The Beloved Roulette #3

Title : The Beloved Roulette #3

Author : Mysti Adelliza

Casts : Min Sung Hyo (OC), Park Yoochun (DBSK), Park Chan Gi (OC), Shim Chang Min (DBSK), Kim Jaejoong (DBSK), Shin Ririn (OC), Kim Junsu (DBSK), Min Minmi (OC), Jung Yunho (DBSK), Park Minrin (OC)

Genre : Drama

Authors’ Note : Annyeongreaders. Kembali lagi nih dengan episode berikutnya The Beloved Roulette! Hehe. Silakan dibaca ^^

Oh ya, kalau masih ada yang belum tahu, The Beloved Roulette ini adalah gabungan dari lima ff (Lychee Dear, Three Card Trick, Take the Gloves Off, Sweet Whipped Cream, My Wife is A Fanster) 🙂

Jadi, disarankan kalian bacanya berurutan, supaya tidak bingung. Hehe.

Oke, cukuplah pengantarnya, yuk segera dibaca FF-nya 😉

***

-Changmin’s PoV-

Oke. Pertanyaan itu meluncur juga, meluncur tepat seperti roket laju cepat yang kuimpikan untuk kukendarai sejak kecil. Aku sangat berharap ada di roket itu sekarang, jauh dari pertanyaan ini. Tapi, sayangnya, aku bukan pengendara roket, aku adalah sasarannya. Dan ibuku mungkin Neil Armstrong, menancapkan tiang benderanya dengan gembira.

“Changmin.” Ibu memegang tanganku. Beliau menyampaikan remasan yang seperti menyuarakan kekhawatiran. “Apa ada masalah?”

“Tidak ada apa-apa,” sahutku, sebisa mungkin kedengaran ceria, kemudian mengembalikan pandanganku ke makanan di hadapanku. Oh. Seandainya aku bisa memakan itu sekarang. Tapi tidak mungkin dalam situasi ini, situasi dimana orang tuaku menuntut hal semacam ini. Aku memang bisa makan dalam situasi apa saja, kecuali satu situasi; situasi dimana orang tuaku menuntut.

“Kau selalu bilang tidak ada apa-apa,” Ayah berkata sambil mengelap mulutnya dengan serbet. “Tahukah kau kalau kami sudah hapal kalau itu adalah caramu mengelak dari sesuatu?”

Kelopak mataku memaksa untuk memejam, namun aku bisa menahannya untuk tidak terlalu lama. Aku tidak boleh menunjukkan raut wajah yang makin menggambarkan apa yang ada di pikiranku. Ujung mataku bahkan sempat gatal dan aku mengerahkan telunjuk untuk menggaruknya, bukan untuk apa-apa. Sudut pandangku menemukan Ayah yang baru akan memiringkan bibirnya, membahasakan kalau beliau akan mengeluarkan pernyataan yang akan membekukanku. Karena itu, aku berantisipasi. Namun, antisipasiku buyar ketika hingar-bingar terdengar dari luar.

Dan dari jenis keributannya, aku bisa tahu itu berasal dari mana. Seumpama kelelawar yang mengenali tiap desibel suara yang tak terdengar oleh manusia, aku mengenalinya. Itu suara kerusuhan yang dibuat keempat Hyung-ku.

Meskipun berisik, namun aku tak bisa mencerna apa yang mereka katakan. Aku bertanya-tanya dalam hati dengan pandangan terusik, mencerap ke arah pintu. Hal itu baik juga sebab aku dapat sejenak melarikan diri dari wawancara menegangkan orang tuaku. Akan tetapi, kebaikan itu sebentar saja mendatangiku. Karena Changi tiba-tiba muncul di sana, di muka pintu itu.

Nah. Sekarang aku menyesal mengapa tadi aku tidak mengarang jawaban indah yang mungkin dapat segera menyelesaikan pengusutan ini. Changi sudah ada di sini. Semuanya mungkin akan terungkap.

“Changi!” sapa Ibu ramah.  “Silakan duduk, Nak.”

Changi pun bergerak ke arah kami.

Ah. Persidangan ini dimulai.

-Changi’s PoV-

“Ayah, Ibu,” aku menyapa seraya membungkukkan kepala, memberi salam. Aku dapat melihat mereka balas mengangguk dan terus mengamati diriku.

Aku lantas menarik salah satu kursi dan mendudukinya. Di pintu depan tadi, aku baru saja mendapati kehebohan yang disampaikan oleh empat pria itu. Mereka segera mencecokiku dengan dugaan mereka. Sangkaan-sangkaan menakutkan, yang tak mau kuungkit lagi, yang bahkan kukira hanya di dalam pikiranku, telah mereka beritahukan. Berikutnya, mereka mendorongku agar masuk ke sini, membantu Changmin.

Mereka sangat peduli pada si jangkung itu, aku tahu.

Tapi aku masuk ke sini bukan karena Changmin. Aku melakukannya untuk diriku sendiri, untuk orang tua Changmin yang kuhormati. Aku akan membelokkan sebaik mungkin apa yang menjadi topik bahasan mereka itu jika memang benar kata empat pria di depan sana.

“Kau sudah makan, Changi?” tanya Ibu.

“Belum, Ibu,” jawabku mengarah pada sepanci ramyun di depanku. Dan mendadak mendapatkan ide karena itu. “Astaga. Menunya ramyun dan kalian belum menghabiskannya? Kurasa yang terbaik adalah menghabiskannya buru-buru sebelum berubah menjadi mi dingin,” kataku sambil mengambil sumpit. “Ayo.”

Ayah dan Ibu Changmin saling memandang lalu melemparkan senyum. Mereka pun segera mengikuti saranku, makan dengan khidmat. Kutemukan wajah Changmin yang keheranan. Aku tak tahu mengapa dia begitu. Hanya saja, aku tak peduli. Aku mau makan, lagi pula.

-Changmin’s PoV-

Sangat amat tak diduga.

Baiklah, aku terdengar berlebihan. Tapi kurasa wajar. Aku didorong oleh tekanan ini selama entah berapa lama, membuatku menganggap waktu berhenti, kala Ayah dan Ibu ada di meja makan ini–menanyaiku. Hingga Changi datang lalu menjungkirbalikkan keadaannya secepat dia menyarankan untuk memakan ramyun-nya.

Setelah itu, bahkan Ayah dan Ibu tak mengungkit soal itu sama sekali. Mereka malahan mengajak Changi berbincang-bincang mengenai kegiatan kuliah Changi, bahkan rencana melanjutkan kuliahnya segala. Aku tak tahu harus bersikap apa. Di sisi lain, aku kesal karena dia dapat menguasai situasi yang sulit bagiku ini dengan semudah itu. Di sisi lain lagi, aku senang karena bebas dari pertanyaan tersebut. Yang lebih penting, aku bisa bebas menikmati makananku, menyamankan perutku yang sedih selama tekanan tadi berlangsung.

Ayah dan Ibu bahkan beranjak untuk pulang dengan wajah ceria, laksana telah mendapatkan apa yang mereka cari. Padahal sama sekali tidak. Ayah menepuk-nepuk bahuku sambil tertawa lalu Ibu memelukku erat. Aku benar-benar tak habis pikir.

Namun aku juga merasa lega. Pertanyaan tajam itu bisa terlewatkan tanpa aku harus berbohong.

Setidaknya, itu pikiranku, sebelum Ibu melepaskan pelukannya dan berbisik padaku, “Kalau sudah ada tanda-tanda kehamilan, hubungi Ibu.”

Aku mematung.

Ah. Tekanan itu kembali menginjakku dengan kuat.

-Changi’s PoV-

Ayah dan Ibu Changmin memasuki mobil mereka. Aku masih melambai-lambaikan tangan mengiringi mobil mereka yang keluar dari halaman rumah dan melaju pergi. Beberapa detik aku merasakan dinginnya malam dan halaman, pun aku memutuskan untuk masuk. Di saat aku berbalik, aku menemukan Changmin berdiri di sana, di belakangku, terpaku seperti robot yang kehabisan energi.

Aku tak tahu apa yang sudah dia dapatkan dari orang tuanya. Dan selama dia tidak menarikku masuk ke dalam kesulitan yang dia terima itu, aku yakin itu tak ada kaitannya denganku. Atau mungkin dia memang tak ingin aku berkaitan. Maka, aku melenggang masuk, meninggalkannya terpaku dengan kerut kening di sana.

“Kita harus bicara.” Hingga tiba-tiba dia berkata demikian, tepat saat kakiku baru satu menjejak lantai dalam rumah.

-Changmin’s PoV-

Changi tetap melangkah masuk setelah penghentian gerakan selama beberapa detik karena perkataanku. Kucermati dia bergerak menuju kamar kami. Dan aku berasumsi kalau dia mau bicara di tempat tersembunyi. Dengan kata lain, kamar kami, barangkali.

Maka, aku meniru langkahnya, mengarah ke kamar kami. Aku tidak menemukan hyung-hyung-ku. Mungkin mereka kini sedang sibuk menonton televisi, atau–aku sih tak mengharapkan yang ini–mereka sedang bergosip seperti ibu-ibu rumah tangga. Aku tak mau menemui mereka, yang mungkin akan menggiringku ke rongrongan pertanyaan panjang. Oleh karena itulah, aku mempercepat langkahku hingga aku tiba di depan pintu kamar, lalu mengetuknya.

Changi tidak menjawab,  yang mana merupakan tandanya kalau aku bisa masuk. Aku pun membuka dan mendorong pintunya, yang kemudian menemukan wanita berambut keriting itu bertolak pinggang membelakangi ranjangnya.

Aku menutup pintu di belakang punggungku. “Kau kelihatan gusar,” kataku. Berkacak pinggang adalah bahasa tubuh Changi saat dia sedang meradang. Setidaknya tak butuh setahun untuk mengetahui itu. Dan aku sudah mengenalnya lebih dari setahun.

“Apa semua ini?” tanyanya, dengan nada berang.

“Semua apa?” sahutku.

Dia melempari beberapa carik kertas memo tempel ke arahku. Namun tak pernah sampai mengenaiku. Memo-memo itu hanya melayang sedikit lebih jauh dari posisi Changi berdiri.

“Itu memo,” aku menjawab enteng. Lagi pula, bukan ini yang ingin kubahas dengannya.

“Jangan bertingkah kalau ini bukan apa-apa. Coba kaubaca apa-apa yang kautuliskan di memo-memo ini,” sergahnya emosi.

“Kurasa aku tak perlu membacanya. Aku ingat apa saja isinya,” terangku.

“Kalau begitu, coba jelaskan satu-persatu padaku apa maksudnya. Yang ini,” Changi mengambil satu, “aku menemukannya dua hari lalu ditempelkan di lampu tidurku, ‘Kau akan mencobanya, jika kau ingin merasakannya.’ Apa itu?”

“Hanya kata-kata pencerah pagi,” jawabku, begitu saja terlontar tanpa kupikir.

“Lalu bagaimana dengan ini? Kutemukan kemarin. ‘Ayo! Selama kau bisa membayangkan masa depan, hari esok akan cemerlang. Ayo! Hati kita terhubung, saling mendukung. Jadi ayolah!’ –Apa-apaan itu?” cecar Changi.

“Itu kata-kata motivasi,” kujawab lagi tanpa pemfilteran pikiran. “Maksud ‘hati kita di sana’ adalah hati sesama manusia. Jangan berpikir yang tidak-tidak.”

“Aku tidak berpikir yang tidak-tidak. Aku hanya tak mengerti,” sangkalnya sambil mengerutkan kening. “Lalu bagaimana dengan yang ini?” Changi mengambil satu yang terjatuh di ranjangnya. “Ini, ‘Kau pasti bisa, ambillah waktumu. Aku percaya drama yang mengait di tiap hati bukanlah kesedihan. Jangan takut, cintamu akan bersinar di hati orang lain.’ Wow. Cukup panjang untuk jadi kata mutiara pencerah pagi. Dan terlalu punya makna ke arah lain untuk menjadi kata-kata motivasi. Dan ini baru kutemukan hari ini.”

“Itu lirik lagu. Lagi pula, kenapa kau kepusingan sekali dengan semua itu? Itu semua memoku,” tegasku.

“Aku tidak akan mengurusinya sama sekali kalau kau tidak menempelkannya di barang-barang pribadiku. Yang terakhir tadi bahkan kau letakkan di bawah bantalku,” ujarnya, “dan kurasa meletakan memo di bawah bantal sama sekali tidak bisa dibilang ketidaksengajaan.”

“Aku–ini bukan yang ingin kubahas,” aku memasuki zona pengalihan yang kurang tepat. Ketahuan secara menyedihkan seperti ini mungkin penyebab ketidaktepatan pengalihan itu.

“Kau sengaja, kan? Menulis semua ini?” kejar Changi, menidakpedulikan pengalihanku.

“Aku–”

“Kau sengaja, bukan?”

“Ya, aku sengaja,” sahutku, memikirkan kemustahilan untuk menyiapkan pengalihan yang lebih. Jadi aku rasa lebih baik mengaku. “Aku memang sengaja memberikanmu pesan-pesan di memo itu.”

“Untuk apa?” Changi bertanya, sambil menelengkan kepala.

“Apa kau sama sekali tak bisa menangkap maksudnya?” tanyaku.

“Jangan berbelit-belit, Changmin! Aku sedang tidak ingin bermain-main dengan tebak-tebakan!” Changi membentakku.

Dan kekesalanku soal ketidaksopanannya yang selalu memanggilku Changmin tanpa embel-embel apapun, padahal dia lebih muda dua tahun daripadaku, seketika menemaniku. “Tidak perlu membentakku,” ucapku.

“Aku tidak akan membentakmu kalau kau langsung memberitahuku apa maksudmu. Bukannya berputar-putar seperti yang selama ini selalu kaulakukan,” katanya tajam.

“Oh,” ucapku, “jadi kau suka yang langsung? Perkataan langsung? Baiklah. Aku akan mengatakannya langsung.”

Changi menatapku, seperti menantang.

“Pesan-pesan itu adalah nasihatku padamu…”

Aku melihat alis Changi menyatu, menampakkan kebingungan pada kalimatku yang belum selesai.

“… Nasihat agar kau bisa mengejar cintamu sendiri,” akhirnya aku melanjutkan.

Changi kini mengerutkan hampir semua sisi wajahnya yang bisa ditekuk. “Aku tak mengerti maksudmu,” katanya.

“Kau tahu, Changi, hubungan kita,” aku membuang muka sejenak, berdeham, kemudian menyambungnya, “jadi begitu konyol semenjak kesalahpahaman minuman tolol itu.” Changi mengangkat tangan, memintaku agar tidak melanjutkan mengorek tentang itu. Tapi aku tetap melanjutkan. “Dan aku tidak menyukai keadaan itu. Sangat tidak suka. Aku lebih suka… aku lebih suka ketika masih kanak-kanak. Dimana kita tak peduli. Benar-benar tak peduli. Dan aku bisa menjagamu dengan tenang.”

“Aku tidak perlu dijaga,” tegasnya.

“Aku sudah berjanji pada nenekmu,” balasku.

“Janji itu hanya berlaku di rumah kaca itu. Sekarang sudah kadaluarsa,” sambut Changi sengit.

“Terserah kau mau anggap bagaimana. Tapi aku adalah si penepat janji. Dan supaya aku bisa menepati janji, hubungan kita harus dinetralkan kembali,” kataku.

“Kau mulai berputar-putar lagi, Changmin,” sergahnya.

“Netralisasinya adalah dengan menyingkirkan semua kekonyolan di antara kita. Dan, menurutku, salah satu cara adalah dengan membiarkanmu menjalin kasih dengan pria lain. Dengan begitu, aku akan menganggapmu kawan baik kembali. Sama seperti dulu,” aku membawa penjelasanku kembali ke inti.

Changi membersut. “Menjalin kasih dengan pria lain?”

“Ya,” anggukku, “tadinya aku mau mencarikanmu. Tapi rupanya kau punya kemampuan menemukan laki-laki dengan baik. Yang menjemputmu tadi pagi lumayan juga. Kau mungkin dapat mulai memikirkan untuk melanjutkan hubunganmu lebih dalam dengannya.”

“Aku tidak mengerti apa yang kaubicarakan,” Changi kini bersedekap, memeluk dirinya sendiri.

“Kau jelas mengerti. Jangan pura-pura. Kita sama-sama tahu kita bukan pasangan seperti yang lain. Dan kita sama-sama pantas mendapatkan kebahagiaan masing-masing,” ucapku.

Changi menaikkan alisnya. “Maksudmu aku mencari pria lain, dan kau mencari wanita lain?”

“Kau tak perlu memusingkan soal diriku,” sahutku.

“Oh!” Changi berseru, kelihatan tak terima. “Jadi sekarang kau mengaturku dan aku tidak punya hak yang sama?”

“Jadi kau ingin pusing-pusing memikirkan diriku?” tanyaku.

“Bukan itu,” Changi memalis muka dan mendecak, “sebenarnya apa inti pembicaraanmu, Changmin?”

“Ayah dan Ibu meminta hal yang sangat menyulitkan. Mereka membahasnya tadi.” Akhirnya aku mengeluarkan pembahasan ini. Tadinya ini sama sekali tak kukaitkan dengan memo-memo dan nasihat, ataupun netralisasi yang ingin kupaparkan, tapi secepat isu ini muncul hari ini, secepat itu pula otakku menggabungkannya menjadi satu rumusan.

“Apa itu?” tanyanya.

“Mereka menginginkan anak,” kataku, “dari kita.”

Kudapati Changi melebarkan matanya, kemudian menundukkan wajah dan bahunya, namun dengan cara penuh kefrustrasian, seperti menemukan suatu desas-desus yang telah dia ketahui ternyata fakta.

“Dan aku punya ide atas hal itu,” aku mengemukakan.

Changi mendongak, menatapiku.

“Kau mungkin bisa berhubungan dengan pacarmu. Dan jika kau nanti hamil, aku akan mengakui kalau itu anakku,” kataku setenang mungkin. “Seperti yang kutulis di memo itu,” aku berkata sembari mengamati Changi yang kini beringsut mendekatiku, “cintamu mungkin akan bersinar di hati orang lain.” Dan kini Changi berjalan ke arahku, hingga betul-betul ada di hadapanku. “Aku benar?”

Bukannya menjawab, Changi malah menggerakkan tangannya. Dan sedetik kemudian, dia sudah menonjok wajahku. Keras.

-Changi’s PoV-

Aku tidak tahu apa yang salah. Sepertinya otaknya rusak. Apa dia kebanyakan tidur sehingga tumbuh parasit yang memakani sel otaknya? Apa makanannya telah diracun sehingga otaknya mengerucut? Yang jelas, aku harus membenarkan dan meluruskan kembali cara pikirnya yang berantakan itu.

Dia perlahan bangkit sembari memegangi bagian wajahnya yang barusan kuhadiahi bogem mentah; pipi kanan yang agak dekat ke hidungnya. Aku mengawasinya, barangkali sebentar lagi dia mimisan. Namun, bocah satu ini memang berfisik kuat. Aku tidak melihat setetes darah pun di hidungnya. Padahal aku yakin pukulanku keras.

“Ck. Apa masalahmu?!” tanyanya nyaring, setengah menghardik.

“Harusnya aku yang bertanya itu kepadamu,” sahutku mantap. Dan aku tak bisa menahan kedua alisku agar tidak mengerut, menyatu, memandanginya yang telah melepaskan tangannya dari wajahnya.

“Apa? Ada yang salahkah dari ucapanku?” tanyanya.

“Wah!” Aku melebar kaget. “Ada yang salah? Ada yang salah katamu?”

“Ya,” dia mengeraskan rahangnya, “Apa yang salah dari itu? Aku hanya mencoba memberikanmu kebebasan, kebebasan memilih pria tepat di luar sana. Bagaimanapun, aku juga harus mengingatkan kewajibanmu. Orang tuaku menginginkan–”

“Memikirkan diri sendiri!” selaku.

Changmin membelalak. “Apa? Kaubilang orang tuaku… memikirkan diri sendiri?” sergahnya.

“Kau! Kau yang memikirkan dirimu sendiri!” aku meninggikan suara, membalas belalakan matanya. “Kau hanya berlindung di balik pernyataan kalau kau memberiku kebebasan–”

“Aku tidak–”

“Sebetulnya yang kauinginkan adalah agar kau bisa lepas dari tanggung jawab memenuhi keinginan orang tuamu,” Aku tak bisa berhenti, entah. Yang jelas, aku sangat marah. “Kau menyuruhku memenuhinya sendiri–”

“Tidak–”

“–sementara kau tidak melakukan apa-apa. Menungguku apa aku bisa berhasil. Dan jika aku berhasil-”

“Tidak, Changi, aku hanya membebaskan–”

“–kau akan mendapatkan nama atas keberhasilanku-”

Dalam waktu yang tak bisa kuhitung kecepatannya, Changmin mencengkeram kedua lengan atasku kuat-kuat. “Hentikan tuduhanmu,” ujarnya sengit, “aku hanya ingin membebaskanmu memilih.”

Tapi sikapnya yang agak mengerikan ini, remasan tangan kuatnya di lenganku ini, sama sekali tidak menggoyahkanku. Ya. Aku bisa menghadapi lebih dari ini. “Itu hanya alasanmu,” ucapku dingin, “kau hanya ingin menyerahkan seluruhnya kepadaku. Dasar licik.”

“Tidak. Aku akan membantumu. Aku akan membantu percintaanmu,” dia menegaskan, sungguh-sungguh.

Alisku tak sengaja naik, seakan berhasrat mencemoohi kesungguhannya. “Kalau kau begitu yakin orang lain dapat membantu pertanggungjawaban ini, kenapa bukan kau yang mencari wanita lain dan melakukan apa yang kausarankan kepadaku?” tanyaku sambil menghempas kedua pegangan tangannya, namun, sialnya, sulit terlepas.

“Apa kau bodoh?! Orang tuaku akan membunuhku kalau mereka tahu aku mencari wanita lain–”

“Dan apakah kau idiot sehingga bisa berpikir kalau aku bisa melakukan hal yang sama? Mencari pria lain?!” bentakku.

“Itu hal berbeda. Kita bisa mengakalinya,” desaknya, “aku sudah mengestimasikan semuanya. Kalau aku yang bersama wanita lain, orang tuaku pasti tahu. Sementara kalau kau dengan pria lain, kau mungkin tidak akan ketahuan. Yang penting adalah–”

“Kau benar-benar sakit jiwa!” hardikku.

“–yang penting adalah kau yang hamil!” Dan dia tak mendengarkanku.

Dan, aku tak tahan lagi. Kutumbukkan kepalaku kuat-kuat ke kepalanya. “Dasar idiot!” makiku.

Changmin melepas cengkeramannya, mundur teratur, memegangi dahinya yang kutubruk secara menggila barusan. “Apa kau… sudah gila?” tanyanya seperti orang yang kesakitan.

“Kau yang gila! Apa kau tidak memikirkan beban mental yang akan kuterima?” tanyaku dengan intonasi yang menyentak lebih tajam lagi.

“Beban mental? Tapi bukankah beban mentalnya jauh lebih kuat kalau kita yang–”

“Dan yang paling penting lagi,” aku memotongnya, “kaupikir apakah aku mau? Kaupikir aku bersedia melakukan hal menakutkan itu di luaran sana?”

Changmin diam, menjaga kesenyapan ruang beberapa saat, sampai dia bersedekap dan bersandar di daun pintu. “Kaubicara soal mental yang terbebani dan kesediaanmu yang mustahil ada,” katanya, mulai menurunkan intonasinya, “sekarang kutanya padamu, bukankah mentalmu jauh lebih terbebani dan kesediaanmu lebih sedikit, atau mungkin tidak ada, jika kau melakukannya denganku?”

Aku terhenyak. Pertanyaannya seperti rel roller-coaster yang rusak di tengah-tengah ketinggian, mengejutkan dan tak dapat dihindari.

“Kau tak dapat menjawab,” tukasnya, “aku seratus persen benar.”

Kesal karena dia menukas seenaknya, aku menyalang. “Kau sendiri juga bukannya begitu? Kau juga sama denganku! Mentalmu terbebani dan tidak ada kesediaan–”

“Tidak,” sangkalnya cepat, “aku tidak sama denganmu.”

“Tidak mungkin,” aku menyangkal pelan.

Changmin mengangkat bahu, seolah-olah berkata ‘Terserah kau mau percaya atau tidak’. Lantas kelengangan menyelubungi kami yang berdiri kaku di posisi masing-masing sekali lagi. Hingga kemudian, dia berkata seraya berbalik. “Setidaknya, pertimbangkanlah saranku,” katanya. Tangannya menyentuh gagang pintu. Dan aku takkan menyelesaikan pembicaraan ini dengan pikiran sialan itu bercokol di otaknya.

“Tidak!” seruku. “Aku selamanya takkan pernah mempertimbangkan itu. Aku sama sekali tidak punya keinginan melakukannya!”

Changmin mengembalikan posisi tubuhnya ke arahku. “Lalu apa kaupunya ide mengenai apa yang akan kita katakan pada Ayah dan Ibu?” tanyanya. “Bayi tabung? Replika DNA?”

“Tidak,” tolakku, dengan suara memelan, “itu tidak benar.”

Kedikkan bahu dilakukan oleh Changmin. “Jadi kauingin bilang yang sesungguhnya? ‘Ayah, Ibu, kami tidak akan memiliki anak., karena aku tidak mau melakukannya’, kau akan bilang begitu?” tanyanya dengan telengan kepala dan beliakkan mata penuh sindiran yang terlihat menjengkelkan.

Aku menatapnya. “Bukankah kau juga begitu?” tanyaku.

“Sudah kubilang,” dia mengeraskan pandangannya, “aku tidak sama denganmu.”

Tak paham, aku memberikan penglihatan yang seolah mengatakan itu kepadanya. “Kau tidak sama denganku?” Kemudian aku melontarkan pertanyaan itu juga. “Apa maksudmu?”

“Aku…” Changmin kelihatan mempersiapkan diri, entah untuk apa. Dia mengepalkan kedua tangannya. “Aku tidak bilang aku tidak bersedia,” katanya, “sepertimu.”

“Jadi kauingin bilang kalau kau mau melakukannya?” aku menyinyirkan pertanyaan.

“Kaupikir saja sendiri,” jawabnya cepat dan dia segera memunggungiku.

Mengantisipasi dirinya menutup pembicaraan kami tanpa konklusi lagi, aku bersegera merenggut kerah kaosnya dan mengarahkan tubuhnya kembali padaku. “Jelaskan padaku sampai selesai dan jangan coba-coba menyelesaikan pembicaraan ini secara konyol. Aku tidak mau mengulang pembicaraan ini lagi,” tegasku.

-Changmin’s PoV-

Changi seakan baru saja menusukkan belati ke telapak tanganku, perih dan cergas. Aku menarik napas dan memutar otak untuk menemukan alasan untuk melindungi harga diriku sendiri, amanat dan kecanggungan yang mengganggu. Tapi aku tidak tahu apa.

“Apa?” Changi mendesak.

Secepat itu dia mendesak, secepat itu pula ide memasuki kepalaku; serang saja kelemahannya. “Berbeda denganmu, aku bersedia. Aku mau melakukannya,” kataku. Dan segera dia mengernyit, bergidik. Pasti ketakutan. Kurasa aku berhasil. “Tapi kau benar, aku juga mendapatkan beban mental dari itu.”

“Nah!” Changi menyunggingkan senyum mencela. “Benar, bukan?”

“Tapi aku tetap tidak sama denganmu. Kau memiliki beban mental karena kau tidak menyukainya, sedangkan aku…” Sial. Aku tidak mungkin mengatakannya. Sama saja menginjak wajahku sendiri.

“Apa?” kejarnya.

“Tidak,” kilahku.

“Dengar, aku sudah bilang kalau kau harus menyelesaikan pembicaraan ini, karena aku takkan lagi mau membicarakannya lagi setelah ini,” paksanya.

Kupandang dia, yang memberi tatapan menyerang tak mau kalah. Haruskah aku mengatakannya?

“Changmin!” serunya.

“Aku memiliki beban mental karena aku tahu kau tidak menyukainya,” ujarku, tersebut juga. Sial. Hancur sudah harga diriku. Kurasa aku tidak akan mau melihatnya lagi selama beberapa hari. Pun sekarang saja aku merunduk, tak mau melihat reaksinya. “Sudah, bukan?” tanyaku retoris. Aku lalu membalikkan tubuh, benar-benar melakukannya. Aku membuka pintu dan buru-buru melangkah keluar.

Namun Changi menutup pintunya lagi, dengan kekuatan yang tak bisa kuduga datang dari mana. Aku masih memunggunginya dan tangan kanannya berada di samping bahuku, menekan pintu.

“Aku tidak mengerti,” kisiknya, seperti psikopat yang merintangi langkah korbannya.

“Kaupikirkan saja baik-baik sampai kau mengerti,” balasku tak kalah tajam. Paling tidak, aku tidak boleh sampai akhir begitu memalukannya, setelah tadi ucapan penurunan harga diriku terlontar.

“Tidak, kau harus menjelaskan–”

“Kauingat apa yang terjadi pada kita beberapa saat lalu?” aku bertanya sambil menetap di posisiku, tapi aku tak mengharapkan jawaban. “Apa yang terjadi itu membuat kita seperti dua orang tolol yang sama-sama tak mau melihat. Terima kasih pada Hyung-Hyung menjengkelkan itu. Dan aku benci kecanggungan itu. Aku juga benci diriku sendiri mengapa bisa tertipu ke dalamnya. Kupikir aku bisa melewatinya dengan menipu semua orang, tapi tidak. Itu sangat menganggu, kau tahu.”

Aku bisa mendengar salah satu kaki Changi menjejak lantai, mundur dariku.

“Dan apa kau tahu apa yang paling mengganggu dari semua itu?” tanyaku sambil berbalik. “Kau,” sambungku, “kau yang jelas-jelas tak menyukai fakta kalau kita telah melakukannya.”

Changi membeliak, terperangah.

Aku mengeluarkan klausaku kembali, “Itu sebabnya aku berpikir lebih baik kau dengan pria lain–”

“Kau konyol!” teriaknya.

“Apa yang konyol dari itu?” tanyaku. Teriakannya begitu memusingkan, memicu kegeraman baru dalam diriku. “Aku hanya membebaskanmu–”

“Aku tidak mau!” dia berteriak sekali lagi.

“Kalau begitu, apa kau mau melakukannya denganku?” sergahku berang. “Tidak, bukan–”

“Baiklah!” Changi menjawab kontan.

“A-apa?” Aku tak bisa menahan mulutku mengeluarkan suara bingung ini.

“Ayo kita lakukan,” ujarnya, menghantamku seketika.

Advertisements

50 thoughts on “The Beloved Roulette #3

  1. Nan_Cho says:

    oh my god..
    part ini aku suka bgt, kenapa? karena perdebatan ChangChang couple berasa nyata sekali, kayaknya dari perdebatan td bisa disimpulkan mereka punya ketertarikan satu sama lain tp emang ChangChang couplenya aja yg gengsi, kkk..
    ahh..
    ChangChang couple emang manis, mau komen apalagi ya, baca scene akhirnya waktu Changi bilang mau melakukannya aku langsung teriak ‘yeaaah!! Tiang kau mendapatkannya’, mendapatkan apa aku juga ga tau, hahaha, walau td sempet kesel ke Chang gara2 nyuruh Changi cari pria lain, rasanya mau tampar mukanya eh! udah keduluan sama tonjokkan Changi..
    hahahaha *ngakak ampe perut sakit*

    author eonni-deul emang kece punya, pemikiran kerasnya terbayarkan..
    aku bener2 suka part ini dr ChangChan couple..
    😉

    • Mysti Adelliza says:

      Asikkkk… nancho komen ^^
      Wah, senangnya kalo kamu suka part ini ^^
      Hehehe, ChangChan couple emang selalu gengsi-gengsian ^^

      Jadi ChangChan couple manis ya? #lirikKyuChan #lah
      Hahaha…. kenapa bisa bilang ‘mendapatkannya’ tapi mendapatkan apanya ga tau? Hihihi
      Emang Changmin agak berlebihan di sini, dan, ya, dia pantes ditonjok hahaha #ditendangChangmin

      Senangnya tau kalo menurutmu pemikiran keras ini terbayarkan ^^
      Makasih, nancho~ ♥♥♥

      • Nan_Cho says:

        hehehe..
        iya..

        hahaha, Iya, ChangChan couple maniiiss sekali, apalagi kalo udah debat *emang perdebatan presiden, kkk*
        KyuChan? hmm..
        jgn buat mereka manis author eonni, buat aja mereka jd romantis, hahaha, gimana manisnya kalo peran Kyu kemaren jd Ahli Perawatan, kkk..
        xixixi..
        sangat berlebihan itu si Tiang, jd inget sifatnya Junsu di DE waktu baca, negatif mulu pemikirannya, menurut aku.. ^^

        aku jg senang, senaaangg sekali 🙂
        terima kasih kembali author eonni 😉

      • Mysti Adelliza says:

        Hahahaha…. Berarti ChangChan harus debat terus ya hahaha
        Kyaa… buat KyuChan romantis gimana? Sebenernya apa bedanya romantis dan manis? #authormacamapaini
        Hahaha… adegan perawatan itu akan segera dipublish kok 😉
        Iya, berlebihan, ya, mungkin begitulah cowok golongan darah B #apahubungannya
        Tapi Junchan dan Tiang emang goldar B hihihi

        Sama2, nancho ♥♥♥

  2. asrikim says:

    Wah eonni~pertengkaran changchan bener2 kyak nyata,,,
    feelnya dapet bnget,,,
    aigoo couple yg stu ini,,sebenarnya permaslh dlam rmh tngga mereka adalah ke gengsian,ego mrk yg terlalu tinggi dan tak ada kejujuran,,klau seandanya changchan bisa terbuka satu sm lain,mukin mereka bisa menjlani pernikahan yg benar,,,,
    tdi sempat tdak percya dan menyayangkan apa yg diktkn changmin,mnyuruh changi hamil dengan orang lain,,tpi setelah mendengar pngakuan changmin,jdi tdk bisa mnyalah kannya,,klau sebenarnya changmin memikirkan changi,,,
    Dan tak disangka2 stelah changi mendengar kejujuran changmin,,changi lasung berkata,ya,ayo kita lkukan,,,duo eonni keren bangeeet~ceritanya,,,
    kyak nyata bsnget pertengkaran suami-istrinya dan permasalahan yg mreka hdapin,,,
    asri ska bangeeeet~jln ceritanya,,
    Duo eonni fighting,,tpi kira2 apa bkal terjadi slanjutnya?merk lsung mlkukannya kah?bikin penasaran~asri tunggu kelanjutannya,,,,

    • Mysti Adelliza says:

      Wah, asri, makasih komentarnyaaa… ♡
      Hahaha, ini couple yang sama2 ga mau ngalah ya… jadi bikin gerah 😦
      Ucapan Changmin yang minta Changi ke cowok lain mengganggu ya? kkkk
      Kyaaa… kamu senang sama ajakan Changi yang tiba2 itu ya?
      Wah, berasa nyata banget suami istrinya? Senang mendengarnya (padahal belum riset soal ini)
      Yang bakal terjadi selanjutnya nanti kamu liat di kelanjutannya ya ^^
      Makasih udah mau nunggu lanjutannya, asri ^^

  3. asrikim says:

    Wah benarkah?,,,
    Tapi cra duo eonni membuat cerita dan scene changchan daebak banget,,kayk beneran ngelihat suami-istri berantem di depan asri#sebelom liat ditendang duluan,,,
    ya eon mereka emang bikin gerah hehehe,iya kli eon,mukin changinya langsung ngumpet dikamar mandi kkk~#intip changi,,,
    Asri seneng bangeeet~bca cerita2 duo eonni,,
    Terimakasih jg duo eonni karna dah membuat cerita2 yg daebak dan menghibur,,

    • Mysti Adelliza says:

      Gerahnya dalam arti positif kok, gerah emosi yang excited dan bersemangat hahaha…
      Tapi senangnya kalo kamu menikmati scene ChangChan ini ^^
      Hahaha…
      Iya ^^
      Makasih banget ya asri atas apresiasinya ♡♡♡

  4. Nan_Cho says:

    saya baru kembali lagi, kkk..
    *gara2 Kyuhyun selalu buat badmood*

    hahaha..
    iya2, dikasih debat aja terus author eonni, itulah daya tarik ChangChan couple *emang magnet, kkk*..
    manis itu belum tentu romantis tp kalo romantis sudah tentu manis *jawaban macam apa itu, kkk*
    eoh! jeongmal???
    asiiiikkkkkkkk *tap dance ala Kyu Lockwood, haha*
    iya ‘B’erlebihan, untung Kyu golongan darah A, tp punya makna yg sama kayak mereka, ‘A’lay, bahkan Kyuhyun lbh parah, ‘A’mat sangat berlebihan, hahaha..
    *kenapa aku komennya jd ngawur gini, kkk, pasti gara2 Kyufat itu, xixixi*

    #missyou author eonni-deul~

    • Mysti Adelliza says:

      Hahahaha.., welcome back, nancho..
      Kenapa lagi dia? hehehe

      Hahaha… kasih debat terus aja ya walau pemilu udah lewat #eh
      Oh begitu ya nancho? Kalau begitu akan diusahakan bikin KyuChan romantis ^^ #mendadakkhawatir

      Hahaha… XD XD XD

      Nah, bener tuh. Donghae A juga bukannya? Pantes dia girangnya amat sangat berlebihan. Hahahaha #ngakakberguling2
      Ga ngawur kok, nancho, malah bikin ngakak #lol

      #missyoutoo :*

  5. hodyshipper says:

    Kyaaa…
    Changi trnyata suka push-pull yg biasa minrin lakukan..hehe
    Mereka b2 sm2 ga mw ngalah, sbar aja y changmin skali2 cwo emang harus mengalah #angguk2empati

    • Mysti Adelliza says:

      Nyahahaha…
      Iya, ya, bisa dibilang Changi push pull, ya… #manggut2
      Kalo Minmi pull terus #gakditanya #gaknyambung
      Ya begitulah… #apadeh Hahaha…
      Btw, makasih udah komen ya, hodyshipper ^^

      • Nan_Cho says:

        setelah twitter selanjutnya weibo2 sialan itu, astaga, padahal udah beberapa hari yg lalu masih aja badmood, hehe ^^
        #mian author eonni..

        hahahahaha..
        iya2, buatlah ChangChan couple menjadi Debat couple, kkk..
        oke2, bakal aku tunggu keromantisan mereka yg mengkhawatirkan author eonni-deul, xixixi..

        hahahha..
        iya iya iya, benar si girang golongan darah A, hahahaha, astaga, kenapa aku baru nyadar, hahahaha..
        terima kasih author eonni kalo malah bikin ngakak, dan biar aku bisa lupain semua postingan itu..
        hehehe..

        🙂 😉 😀

      • Mysti Adelliza says:

        Ya ampun, nancho, kalo masih badmood, tengoklah boyband lain #nasehatapaini
        Gapapa, pernah juga ngalamin ini kok hahaha

        Jadi ChangChan Debat couple? Oke. ^^
        Hahahaha… keromantisan mengkhawatirkan ya ^^

        Hahaha… gak nyangka banyak yang A, bahkan si Yunho aja A. Hahaha…
        Same-same, nancho. Udah, jangan badmood lagi, tengoklah boyband lain #nasihatberulang
        Hahahaha…

  6. Maya Tam says:

    Kereeen banget ceritanya walaupn part ini hampir semuanya perdebatan changmin sama changi tapi gak bikin bosen atau malah jadi gak seru #Keren bisa buat FF se asik ini

    • Mysti Adelliza says:

      Annyeong, maya. Makasih udah berkunjung dan komen.
      Waaah.., senangnya kalo kamu suka ff ini ^^
      Apa kamu udah baca my wife is a fanster? itu salah satu before story ChangChan couple di ff ini. ^^

  7. Sarah fauziah says:

    aku readers bru disini,
    dan aku bkal dan harus baca klanjutannya,
    omg keras kepala, gengsian.
    Berantem mreka gk bikin kesel malah bikin readers senyum2^^

    • Mysti Adelliza says:

      Halo, sarah…
      Selamat datang^^
      Wah, makasih udah berkunjung dan komen ^^
      Hahaha. Iya, emang begitu. Tapi senang mengetahui kamu senyum2 bacanya hehehe
      Gomawo ya atas apresiasinya ^^

  8. Rizma says:

    kyaaaa~ ChangChan couple fav sya.. >_< entah knp bagiku mreka bner2 pasangan serasi.. wkwkk.. tipe kyk Changmin tu Q suka bgt.. karna klo uda suka sma sseorg pasti djagain mskpun sering psangannya bkin salah paham.. rada absurd gmn gt.. wkwkk.. tp saya demeeen..
    lanjutannya kapan nih chingu?
    dtunggu ya.. takut sya lagi ga ngcek blog.. email sya ya klo uda keluar.. hehehe..
    gomawoyo~

    • Mysti Adelliza says:

      Waaah… kamu suka banget ChangChan couple ya? Hehehe…
      Series2 lain juga ada ChangChan ^^
      Hehehe, ternyata kamu suka Changmin karena itu toh hehehe
      Lanjutannya masih dalam proses.
      Oh, kalau kamu follow blog ini by email (ada tandanya di samping ‘follow blog by email’) kamu bakal dikirimin secara otomatis post-an blog ini. Jadi kalo TBR #4 keluar kamu bisa tahu, hehehe
      Cheonmaneyo~
      Makasih juga udah komen ^^

      • Rizma says:

        seri yg laen cast.nya ChangChan judulnya apa chingu???
        oh ya.. si jaepa dbkin lebih manly ya.. heheh.. entah knp pas baca karakter Jaepa dsni sdkit feminim.. emm.. apa saking takutnya nyrempet ‘yaoi’ jd kbayang2 dy jd seme.. -_- mianhae~ saya g bgtu suka yaoi.. brharap karakter Jaepa dsni dbkin gmn gt lbih misterius mgkn (?).. #plaak
        Oh noooo.. pd akhirnya karakter Changmin dsni fav sya ❤

        eh.. gmn cara follownya? heheh.. ga mudeng chingu :v

      • Mysti Adelliza says:

        Judulnya The Outline, terus ada Intuneric juga.
        Oh, itu sudah pasti. Jaejoong ga feminim kok di sini. Dia cuma agak repot sama urusan2 orang, gimanapun, dia cowok juga.
        Hahahaha, kurang bisa bikin yaoi. Makanya semua cerita di blog ini straight. Cuma kadang agak diserempet buat lucu-lucuan aja, ga serius kok.
        Dan ya, Jaejoong bisa juga misterius, buat cari perhatian biasanya. Hahaha…
        Kalo kamu mau baca Jaejoong, baca Sweet Whipped Cream aja.

        Di halaman beranda ada tulisan Follow Blog via Email kan?
        Nah di kolom kosongnya, kamu cantumin emailmu 😉

      • rinuzza says:

        wkwkk.. iya jg siih.. uda baca sweet whipped cream.. lagi nunggu pw part 2.nya.. :p
        mgkin saya cemburu sma First Lady.. knp Jaepa nurut bgt >_< arrrgh.. *mian OOT*
        sya komen di Sweet Whipped Cream aja deh ntar.. :p gomawo chingu..

  9. hodyshipper says:

    Eonni, chingu keluarin yg ke 4nya kpn?? Sangat d tunggu loh..
    Pengen liat cerita couple yg laen jga..

    Oia, aq mw pw yang sungchun moment dong chingu, eonni. Boleh tak??
    D krm lwat email jg boleh. Hehe

    Semangat ya!:)

  10. mio says:

    Ini komen keduaku di part ini, Thor. Ada yg baru dipublish tapi kok diprotect? Padahal part-nya sama dengan ini, Changchan Moment. Boleh minta pw-nya, Thor? Sangat penasaran n Ditunggu banget email-nya. Email: mioamor907@yahoo.com

  11. nandadisti says:

    aku selalu suka changchan, jangan tanya kenapa. mereka menarik, gregetan, dewasa, anak kecil, semua jadi satu. ini hebat banget, changi mau ngelakuin lagi. dan tiang listrik akhirnya mencoba untuk mengalah
    part selanjutnya di protek ya kak? passwordnya dong

    • Mysti Adelliza says:

      Iyaaa…
      Daaan… senangnya kalo kamu suka… ♥♥♥
      Hahaha, changi mau ngelakuin lagi itu hebat ya? Hahaha…
      Kkkk… iya, mau ngalah dia… passwordnya udah yaa… ^^
      Anyway, makasih udah komenin lagi ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s