskan dia.’ Dan sebelum aku memahaminya, Donghoon sudah meloncat pada Changi lagi sambil menodongkan pistol air ke dahinya.

Ketika aku begitu terkejut dan sontak menggerakkan tanganku untuk menarik Donghoon, Changi bangkit dari tidur-menggeletaknya di sofa dan terduduk. Wanita itu memasang wajah lumpuh bodoh sekali lagi–lebih parah daripada sebelumnya.

“Aaarghhhh…” Changi pun mulai mengeluarkan suara teredam mengerikan yang terdengar seolah ada handuk basah yang menyumpal tenggorokannya.

Aku mengernyit, sementara Donghoon kini menyergap Changi–mendorong bahunya untuk menjatuhkannya kembali, namun karena tenaganya hanyalah tenaga anak kecil, Donghoon gagal menundukkan wanita itu. Changi kemudian mendekap Donghoon sambil terus mengeluarkan suara mengerikan yang makin merusak pendengaran. Donghoon pun membalasnya dengan jeritan. Keningku berkernyit mencermati tingkah mereka. Pemandangan keduanya saling menyerang dan menghindar itu berputar di penglihatan, memusingkanku. Hingga akhirnya, saat aku menyadari jeritan Donghoon kedengaran sangat ketakutan, refleks aku bergerak memisahkan keduanya.

Changi dan Dongwoon sama-sama bengong saat aku berhasil menarik paksa Donghoon ke gendonganku.

“Ada apa, Appa?” tanya Donghoon bingung, seraya menelengkan kepalanya.

Changi juga memandangiku dengan pandangan bertanya yang serupa.

“Kalian… Kau!” Aku menunjuk Changi. “Kau sudah keterlaluan. Kau pikir kau mencerminkan sikap ibu yang baik dengan menakut-nakutinya seperti itu?!”

Mulut Changi terbuka ketika kudengar isak tangis dari Donghoon tepat di telingaku. “Appa mengapa memarahi Eomma? Eomma kan hanya main perang zombie bersamaku,” ujar Donghoon dengan cengeng.

Aku terpelongo atas ucapan anakku, kemudian aku memandang Changi–yang lantas menyunggingkan senyuman mengejek terhadapku.

***

Kikik tawa Youngwoon Hyung yang terlalu keras di telingaku melemparkanku kembali ke realita. Kenangan yang kuceritakan barusan menjadi semakin teringat karena aku mengulasnya. Dan bukan tertawaan darinya yang kuharapkan saat aku mulai bercerita tadi, tapi keyakinannya kalau aku memang benar, benar kalau istriku, Changi, itu bukanlah yang mereka pikir. Kutemui Donghae Hyung juga ikut tertawa-tawa. Menjengkelkan sekali.

Kalau kedua orang ini berpikiran normal, mereka seharusnya mengerti kalau Changi bukanlah perempuan manis yang menyenangkan setelah mendengar cerita penghancuran atap rumah dan zombie itu.

Namun demikian, Changi memang mudah sekali menarik perhatian dan simpati orang lain. Tak ada yang pernah benar-benar melihat kekacauannya. Bukan berarti dia idiot, namun dia memiliki kecenderungan untuk bertindak abnormal.

“Aku tidak mengerti, Changmin,” ujar Youngwoon Hyung. Suara beratnya dan tingkah kebapakannya yang tetap tampak santai itu dimulainya lagi. Dan karena pembawaannya yang satu ini dia tunjukkan lagi, aku sudah tahu ini akan mengarah ke mana. “Mengapa kau bisa menikahi Changi jika kau terus-menerus meyakinkan orang lain kalau istrimu itu gila?”

Nah. Tepat sekali. Sesuai dugaanku, dia pasti melemparkan pertanyaan yang sama, yang dia ulang-ulang setiap pembahasan Changi menguak di antara kami. 

Dan aku akan menepis pengulasan berulang ini sekali lagi. “Kau menanyakan pertanyaan yang sama dengan gaya bicara, nada, intonasi dan bahkan desibel bunyi yang sama tiap kalinya, Hyung.”

“Oh, astaga. Kau bahkan sekarang bisa mengukur desibel bunyi? Kau digigit kelelawar atau apa?” Youngwoon Hyung berkata dengan nada menyindir. “Kau jadi Batman sekarang?”

“Batman tidak digigit kelelawar, Hyung,” ujarku, yang ditimpali kikikan Donghae Hyung.

“Benarkah? Bukankah dia digigit kelelawar sehingga dia bisa mendapatkan kekuatan kelelawar?” tanya Youngwoon Hyung, sesuai harapanku–teralih sepenuhnya.

“Beginilah jika orang-orang beda generasi berkumpul,” kataku pada Donghae Hyung, “kakek buyutku juga tidak tahu Batman itu apa.”

“Kak–kakek buyut? Kau menyamakanku dengan kakek buyutmu?” Youngwoon Hyung mengeluarkan gaya normalnya berucap-penuh emosi.

Aku terkekeh. “Karena kakekku saja masih tahu Batman. Jadi, yah, kalau kau tidak tahu, kau memang pantas disamakan dengan kakek buyutku,” kataku.

“Aku tahu Batman! Dia pahlawan super yang serbahitam, kan! Memangnya aku orang zaman dulu sekali sampai tidak tahu hal seperti itu! Aku justru sangat modern, asal kau tahu!” seru Youngwoon Hyung dengan ekspresi sangat terganggu.

Aku memandang Donghae Hyung dan tertawa bersamanya, lalu memandang Youngwoon Hyung lagi. “Kalau hanya sekadar tahu bahwa Batman adalah tokoh pahlawan super yang memakai baju hitam, nenek buyutku juga tahu,” kataku.

Donghae Hyung meledakkan tawa, bersamaan dengan Youngwoon Hyung yang memasang wajah marah kepadaku.

“Berarti kau ingin bilang… kalau Youngwoon Hyung… sama dengan nenek buyutmu?” tanya Donghae Hyung yang terbata-bata sambil menahan tawanya.

“Aku tidak bilang begitu,” kataku sambil mengangkat bahu.

“Kau…!” sergah Youngwoon Hyung sambil menodongkan jari telunjuknya padaku.

Aku hanya tercengir, tak menanggapi kemarahannya yang sudah kuketahui hanya pura-pura. Aku lantas meminum sisa kopiku. Dan selama melakukannya, mataku bergerak ke samping, tanpa diminta otakku, ke arah jendela dimana aku dan kedua temanku tadi memandangi Changi yang sedang beranjak pulang. Aku sudah tak menemukannya di sana.  Dia mungkin sudah berada di meja kerjanya sekarang, dengan headset dan mikropon besar di depan wajahnya. Baguslah. Dia sudah pergi. Semakin sedikit waktu dia berada di antara orang banyak, semakin berkurang saat dimana dia berbuat gila. Yang paling buruk adalah lingkungan ini. Lingkungan ini sudah mengenal aku dan dia. Jadi kalau dia bertingkah gila, seperti yang biasa dia lakukan, di sekitar tempat ini, aku juga akan mendapat imbasnya.

“Sedang memikirkan istrimu tercinta itu, ya?” Youngwoon Hyung bertanya.

Aku meliriknya malas, kemudian bangkit sambil mengambil jas putihku yang kusampirkan di kursi. “Aku kembali ke ruanganku dulu.”

“Aku juga, kalau begitu.” Donghae Hyung mengambil langkah persis denganku, berdiri. Dia yang memang tidak melepaskan jas putihnya langsung memasukkan bangku ke bawah meja bundar kami. “Siaran Changi akan mulai sebentar lagi, soalnya.”

“Kau mengikuti siaran wanita gila itu?” tanyaku.

“Tentu saja,” sahut Donghae Hyung, “siapa yang tidak?”

Aku mengernyit dan memandang Youngwoon Hyung. “Kau juga?”

“Siaran istrimu selalu memutar lagu-lagu kesukaanku, jadi–” Dia memberhentikan ucapannya sendiri dengan cibiran dan bahu yang terangkat, menunjukkan kalau itu alasan sederhana yang wajar.

“Siarannya itu diperuntukkan untuk pendengar wanita,” ujarku. “Kalian sudah berubah menjadi wanita?”

“Enak saja bicaramu! Justru para lelaki pantas mendengarkan itu. Kita jadi tahu apa saja yang menarik perhatian dan dipikirkan para wanita,” Youngwoon Hyung membela dirinya sendiri. “Zaman sekarang, pria yang tahu seluk-beluk wanitalah yang merupakan pria sejati.”

“Lagipula, siaran yang dilakukan Changi sangatlah menarik untuk didengar. Dia pintar mengolah kata-kata,” tambah Donghae Hyung.

“Oh, ya?” tanyaku, dengan intonasi sekadarnya.

“Benar, informasi membosankan yang biasanya hanya kulewatkan begitu saja, kudengarkan dengan cermat ketika Changi yang membahasnya,” timpal Youngwoon Hyung.

Bola mataku kuputar dengan sengaja. “Kasihan sekali kalian,” kataku, sambil memakai jas putihku kembali. “Baiklah, semoga kalian tetap berada dalam garis kewarasan kalian.” Aku membenarkan lengan jasku kemudian bertolak pergi, meninggalkan kedua Hyung yang kurasa masih saling memandang dengan bingung.

“Dokter Shim!” Seseorang memanggilku saat aku sudah menjejakkan kaki di lantai koridor poli jantung, kawasan terdekat dengan kafeteria tadi.

Aku menengok dan menemukan suster yang selalu saja dijadikan bahan godaan oleh Youngwoon Hyung dan Donghae Hyung, Suster Minmi yang bersuara nyaring. Dia menyeret tubuh mungilnya dengan sandal rumah sakit, mendekat kepadaku. “Ada jadwal mendadak untuk Dokter Shim sore ini,” katanya seraya melihat papan putih yang dia bawa.

“Siapa?” tanyaku, sambil meneruskan perjalananku.

“Tuan Shin Daedong. Beliau bilang beliau sudah mengatakan akan membuat janji dengan Dokter beberapa hari sebelumnya. Dan beliau bilang, beliau baru bisa membuat janji hari ini,” ujar Suster Minmi yang masih mengeluarkan suara bernada mencicitnya yang sungguh mengganggu pendengaran.

“Oh,” ujarku, “baiklah.” Aku kemudian buru-buru meninggalkannya dengan membuka pintu ruangan poli jiwa, ruanganku, lalu menutupnya lagi.

My bro Changmin!” Baru saja aku menghindari suster dengan suara nyaring yang dia pikir terdengar imut, ada suara lain yang begitu kudengar saja sudah membuatku sakit kepala. Aku meliriknya dan mendapati seorang perempuan dengan rambut ikal sebahu. Dengan kaus cokelat, celana jeans dan jaket Army, fia bergerak bangkit dari kursi pasien di depan mejaku.

“Apa yang kaulakukan di sini?” tanyaku. Dan sepersekian detik setelahnya, kusadari kalau nada pertanyaanku terdengar terusik sekali.

Si wanita rambut ikal itu memiringkan tubuhnya dan melongo. “Sambutan yang sinis, seperti biasanya. Tapi kalau tidak sinis, itu namanya bukan My Bro Changmin!!” serunya sambil menepuk bahuku tiga kali.

Aku tak bergerak sejenak, kemudian mencerling tangan lembabnya di atas bahuku. “Singkirkan tanganmu yang bau bensin itu,” kataku.

Wanita itu mencium tangannya sendiri. “Ah, ya, bensin, ya? Tadi aku habis mengisi bensin sendiri. Kau tahu kan motor besarku yang fenomenal itu–”

“Mau apa kau ke sini?” potongku sebelum dia mengeluarkan banyak perkataan yang pastinya tidak penting.

Dia terkejut. Sebentar saja. Sebelum dia menodongkan kedua tangannya yang dibentuk seperti pistol ke arahku.  “Selalu saja setajam pisau, Bro-ku yang satu ini!”

“Pertama, aku bukan Bro-mu. Kedua, kau lagi-lagi tidak menjawab pertanyaanku yang barusan. Dan kalau kau berniat memperpanjang basa-basi tidak pentingmu ini lebih lama lagi, sebaiknya cepatlah pergi,” usirku sambil mengibaskan tangan dua kali. Aku lantas melintasinya untuk duduk di kursiku.

“Astaga. Haruskah kau terus-menerus sinis dengan rekan kerjamu yang sama kerennya denganmu ini? Kita kan sudah lima tahun menjadi tim dokter jiwa yang sangat kompak. Lebih-lebih, ketika ternyata sahabat karibku yang kemudian menjadi istrimu–”

“Keluar,” aku menyela perkataannya.

“Hah?”

Aku mengerlingnya bosan. “Kalau kau ingin terus melontarkan omong kosong, carilah orang lain untuk mendengarkanmu. Aku banyak pekerjaan.”

“Aku hanya ingin membahas Changi,” katanya. Karena ucapannya itu, aku benar-benar melihatnya dengan jelas sekarang. “Tapi karena kau sibuk, dan pasti merasa kalau aku akan membual terus, lebih-lebih dalam topik itu, aku akan pergi saja.” Dia membalik tubuhnya, membuat rambut ikal terkuncirnya mengibas.

“Man Heehyo,” panggilku.

Dia, Heehyo, menoleh.

“Aku mendengarkan,” ucapku.

“Baiklah,” ucap Heehyo, sambil kembali memutar tubuhnya ke arahku.

“Ada apa dengannya?” tanyaku seraya membereskan mejaku.

“Dia mengunjungiku lagi,” bisik Heehyo. Aku mengerlingnya. “Dan ini bukan kunjungan teman seperti biasa, namun kunjungan pasien terhadap dokternya. Dia mengunjungiku untuk menanyai kewarasannya kembali.”

***

Advertisements

24 thoughts on “TRICK Chapter 1

  1. asrikim says:

    Kyaaaa~changchan dah punya anak usia 5th?Wah bang min daebak,walau sering bilang changinya enggk waras,tpi bisa buat changi punya anak juga hahaha#lirik bang min kkk,,
    Wah changi,,atap rumah bisa kamu robohin hahaha,tenagamu mengagum kan kkk,,#
    Tadi asri kirain apa ada gempa,taktaunya ulah changi hehehe,,
    Bang min aja dibikin frutasi sm sifatnya changi hahaha#biarin aja,biasanya bang min kan yg bikin changi kesel kkk,,
    Tapi ngomong2 gimana ceritanya ya,mereka kenal trus bisa nikah pula?Bikn penasaraaaan~
    Duo eonni ceritanya kereeen~
    Asri tunggu lanjutannya,,
    Fightiiiing,,

    • Mysti Adelliza says:

      Iya udah punya, asriiii ><
      Hahahahaha…. daebak ya changminnya? Kkkkkk…
      Iya, Changinya ga terduga ya? ^^
      Changi emang begitu aslinya, asri hahaha…
      Iya di sini dibuat gantian. Dan ini terasa lebih kayak yang sebenernya hehe..
      Kalo history pernikahan nanti bakal diungkap kok, tenang aja 😉
      Waaah… makasih ya asri komentarnya ♥♥♥
      Makasih juga udah nungguin lanjutannya :*
      Fighting jugaaa ^^

  2. asrikim says:

    Tpi kira2 apa ya,yg buat changi kayak gitu?pasti ada sesuatu yg besar pernah terjadi dalam hidupnya dan bang min mengetahuinnya,,ya walau pun sikap bang min kayak gitu,tpi pasti didalam hatinya dia sangat peduli am changi#iya kan bang hahaha,,
    Tpi ngomong2 anak kecil tadi anak kandung changchan bukn ya?Penasaran asri hehehe,,
    Tadi komen asri kpotong hohoho

    • Mysti Adelliza says:

      Nah, soal gimana changi bisa kayak gitu, nanti lama2 diungkap kok, asri. Hahaha. Ya dan changmin pasti tahu, kan suaminya. Ahahaha… terasa peduli ya? Kkkkk…
      Menurut asri gimana? Anak kandung bukan? Kkkk..
      Hahaha…

  3. Aorenji says:

    Baru buka wp dan tralalala Trick chap 1 udah di depan mata huhuhu :””D ada apa dengan changi? Waktu baca aku langsung bertanya-tanya Kenapa cuma changmin yg merasa changi gila sedangkan yang lain nggak berpendapat begitu? Atau jangan jangan malah sebenernya changmin yang……… //nggak /pls /ini sok tahu// Terus muncul heehyo yg kok sepertinya karakternya sama sama eksentrik mirip changi…….okay Ending chap 1 sukses bikin penasaran…………

  4. wadzkia says:

    Jadi sebenarnya changi itu sakit jiwa ya..
    Oh ya ampun… Semoga sabar deh changmin sama kelakuannya..
    Di awal sih aku jg dah takut sama prilaku changi k donghoon.

    • Mysti Adelliza says:

      Hahahahaha… iya itu dugaannya, say ^^
      Changmin udah sabar kok kkkkk…
      Wah, kamu takut rupanya? ^^ emang dimaksudkan buat menakutkan sih kkk
      Btw, makasih udah baca dan komen ya ^^

  5. harum567 says:

    Penasaran kenapa changmin mau nikah sama changi. Changi nggak bener2 gila ya? Kayaknya kegilannya nggak terlalu ekstrim.

    • Mysti Adelliza says:

      Penasaran ya? Hehehehe…
      Menurut kamu begitukah? Changi gak terlalu ekstrem ya kegilaannya? Iya sih emang belum ekstrem, tapi kan masih ada lanjutannya, kita liat nanti kkkk…
      Btw, makasih udah baca dan komenin ff yang satu ini ^^

  6. asrikim says:

    Annyeong duo eonni apakabar,pada baik semua kan?Hehehe,,
    asri kangen ni sm duo eonni,,
    mau bbm sm duo eonni hpnya yg buat bbm an lg bermasalah jadi enggk bisa hiks#nangis dipojokan,,#asri malah curhat hhh,,
    duo eonni ff ini belom ada lanjutannya ya?asri tunggu lanjutannya hehehe,,

    • Mysti Adelliza says:

      Annyeong, asriii ♥♥♥
      Kabar baik, kamu gimana? kangen juga padamu… kkkk….
      Hahaha… gpp, asri… mudahan hpmu cepet sembuh ya hehehe
      Belum, say, hehehe… makasih udah nunggu lanjutannya yaaa makasih makasih makasih :* :* :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s