Candy-coated Misery #20

Title             : Candy-coated Misery #20

Author             : Mysti Adelliza

Main Casts      : Cho Kyu Hyun (Super Junior), Choi Si Won (Super Junior), Kim Chan Gi (OC), Kim Sung Hyo (OC), Park Yoo Chun (DBSK), Shim Chang Min (DBSK)

Support Casts : Kim Min Gi (OC), Xiah Junsu (DBSK)

Genre              : Family, Romance

Length             : Chapter

Sunghyo’s PoV

Siwon baru akan membuka mulut saat pintu ruangan itu terbuka.

“Panekuk sudah siap!” seru Tuan Junsu, sang pembuka pintu, yang dengan segera menemukan aku dan Siwon yang tengah terpaku di posisi masing-masing. Tuan Junsu yang nampak bingung karena mungkin tak ada tanggapan dari kami pun mengernyit. “Kalau kalian bingung mengapa di musim semacam ini panekuk yang kami siapkan, tanyakan ibumu, Siwon. Dia memaksa ingin menyajikan panekuk pada Nona Sunghyo, karena kau tahu kan… ibumu hanya jago memasak panekuk,” bisik Junsu sambil menahan kikikannya sendiri.

Oppa! Aku mendengarnya!” Suara wanita yang menggelegar di ruangan besar di luar sampai ke telingaku.

“Oh,” Tuan Junsu terkesiap dan menutup mulutnya, “kedengaran, ya?”

Siwon tersenyum tipis dan menepuk pundak ayahnya. “Sepertinya begitu,” responsnya tenang, berbeda sekali dengan beberapa detik lalu.

“Kalau begitu, sebelum dia lebih marah lagi, bagaimana kalau kita langsung ke sana untuk makan?” tanya beliau. Beliau pun menoleh padaku. “Ayo, Nona, Anda ikut juga.”

Kepanikan ketika mengetahui aku akan menjumpai ibu Siwon saat di perjalanan menuju ke sini tadi kini tidak ada. Percakapan terakhir yang kulakukan dengan Siwon terlalu menguras ketenangan jiwa dan menurunkan minat untuk mengikuti ketakutanku. Rasanya yang melandaku kini kepasrahan saja. Tak tahu mengapa. Barangkali karena itu aku sepakat untuk mengikuti ajakan Tuan Junsu.

Siwon bersikukuh membantuku berdiri walaupun aku menolaknya. Dan ketika aku menunjukkan kalau aku bisa berjalan, Siwon setuju membiarkanku. Kami bertiga melalui jalan kecil yang dibatasi tirai merah hingga menuju ruangan kecil yang sudah disulap menjadi ruang makan. Sebuah meja persegi telah ditata apik dengan piring, gelas piala dan lilin. Enam kursi senada mengelilingi meja bergaya Rococco tersebut. Aku menemukan wanita setengah baya yang mengenakan gaun merah muda mengembang dan celemek putih, disertai bandana merah. Ia tersenyum padaku dan memori menyentil benakku—rasanya aku pernah bertemu dirinya sebelumnya. Wajah bundar dan bibir tipis, rambut lurus panjang berwarna cokelatnya itu mengingatkanku pada seseorang yang pernah berbicara denganku.

“Perkenalkan, ini istri saya, Mingi,” Tuan Junsu memperkenalkan. Dan berkat pengenalan nama itu aku pun baru teringat kalau dulu aku pernah bertemu dengan beliau. Beliaulah yang membawaku pertama kali melihat opera Siwon. Namun aku tidak tahu apakah beliau ingat atau tidak terhadapku. Aku memberikan salam hormat dan duduk setelah mereka mempersilakanku. Siwon mengambil duduk di sebelahku, sementara ayah dan ibunya berhadapan dengan kami.

Panekuk yang disajikan di piringku terlihat menggiurkan. Dengan saus cokelat dan krim beri, panekuk itu kelihatan manis dan hangat. Aku baru akan memotong pinggirannya ketika tirai merah di belakang Tuan Junsu disingkap. Aku melihat penjaga gedung berkumis itu pun memunculkan diri di sana.

“Tuan Siwon,” panggilnya, “ada yang ingin bertemu dengan Anda.”

“Oh, ya?” Siwon bertanya sambil meletakkan pisau dan garpunya perlahan di meja. “Siapa?”

“Beliau bilang beliau ingin bertemu langsung dengan Anda sekarang juga,” jawab penjaga gedung itu.

“Ajak saja tamumu kemari, Siwon. Mungkin dia juga bisa makan bersama kita,” Nyonya Mingi berkata sambil mengelap saus cokelat di mulutnya dengan serbet.

Siwon baru akan menanggapi saat si penjaga gedung berkata lagi, “Tapi, Tuan yang ingin bertemu dengan Tuan Siwon bilang dia hanya ingin bertemu dengan Tuan Siwon saja.”

“Baiklah,” ucap Siwon sambil bangkit dari kursinya, “aku akan menemuinya. Aku permisi dulu.” Setelah berkata demikian, Siwon pun pergi bersama penjaga gedung tersebut.

“Aku kurang suka dengan si penjaga gedung itu,” kata Nyonya Mingi tiba-tiba, “orangnya suka sok ikut campur.”

“Aku juga tidak suka,” sahut Tuan Junsu.

“Mengapa kau tidak suka?” Nyonya Mingi melirik suaminya.

“Kumisnya tidak enak dipandang mata,” Tuan Junsu menimpali santai.

Jika ini adalah bukan kondisi dimana aku berada di tengah-tengah orang tua temanku, yang belum sepenuhnya kukenal, aku mungkin sudah menganggap ini lucu dan berusaha menahan tawa. Tapi kali ini aku kehilangan selera, bahkan untuk berpikir itu lucu sedikitpun tidak.

“Tapi Siwon menyukainya,” Tuan Junsu berkata lagi, “dia bilang si penjaga gedung itu bisa dipercaya.”

“Yah, karena itulah aku membiarkan penjaga gedung itu tetap ada di sini,” timpal sang ibu, “jika Siwon mengatakan kalau orang tersebut dapat dipercaya, maka aku juga akan mempercayainya.”

Tuan Junsu mengangguk-angguk. “Jika Siwon bilang kalau dia menyukai orang itu, maka kita juga akan menyukainya,” ujar beliau seperti anak kecil yang mengulang perkataan orang tua.

Aku lantas melihat Nyonya Mingi menyikut suaminya dan merujuk ke arahku. Setelah mendapati kalau aku melihati mereka, suami istri itu menegang kaku, berfokus pada panekuk mereka kembali. Oleh karena itu pun, aku melakukan hal yang sama.

“Nona,” Nyonya Mingi seketika bersuara. Perlahan aku mendongak ke arahnya. “Apa kau menyukai Siwon?”

Pe-pertanyaan itu…? Kenapa pertanyaan itu mendadak muncul?

“Mingi-ah,” kisik Tuan Junsu dengan sangat keras hingga kedengaran, “itu kan bukan pertanyaan yang kita sepakati untuk ditanyakan tadi.”

“Ya, tapi itu pertanyaan paling tepat untuk langsung mengetahui jawaban yang ingin kita cari, Oppa,” geram Nyonya Mingi.

“Ta-tapi kan…”

“Sudah, kau diam saja,” bentak Nyonya Mingi, menggegarkan Tuan Junsu. Ia memusatkan kembali perhatian kepadaku, menyengatku lebih daripada sebelumnya. Potongan panekuk yang sudah kupotong dan sudah siap kumakan kuletakkan kembali. “Bagaimana, Nona, apa jawabanmu?”

Aku hanya menyeringai, tidak tahu harus mengeluarkan kata apa pun untuk menanggapinya.

“Mingi-ah,” Tuan Junsu berbisik kencang lagi, “kenapa dia hanya senyam-senyum seperti orang bodoh?”

“Diam dulu,” Nyonya Mingi berkata seperti menghardik sambil menyikut Tuan Junsu lagi, “mungkin dia sedang berpikir.”

Sebutan ‘orang bodoh’ yang diucapkan dengan nada polos dan naif oleh Tuan Junsu padaku memang tak salah. Aku yakin aku pasti bertampang bodoh sekarang. Tapi, entah mengapa, perkataan itu mengantupku seperti sengat seekor tawon imut. Menyakitkan, tapi tak bisa kusalahkan.

“Apa kau berencana menjawab, Nona?” Nyonya Mingi kembali menyerangku. Yang satu ini lain lagi, ia memang terlihat galak dan menakutkan. Kendati begitu, aku malah menemukan ekspresi menggemaskan layaknya bocah perempuan lucu yang sedang memaksa. Ia menakutkan, namun juga tak bisa diindahkan.

“Benar, Nona, apa kau berencana menjawab?” Tuan Junsu ikut bertanya. Lebih tepatnya, ikut-ikutan bertanya. Pertanyaan yang sama pula.

Tekanan yang disampaikan oleh pancaran mata mereka membuatku sedikit gerah dan buncah. Setelah menelan ludah, aku pun bermaksud menjawab. “Tentu saja saya menyukai Siwon. Siapa yang tidak menyukainya?” Aku mendengar jawabanku sendiri dan menyenanginya. Jawaban itu pasti dapat menenangkan kedua orang tua yang menanyakan pendapat orang lain mengenai anaknya.

“Benar juga,” sahut Tuan Junsu, “siapa yang tidak menyukai Siwon?”

“Ih!” sentak Nyonya Mingi, mengejutkanku sekaligus Tuan Junsu. “Tetap saja itu bukan jawaban yang kita cari, Oppa.” Ia mengarahkan kedua mata kecilnya ke arahku lagi. “Maksudku adalah apa kau menyukai Siwon seperti Siwon menyukaimu?”

Aku melebar kaget. Lantas aku kebingungan bagaimana menjawabnya sekarang? Aku sendiri tidak terlalu mengerti maksudnya. ‘Seperti Siwon menyukaiku’ itu seperti apa? Namun jika aku menanyakan maksudnya, apakah aku akan dibentak juga seperti Tuan Junsu nantinya?

“Lagi-lagi diam saja dia,” celetuk Tuan Junsu.

Aku sudah mengantisipasi kemarahan Nyonya Mingi lagi pada celetukan suaminya, tapi Nyonya itu hanya diam memandangiku. Diamati sebegitu dalam gerak-geriknya, aku makin salah tingkah. Panekuk manis yang sebagian sudah tercerna di perut rasanya menggelegak. Saat seperti ini, aku sangat berharap Siwon kembali ke meja makan.

“Nona?” Nyonya Mingi mulai mendesak.

“Maaf, apa maksudnya dengan ‘Seperti Siwon menyukai saya’?” Akhirnya aku melontarkan pertanyaan yang terdengar seperti besar kepala tidak pada tempatnya itu. Namun, aku harus memastikan sebelum menjawabnya, bukankah begitu?

“Ya ampun! Apa Siwon tidak pernah mengatakan kalau ia menyukaimu? Aneh sekali. Karena Siwon sudah aku ajari untuk menjadi anak yang jujur dan pemberani, mengatakan apa yang ia rasakan, apa yang ia mau. Biasanya seperti itu. Apa dia tidak melakukan itu padamu?” celoteh Nyonya Mingi.

“Ya, apa dia tidak pernah mengatakannya padamu?” ulang Tuan Junsu.

“Mengapa kau hanya mengikut-ikuti aku saja?” omel Nyonya Mingi.

“Ah, maaf, Mingi-ah,” pinta Tuan Junsu sambil menyeringai.

“Kau ini, bisanya hanya mengulang-ulang saja. Mengapa tidak kau menguatkan pertanyaanku dengan apa yang kaudengarkan dari Siwon tentang Nona ini?” sergah Nyonya Mingi.

“Ah, ya,” Tuan Junsu mengangguk, berdeham, lalu berkata, “beberapa hari yang lalu, Siwon berkata padaku kalau dia sedang jatuh cinta pada seorang wanita. Lalu aku melihatnya merenung sendirian di ruangannya selama berhari-hari.”

“Oh,” Nyonya Mingi menyergah, “saat opera ini tutup selama berhari-hari itu?”

“Benar sekali,” respons Tuan Junsu, “kemudian aku sering memergoki Siwon pergi bersama Yoochun. Padahal seingatku mereka tidak terlalu akrab awalnya. Hingga kemudian aku menemukan Siwon dan Yoochun bersama seorang wanita—mereka bergandengan tangan bertiga di kedai minum favoritku.”

Aku menarik napas. Beliau akan menceritakan kisah memalukan itu.

“Lalu aku memanggil Siwon dan menanyainya. Siwon bilang kalau itu adalah wanita yang ia ceritakan, yang ia sukai. Kemudian aku bertanya mengapa Yoochun kelihatan akrab juga dengannya. Siwon berkata kalau Yoochun juga mengenalnya, lagi pula, yang kuketahui, Yoochun memang lebih luwes dalam mendekati wanita—”

“Siwon juga luwes!” sergah Nyonya Mingi. “Siwon bilang dia bisa membuat wanita-wanita yang ia minati mengobrol lancar dengannya dalam waktu satu jam saja.”

“Itu karena mereka memang langsung terpesona pada anak kita yang tampan itu, Mingi,” Tuan Junsu berkata.

“Kenapa kau bisa berpikiran begitu?” Nyonya Mingi bertanya.

“Kyuhyunie yang bilang begitu padaku,” sahut Tuan Junsu. “Di kedai itu, Siwon bilang dia punya kecenderungan untuk bicara terlalu serius sehingga membuat bosan lawan bicaranya. Dan Yoochun tidak begitu.”

Nyonya Mingi menatapku tajam. Aku yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka dengan penuh ketidakpahaman atas beberapa hal pun segera bergidik karena tatapan itu.

Tuan Junsu melanjutkan, “Jadi karena itu, aku pun kemudian memanggil Yoochun juga saat itu. Supaya aku bisa tahu juga apakah Yoochun juga mengincar yang diincar Siwon.”

Mengapa mereka berbicara seakan-akan aku sedang tidak di hadapan mereka? Namun perasaan seakan-akanku itu segera berubah ketika Nyonya Mingi menatapku lagi. “Apa kau menyukai Yoochun alih-alih anakku—Siwon, Nona?”

“Astaga, Mingi-ah, kenapa kau langsung bertanya seperti itu? Aku belum selesai—”

“Aku sudah tahu arah penjelasanmu ke mana, Oppa. Jadi, menurutku, kita sebaiknya langsung bertanya saja,” Nyonya Mingi membalas sambil memusatkan kedua matanya padaku. “Tak perlu malu, Nona. Jawab saja. Kalau kau memang menyukai anak kami, kami akan senang hati menyambutmu. Tapi kalau tidak, jauh lebih baik jika kau tidak memberikan harapan kepadanya.”

Harapan?

Pemberian harapan?

Apa sebenarnya itu yang selama ini kulakukan? Apakah Siwon merasa aku melakukan hal itu terhadapnya?

“Kau tahu, ini memang bukan pertama kalinya Siwon menyiapkan segala sesuatu dengan sangat terencana dan berhati-hati. Tapi jika ia demikian, itu adalah tandanya dia sedang serius. Dia memang tidak sebegitunya terbuka padaku dan ayahnya. Tapi dia menunjukkannya. Dia bilang dia akan membawa pengantinnya dalam waktu dekat ke hadapanku ketika aku sedang membahas masalah jodoh dengannya. Dia sering menatapi lama-lama properti gaun pengantin dan tuksedo sambil tersenyum-senyum sendiri. Dia merencanakan banyak hal, memesan berbagai keperluan—entah apa, yang tagihannya tak pernah diperlihatkan kepadaku. Dia bahkan mencoba memesan tiket perjalanan khusus untuk dua orang. Aku yakin dia merencanakan sesuatu dan, kemungkinan besar, itu berkaitan dengan wanita. Jadi, ketika suamiku mengatakan Siwon memang sudah memiliki wanita yang ia sukai, yang ia pernah ajak ke kedai minum, aku bersikeras agar bisa bertemu dengan wanita itu. Tapi, belakangan, Siwon melarangku. Dia bilang sang gadis masih belum menjawabnya dengan pasti, dan kemungkinan besar menolaknya,” Nyonya Mingi menjelaskan dengan intonasi meninggi di tiap kalimat. Dan kalimat terakhirnya itu seolah mengiris telingaku. Ia kini secara terang-terangan memicingkan mata terhadapku. “Maaf saja, meski aku tidak tahu apa alasannya, aku merasa aku harus bertemu dengan gadis yang disukai anakku itu. Dan di sinilah aku sekarang, menanyainya.”

“Kau tak perlu mendengarkan mereka,” Suara seorang pria berucap dekat dengan telingaku. Aku menoleh dan terkejut saat ia melanjutkan, “Mereka hanya merasa tak terima. Dan, jangan khawatir, ketidakterimaan mereka akan cepat berlalu.”

Aku mengatupkan mulutku.

Siwon? Dia mendengarkan sejak tadi?

“Apa maksudmu tak perlu mendengarkan kami, Siwon?” tanya Nyonya Mingi. “Dan kenapa kau tiba-tiba muncul dari balik tirai dan langsung bicara begitu?”

Aku tidak melihat Siwon tapi aku bisa mendengar ia seperti mendenguskan senyuman. Tanganku, yang kaku semenjak—entah kapan tepatnya—Nyonya Mingi memulai interogasi ini, kemudian disentuh oleh Siwon. “Ayo kita pergi,” ujar Siwon.

“Mau ke mana kalian?” tanya Tuan Junsu.

“Ayah, Ibu, kalian sudah membuat Sunghyo ketakutan. Izinkan aku menenangkannya dan menjelaskan maksud kalian sebenarnya yang baik itu,” ujar Siwon dalam kapasitasnya sebagai anak yang bertutur kata sopan pada orang tua.

“Baiklah,” kata Tuan Junsu, “kalian boleh pergi.”

Aku pun patuh pada ajakan Siwon dan bangkit dari kursi, berjalan bersamanya setelah mengucapkan pamit pada kedua orang tuanya. Entahlah. Mungkin lebih tepatnya aku bukan ketakutan selama interogasi tadi, tapi kosong—dan tidak tahu harus apa. Jadi, ketika Siwon mengajakku ke ruangan besar tempat busana-busana operanya terletak, aku masih merasakan kekosongan itu.

“Tadi yang kutemui adalah Yoochun,” ia berucap, “dan ia memberikanku surat untukmu.”

“Surat dari Yoochun?” tanyaku.

Siwon mengeluarkan sepucuk surat dari kantong jaketnya dan menunjukkannya padaku, namun tak langsung memberikannya. “Yoochun pasti akan mengutukku karena aku telah mengatakan hal yang dilarangnya ini, tapi sebagian besar yang ditulis di surat ini adalah kebohongan. Aku tahu kebenarannya. Dan Yoochun juga tahu,” ucap Siwon, membingungkanku.

Ketika aku baru saja ingin berujar, Siwon memberikan surat itu kepadaku. Di tengah-tengah kebingunganku, aku membuka surat itu dan membacanya:

Siwon,

Aku meminta maaf karena aku mencoba mendekati Sunghyo tanpa sepengetahuanmu. Tapi, saat itu, yang kupikir, aku harus membuat kenangan indah sebelum hidupku selesai, bukan? Bukankah kau yang bilang begitu, kawan?

Sunghyo memang belum sepenuhnya mencintaimu. Tapi aku yakin kau bisa membahagiakannya. Kalian pantas dan serasi untuk masing-masing.

Kau mungkin takkan memaafkanku. Karena aku tak pernah memberitahukan mengenai penyakitku kepadamu. Tapi aku melakukan itu karena aku tidak mau kau kasihan dan mengalah atas Sunghyo terhadapku. Aku tidak mau nampak menyedihkan di hari-hari terakhirku. Ah, aku telah bersikap egois lagi.

Saat ini, saat aku menulis surat ini padamu, suntikannya sudah disiapkan. Aku akan menjamin surat ini benar-benar sampai kepadamu sebelum suntikannya menyentuhku. Aku memastikan aku membalasmu sama. Sama seperti kau yang nampaknya akan menulisiku surat yang memintaku menjaga Sunghyo saat kau pergi. Sama juga seperti kau yang bilang kau sudah ada di negara sebelah saat suratnya kubaca. Aku sudah ada di tempat yang sangat berbeda saat kau membaca ini.

Terakhir namun bukan yang paling sedikit, kau harus berjanji membuat Sunghyo mau menikah denganmu Siwon. Kalau tidak, aku akan menghantuimu.

Salam hangat,

 

Yoochun Park

Kurasa sendi di lututku tak berfungsi sekarang, karena aku limbung begitu saja ke lantai. Aku berpikir lantai berkarpet itu akan menangkapku. Keras.

Tapi rupanya tidak.

“Sunghyo,” Siwon berucap sambil memegangi pundakku yang hampir melorot, “dia bohong. Dia tidak sakit seperti yang tertera di surat itu.” Aku menengadah padanya dan segera menjauhkan tubuhku darinya. Matanya menatapku, dalam. “Dia hanya membuat surat selamat tinggal palsu dan memaksaku memberikan itu kepadamu. Ia bilang aturlah sedemikian mungkin seolah itu kenyataan. Dan buatlah keadaan agar kau mempercayai keadaan yang tertera di surat itu.”

“Aku tidak paham—”

“Yoochun sedang mengusahakan, segiat mungkin, agar aku bisa bersama denganmu. Ia mengatakan ia tidak akan berada di antara kita berdua lagi,” kata Siwon.

Aku mencari-cari kedalaman manik matanya yang tegas.

“Awalnya dia tidak langsung memberikan ini,” Siwon berkata lagi, “dia memberikan ini karena aku bilang aku akan pergi, meninggalkan kalian berdua. Dan saat kubilang padanya kalau aku yakin kalau kau menyukainya, nampaknya dia merasa kasihan padaku. Lalu mengeluarkan rencana terakhirnya itu.”

Oh, Siwon.

“Aku hanya merasa itu tidak benar. Selain itu, dikasihani rasanya sedikit…,” ia membuang muka, “…menyedihkan.”

“Barangkali dia tidak bermaksud untuk mengasihanimu,” ujarku.

“Ya, aku tahu,” Siwon tersenyum, “dia juga bilang begitu. Lagi pula, kesan seperti tak mengindahkan harga diriku juga tidak tampak padanya saat menyatakan ini. Dan aku tahu Yoochun bukan orang seperti itu. Jadi, jangan berpikiran yang tidak-tidak padanya. Sungguh, aku tidak bermaksud membuat orang yang kausukai tampak buruk. Aku hanya ingin memberitahu bahwa dia sangat memikirkanku, temannya, hingga melakukan ini. ”

Aku mengernyit. “Mengapa kau begitu yakin kalau aku menyukainya?” tanyaku.

Ia memandangiku, lalu mengela napas. “Lalu kau ingin bilang kalau kau tidak menyukainya?”

Pertanyaan Siwon seumpama jangkar raksasa yang mengangkat tubuhku keluar dari air. Sesak dan dingin.

“Kau tidak mau menjawab,” ia menyimpulkan sendiri, “namun yang pasti, aku tahu, kau tak ingin bilang kalau kau menyukaiku.”

Dan pernyataannya itu serasa seperti melemparkanku pada gala ekspedisi perburuan kerbau. Ekstrem dan intens.

Aku harus mengubahnya. “Tidak,” ujarku dengan bergetar.

“Ya, aku tahu, Sunghyo. Kau menyukaiku sebagai teman. Kau sudah pernah mengasumsikannya,” ujar Siwon dengan senyum andalannya.

Namun kali ini aku tidak dapat mabuk dengan senyumannya seperti biasa, karena kenegatifan yang terasa makin kuat dalam diriku berkat ucapannya itu menguasaiku. Jadi, aku menyambung, “Seperti yang kubilang sebelumnya, aku memikirkanmu saat sedang bersama Yoochun. Begitu juga sebaliknya, aku memikirkan Yoochun saat bersama denganmu. Aku terhanyut dalam kondisi menyesakkan yang janggal karena sentuhanmu. Dan aku secara ajaib berkeinginan memeluk Yoochun saat berdekatan dengannya—”

“Sunghyo…”

“Jadi kurasa aku bukan orang yang pantas untuk berada dalam posisi ini. Kau telah membuang waktumu untuk menyukai orang yang salah,” kataku, dan itu nampaknya kali pertama aku mengakui kebenaran rasa sukanya padaku, “aku sendiri tidak menyukai diriku sendiri—”

“Sunghyo, jangan bicara seperti itu…”

“Kalian bahkan tidak tahu diriku yang sebenarnya bagaimana. Kalian akan kecewa sekali jika mengetahuinya—”

“Sunghyo, hentikanlah…”

Aku menghela napas. “Ya, aku akan menghentikannya,” ucapku. Aku menunduk ke bawah, memandangi karpet merah bercorak hiasan melingkar hitam yang kuinjak, lalu melanjutkan, “Tapi kalau topik ‘bagaimana-sebenarnya-diriku’ ini penting bagimu, aku akan menjelaskannya. Aku suka kalian berdua, bukan sebagai teman seperti yang pernah kuulas. Saat itu aku ketakutan. Namun sekarang aku menjelaskannya padamu, dan mungkin bisa kauberitahukan pada temanmu–si pengirim surat bohongan itu. Aku menyukai kalian berdua.”

Ya, aku mendengar diriku sendiri mengucapkannya. Kalimat itu, kalimat yang bahkan sampai detik ini tak dapat kupercaya kalau aku yang mengucapkannya, kalimat yang terasa seperti janji terhadap iblis. Kalimat yang keluar begitu saja ketika otak dan hatiku panas karena tekanan, yang berarti bisa dibilang itu adalah kalimat paling jujur yang tidak kututup-tutupi dengan moral dan norma dalam pikiranku lagi.

Advertisements

10 thoughts on “Candy-coated Misery #20

  1. ohhooo..
    dan utk sekian kalinya aku baru baca, hehe..

    aii, itu orang tua kepo sekali, haha, si couple polos tp ga bisa disebut polos #lol, asli ngakak tadi waktu baca scene konyolnya Mingi rumpi sendiri sama Junsu, yg mengabaikan si tersangka utama dalam topiknya, kkk..
    dan lagi2 surat konyol Yoochun, hahha, itu scene amat sangat drama sekali, kkk, dan jawaban ambigu Sunghyo, aigoo, beneran deh perasaan mereka bertiga bikin gemes.. ^^~

    • Nancho… ♥♥♥
      Hehehe… senengnya kamu masih ngikutin ^^

      #lol namanya juga orang tua #alasanapaini
      Dan couple polos-tapi-ga-bisa-disebut-polos (?) ini bukan couple resmi kok, #pukpukMinmi, tapi senang kalo kamu terhibur sama adegan rumpi mereka hahaha…
      Haha, konyol ya suratnya? Dan sangat drama? #pingsan nampaknya harus ngurangin unsur dramanya nih #berpikirkeras
      #lol gemes ya? Hehehe…

      Btw, makasih banyak masih ngikutin seri ini ya, nancho ♡♡♡

  2. ya ampuuuuunnn..
    itu Mingi! bukan Minmi!!, sumpah demi apa, kenapa bisa aku bacanya Minmi, kkk, pantesan beberapa scene mereka ga kayak biasanya, antara Junsu sama Minmi yg ga tau apa2, tp ternyata itu Mingi yg punya usul rumpi, #lol, penjelasan apa ini, tapi serius author eonni, aku mikirnya itu pasangan abadi Junsu si Minmi, kkk..
    mian, hahaha, dan julukan itu cuma buat MiSu..

    • Hahaha, kamu kira itu minmi, nancho? Hahaha… Minmi udah dimunculkan jadi pelayan istana di awal2, yah… mungkin kurang berasa makanya bisa kelupaan ^^
      Lagi pula namanya juga hampir mirip, hehehe… wah harus bekerja keras lagi nunjukin perbedaan minmi dan mingi supaya lebih berasa kkk…
      Kkkk… jadi itu julukannya buat misu aja ya? Hehehe ^^

  3. Annyeong duo eonni,,
    Hahaha
    Asri enggk bisa berhenti ketawa ngelihat kelakuan emak sm bapaknya wonpa,aigoo,aigoo mereka bener2 bikin ketawa ngakak,cara mereka mengintrogasi sunghyo sm keingin thuan mereka itu lo,dan waktu mereka ngobrol sendiri mlh mlupakan sunghyo yg diinttogasi hahaha,,hoho jdi emaknya wonpa mingi beneran dan bkan couplenya junsu asli?tpi lucu banget dan cocok kok eon,,gokil abiiis~mereka berdua,,

    Kyaaa~bang yoochun beneran skit kah?parahkah?atau jangan2 cm alasan sja,buat mempersatukan wonsung,aigoo bang yoochun klau itu cma akal2 mu,kenapa hrus nulis kan kata skit kya gitu,tpi asri salut sm bang yoochun smpai segitunya berkorban buat sahabatnya,,,wonpa beruntung banget pnya shabat kyak bang yoochun,,,
    Dan skarang tinggal sunghyonya ni,,yg nentuin tpi syangnya sunghyo perasaannya masih berubah-ubah,,,

    • Annyeong asriii… ♥♥♥
      Huwaa… apakah sekonyol itu mingi dan junsu? Mingi dan junsu di sini cuma ngakting jadi suami istri kok, aslinya junsu tetap setia sama minmi #apaan
      Junsu dan mingi emang udah gokil, chemistry mereka udah kepupuk semenjak jadi atlet dan manajer di darkness eyes hahahahaha…

      Itu alasan aja, siwon kan udah bilang hehehe… yah, emang ini masih edisi galau, asri. Dan chunsungwon emang makin galauan di sini hehehe…
      Yah, gitu dah si sunghyo. Tapi mudahan di chap berikutnya udah bisa membereskan sifat sunghyo yang satu itu hehehe….
      Btw, makasih udah komen lagi ya, asri ^^

  4. Wah sunghyo lagi galau cieee dilema memilih antara 2 namja.. aduh lempar ke aku jg aku ikhlas ko yg mana aja daku mauuuu hiaaaa #plakk
    Bpk nya siwon lucu ya ngopi omongan istri nya mulu bhuehehe.. kasian sunghyo ada dsitu tp kaya patung pajangan d diemin aja hahaha
    Kangen changi :*

    • Monica… ^^
      Hahaha… iya sunghyo dilema ^^ hahaha… dilempar satu ke kamu aja nih? Hihihi…
      Bapaknya siwon ceritanya di sini Junsu, hohoho…
      Jadi sunghyo kasian lagi ya? ^^
      Changi sebentar lagi semoga muncul hehehe, yuk lanjut ke chapter selanjutnya ^^
      Btw, makasih udah komen lagi ya, monica ^^

  5. annyeong duo eonni,,
    asri dah ketinggalan jauh deh ama ff ini,bahkan asri aja lupa,dulu bacanya sampai ep berapa😆,,19 kah atau 20 ka?mian asri lupu,,,

    kyaa~tu bapak sama emaknya bang won kepo banget ya,trus mereka berdua tu polos amat jadi orang tua hhh,,
    wow~si sunghyo suka dua”nya?#asri aja jg bakal suka dua”nya kalau cowoknya model bang won sm bang chun😆#abaikan,,
    tapi jawaban sunghyo makin bikin penasaran,walaupun sunghyo bilang suka dua”nya,pasti rasa yg di rasakan sunghyo buat bang wonchun pasti berbeda,,pasti ada rasa yg lebih buat salah satunya,,

    si changi sm changkyun enggk nongol di part ini,,
    asri kangen banget tu sm tu tiga manusia hhh,,
    jd enggk sabar baca lanjuttannya😊,,fightiiing duo eonni,,

    • Annyeong, asriii… wah senangnya liat komenmu… hehehe… udah lama ga baca ya?
      Kkkk… kepo ya ortunya? Kkk… maklum sifat ortunya diambil dari sifat oc kk…
      Hahaha… sunghyo emang rada galau dia. Tapi nanti lama-lama, sesuai katamu, dia bakal rasain rasa yang berbeda daripada saat suka dua-duanya.
      Hehe, kangen changchankyu ya? Kkkk…
      Ayo baca lagi kalo penasaran, asri… fighting juga yo ^^
      Makasih juga udah komen lagi ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s