The Beloved Roulette #4

Title : The Beloved Roulette #4

Author : Mysti Adelliza

Casts : Park Yoochun (DBSK), Min SungHyo (OC), Jung Yunho (DBSK), Kim Jaejoong (DBSK), Kim Junsu (DBSK), Shim Changmin (DBSK), Min Minmi (OC), Park Chan Gi (OC), Park Minrin (OC), Shin Ririn (OC), Shim Chang Min (DBSK),

Genre : Drama

Authors’ Note : Annyeongreaders. Saya kembali dengan episode terbaru The Beloved Roulette! Hehe. Silakan dibaca ^^

***

Changmin tengah berguling-guling di ruang keluarga rumah keluarga Jung yang luas dan berlapiskan karpet bambu. Setiap orang yang tinggal di rumah bergaya tradisional itu sudah meninggalkan pemuda bertubuh tinggi kurus itu, kecuali Jaejoong. Jaejoong tidak mengikuti yang lain untuk pergi karena Changmin yang merengek-rengek.

“Perutku sakit,” geliatnya, “perutku sakit.”

Jaejoong melangkah dari koridor dan menggeser pintu geser menuju tempat dimana Changmin masih berguling sambil meremas perutnya sendiri. “Arrasseo. Arrasseo,” ujarnya penuh keprihatinan. Tangannya membawa semangkuk bubur panas yang telah dia buat semenjak Changmin mengeluh kalau itu dapat menyembuhkan sakit perutnya.

Selangkah sebelum dia mencapai Changmin, dia sudah ketakutan kalau-kalau Changmin sudah pingsan karena suaranya tidak terdengar lagi. Menahan panas, dia menggenggam mangkuk bubur dengan sebelah tangannya untuk menggeser pintu, menemukan Changmin yang terduduk kaku dengan kedua kaki yang berselonjor.

Bubur itu diletakkan oleh Jaejoong di meja di tengah-tengah karpet bambu. Dia buru-buru bersimpuh di sebelah Changmin yang bermuka merengut. “Apa perutmu masih sakit?”

“Apa buburnya sudah jadi?” Changmin balas bertanya.

Ne,” Jaejoong menyahut sambil segera berpaling untuk mengambilkan bubur itu dan menyerahkannya padanya.

Changmin sempat melirik bubur putih yang dihiasi daun hijau penghias kemudian mengelim bibirnya. “Hyung benar-benar jenderal rumah tangga sejati,” dia memuji, sebelum menarik mangkuk ke hadapannya dan menyedok bubur itu ke mulutnya. Jaejoong memandangnya terharu dan mengepalkan tangan. “Kau mengorbankan waktumu untuk membuatkanku makanan sementara yeojachingu-mu keluar bersama namja-namja di rumah ini. Daebak,” Changmin menambahkan.

Jaejoong terpelongo. “Me-mengapa kau berkata begitu? Aku memang patut menemanimu di sini, sesuai perjanjian dengan yang lain. Karena kau kan bilang kau dilanda sakit perut akut,” celotehnya, yang meski dalam keadaan kaget tetap saja banyak omong.

Ne, sakit perut akut, alias kelaparan. Seperti biasa. Aku tak menyangka Hyung termakan ini, Hyung memang orang yang lebih mendahulukan pertemanan di atas kepentingan percintaan. Daebak,” puji Changmin sambil menyendok buburnya yang terakhir.

Nae-naega… Mwo? Jadi kau hanya kelaparan?” Jaejoong merasa dikhianati.

Changmin sudah menghabiskan bubur yang sedap itu kemudian menepuk bahu Jaejoong. “Gwenchana. Yunho Hyung sama sekali tidak peka pada perasaan Shin Ririn,” ucapnya.

M-mwoya? Yunho tak ada hubungan apa-apa dengan Ririn. Ririn hanya mencintaiku,” sergah Jaejoong.

Changmin mendorong mangkuk buburnya yang telah kosong agar jauh darinya lantas tidur telentang di karpet. “Jinjja, Hyung. Semua sudah tahu. Bahkan Junsu yang kurang akal pun bisa melihat kalau Shin Ririn, kekasihmu itu, sering mencuri-curi pandang pada Yunho Hyung.”

Jinjja aniya!” teriak Jaejoong.

Changmin pun menanggapi teriakan itu dengan menggedikkan bahu sebelum dia menepuk perutnya yang terisi penuh lalu terlelap.

***

Selaras dengan yang disampaikan Changmin pada Jaejoong, Ririn pun kini sedang mencuri pandang pada Yunho yang berjalan di sampingnya. Dengan dada berdebar-debar di balik blus merah mudanya, dia menahan hasratnya agar tidak terus memandangi wajah Yunho. Ririn sadar dia terlalu menunjukkannya kali ini. Perempuan itu bahkan sempat menyisir rambut panjangnya, memakai rok merah muda favoritnya, sebelum berangkat melakukan pencarian ini. Dia memang sudah cantik, dia sendiri sudah tahu, namun keinginannya untuk tampil lebih sempurna di depan Yunho mengalahkankan semua hal yang dia tahan sejak lama. Dia ingin sekali menarik perhatian Yunho.

“Kira-kira ke mana perginya Changi, ya?” tanya Yunho. Ririn sempat tersenyum karena usahanya mencari perhatian Yunho mulai mendekati keberhasilan. Walaupun topik pembicaraannya Changi, yang sebetulnya mengecewakannya, Ririn mengesampingkan keberatannya. Yang penting, Yunho mengajaknya bicara! Dia pun mencoba untuk memberikan jawaban terbaiknya, saat Yunho mengeluarkan suara baritonnya lagi, “Minrin-ah?”

“Eh, ne?” Wanita bertubuh sintal yang berada di sisi Yunho yang satu lagi pun tersadar. Pikirannya yang masih tertinggal di rumah pun buyar karena panggilan Yunho.

“Menurutmu,” Yunho mengarahkan pandangannya pada Minrin yang tengah memasukkan sehelai rambut pendeknya di balik telinga, “ke mana perginya Changi?” Pertanyaan Yunho itu mengecewakan kedua wanita itu sekaligus: Ririn yang kecewa karena rupanya bukan dia yang ditanya, dan Minrin yang kecewa karena dia harus ditanyai mengenai Changi oleh kekasihnya sendiri.

Minrin tahu perjalanan kali ini demi kepentingan mencari Changi. Yunho, kekasihnya itu, barangkali hanyalah mencari tema pembicaraan dengan membahas inti perjalanan mereka sekarang. Akan tetapi, yang membuatnya kesal adalah Yunho sekalipun tak memberinya perhatian dan kini malah membahas Changi. Semua hanya bicara tentang Changi dan tentang Changi saja. Minrin merasa jenuh. Ditambah, mengapa Yunho harus mengeluarkan pertanyaan itu saat dia sedang resah memikirkan Changmin. Ya, dia sedang memikirkan Changmin. Mengapa dia membiarkan Changi pergi? Apa mereka bertengkar? Mengapa kini Changmin tidak ikut mencari Changi? Minrin tahu kalau dia tidak boleh ikut campur mengenai urusan suami istri itu. Dia juga tak boleh terlalu banyak memikirkan Changmin karena pemuda itu sudah menjadi milik Changi sepenuhnya. Kendati demikian, Minrin tidak dapat menyingkirkan gelora besar melanda tubuhnya saat firasatnya membisikkan kalau mungkin Changmin dan Changi masih belum sepenuhnya saling memiliki. Kedatangan orang tua Changmin yang memberi arah agar keduanya segera mempunyai anak nampaknya merupakan penyebab utamanya. Suami istri normal tidak akan tegang hanya karena orang tua salah satunya menanyakan tanda-tanda kehamilan. Kecurigaannya kembali menguat kalau pasangan itu tidak bahagia. Tapi pertanyaan Yunho mengusik pemikirannya soal itu dalam sekejap. Dan Minrin tidak suka.

“Mungkin pulang ke rumah orang tuanya.” Karena Ririn dan Minrin tak ada yang menjawab pertanyaan Yunho, Minmi, yang mendengar pertanyaan itu pun, menjawabnya.

Yunho dengan gembira menyambut jawaban itu, yang dia pikir takkan dia dapatkan dari siapa pun. “Betul juga, Minmi,” ucapnya.

“Tapi, Minmi,” Sunghyo berbisik pada Minmi , “bukankah rumah orang tua Changi jauh sekali? Mana mungkin Changi pergi ke sana malam-malam begini.”

“Ah, ya, benar juga, ya, Sunghyo,” timpal Minmi keras-keras.

“Apanya yang benar?” Yunho bertanya begitu mendengarnya.

“Sunghyo bilang Changi tidak mungkin ke rumah orang tuanya selarut ini. Rumah orang tuanya jauh,” jawab Minmi.

“Oh, begitu. Lantas kira-kira ke mana dia?” tanya Yunho lagi.

“Bukankah Changi bilang dia akan mencari nenek temannya yang hilang?” Sunghyo menanyakan pada Minmi dengan suara berbisik lagi.

“Oh, ya, bukankah Changi bilang dia akan mencari nenek temannya yang hilang?” Minmi mengulang dengan suara lantang.

“Ah, Benar! Mengapa aku bisa lupa, ya?” tanya Yunho lebih kepada dirinya sendiri.

Sunghyo melirik Minmi lantas Yunho, dan menggeleng-gelengkan kepala saat menemukan keduanya sama-sama sedang menggaruk-garuk belakang kepala, tampak bingung. Tadinya dia lumayan tenang karena Minmi dan Yunho ada di timnya, tapi kini dia risau. Setidaknya, dia pikir, dengan adanya mereka berdua, Changi yang sudah menghilang cukup lama bisa segera diketemukan. Selain itu, dia memilih untuk ikut tim ini karena tidak ingin satu tim dengan Yoochun, pemuda yang sedang ingin dia hindari. Tapi kini dia juga jadi tidak yakin dengan tim pencarian yang lebih banyak jumlahnya ini.

“Sunghyo kenapa?” tanya Minmi, menyadarkan Sunghyo.

“Ah, tidak,” sahut Sunghyo sambil menyisir poninya dengan jari ke belakang.

“Sunghyo kangen Yoochun Oppa, ya?” Minmi melemparkan pertanyaan spontan, yang segera saja membuat Sunghyo membelalak. “Minmi juga kangen Junsu Oppa. Makanya dari tadi Minmi mengecek ponsel terus karena menanti kabarnya. Minmi agak menyesal juga mengapa Minmi tadi tidak sempat mengejar supaya bisa ikut dengan tim Junsu Oppa.”

“Jadi kau menyesal satu tim denganku?” Sunghyo mencibir.

Aniya,” Minmi menyangkal, “justru Minmi pikir bagus kalau…” Minmi mulai memelankan suaranya, “…kalau kita berdua bisa ikut tim Junsu Oppa dan Yoochun Oppa. Kita berdua kan bisa bersama pacar-pacar kita.”

Sunghyo menyeringai. Mendadak dia ingin bilang pada Minmi kalau dia sedang tidak ingin bertemu Yoochun. Tapi tiba-tiba dia teringat kalau ada Yunho di kawanan tersebut. Dan dia pun merasa kurang nyaman menceritakan hal seperti itu di depan Minrin dan Ririn.

“Oh, Junsu Oppa kirim pesan!” seru Minmi riang, memecahkan kesunyian yang dibawa kawanan yang berjalan pelan itu.

“Apa katanya?” Yunho bergerak mendekati Minmi, ingin tahu.

“Katanya dia kangen Minmi,” jawab Minmi sambil memeluk ponsel mungil dengan belasan gantungan miliknya itu.

***

“Apa yang kau tanyakan pada Minmi?” tanya Yoochun seraya melirik layar ponsel Junsu.

Junsu menjauhkan ponselnya dari pandangan Yoochun, mendapati tawa Yoochun atas dirinya.

“Tak perlu kau sembunyikan, Junsu. Aku sudah melihatnya,” Yoochun masih menahan tawanya ketika mengatakan itu. “Kau bilang kau rindu padanya, bukan? Sebenarnya kau niat mencari Changi atau tidak? Katanya tadi kau adalah pemimpin tim ini,” Yoochun meledek.

Arra,” jawab Junsu, “tapi aku merindukan celotehan pacarku, Minmi.”

Yoochun tercengir, membuat seorang gadis asing yang sedang berjalan berpapasan dengan mereka bersemu merah karena melihatnya. Junsu melihat adegan itu dan menoleh pada Yoochun. “Mengapa perempuan tadi tersipu-sipu begitu? Kau mengedipkan mata padanya, ya?”

“Tidak,” sahut Yoochun.

Junsu menggeleng-geleng. “Dari dulu selalu saja terjadi. Pasti ada saja gadis yang tersipu atau terpegun melihatmu jika kita sedang berjalan-jalan. Kau mengirimi mereka mantera, ya?” tuduhnya.

Kali ini Yoochun terbahak-bahak. “Oh, Junsu. Mau sampai kapan kau menuduhku begitu terus? Kau sudah tahu, bukan, kalau yang kulakukan cuma–”

“Tersenyum,” balas Junsu, “atau bersikap terlalu ramah.”

“Ya,” Yoochun menyambut, “dan mungkin mereka hanyalah membalas senyuman atau sikap ramahku.”

“Mungkin sebaiknya kau tak melakukan itu,” saran Junsu.

Yoochun terkikik. “Jadi aku tidak boleh tersenyum dan bersikap sopan pada orang lain? Kau kedengaran seperti Sunghyo–” Yoochun mendadak menghilangkan senyum yang tadinya menempel di wajahnya. Nama terakhir yang dia ucap menggetarkan dirinya sendiri.

Junsu melirik Yoochun dan mencermati wajah kawannya itu, namun setelah itu kebingungan ketika Yoochun dalam sekejap menyingkirkan kegugupan yang tertoreh jelas di wajahnya barusan. “Jaejoong Hyung dan Changmin bahkan dapat membuat gadis-gadis mengamati mereka lama sekali dengan tidak melakukan apa pun. Apa kau akan minta mereka supaya tidak keluar rumah, kalau begitu?” Terdengar lagi tawa Yoochun.

Junsu mengangkat bahu, seolah itu juga fenomena membingungkan baginya. Mereka bergerak lagi di jalanan yang cukup ramai itu, melewati beberapa rumah gaya modern, hingga Junsu berkata lagi. “Ada lagi yang lebih menakutkan.”

“Apa?” tanya Yoochun.

“Yunho Hyung,” sahut Junsu.

“Ah, Yunho Hyung,” gumam Yoochun. “Ya, benar. Dia bahkan nampaknya dapat menghipnotis perempuan untuk melakukan apa saja untuknya.”

***

“Aduh!” seru Yunho ketika dia menjatuhkan baterai ponselnya yang baru dia bongkar dan coba kembali dia pasang.

Serempak saja, Minrin dan Ririn berjongkok untuk mengambil baterai persegi yang tergeletak itu. Kedua wanita itu terkejut ketika menemukan kalau diri mereka bersamaan melakukan itu. Mereka berpandangan dalam posisi seperti itu sebelum akhirnya Yunho mengambil baterai tersebut dari tangan keduanya yang sedang memeganginya.

“Wah, gomawo!” seru Yunho. “Kalian baik sekali.” Dia berkata sambil memasang kembali baterai ke ponselnya.

Minrin dan Ririn pun bangkit, masih dengan saling memberikan pandangan yang bermakna.

“Itu dia!” tunjuk Minmi semangat. “Itu Changi!”

Serentak, semua yang ada di timnya, menoleh ke arah jari telunjuknya mengarah, ke bawah sebuah pohon rindang yang berdiri kokoh di taman bermain anak-anak.

***

Changi sedang mengenang apa yang baru saja terjadi padanya: perdebatan tak menyenangkannya dengan Changmin, penyelesaian perdebatan yang buruk hingga tiba-tiba ada yang menyedot perhatiannya.

Dan itu adalah kemunculan seorang wanita tua misterius.

Wanita tua itu muncul beberapa saat lalu saat Changi mempraktikkan kebiasaannya waktu kecil, mengetuk batang pohon. Dulu waktu kecil, Changi percaya pada imajinasinya bahwa tiap pohon didiami peri penjaga pohon. Karena dia tidak punya ide untuk melakukan apa, sementara kepalanya pusing, dia pun mengetuk batang pohon yang dia sandari. Kemudian wanita tua itu muncul dari balik pohon.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya wanita tua itu kemudian.

Changi terkesiap saat menemukan wajah perempuan tersebut. Meski penuh keriput, beliau tetap terlihat cantik dengan wajah bulat dan bibir tipisnya. Mata bulat hitamnya indah dan menarik perhatian. Changi mencermati beliau, menerka-nerka apa beliau nyata.

“Mengapa kau tidak menjawab?” Wanita tersebut kembali bertanya.

Changi baru saja akan membuka mulut, sebelum dia mendengar huru-hara yang berasal dari seberang taman. Dia mengarahkan pandangan pada sumber suara dan menemukan Minmi, Sunghyo, Yunho, Minrin dan Ririn. Mereka tengah berkerumun. Minrin dan Ririn bersamaan menunduk untuk mengambil sesuatu-entah-apa yang ada di sana.

“Ada apa di sana?” Changi mendengarkan suara wanita tua itu lagi. Kali ini lebih dekat. Dan pada detik itu, Changi sadar kalau sang wanita tua tersebut telah berada persis di sampingnya.

Kembali terkejut, Changi menjauh dari sang wanita.

“Jangan takut,” ujar wanita tua itu sambil tersenyum.

Changi mengernyitkan kening, masih memindai wanita tua yang berwajah ramah tersebut.

“Aku bukan orang jahat,” ujarnya.

Berkat perkataan tersebut, Changi pun meresponnya dengan senyum sopan. Sang wanita tua itu pun membalas senyumannya. Keduanya diam dalam beberapa saat. Hingga, karena tidak enak dengan situasi diam-diaman yang membingungkan itu, Changi pun mencoba untuk memecah suasana. “Kalau begitu, apa yang sedang Anda lakukan di sini, Halmoni?” tanya Changi seramah mungkin.

Sang wanita melebarkan matanya.

“Maaf, aku tidak bermaksud lancang. Hanya saja, ini sudah malam. Apa keluarga Anda tidak khawatir?” Changi bertanya lagi.

“Keluargaku mungkin akan khawatir. Mereka tidak tahu aku pergi,” jawabnya. “Aku sebetulnya tidak ingin membuat mereka khawatir dan segera pulang. Masalahnya, aku tersesat.”

“Tersesat?” Changi mengulang, tak percaya benar-benar menemukan wanita tua tersesat—alasan yang dia gunakan pada teman-temannya untuk pergi dari rumah.

Sang wanita tua mengangguk antusias. “Aku tersesat karena sedang mengejar peri penjaga pohon,” beliau menambahkan, mengejutkan Changi lebih-lebih.

“Peri penjaga pohon?” gumam Changi. “Anda… mengejar peri penjaga pohon?”

“Benar,” timpal sang wanita tua. Beliau kemudian mendekatkan bahunya pada bahu Changi, tersenyum riang lantas mengeluarkan suara seperti bisikan, “Apa kau mau ikut mengejarnya bersamaku?”

Advertisements

28 thoughts on “The Beloved Roulette #4

  1. nan_cho says:

    apa itu?
    kok akunya tiba2 tegang gini, gara2 wanita tua ngajak Changi, omo omo omo..
    terus awal cerita yg bikin ngakak, cuma alesan doang sakit perut benerankan si tiang gila itu lapar, yg laen cari istrinya dia malah makan dan setelahnya tidur, astaga apa dia ga khawatir *oke, mungkin Changi ga perlu dikhawatirkan, tp wanita tua itu*

    aii, gemes sama author eonni-deul jadinya, kkk..
    dan aku suka, mereka semua dapet scene.nya, walau ada beberapa yg emang ciri khas mereka, perbincangan Minmi Sunghyo, Junsu Yoochun, dan si cinta segitiga kah? Ririn Yunho Minrin? kkk, yg sabar ya si Jenderal Rumah Tangga, hahaha..
    ah, satu lagi senyum Yoochun juga ngefek ke aku, kkk..
    😉

    • Mysti Adelliza says:

      Nanchooooo… ♥♥♥
      Tegangkah? Waah… saya juga tegang ngelanjutinnya nih #eh
      Hahaha… namanya juga mas tiang yang mudah kelaparan hahaa…

      Gemes kenapa? Kkkk…
      Saya senang kalo kamu suka, nancho ^^ ada beberapa yang ciri khas mereka? Apakah ada beberapa yang gak ciri khas mereka?
      Junsu Yoochun udah pas ya? ^^ cinta segitiga itu… kemungkinan besar ada ^^
      Hahaha… sang jenderal rumah tangga emang cukup malang di part ini ^^
      Huwoow… iya, ke saya juga eh #salahfokus
      Btw, makasih ya, nancho, udah komen ♥♥♥

  2. nan_cho says:

    mian author eonni-deul, pengen bgt bales ‘balasan komentar’ kalian juga, tp perjuangan sekali buat send komentar, jaringan disekitar rumah minta dibakar mungkin, hehe, cuaca tdk menentu juga, jd bikin sebel karena aku jd telat bacanya, hehe..
    #sedikitcerita ^^~

  3. hody says:

    akhirnya lanjutannya keluar juga… hahahaha aq nungguin cerita ini dr rambut pendek mjd panjang dan skrg pendek lg.kekeke #toomuch

    selalu suka klo ceritanya ada minmi si jenius innocent, kocak bgd.
    dan untuk cinta segitiga (RYM) ditunggu kelanjutannya. hahaha 😀

    SungyoYoochun mereka berantem knp ya?? aq lupa masa.hehehe

    • Mysti Adelliza says:

      Halo, hody…
      wah makasih ya udah baca dan komen ff yang satu ini lagi ^^
      Dan kamu nungguin rupanya? Wah… sankyu…

      Hahaha… saya senang kalo kamu suka scenenya ^^
      Well, kamu notice cinta segitiga itu ya? xixixi…

      Berantemnya mereka ada di tbr sungchun moment hehehe… ^^

  4. asrikim says:

    Hahaha~
    Aigoo,aigoo bang changmin ini bener2 ya,kirain tdi skit perut beneran tpi ternyata skit perutnya karna kelaparan,pdahal bang jaejoongnya begitu kjatir tadi dan tetep nemenin dia,,,
    Kyaaa~ririn jtuh hti sm bang yunho?terus bang jaejoongnya gimana tu?tpi kira2 apa yg bkal terjadi ya,klau minrin sm yunho thu perasaa ririn terutama si minrin?
    Minmi-ah~asri jg kangen sm kamu hehehe,,
    Scenenya changi sm wanita tuanya bikin merinding,,kok si nenek biling begitu,mencari peri pohon?apa mungkin si nenek dah pikun kli makanya bicara begitu dan percaya adanya peri pohon#mudah2han emang beneran gitu hehehe,,,
    Duo eonni fightiiiing~ditunggu lanjutannya,,,

    • Mysti Adelliza says:

      Asriii…. ♥♥♥
      Hehehe… iya, changmin ngadalin jaejoong dia kkkk…
      Hahaha… soal ririn dan minrin, memang bakal sulit nantinya. Tapi kalo yunho, tenang aja, dia ga bakal ngerti kok #lah
      #lol kamu kangen minmi? kkk…
      Nah, kalo soal changi dan nenek itu bakal keungkap di chapter berikutnya ^^ hehehe… tunggu aja ya 😉
      Btw, makasih ya asri udah komen lagi ^^
      Fighting jugaaa ♥♥♥

  5. nandadisti says:

    karna belom baca yang di protek aku jadi gatau kenapa changi kabur, pasti si tiang listrik aneh aneh lagi .dan itu, yunho benar benar mengerikan, segitunya cewe cewe kalo ada dia

    • Mysti Adelliza says:

      Passwordnya udah dikirim, udah baca kan, say? ^^
      Hahahaha… yah… aneh2nya si tiang ya khas dia kkkk…
      #lol Yunho abisnya ganteng banget sih #inikenapalagi hahaha
      Btw, makasih udah komen lagi ya nanda ^^

  6. nandadisti says:

    kak. ga ada kolom komen di tbr 5 ya? aku koment disini aja yaa
    itu nenek siapa ya kak btw? kok ngeselin sih? bikin changi sama yunho difitnah begitu. kan kasian changmin yang lagi khawatir nungguin changi dirumah. aku kasian sama changmin, bukan changi. abis dia jahat. ninggalin changmin gitu aja.

    • Mysti Adelliza says:

      Nandaaaa…. #hugs
      Kamu langsung baca? Makasih ya #Bow
      Ah ya! Saya lupa ceklisin kolom komentar di TBR 5, makasih udah ngingetin ya, sekarang udah diceklis kok.
      Nenek misterius itu… ahahaha… emang ngeselin sih. Tapi nanti keungkap kok tentang dianya di chapter berikutnya 😉
      Iya, changmin kasian ya kkk…
      Btw, makasih ya nanda udah komentar… jangan lupa tunggu TBR selanjutnya hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s