Candy-coated Misery #1

Title                 : Candy-coated Misery #1

Author             : Mysti Adelliza

Main Casts      : Choi Siwon (Super Junior), Kim Sunghyo (OC), Park Yoochun (DBSK/JYJ), Cho Kyuhyun (Super Junior), Shim Changmin (DBSK), Park Changi (OC)

Support Casts  : Kim Kibum (Super Junior), Kim Heehyo (OC), Jung Yunho (DBSK), Kim Minrin (OC), Shin Riyoung (OC), Min Minmi (OC), Park Sungrin (OC)

Genre              : Drama, Historical

***

Sunghyo’s PoV

Secarik kain kelabu, yang merupakan rok dalam gaun hitamku, terinjak selop hitamku sendiri. Itu membuatku oleng sehingga aku meredakannya dengan mencapai ranjang berkelambu emasku, menduduki bantal bulu bebek bersarung biru yang ada di sana sepanjang hari. Sekali lagi, aku tidak memperhatikan jalanku dengan baik. Dan kedatangan surat resmi yang kini kuremas di tanganku ini adalah penyebab utama kelimpungan menguasaiku. Aku berusaha duduk dengan nyaman, meski surat terkutuk ini sudah mencuri semua kenyamanan yang kumiliki. Tanganku membuka segel bulat berwarna merah pekat. Aku masih setengah berharap kalau isi suratnya bukanlah pernyataan yang kuperangi selama ini ketika aku menarik keluar perkamen terlipat di dalam amplopnya. Setelah meletakkan amplopnya, aku perlahan membukanya–sangat mendambakan kalau waktu yang kubuang untuk hanya membukanya dapat secara ajaib menghapuskan isi suratnya. Tapi, tidak. Bodohnya aku bisa berpikir demikian. Karena aku kini bisa melihat jelas isinya.

Yang terhormat Tuan Putri Kim Sunghyo,

Bersama ini kami, pihak penata laksana kerajaan, memberitahukan bahwa akan diselenggarakan sayembara pemilihan raja sekaligus calon suami dari Tuan Putri Sunghyo. Semua persiapan akan segera dilaksanakan, begitupun terhadap Tuan Putri Sunghyo sendiri. Pelajaran tambahan akan dijadwalkan lebih ketat daripada sebelumnya.

Demikian kabar yang dapat kami sampaikan.

Atas perhatian, kami berterima kasih.

Penata Laksana Kerajaan

Disetujui : Penyelia Kerajaan

Seolah keram menghajar tanganku, aku melepaskan perkamen surat itu ke permadani yang Ayah belikan ketika dia melakukan kunjungan ke Kerajaan-kerajaan Wilayah Selatan. Hamparan corak acak bintang dan bulannya, hal yang selalu kusukai dari permadani itu, kini malah memusingkanku. Atau mungkin kepalaku memang sudah pusing, dan itu semua disebabkan oleh kengerian atas isi dari surat ini. Meskipun sudah kuterka, aku selalu berharap kalau tebakanku akan salah.

Tidak, rupanya. Suratnya persis sama seperti tebakanku. Ini bukan tebak-tebakan, lagi pula! Pikiranku meneriakkan itu padaku. Changi, adikku tersayang, juga akan berkata demikian. Dengan wajah tenang dan ekspresi dinginnya, dia akan bilang hal yang sama. Aku seharusnya menerimanya, menghadapinya, pasti begitu yang akan dia katakan.

Tapi, menikah! ME-NI-KAH! Hal menakutkan itu! Apa aku harus menghadapinya?

Tidak!

Lebih baik mati.

Sayangnya, aku tak bisa mati begitu saja. Apa yang akan Ayah dan Ibu katakan padaku nanti jika aku melakukan itu, baik aku berhasil maupun tidak? Dan, yang paling penting, apa yang akan Changi katakan? Aku pasti takkan tenang menghadapi tahapku selanjutnya, hanya jika mendapati perkataan mereka. Anak yang menyedihkan. Anak yang tidak tahu berterimakasih. Anak yang tak punya hal yang bisa dibanggakan namun dengan sombongnya mengakhiri hidupnya. Itu mungkin takkan dituliskan di batu nisanku atau diucapkan di pidato pemakamanku. Tapi itu yang akan ada di pikiran Ayah dan Ibu. Selamanya.

Lagi pula, apa yang akan kulakukan nanti setelah mati? Aku… tidak tahu.

Maka dari itu, sekarang, aku tidak bisa mati begitu saja–walaupun mati adalah tujuanku beberapa bulan belakangan. Aku mungkin akan membicarakan sekali lagi pada Ayah dan Ibu untuk menolaknya, pembicaraan ke-entah-berapa yang akan kulakukan. Yah, walau aku tahu, mereka takkan mengerti. Tidak akan pernah mengerti. Percobaan beberapa kali sudah pasti menunjukkan kesimpulan itu.

Mataku mengisar ke seluruh penjuru kamarku. Ruangan luas yang dikuasai oleh warna biru tua itu, termasuk batu-batu permata penghias perabotnya, biasanya dapat memberikanku inspirasi. Tapi kali ini tidak. Aku menghentikan kedua mataku di sofa indigo yang berkaki kurus melengkung dari kayu ek berukir. Topi hitam pemberian ibuku tergeletak di sana. Topi berbulu yang selalu kukenakan itu terpaksa kulepaskan karena menurut Riyoung, penasehat busanaku, itu tidak sesuai dengan gaun yang kukenakan untuk makan malam ini. Topi itu digeletakkan di sana sebelum Riyoung menata rambutku.

Kini aku bisa mengarah pada topi itu lagi, topi kesayanganku. Aku menghampirinya. Tanganku meraihnya, merasakan bulu lembutnya yang menenangkan, seolah-olah aku baru saja menerima topi itu. Jemariku tenggelam dalam bebuluannya yang hangat. Topi yang kudapati dua belas tahun lalu ini menyimpan banyak kenangan.

“Topi ini cocok untuk jalan-jalan di musim dingin.” Aku ingat ibuku berkata demikian ketika dia memberikan ini kepadaku. Teringat lagi di memoriku kalau Ayah langsung menanggapi buruk akan itu, bilang kalau aku berbeda dengan beliau. Aku tak diperbolehkan bepergian kalau bukan demi kerajaan. Aku akan mewarisi tahta. Tak boleh ada di pikiranku rencana santai seperti melancong ke luar kerajaan tanpa alasan, hal yang selama ini ibuku lakukan. Yang ibuku lakukan, bahkan pernah dibilang oleh Ayah, dianggap sebagai pengasingan diri atas kegiatan kerajaan selamanya.

Membelalak, secercah ide menelusup ke kepalaku.

Topi itu kupakai, menutupi rambut panjangku yang ditata sedemikian rupa oleh Riyoung menjadi gulungan berkepang ringkas. Setelah memakai topi, aku tersenyum dan menemukan kepercayaan diri, seolah topi itu baru saja mengisi energi. Aku melihat langit melalui jendela berteralis di kamarku. Langit tanpa bulan itu kini sama gelapnya dengan suasana kamarku, dan pikiranku beberapa detik lalu. Cukup merisaukanku. Tapi aku tahu aku harus memutuskannya. Aku akan pergi dari kerajaan.

Ya. Aku akan pergi.

Segera saja, aku bertolak ke lemariku, mencari beberapa pakaian yang nyaman. Bukan yang merepotkan seperti yang kini kukenakan. Aku memilih kemeja-kemeja pria yang sengaja kubeli dengan alasan kalau aku hanya mengoleksi pakaian opera yang dipakai pemain opera favorit Changi. Padahal aku memang mengenakan saat aku mengunci diri di kamar, tak membiarkan Riyoung, atau para pelayanku masuk, dan menikmati kenyamananku sendiri. Kusatukan kemeja-kemeja itu dengan celana-celana panjang bahan yang longgar sebagai pemadannya, yang juga biasanya dipakai oleh pria. Semua kemeja dan celana, yang sebagian warnanya berkisar pada abu-abu, hitam dan biru gelap, kumasukkan ke dalam tas jinjing lusuh yang kudapat dari salah satu pelelangan.

Sekitar dua tiga menit, empat pasang pakaian berhasil kukepak di dalam tas yang kini tertutup rapi itu. Kulirik diriku sendiri di cermin. Mata bulat sayuku balas mengerlingku. Ini tidak main-main. Aku akan benar-benar pergi. Aku berucap demikian di dalam hati, seolah bayanganku di cermin itulah yang harus diyakinkan, bukan diriku sendiri.

Aku harus pergi, ucapku dalam hatiku lagi.

Meskipun aku harus rela meninggalkan keluargaku terutama Changi, adikku yang baik, dan kemungkinan di luar sana aku mungkin akan hancur karena tidak pernah melakukannya, semua tidak akan lebih baik daripada aku tetap berada di sini. Kebebasan itu perlu tindakan, Jung Yunho, guru spiritual kami pernah mengatakan demikian. Maka, aku akan bertindak–hal yang selama ini kubiarkan Changi melakukannya untukku. Ini mungkin awal kehidupan yang kuinginkan.

Kucerling lagi langit yang awan gelapnya sudah bergeser sehingga menampakkan bulan emas itu. Aku yakin ada suatu tempat di luar sana yang sedang menungguku.  

***

Advertisements

18 thoughts on “Candy-coated Misery #1

  1. Nan_Cho says:

    holla author eonniiiii…
    saya pertama lagi? *uyeyy, selebrasi haha*

    ini full POVnya Sunghyo dan isinya kegalauan Sunghyo *mungkin galaunya Junsu nempel di Sunghyo jg*
    jd Sunghyo meninggalkan istana? apa nanti Changi yg menggantikan posisi Sunghyo? *ntah kenapa ngerasa begitu, hehe*
    walau pendek, feelnya Sunghyo tetep kerasa..
    Yunho jd guru spiritual? oke, semoga ‘bad boy’nya hilang di peran ini, kkk..

    huwaaa, aku mau curhat..
    td siang waktu ada pemberitahuan email CcM #1, aku langsung buka tp di blognya tulisan ‘Page Not Found’, berkali2 aku buka ttp kayak gitu, jd bikin geregetan, terus malam ini aku buka lagi dan tarrraaa.. sudah bisa, tanpa babibu langsung baca, kkk..
    thank you author eonni-deul 😉

    • Mysti Adelliza says:

      Nan_choooo~~ ♡♡♡
      Kamu komen lagi syalalala… #eh

      Iya ini full pov Sunghyo, boring-kah? #lol
      Galau abis dia. Kayaknya emang ketularan Junsu. Hehehe
      Iya, dia kabur dari istana. Soal Changi gantiin ato ga, nanti liat chapter 3 ya;)
      Hahahaha. Yunho guru spiritual yang tetep bad boy kok #lah

      Duh, mian, ya, nancho, itu gara2nya ada kesalahan pos hehehe… berantakan gitu paragrafnya. Jadi dibenerin dulu dengan diprivat sebentar. Hahaha… mianhae~
      Tapi saya senaaaang malemnya kamu mau buka lagi, makasih yaaa ♡♡♡

      • Nan_Cho says:

        hahaha..
        syalalala juga.. ^^

        tidak author eonni, karena apa yg diceritain Sunghyo ttg topi ttg keadaan kamar dan perasaannya bener2 dapet feelnya, aku jd ngikut galau, kemaren waktu baca sempet berpikir ngasih jalan keluar buat Sunghyo yaitu ‘turun tahta ke Changi alias ganti posisi’ tp ternyata Sunghyo udah dpt jalan keluarnya sendiri, kkk..
        wah, author eonni udah kasih clue nih, jd ga sabar nunggu chapter #3 eh! chapter #2 dulu, xixixi..
        bad boy.nya Yunho ga hilang jg ternyata, haahha..

        tak apa author eonni, bersyukur ngecek lagi malemnya jd bisa baca, hehe..
        annyeong~
        #lanjutin baca LBL ^^>

      • Mysti Adelliza says:

        #lol

        Wah senangnya ternyata ga boring hehe
        Soal turun tahta kayaknya boleh juga tuh^^
        Makasih udah nungguin ya, nancho^^

        Asiiik… LBL-nya lagi dibaca hehehe

    • Mysti Adelliza says:

      Huwaaaaa…. senangnya kalo kamu suka, mey^^
      Senang juga kalo bagimu ini feelnya dapet.
      Hehe, sedikit ya?
      Lanjutannya diusahakan ga dikit deh^^
      Makasih komennya, dan juga fightingnya ^^

  2. asrikim says:

    Kyaaa~sunghyo kbur dari rumah,lalu gmana dengan nasip saembara itu,apa kah changi yg bakl menggantikan sunghyo?kenapa sunghyo begitu tkut dengan sebuah pernikahan atau mungkin sunghyo blom siap dan blom ingin terikat dengan seseorang,dia hnya ingin bebas dan bisa melakukan apa yg ingin dia lakukan sesuatu yg blom pernah dia lkukan,,mungkin dengan sunghyo pergi dia bisa menemukan apa yg dia inginkan selama ini,,dan mukin jg dia bisa menemukan atau bertemu seseorang yg bisa merubah pandangan dia tentang sebuah pernikahan,dan dia bisa memikirkannya,,tpi ksihan jg changi klau seandanya membenar klau dia bkl jd pengganti eonninya?Duo eonni feelnya dapet bangeeet~asri ska sm jaln ceritanya,duo eonni fighting~

    • Mysti Adelliza says:

      Waaw… Asriii… Makasih udah lanjut ngebaca ini ^^
      Hehehe, perkaburan Sunghyo mengakibatkan banyak hal, termasuk pada sayembara dan Changi, tapi nanti kamu liat sendiri aja ya di chapter2 selannjutnya hehe
      Ah, dan soal takutnya Sunghyo sama pernikahan nanti dibahasnya belakangan ^^ tapi analisismu keren juga, asri ^^
      Btw, makasih atas komentarnya, asri, makasih banyak #hugs

  3. monica dahlan says:

    omo… kl sunghyo kabur trus gmn sama kerajaan nya? apa changi yg bakal gantiin sunghyo buat nikah sma salah 1 pemuda itu? apa sunghyo bakal berhasil dr -niatan acara kabur mengaburnya- itu? *tatap authornim padangan menusuk* #plakkk

    • Mysti Adelliza says:

      Hahaha… #ngakakgegulingan
      komenmu lucu banget… dan cute >.<
      Semua pertanyaanmu jawabannya ada di chapter2 berikutnya, monica, yuk silakan dibaca hahaha
      Btw, makasih banget udah lanjut komenin CCM ^^♥♥♥

    • Mysti Adelliza says:

      Hehehe, bosan ya?
      Sebenernya kebosanan yang kamu rasain murni kesalahan saya… Haah… #meresapi
      Tapi saya dalam proses memperbaiki, doain semoga bisa ya, hehehe…
      Makasih atas komentarnya, btw ^^
      Saya senang kalo kamu suka baca ff2 di blog ini ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s