Întuneric #1

Title                      : Întuneric#1

Author                  : Mysti Adelliza

Main Casts           : Cho Kyuhyun (Super Junior), Shim Changmin (DBSK), Tan Changi (OC)

Support Casts     : Kim Kibum (Super Junior), Hankyung—Tan Han Geng (Super Junior)

Genre                    : Mystery, Thriller

***

Dia merasa terkunci dalam kegelapan. Meskipun hari ini adalah hari dengan matahari paling menyilaukan matanya semenjak dia tinggal di Jepang, dia tetap merasakan paradoks itu.

Bayangan tentang penangkapan kakak semata wayangnya, Tan Hangeng, tak pernah hilang dari pikirannya. Sepulang sekolah, di taman dekat sekolahnya dia duduk di sana, menghilangkan kepenatan. Kadang dia bermain ayunan dengan beberapa anak kecil sekitar kompleks apartemen di jalan itu, kadang dia duduk sendiri di ayunan besi itu—membaca novel fantasi, memainkan ukulele atau sekadar menyantap permen loli yang dia beli di supermarket terdekat.

Tapi bayangan itu tidak pernah hilang. Sesibuk apapun dirinya mempersibuk pikiran, bayangan kakak laki-lakinya yang mendekam di penjara tak kunjung lenyap.

Kamar apartemen sewaan yang berada di balik taman bermain itu dia tengok. Masih berdiri kokoh dengan pondasi batu bata berwarna kuning pudar yang tersusun rapi. Matanya mengawasi kotak-kotak jendela yang terstruktur dari gedung bertingkat tiga itu dan sampailah dia kotak jendela kamarnya di lantai tiga, yang tertutup rapi.

Mungkin aku harus kembali, batinnya pada diri sendiri.

Beberapa hari yang lalu, sudut pandang matanya merasai kalau ada sesosok yang berjalan mengikutinya. Dua hari setelah dia bersekolah pun, dia juga merasa ada bayangan kabur dengan cepat saat matanya menangkap keberadaannya. Entah itu hanya perasaannya atau tidak. Namun ancaman kepolisian Korea Selatan yang berkata kalau dia akan terus diawasi sungguh mengusiknya. Hal itu mendorong otaknya untuk berpikir kalau dia mungkin tengah diawasi.

Tidak mau lama-lama berpikir soal itu, dirinya bangkit dari kursi ayunannya sambil menenteng bungkus plastik permennya untuk menghampiri tempat sampah dekat taman. Setelah membuangnya, dia mengerahkan langkah untuk kembali menuju apartemennya. Langkah cepatnya mengibarkan rambut keriting sebahunya yang mengembang. Angin bertiup kencang, dan membuatnya menjadi memasukkan kedua tangannya ke saku jaket ungunya.

Walaupun diterpa angin semilir, telinganya tidak terganggu sama sekali fungsinya. Dia bisa mendengar kalau ada derap langkah yang berada di belakangnya. Dia berhenti sebentar, memastikan keberadaan bunyi itu. Bunyi itu berhenti, seiring penghentian langkahnya.

Dia kemudian memutuskan untuk berjalan kembali untuk mengetesnya. Dan derap langkah itu kembali tertangkap indera pendengarannya.

Maka, dia mempercepat langkahnya.

Terus dipercepat.

Hingga dia menyadari langkah yang mengejarnya ikut cepat.

Dia sudah berlari sekarang, sekencang-kencangnya, melewati jalanan beraspal yang sepi dan beberapa gedung apartemen yang jauh dari kesan mewah hingga tiba di apartemennya.

Dengan terburu-buru, dia memasuki lobi, menderapkan langkah kakinya sekuat tenaga di anak tangga, hingga kemudian sampai di koridor lantai tiga. Dia sudah tidak mendengar derap langkah yang mengikutinya, entah sejak kapan. Yang jelas kini dia tergesa-gesa mengeluarkan kunci dari kantung jaketnya, membuka pintu, menguncinya kembali dan menghambur ke tempat tidurnya—mengambil napas.

***

“Changi-ah!” Sebuah panggilan membuat matanya kembali terjaga.

Dia mengerjap-ngerjap kedua matanya kemudian mengangkat kepalanya sedikit, menoleh pada sekitar. Yang dia temukan adalah kamar apartemennya yang sama sekali tak istimewa.

“Changi!” Panggilan itu terdengar lagi.

Dia duduk, mendengar kalau pintu kamarnya diketuk. Sembari menyisipkan sebagian rambut keritingnya ke balik daun telinga, dia bangkit dan mendekati pintu.

“Changi, buka pintunya,” ujar si pengetuk memelan karena nampaknya bisa mendengar derit lantai kayu kamar apartemen yang dijejaki si pemilik kamar, “ini aku.”

Nuguseyo?” tanya Changi, begitulah dia disebutkan oleh semua orang yang pernah mengenalnya.

“Kibum,” jawab si pengetuk, “bukalah.”

Changi tahu kalau Kibum adalah satu-satunya orang di Tokyo yang mengenalnya. Bahkan teman sekolahnya pun tidak ada yang tahu kalau dia tinggal di tempat ini. Dia tahu memang hanya Kibum yang bisa mengunjunginya. Akan tetapi, bukan berarti dia harus menutup segala kemungkinan terburuk yang dapat menghampirinya. Kecurigaan selalu tumbuh dalam pemikirannya, dalam bentuk apa pun, dan dia sudah seperti itu semenjak… yah, mungkin sejak dia memiliki kesadaran untuk itu.

“Sebutkan kata kuncinya,” ujar Changi.

“Kata kunci apa?”

“Kalau kau tidak tahu berarti kau bukan Kibum,” sahut Changi kontan.

“Changi. Ini masalah penting. Ada yang harus kubicarakan.” Suara Kibum terdengar tegang.

“Kalau menurutmu itu penting, bagiku, kata kunci ini juga penting. Kalau kau tidak mau memberitahu, atau tidak tahu, lebih baik kau enyah saja,” balas Changi dingin. Dia mencerling ke sekeliling kamarnya, lalu segera mendekati rak televisi yang kosong dan mendorongnya untuk menghalangi pintu. Dia tidak mau mengambil risiko kalau-kalau si pengetuk tidak sabar dan mendobrak pintunya.

“Baik.” Kibum kedengaran menyerah, tepat ketika Changi menimpakan sebuah meja kecil di atas rak televisi untuk menjadi pemberat.”Apa kata kuncinya?”

“Kalau kau tidak tahu, berarti kau tidak masuk,” jawab Changi sembari dengan perlahan mendorong kursi makan untuk diletakkan setelah rak televisi.

“Petunjuk, paling tidak,” ucap Kibum.

Sireo,” Changi menolak.

“Bolehkah aku minta untuk diatur ulang kata kuncinya?”

Changi berkernyit kening.

Lalu Kibum tertawa. “Seperti email saja, bisa diset ulang kata kuncinya,” ujarnya masih dengan tawa.

“Nah, itu kau sadar,” gumam Changi.

“Aku ingat kata kuncinya,” mendadak pria itu berkata.

Changi mendengarkan, memfokuskan diri kalau tiba-tiba ada bunyi mencurigakan untuk mengorek kunci pintunya.

“Lady Esther,” ucap Kibum.

Changi menghela napas, mengesampingkan barang-barang yang telah dia tumpuk di depan pintu, mengepalkan tangan sambil berkerut kening. Sedetik kemudian, dia membuka kunci dan menarik pintunya.

Nampak pria berwajah mungil dengan kulit yang bahkan lebih putih dari dirinya. Rambut hitam lurusnya terurai dan menutupi kacamata bingkai plastiknya, namun Changi masih bisa melihat sinar menyilaukan dari mata sipitnya yang ditutupi kacamata itu.

“Sebenarnya aku tak pernah lupa kata kuncinya,” ucap pria itu diiringi dengan senyumannya. “Aku hanya ingin mengetes kewaspadaanmu.”

“Dan hasilnya?” Changi menelengkan kepala berambut keritingnya sembari bertanya.

“Buruk,” pria itu menjawab melalui bahunya sambil melangkah masuk.

Changi mendecakkan lidah kesal kemudian menutup pintu.

“Seharusnya kau tidak langsung membuka pintunya. Bisa saja itu orang Jepang suruhan mereka, atau orang mereka yang bisa bahasa Jepang,”

“Dan kau sendiri yang bilang meskipun ada orang Jepang suruhan mereka, atau orang Korea yang bisa bahasa Jepang, datang ke sini, mereka tidak akan terpikir untuk menyebut Lady Esther, Oppa,” kata Changi dingin, namun dengan mengerucutkan bibirnya.

Kibum tertawa kering. “Ne,” dia mengiyakan, “kau benar, Tan Changi.”

“Lain kali tidak perlu mengetes segala,” cicit Changi.

Kibum mengembangkan senyum tipisnya. “Ada kabar apa?” tanyanya mendadak. Pria asal Korea yang sudah menjadi warga negara Jepang itu memang sudah dikenal oleh Changi sebagai pria yang semaunya mengubah isi pembicaraannya sendiri.

Aniyo,” sahut Changi, membuang muka, menutupi kewas-wasannya.

“Tidak mungkin tidak ada apa-apa,” sahut Kibum, yang berdiri statis di hadapan Changi.

Changi memandangnya kembali, mencari gurat keganjilan di wajah Kibum. Gadis itu memang selalu melakukan hal ini jikalau Kibum datang tiba-tiba dan bertanya, atau lebih tepatnya menginterogasi, tentang apa saja yang dilalui Changi.

Changi memandanginya. Pria satu ini…

Dia kemudian mengingat lagi pertama kali dia bertemu Kibum. Hari itu mendung. Changi masih memakai seragam pasien. Dia baru saja siuman, masih dalam kebingungan dimana dirinya berada. Suster rumah sakit memberitahunya bahwa dia berada di rumah sakit di Tokyo, Jepang. Changi baru saja mengalami kecelakaan pesawat dari Seoul menuju Jepang. Dia beruntung masih dapat menggunakan parasut pesawat sebelum terjun, meskipun tali parasut itu kemudian macet dan menghambatnya mendarat dengan selamat.

Kibum pun muncul. Penampilannya sama dengan sekarang. Wajah yang mengagumkan dengan mata kuat di balik kacamata bingkai plastik. Rambutnya yang hitam lurus menjuntai lembut di sekitar telinganya. Manusia berparas terbaik pertama yang Changi lihat di tempat asing itu membuatnya terperangah.

Annyeong, Changi,” sapanya hangat.

Changi tersadar kalau manusia di depannya mengajaknya berbicara dengan bahasa Korea. Kibum mendekat. Sebaliknya, Changi menjauhkan sedikit tubuhnya. “Nuguseyo?”

Kibum tersenyum. “Kau benar-benar tak ingat? Aku Kibum. Kim Kibum.”

Nuguseyo?” tanya Changi lagi.

“Walimu.”

Changi mempertahankan keheranannya. “Aniyo,” dia menggeleng, “waliku adalah kakakku, Hankyung.”

Kibum, masih dengan senyum, mengulurkan tangannya dan memberikan Changi sebuah surat. Changi lebih dulu menangkap tanda tangan kakak laki-lakinya di bagian bawah surat. Dia kemudian mencoba membacanya perlahan.

“Kau wali sementaraku di Jepang?” tanya Changi setelah menyelesaikan membaca surat itu.

Kibum mengangguk.

Sejak saat itu, Kibum memang selalu melindunginya, walaupun Kibum tak pernah bercerita lengkap tentang dirinya. Menurut Kibum, segala sesuatu yang terjadi secara alamiah akan lebih baik. Baginya, lebih baik Changi mengalami dengan sendirinya tanpa dicecoki cerita-cerita. Karena itulah Changi belum seratus persen percaya padanya. Dan karena belum seratus persen percaya, Changi juga belum bisa membuka hatinya pada perhatian Kibum dan menolak tinggal bersamanya.

Ganjilnya, Kibum selalu tahu dimana Changi berada baik Changi beritahu maupun tidak. Dan seperti pengawas, dia selalu curiga kalau sesuatu sudah terjadi lalu datang menghampiri Changi—menanyakannya.

“Jadi kau tidak ingin memberitahuku?” Kibum bertanya, menyadarkan Changi dari renungan.

“Bukan tidak mau, tapi memang tidak ada apa-apa,” ujar Changi. Meski sudah genap lima tahun dia tinggal dan melanjutkan sekolahnya di Tokyo—disokong oleh Kibum, rasa kurang percayanya masih menahan mulutnya untuk berbicara akan keadaan dirinya. Menurut Changi, kepercayaan dimulai dari membuka diri dan Kibum belum melakukan itu kepadanya.

Biasanya Kibum memaksa sampai Changi menyiratkan sesuatu, karena Changi tak pernah membuka dirinya pada Kibum, pada orang yang tidak mau membuka dirinya kepadanya. Namun, kali ini tidak. Pria itu hanya tersenyum. “Baiklah, kalau kau mau menyimpannya sendiri.”

Kibum mengeluarkan dompetnya dari saku celana jeansnya. Jemarinya mengeluarkan sejumlah uang kertas dan meletakkannya di atas laci kecil yang berpindah lokasi dari sebelah tempat tidur ke depan pintu. “Ini uang sakumu,” ujar Kibum, kemudian sambil melangkah keluar dia menimpali, “Gunakan secara bijaksana.”

Gomawo,” Changi berterima kasih, mengawasi Kibum beranjak pergi.

“Aku pergi,” timpal Kibum sambil menutup pintu.

Baru saja Changi ingin mengembalikan perabot-perabotnya ke tempat semula, Kibum membuka pintu dan berkata lagi, “Idemu bagus, menahan pintu dengan perabot, memperlambat orang yang mungkin akan mencelakakanmu.”

Changi menyeringai menanggapinya.

“Asalkan kau punya rencana hebat saja setelah itu. Seperti melompat dari jendela atau menodongkan pistol,” ucap Kibum, “kalau tidak, itu sama saja buang-buang waktu.” Setelah berkata demikian, pria itu benar-benar pergi.

***

Sore itu sebetulnya Changi sudah mengurungkan niat untuk berjalan-jalan ke taman. Lagipula, dia sudah diperingatkan oleh Kibum untuk tidak sering keluar, demi keselamatannya. Dia sendiri dulunya bukanlah tipe orang yang berani untuk jalan sendirian di tempat asing. Hal itu berubah semenjak dia berdomisili di Tokyo.

Kini dia suka menghabiskan waktu di luar kamar apartemennya, karena berbagai alasan. Dan sore ini, rasa jemu akan kamar persegi membosankannya yang mendorongnya untuk setidaknya keluar sebentar.

Maka di sinilah Changi, duduk-duduk di atas perosotan bercat warna-warni di taman bermain yang dia temukan di kompleks apartemen tersebut. Dia membaca novel fantasinya lagi, hingga sebuah derit kayu parit menyentaknya. Changi menoleh, namun tidak menemukan apa-apa. Dia menyisir sekeliling dengan kedua matanya. Terus demikian hingga dia menemukan sesosok yang lenyap di balik pohon yang rindang.

Changi meluncur di perosotannya, lalu berangsur-angsur mendekati pohon tersebut. Dia mendapati sosok tinggi tersamar batang pohon. Sosok itu nampaknya akan melangkah pergi saat Changi dengan sigap menangkap kain merah dekil yang bergerak bersamanya.

“Siapa kau?” tanya Changi menantang, yang kemudian tersadar kalau kain merah dekil tersebut adalah sebuah kaos belel yang dikenakan oleh orang yang dia tangkap.

Orang itu kemudian memunculkan diri.

Changi melihatnya. Seorang pemuda tinggi semampai, rambut cokelat sangat pendek, wajah bulat berahang jelas, mata hitam tajam, alis tebal, hidung lancip dan bibir tipis yang nampaknya sudah diset untuk membengkok ke bawah.

“Siapa kau?” Changi mengulang sambil memperkencang cengkeramannya di lengan kaos pemuda itu.

“Aku Changmin, Shim Changmin,” jawabnya canggung.

Changi meragukannya, walaupun dia terpesona pada wajah sang pemuda. “Mengapa kau mengikutiku?” tanya Changi.

Pemuda itu melirik udara kosong di sampingnya.

“Jawab,” desak Changi.

Mata tajamnya beradu dengan mata yang dipaksakan terlihat kuat milik Changi. Beberapa detik dalam keadaan demikian, hingga pemuda itu mengalihkan pandangannya ke pohon di dekat mereka.

“Aku,” ucap pemuda itu seraya menunduk, “penasaran.”

“Penasaran apa?” tantang Changi, sedikit membentak.

Dengan mimik wajah sedikit tak nyaman, pemuda yang mengaku bernama Changmin itu pun menyatakan, “Aku penasaran, darimana kau mendapatkan kaos itu.” Tangan besar pemuda itu menunjuk kaos hitam berlambang kue tart yang memang sejak tadi dikenakan Changi.

Changi menunduk, mengamati kaosnya. Ini kaos milik kakak laki-lakinya, Tan Hangeng,. Sepanjang dia diasingkan di Jepang oleh Korea Selatan, tidak ada yang pernah mengungkit tentang kakaknya, kecuali sahabatnya—Kim Kibum. Dan, memang pemuda ini tidak mengulas kakaknya secara langsung, namun, bagi Changi menunjuk terang-terangan pemerolehan kaos milik Hankyung ini bisa jadi menyiratkan kalau pemuda ini mungkin pesuruh yang disuruh untuk mengawasinya.

“Aku menemukannya di tempat sampah,” jawab Changi asal.

“Bohong,” tuding pemuda itu, membuat Changi melotot padanya. “Mana mungkin, maksudku, tidak akan ada yang berani membuang kaos edisi terbatas ini.”

“Edisi terbatas?” Changi mengerutkan dahi.

“Benar,” balas pemuda itu, “ini adalah kaos edisi terbatas keluaran 1994 dari band Wild Soul. Aku sudah mencarinya ke mana-mana. Tak ketemu.”

Changi mendapati muka sedih dari pemuda itu. Tapi dia tidak peduli. Bisa saja, itu hanya ingin menarik simpati dan sebenarnya ada maksud di balik itu. “Kau salah mungkin. Ini kaos murahan. Kau bisa mencarinya di pasar loak,” ucap Changi.

“Mustahil,” rongrong pemuda itu, “kau pikir aku belum mencobanya?”

“Kau harus mencobanya sekali lagi,” ucap Changi sambil melepas genggamannya, “buktinya, aku bisa dapat.”

“Tidak mungkin… Kaos itu…”

Meski sudah merasa sejak tadi, Changi pikir dia harus segera pergi karena nampaknya pemuda ini mulai lengah. Maka dia menekankannya. “Aku harus pergi. Jangan mengikutiku lagi.” Changi berujar kemudian berbalik untuk kabur secepatnya.

“Hei, tunggu!” panggil pemuda itu.

Changi mengabaikannya. Dia tidak boleh berlama-lama dengan orang yang gelagatnya tahu sesuatu tentang kakaknya.

***

Advertisements

12 thoughts on “Întuneric #1

  1. Nan_Cho says:

    astaga cerita apalagi ini..
    huwaaaaaaaa..
    Cho Kyuhyunku jd main cast, jeongmal? tp di #1 belum muncul batang hidungnya, kkk, aku kira td itu Kyu yg dibalik pohon ternyata si tiang..
    ya ampun, dpt notif td aku speechless, ga tau kenapa, dari judulnya aja udah bahasa asing, bahasa Rumania kah author eonni?

    masih penasaran seperti fanfic2 author eonni yg lain, apa disini bercerita ttg geng2 gitu? mafia atau semacamnya? astaga, aku kira mereka bukan manusia, hmm, seperti Kibum yg tiba2 muncul dan bilang dia wali Changi, terus bayangan hitam yg ngikuti Changi, mungkin cuma bayangan orang jalan cepat kayak Changmin yg ngikuti Changi, atau hal lain..
    tp waktu baca genre.nya ga ada genre fantasy tp mistery, dan author eonni paling kece kalo buat genre mistery itu..

    astaga, aku bener2 penasaran, hahhaha, ga sabar sekali buat chapter selanjutnya, gara2 cover fanfic foto Kyu di majalah Nylon jd ngerasa kalo karakter Kyu disini pasti keren, ahhh molla, kkk..

    • Mysti Adelliza says:

      Aigooooo… nancho~~~
      Ini cerita baru lagi. Is it ok? Ada 4 yang baru tamat jadi saya pikir ini bisa jadi penggantinya Hehehe…
      Iya Kyu main cast, begitu juga Changmin.
      Iya, bahasa Rumania, wow, apa kamu tahu bahasa Rumania?

      Soal geng atau mafia, umm… mungkin bisa kamu cari tau di chapter2 berikutnya #lol
      Hah? Bukan manusia? Vampirkah? Apa ada rasa-rasa supranatural di chapter ini? Hahaha…
      Iya, ini mystery. Duh jadi malu dibilang kece. Saya masih belajar bikin misteri sebenarnya, makanya buat itu terus XD

      Wow. Kamu penasaran banget yang ini. Seneng dengernya Hahaha…
      Kemaren katanya penasaran sama The World is Ugly. Lebih penasaran yang mana? hehehe
      Kyu pasti keren di sini. Lagipula dia kan emang keren, nancho. Hahaha
      Btw, makasih udah komen ya, nancho :*

  2. Nan_Cho says:

    sangat OK author eonni, kkk..
    kau tau author eonni, pengganti 4 novel itu sangat kerennnn..
    iya KyuChangChan jd main cast, ahh, mereka emang cast2 favoriteku..
    sedikit tau, hehe, lewat google pula, karena bukan bhs.ing jd langsung meluncur ke google buat cari artinya, tp kayaknya ceritanya masih belum menuju ke judulnya, hehe..

    hahaaha..
    tuh kan, jawabannya pasti ada di chapter selanjutnya, author eonni emang pinter bgt buat penasaran dan kejutan pastinya..
    sempet mikir sih mereka bukan manusia, hahhahaha, karena aku liat cover fanficnya, foto KyuChang yg sedikit sangar itu, kkk..
    masih belajar? astaga, tp genre misteri emang bakat author eonni, benar2 membuat misterius setiap karakter castnya..

    dua duanya, dua duanya..
    hahahhahaha, jd diingetin sama author eonni, ya ampun, di The World is Ugly KyuChang jd butler, disini mereka jd apa ya..
    hahaha..
    Changinya sewot mulu..
    sama2 author eonni-deul, terima kasih kembali juga 😉

    • Mysti Adelliza says:

      Wah, bagus kalo sangat OK ^^
      Makasih ya nancho. ^^ :*
      Senangnya kalo itu favorit kamu
      Wah, liat google translate kah? Saya juga gitu soalnya. Hehehe

      Makasih ya nancho ^^ saya senang kalo kamu penasaran dan terkejut (?)
      Oh, gara2 covernya ternyata hahaha.
      Sebetulnya semua genre masih belajar sih, hehehe, tapi makasih, nancho, jadi semangat lagi belajarnya ^^

      Hahaha, jadi dua2nya ya.
      Nanti aja liat KyuChang jadi apa di sini ^^
      Changi sewot karena butuh perhatian, tapi dua begundal itu kasih perhatiannya dalam bentuk yang ganjil kkkk… ^^ Meskipun begitu, sebenernya Changi suka sama KyuChang kkk…

      • Nan_Cho says:

        kkk..
        terima kasih juga author eonni-deul, aku jg menyayangi cast author eonni yg lain juga..
        hahaha, iya, google translate~

        sama2..
        iya foto KyuChang di cover fanficnya emang buat sesuatu, terutama Kyu, astaga..
        fighting selalu author eonni-deul..

        iya, terserah deh KyuChang jd apa disini, kkk, KyuChang kan aktor profesional kalo ditangan author eonni *masih inget sekali peran Kyu di Deathsneak*
        dua begundal? hahahaha..
        Changi-ssi aku benar2 percaya padamu, tawan saja KyuChang, terutama Kyu, jgn blh dekat2 sama cewek lain!
        *astaga, aku masih bad mood gara2 tweet foto itu*

        #mian author eonni..
        thank you~

      • Mysti Adelliza says:

        Hahaha… senang ngedengernya^^

        Sesuatu ya? Saya pikir cover itu bakal bikin syok (yang negatif) tadinya lho
        Ah, tapi ‘sesuatu’ yang kamu rasain ga negatif kan? hahaha
        makasih fightingnya ^^

        Hahaha… mereka aktor tanpa skrip yang profesional, kalau dengan skrip banyak yang jago #lirikHyung2nya
        Apakah bagus sebutan dua begundal itu? ._. #lol
        Hahaha… Changi bisa dipercaya ya? kkk
        Ya ampun, jangan dipikirin itu, nancho, hahaha

        Cheonmaneyo~ :*

      • Nan_Cho says:

        hahaha..
        bukan negatif kok author eonni, fotonya emang kayak gimana gitu tp pikiran aku ngerasa kalo peran KyuChang disini jd preman, hahaha..
        sama2..

        hahaha..
        iya, sangat profesional dan sebutan begundal emang cocok banget buat mereka..
        hahaha..

      • Mysti Adelliza says:

        Syukurlah kalo bukan negatif ^^
        Hahaha, asik juga tuh kayaknya kalo jadi preman #mendadakkepikiran

        Hahaha… Mungkin mereka pantas disebut begundal profesional ya, nancho… #dilemparkejurangsamaChangKyu
        hohoho

  3. asrikim says:

    Wah duo eonni,cerita baru ya?kereeeen~apa lg main castnya kyuchangchan lg,mereka bertiga faforit asri#makan kali,,
    tp cast yg lain jg asri suka kok,enggk ada yg beda kkk~
    changi kewaspadaannya tinggi,,tp kenapa oppa changi di than ya?dan siapa kira2 orang yg trus-trusan ngikutin changi,changmin kah atau orang lain?bikin penasaran,aigoo changmin ini ngikutin changi cma karna kaos ber lambang kue tart atau jangan2 changmin pengen kue tartnya lg kkk~dia kan suka mkn hehehe,,duo eonni klian bener2 daebak klau bikin orang penasaran,,tp bang kyuhyun belom nongal dan krater apa ya,kyuchang peran kan?asri benasaran bnget sm klanjutannya,
    Duo eonni fighting~

    • Mysti Adelliza says:

      Wah, asri ^^
      Iya ini cerita baru, asri^^ wah, kamu juga favoritin kyuchangchan? mirip seseorang hihihi
      Iya hehehe. Soal Oppa Changi kenapa ditahan, siapa yang ngikutin Changi, nanti dijelasin pelan2 di chap selanjutnya ya? ^^
      Hahaha, namanya aja Changmin, kalau Eunhyuk baru lain lagi #kenapasebutEunhyuk
      Saya senang kalo kamu penasaran hehehe
      Iya, KyuChang peran utama^^
      Fighting juga. Makasih atas komentarnya, asri ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s