Rainbow #1

Title                 : Rainbow #1

Author             : Mysti Adelliza

Main Casts      : Shin Sung Hyo (OC), Park Yoo Chun (DBSK)

Support Casts : Lee Ri Young (OC)

Genre              :  Romance

Length             : Chaptered

Authors’ Note : Annyeong, readers. Ada FF baru nih. Kali ini dengan main cast Yoochun. Semoga kalian menyukainya. Komentar kalian senantiasa ditunggu. ^^

***

Bar itu bertajuk Dirty yang dibuka dari jam enam pagi sampai jam tiga pagi setiap harinya. Bar mungil nan menyenangkan itu hanya beberapa langkah ke timur dari pusat kota, yang menyediakan “kebutuhan malam” tidak kurang dua puluh satu jam dalam sehari. Berlokasi di area klub-klub malam favorit di Seoul, rencana persinggahan cepat yang tadinya ditentukan oleh para tamunya akan berubah menjadi keinginan untuk memperpanjang waktu berkat keasyikan tempat tersebut. Interiornya serba minimalis dan terbuat dari metal, sementara teras halaman belakang asri dan luas. DJ indoor selalu menemani pengunjung hampir setiap malam, begitupun dengan pelayanan bintang lima yang selalu siap.

Kendati begitu, segala penawaran manis itu belum dapat menghapus pemikiran yang melecut di dalam kepala Yoochun. Pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu telah berdiam sekitar empat puluh lima menit dan tidak menampilkan reaksi apa pun terhadap sekitarnya.

Ia mengindahkan tawaran untuk paling tidak sekadar memesan makanan. Segelas bir, hanya itu yang ia pesan. Namun, ia mulai merasa bir yang ia kini ia genggam gagang gelasnya tidak ada apa-apanya.

“Oh, Riyoungie…” desahnya.

Otaknya seperti memproyeksi gambar bergerak—memori yang menampilkan seorang gadis mungil, berkulit putih, berambut panjang lurus—seperti habis diseterika.

“Dia sempurna…” gumamnya.

Gambaran lain mengenai gadis berambut lurus itu tertampil lagi di benaknya. Gadis bermuka bulat itu terbayang olehnya, tengah mengenakan jaket kulit panjang berwarna hitam. Mengesankan keimutan sekaligus kegarangan yang dimiliki gadis itu, gadis bernama Riyoung itu.

“Lee Riyoung…”

“Tuan,” tanya bartender di hadapannya, “apa Anda mau memesan minuman lain?”

Yoochun meminum sisa bir yang ada di gelasnya, lalu melihat ke arah bartender berbaju hitam dan berikat kepala merah itu. Muka bartender itu samar-samar di matanya. Yoochun merasa dia mulai mabuk.

Lantas, raut wajah Riyoung kembali menonjol di sudut pikirannya.

Yoochun menggeleng-geleng keras. Dia membutuhkan sesuatu yang lebih keras dari bir.

“Saya pesan Vodka,” pinta Yoochun.

“Segera,” sahut sang bartender.

Yoochun memperhatikan sekitarnya. Dia merasakan paradoks yang meremangkan bulu romanya. Keramaian di bar yang dia tempati terasa begitu hening.

“Silahkan, Tuan. Segelas Vodka dengan campuran—”

Sang bartender menyetop ucapannya sendiri ketika gelas kaca berisi minuman berkadar alkohol 70% yang disodorkannya itu direbut seenaknya oleh Yoochun. Pemuda bertubuh ramping setinggi 180 cm itu menegak minuman itu sekali menarik napas.

Dalam sedetik, Yoochun meletakkan gelas itu di konter bar yang terbuat dari marmer di depannya dan berkata, “Tolong satu lagi.”

Bartender itu meraih botol Vodka. Dia menilai, tidak ada efek apa-apa jika dia menambahkan campuran lain pada Vodka Yoochun. Yoochun tetap akan meminumnya. Karena boleh jadi Yoochun sudah kelu dalam mengecap. Maka bartender itu berpikir untuk menuangkan Vodka saja ke gelas Yoochun.

Benar sekali. Yoochun meminumnya lagi.

JebalHanbeoman…” pinta Yoochun sesenggukan.

Ketika bartender itu ingin menunggingkan botol Vodka itu sekali lagi, seseorang menyela, “Bukankah Vodka berkadar alkohol tinggi?”

Yoochun dan bartender itu menoleh. Seorang gadis bertubuh cukup tinggi dengan rambut panjang berantakan berdiri di sana. Suaranya yang parau namun juga kedengaran menyedihkan, bernada tinggi seperti seseorang yang terhimpit, sebenarnya sudah muncul beberapa detik lalu. Sayang sekali, kedua pria itu baru saja mendengarnya.

Karena kekakuan yang terjadi di antara mereka bertiga, sang bartender memutuskan sebagai pemecahnya. “Yah, sebetulnya masih banyak minuman beralkohol yang kadarnya tinggi selain Vodka, Nona,” jawab sang bartender.

Arrasseoyo. Aku cuma menanyai soal Vodka. Bukan yang lain,” sahut gadis itu, berusaha sekali untuk terdengar keras di antara musik disko dan obrolan bising di sekitarnya.

Yoochun tidak mengindahkan pertanyaan yang baginya tidak penting itu. Dia tidak mau menyaksikan bayang-bayang Riyoung lagi di kepalanya. Dan Vodka bisa membantunya. Dia membutuhkan minuman itu saat ini juga.

“Tolong Vodka-nya,” Yoochun meminta sembari menggeser gelasnya lebih mendekat ke arah bartender.

“Pertanyaanku bagaimana?” tanya gadis itu sengau.

Yoochun melirik kesal karena gadis itu terasa semakin mengganggu. Baginya, usikan sekecil apapun sangat mengesalkan pada momen-momen ini. “Aku klien pertama. Tolong layani aku dulu,” tukasnya.

“Ck,” gadis itu terdengar mendecakkan lidah, “katanya bar ini memiliki pelayanan prima pada tiap klien. Mengapa menjawab satu pertanyaan saja susah?”

Sang bartender meringis mendengar kritik soal pelayanan dari si gadis. Maka, dia segera menggagalkan pelayanan yang tadinya ingin dia lakukan pada Yoochun dan beralih pada gadis itu. “Ah, kalau boleh tahu apa saja yang ingin Anda ketahui soal Vodka, Nona?”

Gadis itu tercengir, menampilkan gigi-giginya yang tidak rata. “Aku ingin bertanya—”

Hentakan konter bar terdengar keras, padahal yang menghentaknya lunglai. Ya, Yoochun baru saja menghentakkan telapak tangannya ke permukaan konter itu. “Kau ini! Maumu apa? Mengapa menghalangi orang lain mendapatkan minuman?” tantang Yoochun. Walaupun dari perkataannya terdengar kasar, Yoochun mengucapkannya buru-buru dan sedikit tak jelas, seperti orang yang sedang berkumur.

Si gadis bermuka bingung. Dia lalu menyorongkan telinganya. “Kau bilang apa?” tanyanya.

“Pura-pura tidak dengar lagi!” maki Yoochun, dengan nada tak stabil.

Si gadis mengerut lalu memundurkan langkah. Dengan mulut komat-kamit, menyumpah tanpa suara, dia berbalik dan bermaksud pergi menjauh.

Saat itulah, sekilas Yoochun menangkap tulisan yang terbordir di jaket gadis itu. Tulisan yang menunjukkan satu tempat, tempat yang dia ketahui.

University of Seoul.

Itu kampusnya!

Entah karena ada perintah ajaib dari kekacauan akalnya, entah karena sudah mabuk berat, Yoochun merasa dia harus memastikan jaket almamaternya itu. Maka, Yoochun bangkit dari bangku putar khas bar yang dia duduki, dan mengejar gadis yang rupanya lebih pendek darinya itu. Tangannya menggapai-gapai tudung jaket itu, sebab salah satu tulisan bordiran itu ada di sana.

Tudung jaket itu dapat dia raih, membuat gadis itu menengok dan dengan refleks menepis tangan Yoochun.

Tepisan gadis itu menjadikan tangan Yoochun terlempar ke belakang. Tak tahu karena lantainya licin atau memang dia sudah tak kuat berdiri dan kehilangan keseimbangan, Yoochun limbung. Punggungnya menghempas lantai.

Dia tak sadarkan diri. Dalam sekejap.

Semua pengunjung bar memandang gadis itu saat ini, gadis yang kini terlihat kengerian.

***

“Atas nama siapa, Nona?” tanya resepsionis ramah itu.

“Sunghyo, Shin Sunghyo,” jawab gadis itu. Dia melihat gusar pada pemuda mabuk yang dipapahnya. Matanya kembali menatap resepsionis berkuncir kuda yang sesekali meliriknya. “Dia teman kuliahku. Mabuk di bar,” Sunghyo mencoba menjelaskan, namun sang resepsionis hanya tersenyum kikuk, tampak tidak terlalu percaya.

“Silahkan kuncinya. Handuk dan seprai bersih sudah tersedia. Saya ulang reservasinya, Anda memesan multi-bedded room, Nona. Di lantai dua.”

“Ya, ya,” Sunghyo asal mengiyakan. Dia ingin cepat-cepat melewati keadaan ini. Maka dari itu, dia mengambil kuncinya dan buru-buru memapah Yoochun untuk menuju kamar itu bersamanya.

Dia kenal hostel ini. Sunghyo sebetulnya ingin sekali melihat-lihat, menikmati karya seni dan keartistikan segala hal di hostel itu, namun dia harus segera membereskan si pemabuk ini, membaringkannya di ruang privat, melindunginya agar tak berbuat menyimpang dalam keadaan tak sadarkan diri begitu. Dan kamar dengan kasur banyak adalah yang dia dapatkan.

Park Yoochun, Sunghyo mengenalnya. Bahkan bukan sekadar kenal, gadis berambut hitam itu menyukainya. Itulah sebabnya dia yang bernotabene pemalu dan takut ikut campur urusan orang bisa mengumpulkan keberanian untuk bertanya pada bartender tadi. Pertanyaan tidak penting, tentu saja. Dia pun menyesal mengapa harus mengeluarkan pertanyaan bodoh seperti itu. Tapi hal itu membuat rasa penasarannya terbayarkan. Dia jadi benar-benar tahu kalau pemuda mabuk di depan konter bar itu adalah Park Yoochun.

Lebih dari itu, kini dia malah harus bertanggung jawab atas dirinya.

Sunghyo tidak tahu dimana tempat tinggal Yoochun. Meskipun dia menyukainya, dia memang tak pernah mencari tahu lebih dalam dari yang dia ketahui. Sementara, dia terlalu takut meraba-raba celana jeans Yoochun untuk mencari dompetnya, mencari tahu alamatnya. Di lain hal, dia juga terlalu peduli pada Yoochun, sehingga tak tega meninggalkannya. Kalau dia tak peduli, dia mungkin sudah meminta bartender untuk mengambil uang di dompet Yoochun untuk membayar tagihan bar dan pergi. Bagaimanapun, tadi dia sempat berencana begitu.

Namun begitu, sekarang dia memakai rencana sebaliknya.

Keduanya tiba di depan kamar yang dipesan. Sunghyo membuka pintunya dengan kunci lalu mendorong dengan susah payah. Masih dengan kesulitan, dia menggiring Yoochun menuju ranjang.

Ketika beberapa detik yang rasanya begitu lama, Sunghyo akhirnya berhasil membaringkan tubuh Yoochun di ranjang. Berat juga, pikirnya.

Dia sempat berpikir untuk melepaskan sepatu pemuda itu. Tetapi, hei, mengapa dia harus melakukan itu? Dia mengomeli dirinya sendiri. Sejenak kemudian, dia berpikir lebih baik dia meninggalkan Yoochun sekarang, membiarkannya istirahat agar pulih dari mabuk beratnya.

Dan meninggalkan situasi yang kini dia hadapi tanpa mengotak-atik apa pun adalah pilihan terbaik.

Menurutnya.

Diputarlah langkahnya menuju pintu.

Kajima…” Yoochun mengucap.

Sunghyo menengok.

Jebal, kajima…” ucap pemuda itu lagi dengan mata terpejam.

Sunghyo pun kembali mengarah pada Yoochun. Jangan bilang ini akan menjadi adegan opera sabun dimana dua orang bertemu, mabuk, lalu berakhir di pagi buta dengan tanpa busana, pikirnya. Meskipun berpikir demikian, dia tak bisa melarang kakinya yang membawanya mendekati ranjang.

Kajima. Saranghae…” Yoochun terus mengigau.

Oke. Ini sejenis naskah drama lain, batin Sunghyo. Seseorang yang tengah mencari pelarian atas cinta yang menyakitkan lalu bertemu seseorang lain yang tak keberatan untuk menjadi pelarian itu. Itu romantis dan menyentuh, bagi sebagian orang. Tapi Sunghyo membencinya. Dia pikir ini saatnya ia pergi.

Sunghyo berbalik, mencoba mencapai pintu.

Tapi, sesuatu menahan jaketnya.

Dia menoleh lagi.

Tangan Yoochun mencengkeram ujung jaketnya. Sunghyo mencoba melepasnya. Akan tetapi, tak dia kira, Yoochun malah mengerahkan tangan satunya untuk menggenggam tangan Sunghyo.

Dengan gerakan cepat dan cukup kuat, Yoochun menarik Sunghyo ke dekatnya. Lalu memeluknya.

Semakin banyak gerakan yang dibuat oleh Sunghyo, semakin membuat dia tenggelam dalam pelukan Yoochun. Gadis itu tak bisa berpikir. Dia mencoba mengestimasi apa yang dilakukan gadis-gadis dalam drama itu ketika mengalami hal yang serupa. Namun ide tak kunjung datang kepadanya.

Lebih-lebih, ketika Yoochun kemudian menciumnya.

Pikiran Sunghyo kosong seketika.

Advertisements

30 thoughts on “Rainbow #1

  1. Nan_Cho says:

    kyaaa…
    cerita lain dari ‘Lychee Couple’…

    Yoochun patah hati kah? hahaha, keliatan frustasi sekali…
    dan apa Sunghyo stalker Yoochun? aigoo, aigoo, aku kira mereka ga kenal tp ternyata malah Sunghyo yg kenal dan menyukai Yoochun…
    apa mereka teman kampus atau, kenapa Sunghyo bisa kenal dan suka Yoochun? *oke, itulah keahlian author eonni yg selalu buat penasaran dan penuh kejutan, kkk*
    scene akhirnya, ngingetin aku ttg mereka di gazebo itu, Yoochun agresif, hahaha…

    »sedikit curhat..
    semalem waktu ada notif ini aku udah baca ceritanya tp waktu aku mau kirim komentar tiba2 ‘Page Not Found’ lagi, aku buka tulisannya gitu lagi, jadi semalem aku bener2 geregetan pengen bgt komentar, hahaha, dan akhirnya siang ini bisa langsung aku komentar aja, uyeeeaaahh!!
    dan, tulisan hostel itu emang hostel ya atau salah, hehe..

    ayo ayo, cerita baru lagi author eonni, xixixi, bakalan selalu aku tunggu…
    #fighting ^^q

    • Mysti Adelliza says:

      Nancho-aaah… ♡♡♡
      Ya ini another Lychee Couple^^

      Ne, dia patah hati. Hahaha.
      Sunghyo ga stalkerin Yoochun, yah, dia emang suka Yoochun, tapi dia emang kebetulan ada di situ dan ga sengaja liat Yoochun ada di sana #kenapajelasindisini
      Hahaha, mian, nancho, kurang penjelasan ya di ceritanya^^
      Soal hubungan temen kampus dan atau yang lain nanti baca chapter selanjutnya ya^^
      Ahai! Kamu masih inget masalah gazebo >,<
      Rencananya Rainbow ini mau dipos hari ini, tapi, kemaren malah ga sengaja pencet publish. #dodol.
      Jadi dihold dan baru post lah hari ini. Mian, bikin kamu ribet, nancho^^
      Tapi makasih udah nungguin post-annya yang baru dikembaliin ^^
      Hostel itu bener, chingu. Hostel itu biasanya lebih murah dari hotel, dan biasanya dipake sama mahasiswa, hehehe…

      Wah, makasih udah dukung cerita baru ini. ^^
      Cerita lama juga tetep bakal dilanjut kok ^^

      • Nan_Cho says:

        hahaha..
        oh gitu..
        aku kira Sunghyo stalker dan Yoochun itu artis apalah, tp ga tau jg chapter selanjutnya yg bakal dibuat kejutan lagi sama author eonni, kkk..
        ingat sekali masalah gazebo itu, hahaha..
        tak apa author eonni, kemaren pengen banget komentar, hahaha..
        ahh..
        iya2 aku paham masalah hostel itu, makasih author eonni udah jelasin, xixixi..

        sama2, aku selalu dukung dan aku ada dibarisan yg paling depan *berasa nonton konser aja, kkk*
        asikkk, cerita lama dan cerita baru selalu ditunggu, terutama TWiUnya, hehe 😉

  2. asrikim says:

    Annyeong duo eonni,,,
    Kyaaa~cerita beru lg yg eon?
    keren,kereeen~
    bang yoochunnya lg ptah hatiya?#kasihan,,
    tpi kenapa dia bisa berpisadengan riyoung?lalu dimnakah riyoung?
    sunghyo ternyata dah kenal yoochun to,,dan dia jg menyukai yoochun,,tp apa yoochun tak mengenalnya?waktu sunghyo bicara sm bartender itu kenapa yoochun tak mengenalinya,apa karna yoochun mbuk?berarti cinta sunghyo bertepuk sbal tngan dong,,,
    Kyaaa~apa yg bakal dilkukan yoochun tu,,?main langsung cium sunghyo aja,,apa mukn yg adi dipikiran sunghyo bkal kejadian?klau mereaka akan berakir diatas ranjang smpai esok hri?bikin penasaraaaan~ditunggu lanjutannya,,,
    Duo eonni fighting~

    • Mysti Adelliza says:

      Annyeong, asri…
      Iya, ini cerita baru ^^
      Hahaha, iya, Yoochun patah hati. Soal kenapa bisa putus dan kemana Riyoung, nanti dijelaskan di chapter 2 ^^
      Sunghyo kenal Yoochun, tapi Yoochun gak kenal. Sunghyo kan pemalu orangnya. Hahaha.
      Kalo soal bertepuk sebelah tangan, bisa jadi juga sih ^^
      Hahaha…
      Soal benernya pikiran Sunghyo dan apa yang dilakukan Yoochun, ada di chapter berikutnya ^^
      Makasih udah baca, komen dan nungguin kelanjutan ini, asri ♡

  3. Nathalie park says:

    Aigoo…qra” apa yg bkl tjdi slnjt’y y????gmn reaksi yoochun pz bangun ntr klo tnyata cwe yg d’bar dan yg nolong dy itu sunghyo?????

    • Mysti Adelliza says:

      Aigooo… Makasih udah mau ngebaca cerita yang lain, nathalie ^^
      Soal apa yang terjadi selanjutnya dan reaksi Yoochun nanti, liat di chapter dua aja ya 😉
      Makasih sekali lagi, nathalie ❤

  4. rinuzza says:

    Fiuuuhhh~ tahan nafas selesai..
    Eh.. Onn.. dr segi tulisan dan deskripsi emg paling mantep diantara FF yg prnah sya baca.. awal2 msih mikir gt.. tp skarang dg bahasa sprti itu serasa masuk langsung ke cerita.. hehehe.. pertahankan Onn! saya suka :* Ganbatte!
    btw, kadang saya mikir pndiskripsian FF Onn slalu keren.. emm.. apa tmpat2 yg ada dlm FF stdknya prnah riset utk mndalami cerita? hehehe.. mian.. iseng2 nanya :v

    • Mysti Adelliza says:

      Hahaha… tahan napas kenapa, rizma?
      Waaah… makasih atas apresiasinya. Hehe, senang tahu kalo kamu serasa masuk langsung ke cerita ^^
      Akan diusahakan buat dipertahankan, malah kayaknya harusnya meningkatkan. Masih harus belajar. ><
      Kyaa.. makasih sekali lagi, rizma. Oh, iya, tempat2 yang ada dalam FF emang kadang dicari tau di internet, rizma. hehe~

  5. miss rara panda says:

    huahh, tarik nafas, keluarkan, fiuhh.
    owalach, itu jdi mksd x yoochun ngerasa lg ma org laen.
    huaaa.
    aishhhh. andwae.hmmm

  6. hyochun says:

    O ow.. ini toh alesan dan sebab mereka berakhir diatas ranjang dg tanpa busana #ehh ala opera sabun kata sunghyo 😀
    walah.. aku bayangin yoochun yg lagi mabuk jadi senyum2 sendiri #gemes kkk~
    Waah..baca part satu aja udah exited..dan juga ini masi sebagian kecil dari karyamu.. aigoo.. aku jatuh cinta ❤ 😉

  7. KaoriKamiya KenshinHimura says:

    omona,,,rupa ny ini awal dr ff yg dpost d blog ny ranufaara toh,,,pantesan full of nc gtu crita hehe,,,,rupany yg d pw itu,,,,
    beres sy baca dlog sebelah itu sy lsg ciao,,,k blog ini bwt nemuin sequel alias lanjutan yg ud dpublish dsana,,,,namun rupany msh ada yg lbih awal dbanding yg blog sana y,,,
    tp,,,gpp lah wlw telat hehe,,,yg ptg skrg makin jelas

    • Mysti Adelliza says:

      Yap, betul, ini awalnya, dan beberapa reader bahkan ga tau hehehe ^^ banyak yang mikir kalau post yang di blog sebelah itu satu-satunya part 1 Rainbow hehehe ^^
      Hehehe, iya…
      Btw, makasih ya chingu udah baca part paling awal ini ^^
      Makasih juga udah komen ^^ hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s