Love By Luck (Unfortunately) Fr. 3

cvr-love-by-luck

Author : Naz & Mysti

Title : Love By Luck (Unfortunately) 3rd Story Fr.3

Genre : Romance

Featuring : Jung Yunho, Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin (DBSK); Kim Ryeowook, Choi Siwon, Lee Hyukjae–Eunhyuk, Cho Kyuhyun (Super Junior)

Authors Note :

Helloreaders. Perkenalkan ini salah satu proyek, yang–thank goodness!–sudah jadi salah satu buku! Buku ini terbagi dari empat cerita pendek (atau mungkin bisa disebut novelet) yang menampilkan masing-masing dua tokoh dari dua grup.  Dan dengan niat untuk share pada para reader, salah satu ceritanya akan ditampilkan di blog ini, a bit look like a teaser. Hope you don’t mind it.

Ini adalah cerita ketiga, dimana Junsu dan Eunhyuk yang menjadi peran utamanya. Ini juga adalah fragmen terakhir dari cerita ketiga ini.^^

Enjoy it. Komentar selalu ditunggu ❤

Eunhyuk bengong. Mukanya, entahlah, mirip dengan kepiting rebus sekarang.

“Mukamu merah,” unjuk Junsu oppa sambil tertawa.

“Eunhyuk suka siapa?”

“Dia suka padamu, Nona,” Junsu oppa masih terkekeh geli.

Aku melihat Eunhyuk lalu memperhatikan Junsu oppa dengan suara tertawanya yang khas dan bikin terngiang-ngiang itu. “Tapi aku sukanya pada Junsu oppa.”

Tiba-tiba terdengar bunyi keras. Rupa-rupanya Eunhyuk menggeletakkan kepalanya di meja. Sungguh mengagetkan. Bahkan Junsu oppa sampai terkesiap. Namun setelah itu, dia tertawa lagi. “Sepertinya kau baru saja ditolak, Hyukjae.”

“Iya, ya, seperti baru ditolak. Memangnya ditolak siapa, Eunhyuk?” tanyaku.

Eunhyuk mengembalikan posisi kepalanya kembali dan dengan mulut mangap memandangku. Cukup lama dia begitu hingga akhirnya dia berteriak meratap. Dan itu mengundang tawa sekali. Junsu oppa bahkan tertawa makin keras.

Aku yang masih menahan tawa berkata padanya, “Eunhyuk kasihan. Cup. Cup. Cup. Jangan nangis,” hiburku seraya menaik-turunkan telapak tanganku.

Melihatku, Eunhyuk terdiam kemudian justru mengikuti gayaku menaik-turunkan telapak tangan. Junsu oppa tergelak makin tak tertahankan lagi. Jika tidak ada meja, mungkin dia sudah berguling-guling di lantai.

“Hya! Junsu-ah! Kau tidak bisa begini, ‘kan? Ikut-ikutan seperti ini?”

“Bukan masalah itu. Kalau Changmin melihatmu, dia pasti bersyukur punya hyung sepertiku,” sambut Junsu oppa.

“Bah, kau ‘kan lebih bodoh daripada aku. Dari tadi saja kau tak mengerti apa yang kumaksud,” Eunhyuk mencibir.

“Bukannya Eunhyuk bilang Eunhyuk juga tak mengerti tadi?”

Eunhyuk tersadar lalu menjawab malu-malu, “Eh? Iya, sih, Nona.”

“Berarti kau bodoh juga, Hyukjae! Hahaha…,” Junsu oppa geli sekali.

Walaupun begitu, Eunhyuk tetap berlagak tenang. “Hah. Setidaknya aku tidak punya dongsaeng seperti Changmin, jadi aku tetap terlihat pintar,” katanya, membalas tawa Junsu oppa.

“Memang yang seperti Changmin itu yang seperti apa? Yang galak maksudnya?” tanyaku. Aku sering melihat di reality show-nya DBSK, Changmin memang suka menggalaki Junsu oppa—meskipun galak dalam versi komedi, menakutkan juga tetap.

Yang suka tak tahan sama orang yang bertindak bodoh. Hahaha, si Changmin itu,” Junsu oppa tersedak-sedak menghentikan tawanya. Wajahnya berubah serius dan kaku.

Astaga. Pasti dia mulai memikirkan kerinduannya kepada Changmin. Betul, betul, karena problem yang tadi sudah kusebutkan—DBSK menjadi tiga-dua, Junsu oppa hanya bekerja sama dengan Yoochun dan Jaejung sekarang. Dua lagi, Yunho dan Changmin, tak bersamanya lagi. Dia pasti akan bersedih. Kasihan kalau dia bersedih. Aku harus menyelamatkan suasana. “Ooh, berarti semua dongsaengnya Eunhyuk tahan sama Eunhyuk, ya?” tanyaku.

“Tentu saja,” Eunhyuk luar biasa bangga saat menjawab ini, “semua bilang aku mirip Won Bin.”

Junsu oppa tertawa lagi. Syukurlah. “Kau selalu bilang kau mirip Won Bin, tapi ‘kan sebenarnya tak ada yang setuju,” koreksi Junsu oppa. Iya, memang benar begitu, aku membacanya di fakta-fakta Super Junior di internet.

“Hya! Junsu-ah! Mereka bilang aku tampan!” Eunhyuk bersikukuh.

“Eunhyuk kelewatan percaya dirinya, nih,” ucapku tak tahan lagi.

“Nona, percayalah. Aku memang diakui begitu. Kau tidak sanggup melihatnya apa?” Eunhyuk bertanya dan disambut dengan tawa Junsu oppa. “Diam kau, Junsu. Tertawamu tidak enak didengar,” sungut Eunhyuk.

“Ketawanya Junsu oppa lucu,” belaku.

Eunhyuk seketika tertawa, membingungkan aku dan Junsu oppa. “Kenapa? Ketawaku juga lucu, ‘kan?” tanyanya.

“Eunhyuk ketawanya aneh,” aku merespons sesuai pendapatku. Lagi-lagi, Eunhyuk melongo karena responsku.

“Aku juga sudah bilang begitu padanya, Nona,” sambut Junsu oppa diiringi tawanya.

Sesudah memasang muka tidak terima beberapa saat, Eunhyuk mendadak berteriak sambil menunjuk ke luar restoran, “Hya! Lihat itu! Orang-orang melihatku. Pasti mereka terpesona ketampananku.”

Aku mengalihkan muka ke tempat yang ditunjuk Eunhyuk. Dan, ah, itu teman-temanku! Aku baru ingat, aku ‘kan janjian. Mereka semua sudah datang. Kupikir yang menjemputku hanya temanku yang telah duluan di Seoul. Rupanya mereka semua ada.

“Nah, lihat ‘kan? Mereka melambaikan tangan padaku,” ucap Eunhyuk.

“Itu teman-temanku. Mereka pasti ke sini mencariku,” aku menginformasikan.

“Iya, benar, mulut mereka memanggil-manggil, tapi bukan memanggil namamu, Hyukjae,” timpal Junsu oppa.

Teman-temanku melambai padaku. Aku membalas lambaian mereka.

“Itu teman-temanmu, Nona? Sebanyak itu? Sedang apa?” tanya Junsu oppa.

“Hari ini? Hari ini kita mau jalan-jalan. Maklum, baru pertama kali ke Korea,” jawabku.

“Kau bukan orang Korea?” tanya Junsu oppa.

“Memangnya aku seperti orang Korea?”

            “Ya, bukan juga, sih.”

            “Jangan-jangan kau ke sini karena mau nonton Super Show 4 juga, ya?” tanya Eunhyuk, intonasinya sudah terdengar riang lagi.

“Iyaaaa…,” aku menjawab, “karena itu juga! Kita dapat tiket gratis!”

            Junsu oppa merajuk. “Tadi kau bilang mau jalan-jalan, Nona?”

            “Mungkin tidak tega bilang mau nonton Super Junior di depanmu, Junsu,” Eunhyuk mendadak pengertian.

“Benar, Nona?” Junsu oppa mengedip-ngedipkan kedua matanya dengan polos.

“Jalan-jalannya hari ini. Nonton konsernya kan lusa,” jawabku menenangkan.

“Kau pasti datang karena untuk melihatku, ‘kan?” tanya Eunhyuk pede.

“Aku mau lihat Donghae oppa,” kuberitahu yang sejujurnya.

“Apa?” Eunhyuk kaget luar biasa. Junsu oppa terkikih-kikih geli mendapati ekspresinya.

Senang sekali melihat tawanya kembali. “Kalau ada konser DBSK, aku juga mau lihat Junsu oppa. Tapi karena belum ada lagi, jadi aku sekarang lihat Donghae oppa dulu.” Aku sengaja tidak bicara mengarah ke arah masalah DBSK itu, anggap saja DBSK masih berlima dan tenang-tenang saja.

“Aku tersanjung, Nona,” ujar Junsu oppa sopan.

“Darimana kau dapatkan kata-kata dan sikap sopan itu, Junsu? Itu seperti bukan kau,” Eunhyuk nampak tak rela.

“Yoochun yang mengajariku,” sahut Junsu bangga.

“Ha! Pantas saja! Itu bukan seperti kata-katamu.”

            “Itulah untungnya bergaul dengan Yoochun, Junsu oppa menimpali.

“Iya, ya, Junsu oppa,” aku nimbrung saja.

Serta-merta, Eunhyuk menoleh lagi ke jendela. “Omong-omong, itu teman-temanmu mau kaubiarkan saja di situ, Nona?” tanyanya. “Aku sih tidak apa-apa kalau mereka mau bertemu dan meminta tanda tanganku.”

“Memangnya teman-temannya Nona ini mau bertemu denganmu, Hyukjae?”

            “Mereka ‘kan mau menonton Super Show 4, pasti ada saja yang mau bertemu denganku, ‘kan?”

Aku nyengir seadanya mendengar obrolan mereka dan, Eunhyuk ada benarnya juga, aku harus melihat teman-temanku. Tapi, ah, mereka sudah tidak ada di tempat tadi. “Lho?”

“Kenapa, Nona?” tanya Junsu oppa.

“Teman-temanku sudah tak ada. Kemana mereka?” aku bertanya balik. Celingak-celinguk aku mencari keberadaan mereka. Rupanya Junsu oppa dan Eunhyuk juga melakukan hal yang sama.

“Itu mereka di depan pintu restoran. Sepertinya mereka mau masuk, namun ditahan bagian resepsionis,” unjuk Junsu oppa.

“Oh iya,” aku menemukan mereka, mereka mengisyaratkan agar aku mendatangi mereka, “aku disuruh ke sana tuh.”

            “Kau mau pulang atau bagaimana?” tanya Junsu oppa.

“Iya,” aku membereskan barang-barang bawaanku, “aku tadinya mau menunggui mereka. Nah, mereka sekarang sudah datang,” barang-barangku sudah beres, “sudah dulu, ya, oppa. Bye.” Aku berdiri dari kursi.

Junsu oppa dan Eunhyuk menunduk, memberi salam padaku bersamaan.

Segera aku menyamperi teman-temanku yang sudah tak sabaran itu, melangkah menuju mereka, untuk meninggalkan Eunhyuk dan Junsu—ah! Masa’ hanya begini perpisahannya? Aku berhenti dan berbalik pada Eunhyuk dan Junsu oppa. “Eunhyuk oppa, fighting, ya, konsernya!” seruku, menemukan Eunhyuk yang tercenung—tak berkata-kata. Aku memandang Junsu oppa. “Junsu oppa, saranghae,” aku sengaja membentuk tanda cinta dengan kedua tangan di atas kepala.

“Terima kasih,” ucap Junsu oppa senang. Sementara Eunhyuk masih saja bengong.

Kupikir itu cukup. Aku pun berbalik kembali untuk pergi.

“Nona!” Eunhyuk memanggil.

Aku menoleh. “Ya?”

            “Boleh aku berikan tanda perpisahan?”

            “Kau mau apa, Hyukjae-ah?” Junsu oppa menengok ke segala arah. Dia sepertinya ketakutan sekali ketahuan orang-orang.

Eunhyuk pun berdiri, berjalan menyamperiku.

“Eunhyuk mau ngapain?” aku keheranan. Sementara itu, teman-temanku di luar sana sudah memanggil-manggil namaku dan mengemis untuk dikenalkan dengan Eunhyuk.

Penghuni restoran sampai-sampai ikut kebawa huru-hara. Aku melihat Junsu oppa menutup sebagian mukanya, memanggil-manggil Eunhyuk. Akan tetapi, Eunhyuk mencueki Junsu oppa, dia terus mendekatiku.

Junsu oppa bangun, ikut menyamperi aku dan Eunhyuk lalu memperingatkan, “Hyukjae-ah, kita harus pergi. Suasananya sudah tak seaman tadi.”

Tapi Eunhyuk malah menaruh telunjuknya di bibir ke arah Junsu oppa, menyuruhnya diam, kemudian melanjutkan lagi langkahnya kepadaku hingga jarak kami dekat.

“Eunhyuk mau apa? Tanda apa? Jangan-jangan Eunhyuk mau kasih kaos kaki Eunhyuk yang belum dicuci lagi,” tebakku.

Eunhyuk memasang muka serius. “Boleh aku menciummu, Nona?”

“Hyukjae-ah…” Junsu oppa sekarang yang melongo.

“Kau berisik sekali, sih, Junsu,” omelnya pada Junsu oppa lalu segera memandangku kembali, “boleh tidak, Nona?”

            Huru-hara makin terasa. Teman-temanku bahkan sudah menjerit riuh. Pengunjung-pengunjung restoran memperhatikan kami.

“Ayo, Hyukjae. Orang-orang mulai mengerumuni kita,” Junsu oppa nampaknya tidak suka kondisi ini.

“Aku boleh cium tidak, Nona?” Eunhyuk bertanya keras-keras.

“Hah?” Aku kaget, mendapati muka Eunhyuk yang tersipu. Mungkin karena kagok, aku jadi ikut tersipu. “Aku sih mau saja,” jawabku jujur, “tapi nanti Junsu oppa bagaimana?” Kulihat Junsu oppa lagi, dia malah mematung.

“Biarkan saja dia,” Eunhyuk merengut.

“Hya! Hyukjae-ah!” Junsu oppa kelihatan sebal. Aku baru saja ingin mengomong sesuatu padanya, Eunhyuk tiba-tiba mendaratkan ciuman di pipiku secara kilat. Kontan, aku melotot—tak bergerak.

Eunhyuk tertawa—meledek Junsu oppa. “Aku lebih cepat darimu, Junsu-ah.”

            Kini, selain Eunhyuk, semua yang ada di tempat itu terpaku, melotot dan melongo. Hingga Junsu oppa menyadarkan kami. “Aduh. Semua melihat kita, Hyukjae-ah.” Dia menutupi sebagian wajahnya lagi. Teman-temanku bahkan sudah secara liar mencoba masuk.

Eunhyuk seperti baru siuman. “Ah! Ayo kita pergi lewat pintu belakang, Junsu!”

            “Yang bayar siapa?” Junsu oppa panik.

            “Tinggalkan kartu kreditmu,” Eunhyuk mulai seenaknya lagi.

“Apa? Tadi katanya kau yang mau bayar?” Junsu oppa tidak terima.

“Aish.” Eunhyuk mengeluarkan semua uang kas di dompetnya dan memberikan ke pelayan terdekat. “Ayo, Junsu.” Junsu oppa dan Eunhyuk pun berlari secepat mungkin, meninggalkanku yang bisa mendengar dan melihat tapi tak bisa bergerak.

Kupingku mendengar pelayan yang berkata kalau uang yang diberikan Eunhyuk kelebihan, pengunjung restoran yang mengomentari peristiwa ini sangat anak muda sekali dan teman-temanku yang sudah ada di sampingku untuk menanyaiku mengapa aku bisa mengenal Eunhyuk. Hanya saja, aku tetap diam, mengamati Junsu oppa dan Eunhyuk yang menghilang dari balik pintu.

Teman-temanku ada yang berpikiran untung mengejar mereka, tapi mengurungkan niat begitu tak menemukan lagi sosoknya. Maklum penghuni restoran itu tadi sempat berdiri memperhatikan perpisahan tadi sehingga menutupi pandangan teman-temanku atas kepergian diam-diam Junsu oppa dan Eunhyuk.

Salah satu temanku mengayunkan telapak tangannya tepat di depan mukaku, menyadarkanku.

Aku terjaga.

Pipiku kusentuh. Ah, panas! “Eunhyuk, Junsu oppa,” panggilku pelan.

“Mereka udah pergi. Yuk, kita juga pergi. Kita udah dilihatin satu restoran,” ajak temanku.

“Aku serasa mimpi,” ucapku seraya mengikuti teman-temanku keluar dari restoran. Rasanya masih mengambang. Aku masih mendengar teman-temanku mengatakan aku beruntung sekali, sungguh membuat iri. Akan tetapi, itu tak terlalu menjadi soal. Aku justru senang mereka bicara begitu. Itu menandakan mereka menjadi saksi kalau seluruh hal yang tadi kualami dengan Junsu oppa dan Eunhyuk adalah nyata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s