The Beloved Roulette #2

Title : The Beloved Roulette #2

Author : Mysti Adelliza

Casts : Min Sung Hyo (OC), Park Yoochun (DBSK), Shim Changmin (DBSK), Park Changi (OC), Kim Jaejoong (DBSK), Shin Ririn (OC), Kim Junsu (DBSK), Min Minmi (OC), Jung Yunho (DBSK), Park Minrin (OC)

Genre : Drama

Authors’ Note : Annyeongreaders. Kembali lagi nih dengan episode berikutnya The Beloved Roulette! Hehe. Silakan dibaca ^^

Oh ya, kalau masih ada yang belum tahu, The Beloved Roulette ini adalah gabungan dari lima ff, yaitu Lychee Dear, Three Card Trick, Sweet Whipped Cream, Take the Gloves Off, dan My Wife is A Fanster. 🙂

Jadi, disarankan agar kalian bacanya lima ff itu terlebih dahulu, supaya tidak bingung. Hehe.

Oke, cukuplah pengantarnya, yuk segera dibaca FF-nya 😉

***

Horor menyelimuti Changi selama beberapa hari. Apa yang dia temukan di halaman rumah malam itu membuatnya terteror bayangan-bayangan pemergokan itu. Dia pun menghindari Sunghyo sekaligus Yoochun.

Sunghyo yang mengira Changi menjauhinya karena marah atas apa yang dia perbuat pun kebingungan. Dia tak bisa membantah dan mengarang alasan apa-apa lagi. Evidensinya terlalu kuat; Changi memergokinya.

Akan tetapi, sesungguhnya bukan itulah yang membuat Changi menjaga jarak. Changi hanya takut. Gadis berambut keriting itu mengalami paranoid terhadap semua hal yang berkaitan dengan hal tersebut; termasuk para pelakunya. Meski bersama Changmin adalah hal terakhir di dunia yang ingin dia lakukan, dia lebih memilih bersembunyi di kamar bersama pemuda jangkung itu semalaman untuk menghindari Sunghyo. Dia tahu dia pernah melakukan hal yang sama, tapi itu adalah ketidaksengajaan. Dan dia mau mempercayai Shim Changmin tidak akan berpikir ke arah itu, dengan asumsi ketidaksengajaan di antara mereka tak pernah dianggap ada.

Dan Changi juga tidak ingin berpapasan dengan Sunghyo. Dia tidak ingin melihat wajah Sunghyo yang kemungkinan akan muram. Jadi dia memutuskan untuk menyingkir dari semua temannya. Maka dari itu, dia sekarang pergi bersama seorang teman kuliah untuk mengurus urusannya.

Sembari memikirkan tindakannya itu, dia mengamati sepatunya—boots jingga yang menjulang hingga selutut. Celana belang-belang putih hitam dipakainya untuk dipadukan dengan boots itu. Matanya kini mengarah pada kaus tanpa lengannya yang bagian belakangnya memanjang di sekitar celana belang tersebut. Changi menyapu ke belakang rambut hitam keritingnya yang diikat sedemikian rupa lalu melihat arlojinya, memastikan rekan kampusnya sudah terlambat tujuh menit.

Changi-ah, sebuah suara muncul dari belakangnya, dari pintu gerbang tepat di balik punggungnya.

Gawat. Sunghyo, Changi mengerang malas di dalam hati.

“Ne, Sunghyo? balas Changi, agak terlambat, berpura-pura ramah.

Kau tetap jadi pergi? tanya Sunghyo. Raut wajahnya, benar, muram.

Sunghyo adalah orang yang seharusnya dipinta Changi untuk menemaninya siang ini. Tapi kejadian kemarin telah menggerus semua keinginan Changi untuk ditemani Sunghyo. Jadi dia berkata, Ya, aku tetap harus pergi. Pendaftarannya hanya dibuka sampai hari ini.

Tapi tadi pagi kaubilang aku tak perlu bersiap-siap, Sunghyo mengucap bingung.

Memang tidak usah. Kau di rumah saja. Aku dapat mengurusnya sendiri, Changi menjawab, dengan senyum palsu yang kelihatan asli.

Kenapa? Sunghyo semakin heran. Kaubilang kau takut kalau pergi sendirian ke tempat sejauh itu, makanya kau minta ditemani olehku. Biar aku menemanimu, ya. Aku siap-siap dulu.

Tidak perlu, jawab Changi, bernada cukup dingin hingga cukup untuk menghentikan langkah Sunghyo yang ingin melaju ke dalam rumah.

Mengapa? Sunghyo mempertanyakannya lagi. Apa tak apa kalau aku memakai baju santai begini?

Kau tak usah ikut, tukas Changi, aku bisa sendiri.

Hah? Sunghyo menggumam khawatir, kemudian melemparkan rongrongan, kau tak mungkin membatalkan apa yang sudah kauminta beberapa hari lalu, kecuali kau bermasalah padaku. Sunghyo mendekati Changi. Kau masih marah padaku?

Tidak, jawab Changi tenang, mengembalikan pandangannya lurus ke depan. Aku tidak marah.

Lantas mengapa kau seperti ini? Aku yakin kau tak ingin pergi sendirian. Kau hanya tak ingin pergi bersamaku, Sunghyo menebak.

Aku tidak pergi sendirian. Temanku akan datang, Changi berkata tegas.

Changi-ah… Ucapan Sunghyo melayang di udara dan tak diteruskan. Tepat beberapa detik setelah itu, deru mesin motor terdengar dari kejauhan—makin lama makin mendekat ke arah mereka. Seorang pemuda dengan motor besar memarkirkan kendaraan itu tepat di depan mereka. Pemuda itu mematikan mesin ketika Sunghyo memberikan pandangan penuh pertanyaan pada Changi. Tak lama, helm yang mengungkungi kepala pemuda itu dibuka.

“Annyeong, Changi.

Donghae Oppa? Changi berkerut, berpura-pura tak mendapati dari sudut matanya kalau Sunghyo bermuka syok karena panggilan Changi pada pemuda itu. Mengapa kau yang datang? Bukankah seharusnya Mingi?

Mingi tak bisa datang. Dia sedang demam. Dia meneleponku untuk menggantikannya, jawab pemuda yang dipanggil Donghae itu, ayo kita pergi.

Changi mencerling Sunghyo sedikit, memastikan temannya itu melongo. Dan begitu menemukan mulut Sunghyo yang terbuka, tanpa basa-basi, Changi berkata padanya sambil mendekat ke motor itu, Aku pergi dulu, Sunghyo, sampai jumpa.

Sunghyo telah menemukan kata yang tepat yang diucapkan ketika Changi sudah mendudukkan bokongnya di kursi belakang motor tersebut. Dan itu dua detik sebelum motor itu melaju kencang.

Pintu menjeblak terbuka. Dan Sunghyo segera disambut oleh kerumunan yang merongrongnya.

Siapa itu, Sunghyo? tanya Minmi.

Tumben sekali Changi bersama dengan seorang pria. Apa kaudengar dia menyebut namanya? Minrin bertanya jauh penuh selidik.

Benar sekali, timpal Yunho, pria yang selama ini kulihat bersama Changi paling hanya kita-kita saja. Dan siapa pria ini?

Junsu melirik Changmin yang sedang menyeruput sebutir nasi di sumpitnya, lalu menyenggol si jangkung yang duduk di sebelahnya itu. Kau tak penasaran, Changmin?

Apa? tanya Changmin sambil mengunyah.

Biasalah, Yoochun tercengir lalu menggoda, Changmin tidak akan menunjukkan kalau dia penasaran. Dia orang yang menjaga perasaannya dengan baik. Bukankah begitu, Tuan-Terselubung?

Changmin melirik sengit Yoochun sebentar, kemudian sekejap mengubah raut wajahnya menjadi santai. Sambil menaikkan kedua alis, mencibir dan mencermati tangannya sendiri yang mengotak-atik Japche di hadapannya, Changmin menjawab, Yah, setidaknya, aku tidak melakukan suatu kegiatan terselubung di tempat umum.

Yoochun menghapus cengiran yang menghiasi wajahnya seketika. Dia melirik Sunghyo yang membalasnya dengan membuang muka.

Ada apa ini? tanya Jaejoong, melihat Changmin lantas melihat Yoochun.

Tak ada apa-apa, sahut Changmin sambil menelan Japche-nya.

Jaejoong, Minrin dan Yunho berkernyit. Mereka nampaknya ingin bertanya lebih soal yang baru saja dikemukakan oleh Changmin, yang membuat rona muka Yoochun tercekat seketika. Mereka mengendus ada yang tak beres. Akan tetapi, Junsu lebih dulu mengeluarkan lagi tema awal yang menguasai ruangan ini, Walaupun Changmin tidak penasaran, tapi aku penasaran pada lelaki yang bersama Changi itu.

Minmi mengangguk. Iya, Junsu Oppa, Minmi juga penasaran.

Mengapa tidak kita tanyakan langsung kepada Changi Eonni saja? Ririn, yang sedari tadi diam, pun angkat bicara.

Dia tidak akan memberitahu, tukas Minrin. Dia kan penuh rahasia.

Berkat perkataan Minrin, Yunho melihat dan mencermati Changmin. Ya, sama seperti Changmin.

Lalu apa kita akan membiarkan ini terjadi? Membiarkan pasangan ini menghancurkan hubungan mereka yang tak pernah bisa dibilang hubungan itu? Atau–

Changmin bangkit, serta-merta menimbulkan gebrakan pada meja. Delapan orang di sekitarnya terkejut. Tak ada yang bergerak, bagaimanapun. Mereka menunggu, menanti hal yang akan disampaikan Changmin setelah gebrakannya itu.

Aku mau tambah nasi, kecap Changmin. Dengan mata memicing dingin pada Jaejoong, dia mengambil mangkuk nasinya dan menyodorkannya pada Jaejoong.

Jaejoong, yang barusan dipotong ketika sedang penuh nafsu berkata-kata, hanya menatap Changmin datar, lalu merampas mangkuk itu dari tangan Changmin. Pada saat Jaejoong membawa mangkuk itu menuju penanak nasi, seisi ruangan sudah berpikir kalau pembicaraan ini telah berakhir.

Changmin tersenyum, entah karena semuanya menyerah untuk membahas ini atau karena aroma nasi hangat yang akan datang kepadanya. Atau mungkin keduanya sekaligus. Pokoknya dia nampak senang pada momen itu.

Sayang sekali, momen menyenangkannya itu tak bertahan lama. Ketika ponselnya yang dia letakkan di samping mangkuk nasinya bergetar, Changmin meraih ponselnya, mencerapnya sebentar, lantas mengangkat telepon tersebut. “Yoboseyo.

Berikutnya, yang bisa diketemukan oleh semua penghuni ruang makan itu adalah Changmin yang hanya diam dengan ekspresi nanap selama percakapan di telepon itu berlangsung. Beberapa menit sesudahnya, si semampai itu menggumamkan kata, yang terdengar seperti persetujuan, dengan seri muka panik. Itu terus terjadi sampai Changmin mematikan ponselnya dan wajahnya penuh kerutan serius.

Sesuatu terjadi, Changmin? tanya Yunho.

Changmin mendongak, dan bertatap muka dengan Yunho. Dia mencebik, mengedikkan bahu. Orang tuaku mau datang ke sini. Mereka sudah di jalan.

APAAAA?! Jaejoong berteriak nyaring. Tentu saja teriakannya itu mengejutkan setiap jantung yang berada di ruangan tersebut.

Aduh, kau tak perlu bertingkah dramatis-setengah-idiot seperti itu, Hyung. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, Changmin berkata sambil mengibaskan tangannya.

Tapi, aku belum menyiapkan banyak hal. Makanan, minuman, kebersihan rumah, kerapihan rumah, kesiapan—

Kalau kau bilang tak ada yang perlu dikhawatirkan, Yunho menyela kehebohan Jaejoong yang berkata sambil mondar-mandir di dekat kompor, spot favoritnya, mengapa kau tadi bermuka histeris saat menerima telepon itu, Changmin?

Benarkah? Changmin bertanya.

Yunho dan Junsu mengangguk.

Ah, itu karena…

Seluruh pasang mata memandang Changmin sekarang. Dia jarang berbicara terpotong-potong dan ragu-ragu di hadapan mereka. Dia biasanya bicara sedikit dan menyelekit. Jadi, pantas, kini semuanya memasang pandangan menyeluruh padanya.

Karena apa? desak Jaejoong.

Changmin menatapnya, melontarkan pandangan serius dan muram. Perilaku itu membuat Jaejoong terperangah dan mendekat.

Karena apa, Changmin-ah? Jaejoong mendesak lagi.

Karena… Changmin mengucap pelan, karena… aku membayangkan… sebanyak apa makanan yang kausajikan kalau orang tuaku ke sini.

Yoochun memejamkan mata dengan bibir mengelim. Junsu dan Minmi melongo. Sunghyo mengernyit. Minrin memandangi Changmin. Yunho berkernyit dahi seraya melihat Jaejoong yang bertolak pinggang dan membuka suara, Tentu saja aku akan memasak banyak.

Nah, itu yang menjadi pikiranku, sahut Changmin, kalian pernah merasakan bagaimana mengantisipasi apa yang kalian sukai?

Jadi begitukah wajahmu kalau mengantisipasi sesuatu yang kausuka? Yoochun menanya heran. Bermuka panik?

Changmin mengangkat kedua alisnya sekali. Yah, tidak selalu. Tergantung ekspresi apa yang sedang ingin kukeluarkan untuk menyambut apa yang kusuka itu.

Kau mengerikan, Changmin, gidik Yoochun.

Changmin memandang Yoochun dengan pandangan agak merendahkan dan seolah-olah berkata, ‘Kau jauh lebih mengerikan, Hyung‘.

***

Changmin sedang mengetikkan beberapa kata dalam esainya ketika ketukan pintu terdengar. Dia menoleh dan menangkap ketukan pintu kamarnya terdengar sekali lagi.

Oi, ucapnya, masuklah.

Terbukalah pintu kamar bercat warna kayu itu untuk menampakkan sebuah wajah bulat nan putih. Changmin-ah, panggil si pengetuk.

Ah, Yoochun Hyung, Changmin mengucapkan dengan tidak begitu kentara. Pemuda itu mengutarakan hal itu sambil mengerahkan kedua mata besarnya kembali ke layar laptopnya.

Selang sesaat, Changmin mendengar hentakkan kaki Yoochun yang mendekat ke arahnya. Changmin-ah, panggilnya.

Hm? sahut Changmin, dengan tidak mengalihkan perhatian dari laptopnya sama sekali.

Kurasa kita perlu bicara, ujar Yoochun.

Kita sedang bicara sekarang, tukas Changmin acuh tak acuh.

Yoochun menyunggingkan seringai. Yah, kau tahu apa yang kumaksud—umm… hal yang mau kubicarakan ini, maksudnya. Ahem, aku…

Changmin memutar kursi ergonomis yang dia duduki menjadi menghadap Yoochun yang kini berada di samping kiri meja belajarnya. Apa sebenarnya inti pembicaraanmu, Hyung? tekan Changmin.

Yoochun menghela napas, lalu menjilat bibir atasnya. Kau… Yoochun menarik napas lagi lantas melanjut, Kau tahu, hal yang terjadi di gazebo itu—

Changmin mengangkat sebelah tangannya, menyetop Yoochun. Dengar, Hyung, kalau kau ingin menjelaskan hal itu padaku, biar kutegaskan beberapa hal padamu. Pertama, itu bukan urusanku. Kedua, aku tidak tertarik mendengarnya. Ketiga, kau tak perlu harus merasa gugup begitu kepadaku.

Yoochun memandang Changmin tak percaya, kemudian mengangkat kedua tangannya menyiratkan kebingungan. Yaah… Kau tak memberikanku pilihan untuk kemudian bertingkah seperti itu. Sikapmu… sikapmu padaku seperti seseorang yang menghakimi, jawab Yoochun.

Salah satu alis Changmin terangkat.

Aku tahu memang kedengarannya menggelikan dan tak berguna, tapi aku ingin minta maaf, kata Yoochun.

Kini kedua alis Changmin menaut. Kenapa kau malah minta maaf? Padaku pula?

Aku tak betah mendapati sikap seperti—

Changmin! teriak seseorang, membubarkan percakapan Changmin dan Yoochun. Changmin-ah!

Debuk langkah kaki di anak tangga tertangkap telinga dan hal itu menyebabkan Changmin dan Yoochun mengantisipasi si pemanggil dari pintu kamar Changmin yang sedikit terbuka itu.

Tak lama, pintu itu terdorong. Muncullah si pemanggil, Kim Junsu.

Changmin-ah, orang tuamu datang, ujar Junsu sambil ngos-ngosan.

Changmin melirik udara kosong di sampingnya, seperti berpikir, lalu mengendus-endus.

Kenapa? tanya Yoochun.

Sup? Ramyun? balas bertanya Changmin, namun bukan pada Yoochun dan Junsu, lebih kepada dirinya sendiri.

Apa? tanya Junsu bingung.

Pasti Ramyun, Changmin menjawab pertanyaannya sendiri dan bangkit dari kursi berputarnya. Semoga porsinya besar-besaran seperti biasanya, timpalnya seraya meninggalkan kedua Hyung-nya yang berpandangan; Yoochun yang memutar bola mata dan Junsu yang terbengong-bengong.

Apa maksudnya? tanya Junsu dengan kerutan kening.

Ayolah, Junsu. Kau tahu Changmin. Dia sedang bicarakan apa yang ada sekarang di meja makan, sahut Yoochun seraya ikut keluar kamar.

Junsu ikut beranjak keluar, masih dengan wajah herannya dia bertanya, Ya, tapi apa, Yoochun? Junsu menutup pintu kamar itu di belakang punggungnya. Aku tidak mengerti sama sekali. Dia lantas mengangkat bahu dan menyusul Changmin dan Yoochun yang tengah menuruni tangga.

Ketiga pemuda itu kini berbaris di ujung anak tangga terakhir. Mereka langsung bersemuka dengan jenderal rumah tangga, Kim Jaejoong, yang tengah sibuk berpindah ke satu panci ke panci lainnya. Asap beraroma gurih dan asin menyergap penciuman mereka.

Ini aroma Ramyun! seru Junsu.

Changmin dan Yoochun melirik Junsu seolah-olah berkata: ‘itulah-yang-dibicarakan-sejak-tadi’.

Kendati demikian, Junsu tidak sempat menyadari lirikan malas Yoochun dan Changmin itu karena Jaejoong segera menoleh pada mereka. Terima kasih pada seruan Junsu yang nyaring. Ah, kalian sudah turun! cetus Jaejoong sambil mengangkat sendok pengaduk kuahnya. Cepat temani orang tua Changmin di ruang tamu sana! Jaejoong mengomando.

Dengan bahu yang diangkat, Changmin mengeloyor ke ruang tamu. Yoochun dan Junsu pun mengikutinya.

Changmin melihat mereka, kedua orang tuanya. Sang ayah mengenakan kemeja biru dan setelan jas hitam yang necis, sementara sang ibu mengenakan baju terusan panjang berwarna plum dengan lengan berumbai. Senyum terukir dengan sendirinya di wajah Changmin. Betapa senang dirinya menemui orang tuanya lagi. Dia ingin menghambur kedua orang yang tengah bersimpuh berdampingan itu, memeluk mereka. Akan tetapi, yang dia lakukan bertentangan dengan itu. Dia hanya menganggukkan kepalanya sambil memberi salam hormat, Ayah, Ibu.

Kedua orang tuanya tersenyum dan balas menganggukkan kepala.

Duduklah, Changmin, pinta sang ayah seraya merujuk bantal duduk yang berada di depannya.

Dengan patuh, Changmin menuruti perintah ayahnya, duduk beserobok dengan meja. Yoochun baru akan membalikkan badan untuk kembali ke belakang, dan hampir mengajak Junsu untuk mengikutinya, ketika ibu Changmin berujar, Kalian berdua, mari. Duduk bersama kami.

Yoochun tercengir dan menyambut, Oh, tentu saja, Nyonya Shim. Dia menggerakkan kakinya untuk mendekat dan duduk di sebelah Changmin. Junsu yang awalnya bimbang lantas mengikuti langkah Yoochun.

Nyonya Shim tersenyum ketika ketiga pemuda tersebut duduk rapi di hadapannya. Sudah lama tidak menemui kalian. Kalian makin terlihat dewasa, ucap beliau.

Ah, Nyonya bisa saja, kilah Junsu dengan lagak malu-malu dan tangan mengibas.

Changmin dan ayahnya melihat Junsu dengan kening berkerut. Junsu bahkan masih mesem-mesem setelah itu, tak menyadari pandangan kedua pria Shim kepadanya.

Mendapati itu, Yoochun menyikut Junsu agar menjaga sikap. Junsu terkesiap, melihat Yoochun, mendapati tatapan kedua Shim kepadanya dan duduk tegak kembali.

Jadi begini, Tuan Shim membuka suara setelah beberapa detik berlalu dengan kesenyapan, kami ke sini ingin mengetahui kabar kalian.

Kami semua baik-baik saja, Tuan Shim, seseorang menjawab. Namun jawaban tersebut bukan berasal dari Changmin, Yoochun maupun Junsu, melainkan Jaejoong yang muncul dari dapur, masih mengenakan celemek dan membawa sendok pengaduk. Mari. Silakan. Makan malam sudah siap, ajak Jaejoong.

Changmin biasanya paling antusias jika ajakan itu menghampirinya. Meski demikian, kali ini dia membendung perasaan untuk melonjak berdiri dan segera bersicepat ke meja makan berkat keberadaan orang tuanya. Dia menanti sampai sang ayah menyetujui ajakan tersebut dengan memandanginya.

Sesaat, yang dia inginkan terjadi.

Mari kita makan, ajak Tuan Shim. Dengan tangan menahan bobot tubuh, beliau bangkit. Pergerakan beliau membuat semua turut seperti sekelompok tentara yang mengikuti komandannya. Satu-persatu dari mereka tiba di ruang makan, kemudian duduk di kursi masing-masing. Dua kursi tambahan telah disiapkan Jaejoong di sana.

Penyediaan makanan oleh Jaejoong sejenak membuat Changmin melupakan huru-hara yang baru saja mendiami kepalanya. Para penghuni rumah tersebut pun, termasuk orang tua Changmin, larut dalam kesedapan masakan Jaejoong. Tak ada yang membahas mengenai apa-apa, hingga tiba-tiba Tuan Shim membuka percakapan, “Changi pulang jam berapa?”

Semua melebar kaget. Tak menduga hal yang pertama keluar dari mulut Tuan Shim adalah hal itu. Dan semua, kecuali Changmin, memandang ke arah pemuda jangkung itu. Changmin mencermati sekitarnya dan menampilkan tatapan yang seolah bertanya ‘aku-yang-harus-menjawab?’. Namun, lantas, Changmin menguasai diri, berdeham. “Darimana Ayah tahu dia sedang pergi?”

“Sebelum kami meneleponmu, kami meneleponnya. Bilang kalau kami akan ke sini. Tapi dia bilang dia sedang pergi,” jawab ibunya.

“Oh, begitu,” sahut Changmin.

“Kau belum menjawab pertanyaannya, Changmin. Istrimu pulang jam berapa?” Ayahnya mengulang. Dengan intonasi yang lebih tegas daripada sebelumnya.

Pengucapan kata ‘istri’ membuat Changmin bergidik. Dia selalu merasakan kegetiran itu setiap kali predikat Changi itu disebut. Changmin lantas menata jawaban tertepat atas pertanyaan itu. Jika dia menjawab tidak tahu, ayahnya akan menilainya apatis dan tidak becus. Jika dia berbohong dan menentukan jamnya sendiri, tak ada yang menjamin Changi pulang sesuai yang dia katakan. Hingga kemudian, dia menemukan jawabannya. “Dia bilang dia akan mengabari nanti,” jawab Changmin.

Tiada protes yang dibuat atas jawaban Changmin. Hal itu cukup melegakannya.

“Oh, ya, bagaimana kabar Changi sekarang ini, Changmin?” tanya ibunya. “Apa dia sehat-sehat saja?”

Changmin mengerling ibunya heran, namun Changmin tetap menjawab dengan penuh kehati-hatian, “Dia baik-baik saja. Bukankah Ibu sudah meneleponnya tadi?”

“Ya. Tapi aku ingin mendengar darimu langsung, dari seseorang yang paling banyak menghabiskan waktu dengannya,” ibunya menyahuti.

Alis Changmin menaut. Sementara kekakuan orang-orang di sekitarnya mulai mengurungnya. Pernyataan terakhir ibunya jelas telah membuat seisi ruangan itu menegang. Semua yang ada di rumah itu tahu kenyataannya jauh dari hal itu. Yah, Changmin memang menghabiskan sepanjang waktu serumah dengan Changi, bermalam di kamar yang sama kadang-kadang. Tapi dia bukan seseorang yang paling banyak menghabiskan waktu dengan Changi. Lebih-lebih, setelah insiden terakhir yang mereka alami.

Sang ibu nampak tak keberatan dengan keheningan Changmin, tak mempermasalahkannya. Melegakan sebagian orang di ruangan itu yang juga ikut memikirkan kondisi pasangan itu.

Malah, setelah itu, beliau menambahkan pertanyaan baru, “Lalu apakah sudah ada tanda-tanda kalau Changi—”

Jaejoong batuk dengan keras, sontak langsung menghentikan pertanyaan ibu Changmin, menjadikan dia pusat perhatian seketika. Kejanggalan mulai memekat di ruangan itu. Dan saling pandang bukan hal yang jarang lagi terjadi, tapi kini kegiatan yang pasti dilakukan empat pemuda itu di ruang makan tersebut, selain Changmin.

Changmin tak kunjung menunjukkan bahwa dia melepaskan diri dari kondisi tanpa  bicaranya. Dia masih kelihatan berpikir keras, ketika bunyi geseran pelan kursi mengejutkan seluruh penghuni ruangan. Segera saja, semua menengok ke sumber suara. Rupanya Yoochun.

“Maaf, saya izin ke belakang dulu,” kata Yoochun sambil memberikan anggukan kecil.

Tanpa ada sambutan, Yoochun pun beranjak dari ruangan itu. Dan tak lama setelah aksi pergi tiba-tiba Yoochun, Jaejoong segera melancarkan kiprah lain. “Uhuk! Yunho, tolong temani aku mencari obat batuk di gudang. Uhuk!”

“Hah?” Yunho menatap Jaejoong heran. “Sejak kapan kita punya gudang?”

Jaejoong mengatupkan gigi-geliginya kesal. “Sudah, ayo ikut aku saja,” paksanya sambil menarik lengan Yunho. Jaejoong dan Yunho pun bangkit.

“Tuan dan Nyonya Shim, kami permisi dulu,” ujar Yunho. Jaejoong hanya menyeringai dan memberikan anggukan sopan bersamaan dengan Yunho. Keduanya pun buru-buru minggat dari tempat itu.

Changmin sudah menyadari. Hyung-hyung-nya pasti sudah tahu pembicaraan ini akan mengarah ke mana. Oleh karena itulah, mereka pergi. Dia sebetulnya cukup merasa senang karena privasinya dihormati. Meskipun ini pertanyaan yang paling ingin dia hindari selamanya, meskipun dia sangat menginginkan untuk menidakpedulikan pertanyaan itu dan menyibukkan diri dalam kebahagiaan memakan ramen buatan Jaejoong, Changmin tahu dia harus menghadapi pertanyaan ini. Dia tidak boleh dan tidak bisa menidakpedulikan orang tuanya. Dan dia lega hyung-hyung-nya mengerti. Kecuali satu. Dan kini dia melirik sengit padanya; Kim Junsu.

“Hehe, Changmin, bukankah ramennya sangat enak?” tanya Junsu, lagi-lagi menonjolkan sifat terburuknya yang membuat Changmin alergi.

“Junsu-ah!” suara Jaejoong memecah suasana, memanggil Junsu tak jauh dari situ.

“Ya, Hyung?” sahut Junsu.

“Cepatlah ke sini! Kami butuh bantuanmu!” perintah Jaejoong.

“Ah, mana mungkin mengambil obat batuk saja butuh bantuan orang banyak,” kikik Junsu.

“Junsu! Cepat ke sini!” Jaejoong terdengar tak sabar dan menuntut, mengubah reaksi dan raut muka Junsu drastis. Junsu berdiri, pun menyahut sambil menyingkir pergi dari sana secepat yang dia bisa.

Changmin merasa tenteram, sekaligus tidak tenteram. Tenteram karena kini dia bisa sendirian bersama keluarganya. Tidak tenteram juga karena kini dia akan mendapatkan pertanyaan itu jauh lebih jelas.

“Changmin,” panggil ibunya, “kami sangat ingin tahu.”

Duh. Sial. Changmin memaki dalam hati, sambil mengamati ramen yang makin menggembung di mangkuknya. Pertanyaan itu akan benar-benar terlontar sebentar lagi.

“Apakah Changi sudah hamil?” Ibunya benar-benar mengeluarkan pertanyaan geruh-gerah itu akhirnya.

Advertisements

22 thoughts on “The Beloved Roulette #2

  1. Nan_Cho says:

    hahahaahah..
    baru kali ini si Tiang Chang keliatan gagu dan aku sangat berterima kasih sama Nyonya Shim yg udah tanya gitu, hahahaha..
    apakah disini di TBR Donghae orang biasa maksudnya bukan anggota SuJu, ataupun anggota SuJu yg lain jg jd orang biasa? terus sebaliknya di TRC anggota DBSK jd orang biasa?
    kasian sekali ama Yoochun, tiap dia mau jelasin sesuatu yg penting selalu aja ada pemotongnya, kkk, sabar ya Yoochun-ssi, kkk

    huwaaa..
    hari ini sepertinya special buat trio KyuChangChan, walau moment dan cerita mereka berbeda tp tetep aja trio itu yg paling aku tunggu ceritanya, kkk..
    Ahli Perawatan dan Tuan Terselubung..
    hahaha..
    keren author eonni ^^//

    • Mysti Adelliza says:

      Nancho-aaaaah… ^^ #hugs
      Hahaha, si Tiang Chang bakal bersikap manis dan penuh sopan santun kalo sama ortunya hehehe jadi ya, agak gagu dikit mungkin hahaha
      Apa lagi kalo dikasih situasi ini^^
      Iya, Donghae orang biasa di sini. Belum ada rencana adain member SJ yang lain, nancho. Begitupun di TRC, belum ada rencana adain member DBSK. Khusus TRC dan TBR mau dibuat khusus per grup masing-masing. Tapi Donghae main muncul2 aja #lah #lol

      Hahaha, iya, ya, poor Yoochun^^

      Iya, benar, hari ini mereka bintangnya^^
      Dan senaaang sekali kalo kamu tunggu2 ini, nancho^^
      Kyaa… ahli perawatan dan tuan terselubung sebutan yang bagus! #kasihjempol
      Makasih ya, nancho, atas komentarnya^^

      • Nan_Cho says:

        omg..
        theme.nya baru lagi author eonni..
        asikkk, hitam, dengerin lagu GD yg Black pasti cocok, kkk..

        iya si Tiang Chang itu, mending itu Tuan sama Nyonya Shim tinggal sama mereka aja, hahaaha..
        ohh..
        jadi si Girang (?) cuma numpang doang, hahahaha..

        sama2 dan terima kasih author eonni..
        haahaha..

      • Mysti Adelliza says:

        Iya^^
        Wah, kamu suka themenya ya nancho? Syukur deh^^

        Hahaha. Iya ya. Nanti ChangChan pasti ga berantem lagi, cuma tegang doang hahaha^^
        Iya, numpang lewat dia

        Ne, nancho^^

  2. hodyshipper says:

    Changmin dingin bgd kalo udah ngomongin changi.. Aqmsh bingung sm hubngan mereka ga da romantisny s’x #geleng2kepala

    Misu couple emang ga da ngenandingin keluguan dan kebodohan mereka..kekeke

    Keren thor, dr bbrp ff yg aq bca ga da yg mendeskripsikan karakter dbsk setepat ini #proud

    D tunggu lanjutanny thor.
    🙂

    • Mysti Adelliza says:

      Hody~~~~ senang melihatmu kembali komeeennn~~ ❤

      Hahaha. Begitulah ChangChan.

      #lol aw. senangnya kamu juga sepikiran soal MiSu couple hahaha

      Huwaaaa… makasih, chingu. Jadi malu dibilang gitu #blush

      Oke, makasih juga udah mau nunggu lanjutannya 😉

  3. asrikim says:

    Hahaha dsar emak2,orang tuanya changmin yg mau dtang dia sendiri yg heboh,,ternyata ada jg orang yg bikin changmin tak berkuti hehehe,tak lain dan tak bukan orang tuanya sendiri,,tuan dan nyonya shin sbar aja nanti mukn bkal dksih changchan dah berbuat kkk~#ditimpuk changchan,,
    kyaa~changchan ngelihat apa yg dilakuin sungchu,,aq aja blom#apaan sih abaikan,,
    kasihan sunghyonya jdi dihindari changi,walapun changi tak bermaksut sprti itu,,tetp aja buat sunghyo sedih sbar ya neng sunghyo mkn changinya sedikit shock aja,,neng sunghyo kan alim kok berbuat gtu,getok aja bang yoochun#eh
    Ceritanya mkn keren aja,,kyuchannya kapa dilanjutin eon?asri penasarain ni,apa yg bkal kyuhyun lkuin diruang perawatan kkk~
    Duo eonni fighting~

    • Mysti Adelliza says:

      Hahahaha… ya gitu dah si Jaejoong…
      Ya, benar, Changmin seperti Giant yang takut sama emaknya sendiri hahaha… #ditimpukChangmin
      Hahaha… apa kamu berharap ChangChan punya anak?
      Hehe, kasian Sunghyo ya, dia juga sedih dicuekin Changi…
      Neng Sunghyo ga alim2 banget kok, asri, hahaha…
      Makasih, asri, udah komen ya ^^
      Kyaa… KyuChan lagi dikerjain… sabar ya ^^
      Makasih fightingnya ^^

  4. asrikim says:

    Ok,asri akan sbar menanti,,ya eon buat changchannya punya anak,,brang kli aja setelah punya anak,kehidupan pernikahan changchan jdi normal kkk~
    ya wlaupun sunghyo enggk alim2 amat kan dia sopan eon hehehe,,

  5. Nathalie park says:

    Msh sdkit g ngerti sich knp changmin sm changi itu ssh bgt bwt d’satuin???apa mereka sgtu gengsi’y bwt bs sama”???
    Trz nasib’y yoochun oppa gmn sm pacar’y *mian lupa nama yeojachigu’y..kekekekeke..stlh ttangkp bsh d’gazebo????apa dy bkl ttp pertahanin hub’y???atw gmn????semakin penasaran sm part slnjt’y..

    • Mysti Adelliza says:

      Hahahaha.
      Iya, gengsi cukup kuat yang jadi alasan mereka begitu, tapi sebenernya ada beberapa alasan lain. Hehehe..
      Yoochun dan Sunghyo? Hahaha… Ga tau dah itu, chingu. Liat lanjutannya aja ya 😉 😉 😉
      Makasih udah lanjut komen, btw ^^

  6. Nathalie park says:

    Ya ampun..bingung hrz comment apa???ky’y otak’y changmin udh rsk koq dy bs y pnya ide gila nyuruh istri’y selingkuh spy mreka bs pnya anak????aigooo…..

  7. erfania says:

    sebenernya udah suka ama judul yang ini dari awal nemu ff ini
    tapi baru ini bisa mampir ke wp nya. 😀
    keep writing ya thor 🙂

  8. nandadisti says:

    kok tiba tiba kangen dbsk bareng bareng ya u,u junsu lemot banget ya, bertolak belakang banget sama changmin
    aku sendiri sampe lupa changmin sama changi itu udah suami istri. sikap mereka masih kaya bocah

    • Mysti Adelliza says:

      Awww… sama, masih kangen dbsk yang bareng berlima ^^
      Hahaha… itu tingkah Junsu yang selama ini keliatan soalnya kkk…
      Wkwkwk… changchan emang begitulah kkk…
      Btw, makasih udah lanjut baca dan komen ya sayy ^^

  9. Re says:

    changminnya kok gemes bgt disini, easy going juga kelihatannya tp padahal mah kaga, changi keluar sm donghae dianya b aja tp aslinya mah panas dingin haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s