Candy-coated Misery (Prolog)

Title                 : Candy-coated Misery (Prologue)

Author             : Mysti Adelliza

Main Casts      : Kim Sunghyo (OC), Park Changi (OC), Park Yoochun (DBSK/JYJ), Choi Siwon (Super Junior),  Shim Changmin (DBSK), Cho Kyuhyun (Super Junior)

Support Casts  : Kim Kibum (Super Junior), Kim Heehyo (OC), Kim Jaejoong (DBSK/JYJ), Tan Han Geng—Hankyung (Super Junior), Kim Heechul (Super Junior)

Genre : Drama, Historical

Authors’ Note : Hello, readers. Saya kembali dengan proyek baru. FF ini akan berkisar di dunia kerajaan historis dan masa lalu, semacam Historical Romance, tapi bedanya kerajaan di sini seperti  yang digambarkan di dalam dongeng-dongeng; kerajaan yang murni saya karang sendiri.

Nah, semoga kalian menyukainya. Happy reading. Don’t forget to comment.

***

Part I

Sunghyo’s PoV

“Saya Tan Han Geng, kalian dapat memanggil saya Hankyung. Saya adalah Pangeran dari Kerajaan Spanec. Saya adalah Numero Uno. Dan saya akan menjadi si Numero Uno,” ujar seorang pria dengan rambut hitam terpangkas rapi, menampilkan dahi dan alisnya mengilap. Dia tampan, tapi aku tak mengerti inti pembicaraannya.

“Dia bicara apa?” tanya suara yang sudah familier di dekatku.

“Entahlah, Changi,” jawabku, tanpa melihat suara familier itu karena masih mengamati Tan Hangeng. Pria itu kini berbicara dengan bahasa asing yang membingungkan di depan sana. “Aku yakin mayoritas orang di ruangan ini juga tak paham apa yang dia bicarakan.”

“Lagi pula,” Changi melanjutkan, membuatku melihatnya, “tumben sekali ada pengenalan tamu di atas panggung kerajaan.”

“Mungkin dia yang akan membantu atau mensponsori pekerjaannya Heechul Ahjussi,” tebakku. Kim Heechul, salah satu guru kami, telah diangkat menjadi penasehat kerajaan yang baru. Dan pesta ini kemungkinan besar diadakan demi pelantikan dirinya tersebut.

“Hm,” balas Changi, “Ayah memang sudah berjalan-jalan ke luar untuk menjalin kerja sama dengan kerajaan-kerajaan lain. Tapi apa pekerjaan Heechul Ahjussi butuh bantuan dari kerajaan lain?”

“Mungkin,” sahutku, menebak-nebak. Aku tak pernah menemukan peraturan mengenai hak dan kewajiban penasehat kerajaan di buku-buku pelajaranku.

Saat aku ingin membuka mulut untuk mengeluarkan terkaan baru, kehebohan di panggung menarik perhatianku lagi.

“Nama saya Kim Jaejoong,” ujar seorang pria berbeda di atas panggung. Wajah persegi dan dagu runcing kelihatan tegas berpadu dengan kulit putihnya. Bibir tipis kemerahan dan mata besar indahnya juga nampak. Pria itu benar-benar… Eh, pria—atau bukan?

“Dia seperti perempuan,” komentar Changi.

Tanpa menengok pada Changi, aku mengiyakan. “Dia… cantik, ya?”

“Cantik?” Changi bertanya sinis. “Kau tahu kan kalau cantik bukan predikat untuk pria.”

Ya, memang. Aku tahu. Tapi aku selalu ingin mengapresiasi kecantikan para pria yang berwajah feminin. Mereka langka dan menarik perhatian. Changi, bertolak belakang denganku, sangat menentang ini. Pikiran konservatif dan religius Changi tidak sejalan dengan pikiranku. Aku ingat dia sampai mengadukanku pada Ayah, dan itu hanya terjadi jika pelanggaran besar terjadi, karena aku bilang Heechul Ahjussi pria tercantik yang pernah kutemui.

“Aku adalah anak terakhir dari delapan bersaudara,” si pria yang kusebut cantik di depan sana melanjutkan, “semua saudaraku perempuan, dan itu menjelaskan akulah yang paling tampan di antara keluarga kami. Kalian mungkin dapat memanggilku si tampan.”

Astaga. Pria cantik itu berkata demikian bahkan sambil mengibaskan rambut cokelat sebahunya. Baiklah, mungkin dia melakukan itu demi mencairkan suasana dingin di istana, tapi menurutku itu lucu sekali. Terlebih kini dia menunjuk ke arah penonton dengan wajah datar. Aku bengong sejenak hingga merasakan kegelian di perutku yang tak dapat kutahan lagi. Pun aku terkikik sembari menunduk dan bersembunyi di balik bahu Changi.

Changi pun tak juga lepas untuk ikut tertawa bersamaku. “Astaga. Pria narsis mengerikan,” komentar Changi, mengiringi tawanya.

Kami masih sibuk tergelak, dengan sembunyi-sembunyi, ketika bunyi pengeras suara melengking nyaring—membuat sebagian penghuni agak memicingkan mata dan menyorongkan telinga ke bahu karena itu.

Setelah gangguan bunyi pengeras suara itu lenyap, aku mendongak untuk melihat siapa pelakunya di depan sana. Seorang pemuda tinggi semampai, berkulit agak cokelat, berada di sana. Mata besarnya berkilat di bawah alis tebal membentangnya. Wajah bulatnya nampak kekanakan, namun juga kelihatan penuh keyakinan. Dia manis, tapi, ya, itu saja.

Aku melihat Changi untuk menemukan persetujuan darinya. Tapi Changi malah terperangah, memandangi pria di depan sana itu.

“Kau kenapa, Changi?” tanyaku.

“Dia… tampan,” ujar Changi.

Aku mengernyit memandangi pemuda itu. Dan pria di depan sana memang tampan. Tapi, kurasa, untuk mendapatkan ketercengangan dan keterperangahan, dia tidak terlalu… yah… pantas, mungkin.

Bukan karena aku anti orang seperti dia, tapi karena tingkahnya malah mengingatkanku pada diriku sendiri.

“Nama saya Shim Changmin. Yah,” kulihat dia mengerjap-ngerjap, nampak agak bingung, lalu berkata tegas tiba-tiba, “inilah saya.”

Kebingungan. Itulah kesan pertama yang kudapatkan dari pemuda itu. Ucapan terlalu langsungnya membuatku menyimpulkan itu. Aku agak kasihan padanya, karena aku mungkin akan melakukan hal yang sama kalau kebingungan.  Tapi, kutemukan Changi seperti—aku tak mau percaya ini karena Changi memang tak pernah begini sebelumnya—tapi dia seperti… melihat malaikat.

Aku masih memandangi Changi dengan keheranan ketika suara berat orang lain mengisi pengeras suara. Aku kembali menengok ke depan dan melihat seorang pemuda putih pucat dengan potongan rambut menutupi dahi. Wajahnya juga bulat namun kelihatan lemah. Dia berkata dengan wajah datar, yang kelihatan malas-malasan, berbeda dengan pria cantik tadi yang nampak penuh semangat, meskipun tertahan.

“Nama saya Cho Kyuhyun,” katanya. Dia kemudian menengok ke ujung panggung, ke arah pria pemandu acara yang tampil sejak tadi. “Haruskah saya berkata hal lain lagi?” tanyanya ogah-ogahan, seolah tak ada orang di hadapannya.

“Astaga. Konyol sekali,” komentarku begitu saja. Tawaku menyelinap keluar dari mulutku.

Changi melirikku dan berkata, “Yang satu itu kelihatan kurang tidur. Mungkin dia mengantuk.”

“Ya,” sahutku, mencoba membendung tawa, “dan kau tak terpesona pada yang satu itu?” tanyaku kemudian.

“Tentu saja tidak,” sahut Changi cepat. “Dan, siapa yang terpesona? Aku tidak pernah terpesona pada siapa—”

Suara bising pengeras suara melengking sekali lagi, menyetop Changi menyanggah keterpesonaannya sendiri. Aku berusaha menahan diri untuk tak menutup kedua telingaku, sebelum aku dikejutkan oleh sesuatu; sebuah sinar lampu sorot yang diarahkan kepadaku seorang. Dan hanya lampu sorot itu saja yang menyala di ruangan itu sekarang. Maksudku, benar-benar hanya itu.

Dan itu menyorotiku.

“Dan kini setelah para kandidat telah memperkenalkan diri, kami persilahkan Tuan Putri Kim Sunghyo, sebagai Putri yang akan menentukan pemenang dari sayembara ini, untuk memberikan introduksi sekaligus sepatah kata kepada para kandidatnya,” ujar sang pemandu acara yang sejam yang lalu aku komentari sebagai si berisik bersama Changi di pojok ruangan. Aku tak mendengarkan apa-apa yang dia bicarakan sejak tadi, sebelum pemuda dari kerajaan asing itu memperkenalkan diri. Dan kini dia menunjukku dengan lampu sorot.

Apa…

…ini…

…hukuman dari Tuhan?!

Dan apa yang tadi dia bilang? Aku tidak mendengarkannya dengan baik. Kandidat? Introduksi? Untuk apa?

Ada satu lampu sorot lagi yang mendadak diarahkan padaku, mengejutkanku sangat.

Tubuhku kaku seperti orang-orangan salju yang terabaikan. Dan lampu-lampu sorot itu serasa seperti sinar matahari yang dapat melelehkanku.

“Silahkan ke depan, Tuan Putri,” ujar sang pemandu acara, “kami menunggumu.”

Aku melihat Changi dan mendapati dirinya bicara tanpa suara, “Majulah.”

Semua menatapiku dan itu seperti hujaman sinar-sinar yang mencoba menembusiku.

“Majulah, Eonni.” Kini suara Changi terdengar, meskipun pelan.

Karena tak ingin menemukan tatapan tajam orang-orang lagi kepadaku, aku pun menggerakkan langkah ke depan. Sepatu berhak tinggiku, yang kumaki-maki sepanjang pesta karena membuat jalanku kacau, menghentak lantai marmer aula itu. Gaun putih megarku menyapu lantai dan sekitar dua-tiga kali aku berhenti sebentar untuk menjaga agar aku tidak menginjak gaunku sendiri; hal yang tak pernah Putri lain lakukan. Mahkota perakku agak miring letaknya saat ini, aku dapat merasakannya lengser pelan-pelan dari kepalaku. Dan aku terus menunduk ke bawah sampai aku menaiki tangga panggung dan berdiri di depan pengeras suara.

Aku diam. Tak mampu berkata apa-apa. Dan aku melirik empat pria yang tadi memperkenalkan diri, kini berdiri di samping kananku. Mereka melemparkan pandangan kepadaku. Dua pemuda terakhir yang kurang baik perkenalannya kini sedang berbisik-bisik seru dan seolah tak mempedulikan adanya ketegangan di depan mereka.

Aku memutuskan untuk tak peduli. Mereka bukan hal penting, lagi pula. Aku lantas meninjau bagian aula sebelah kananku, dimana Ayah dan Ibu duduk di singgasana mereka, mengawasiku. Ayah dengan mata sipit tajamnya sungguh mengenaiku. Rahang di wajah mungilnya mengeras. Alisnya menaut. Kalau aku baru mengenal ayahku hari ini, aku mungkin berpikir dia sedang ketakutan kalau aku akan melakukan kesalahan. Tapi aku tahu Ayah. Dia tak pernah peduli. Dan kulihat Ibu. Wajah lonjongnya melebar. Mata bulatnya membeliak. Dan tinjunya terkepal sebelah—sikap cemas yang terlalu maskulin untuk dimiliki seorang ibu, apalagi seorang ratu.

Terakhir, di antara sorotan semua pasang mata yang membuatku histeris di dalam, aku memandang Changi. Melihat mata redupnya, pun aku menjadi agak tenang. Dan menemukan dia mengangguk, seperti memberikanku harapan kalau aku bisa melewati ini, hatiku membesar.

Aku menarik nafas, menghembuskannya. Aku mulai memandangi orang-orang yang berada di bawah panggung. Mereka semua melihatku. Aku akan didengar semua orang.

“Adakah yang ingin kau sampaikan, Tuan Putri?” sang pemandu acara mendesakku.

Aku menatap pemandu acara itu. Dia kemudian berkata, “Mungkin ada yang ingin Anda sampaikan pada para kandidat sayembara?”

Kernyitan di dahiku terbentuk dengan sendirinya. “Sayembara?” gumamku.

Seperti mendengar gumamanku, sang pemandu acara menerangkan, “Sayembara calon Raja sekaligus calon suami Anda ini, Tuan Putri.”

Astaga.

Jadi… ini?

Jadi acara selingan pelantikan Heechul menjadi penasehat kerajaan ini adalah pengumuman ini? Pengumuman nestapa ini?

“Tuan Putri?”

Kupikir aku harus berbuat sesuatu atas ini.

Ya.

Aku harus melakukan sesuatu.

Aku mungkin akan merasa tak enak pada Heechul Ahjussi, karena aku mungkin akan merusak upacara pelantikannya sebagai penasehat kerajaan. Aku mungkin akan diingat sebagai Tuan Putri konyol oleh pria-pria yang memperkenalkan diri barusan, yang awalnya kukira calon pekerja departemen Penasehat Kerajaan—padahal ternyata bukan. Dan aku barangkali akan dipandang aneh oleh semua penonton, oleh seluruh rakyat di bawah pimpinan Ayah.

Tapi, aku tidak peduli.

Aku akan mengatakannya.

Aku mendekatkan mulut ke pengeras suara dan mengeluarkannya, “Aku tidak mau menikah.”

Kulihat Ayah dan Ibu. Mereka terkejut.

Sepanjang mereka menjadi Raja dan Ratu, ini adalah kali pertama mereka terkesiap sedemikian rupa di depan banyak orang. Selama ini, Ibu berusaha keras agar menjaga sikap, jika di depan Ayah. Dan Ayah memang tak pernah bicara—kecuali jika harus, pun tak pernah menunjukkan emosi, bahkan nampaknya tak pernah merasa menginjak bumi ini.

“Sunghyo,” Ibu berdeham, terdengar seperti menyingkirkan kesengauan dalam suaranya—yang memang sudah sengau, “apa yang kau bicarakan?” Ibu berkata demikian seraya menatap risau kepada para kolega dan kerabat kerajaan yang berkerumun. Beliau kelihatan takut, takut kepada orang-orang yang dia pandangi itu. Mereka kini balas menatapnya. Dan Ibu menundukkan pandangan, agak menyamping. Tapi bukan ke arah Ayah. Jika dibandingkan dengan mereka, Ibu jauh lebih takut pada Ayah.

Telingaku mulai menangkap kebisingan. Bisik-bisik nyaring yang hampir terdengar seperti ucapan lantang membahana ke seluruh sisi aula. Aku gemetar di tempatku berdiri, tapi… lega. Karena aku sudah mengumpulkan keberanian berlipat ganda untuk melakukannya. Karena akhirnya aku mengatakannya, di depan semua orang.

Dan bahkan semua reaksi dari aksi yang aku lakukan selaras dengan ramalanku.

Tapi mengapa gemetaranku tidak hilang juga?

Sepertinya karena kini aku tahu… aku harus menerima risikonya.

Aku masih menunduk dan mengatasi getaran tubuhku sendiri. Kerumunan orang yang makin berisik itu kini mulai menuding-nuding diriku, saat pergelangan tanganku ditarik. Kutolehkan kepala pada penariknya.

“Changi,” gumamku.

Gumamanku yang pelan semestinya kalah oleh kebisingan yang mengungkungi ruangan luas nan penuh itu. Akan tetapi, Changi, adikku, mendengarnya. Dia menengok padaku, menunjukkan wajah tenangnya dan berkata, “Ayo pergi.”

Aku merasakan Changi menarikku begitu kencang sampai rasanya aku bisa tergelincir di anak tangga pualam itu jika aku tidak menahan kestabilanku—yang mana sungguh menyulitkan. Orang-orang memicingkan mata seumpama aku adalah terdakwa yang tak hanya melakukan pelanggaran tapi juga hal keji. Aku tahu kedengarannya dramatis, tapi keadaannya memang demikian. Aku baru saja mengucapkan sesuatu yang kontroversial, sesuatu yang terlarang, sesuatu yang dikutuk semua orang.

Kecuali diriku sendiri.

Mataku berhati-hati menepis semua pandangan yang menusukku hingga akhirnya aku menemukan celah. Tertampak dua pilar bergaris yang kokoh. Warna putih gadingnya menyadarkanku kalau Changi telah membawa—tepatnya, meloloskan—diriku dari ruangan penuh penuduhan itu. Ini di luar ruangan tersebut.

Kami berjalan agak memelan sekarang. Lantai marmer hitam yang berpantulan dengan sepatu berhak kami menimbulkan bunyi hentak ritmis. Napasku tersengal. Tak seperti napas Changi yang hening dan, untuk saat ini, terdengar berbahaya.

Di saat aku bertanya-tanya dalam hati kapan dia menghentikan tarikannya dan mulai mengonfrontasi, Changi berhenti. Dia melepas pergelangan tanganku yang digenggamnya lalu memutar tubuhnya. “Apa sebenarnya yang ada di pikiranmu, Kim Sunghyo?” Changi menyentakku.

“Aku… aku hanya menyatakan… yang sebenarnya.” Itu yang keluar dari mulutku. Aku tidak terpikir pembelaan lain. Pengucapan hal tersebut saja sudah mengkakukan mulutku.

“Yang sebenarnya?” Changi mengernyit, menampakkan raut wajah tak setuju yang selalu menunjukkan dua ujung alis menautnya. “Jadi menurutmu itu kebenaran?”

“Apa yang salah dengan itu?” tanyaku, menyadari bahwa semakin kalimatku bergerak, semakin volume suaraku mengecil.

“Kau tahu berapa jumlah orang di dalam sana? 5435 orang! 5018 jumlah penduduk kerajaan ini—”

“Aku tahu, Changi, mereka ada banyak—”

“Dan, kau tahu, berapa jumlah kolega Ayah yang datang? 417 orang—”

“Ya, aku tahu. Kita yang mengeceknya. Kita berdua yang membacai daftar tamu untuk menemukan apa pemain operamu favoritmu ada—”

“Dan tahukah kau untuk apa mereka semua datang ke sini?” Kali ini Changi mengubah posisi, bersedekap tajam di depanku dan menelengkan kepala.

“Aku pikir…” Aku menunduk. “Awalnya aku pikir… ini hanya acara pengangkatan Heechul Ahjussi menjadi penasehat kerajaan. Dan aku tak menyangka acara sampingannya adalah pengumuman itu.”

“Kau salah, Sunghyo. Justru pelantikan Heechul Ahjussi lah yang acara sampingan. Acara utamanya adalah pengumuman,” Changi bergerak ke kiri lalu ke kanan saat bicara, “pengumuman hal yang penting.”

Aku benar-benar tak mau mendengar hal ini. Tapi ada dorongan besar dalam diriku untuk membongkarnya. “Jadi kau sudah tahu tentang ini, Changi?”

Changi memalingkan muka, kemudian meninjau ekspresiku. Dia kemudian menghela napas. “Itu bukan rahasia. Ayah dan Ibu sudah membahasnya berkali-kali.”

“Bukan rahasia katamu?” tanyaku. “Aku tidak tahu apa-apa soal ini. Kau bahkan bersikap tidak tahu-menahu tadi, terheran-heran mengapa ada orang mengenalkan diri di atas panggung.”

Changi memiringkan mulutnya, nampak berpikir.  “Kau seharusnya sudah menduganya,” ujarnya.

“Apa sebenarnya yang ingin kau katakan, Changi?” kejarku.

“Sunghyo, kau akan menikah—”

“Ya, seperti yang tadi diumumkan tadi. Tapi, lihat, aku sudah membatalkannya. Mereka sudah mendengar tadi kalau aku tak mau menikah,” ujarku memburu.

“Ini bukan tentang itu. Tidakkah kau bisa memikirkannya dengan benar? Kau akan dinikahkan dengan pemenang sayembara,” kata Changi.

Aku mengernyit. “Ya, tapi aku sudah membatalkannya.”

Changi menggeleng-geleng.

“Apa yang salah dari perkataanku? Aku sudah membatalkan sayembara ini. Aku bilang aku tidak mau menikah. Kupikir para peserta sayembara pun takkan melanjutkan karena sudah tahu putri yang direbutkan baru saja berkata demikian,” ucapku, tak mengerti.

“Sunghyo, yang menikahimu akan menjadi raja. Tidakkah kau berpikir ke sana? Apa pun yang kau katakan takkan berpengaruh. Semua pria akan menggelar ambisi mereka untuk mendapatkanmu. Hal yang kau lakukan barusan percuma. Kau hanya baru saja menampakkan kalau dirimu sungguh berbeda dari putri-putri yang dijadikan hadiah sayembara,” Changi menjelaskan.

Mendadak pemikiranku buyar. Changi benar. Hal yang baru kulakukan hanyalah tindakan bodoh dan itu takkan mengubah apa-apa.

***

Advertisements

16 thoughts on “Candy-coated Misery (Prolog)

  1. Nan_Cho says:

    wah…
    cerita berbeda lagi…
    aku ngebayangin jaman kerajaan mereka seperti jaman kerajaan di film Princess Diary, bolehkah authornim, hehe..
    soalnya waktu pertama baca langsung mengarah ke settingan film itu, keren.. ^^

    #sedikit curhat
    baru tau kalo ada pemberitahuan post baru dari blog ini, waktu aku baca, ternyata prolog seperti yg author bilang td bakal ada cerita baru, dan liat castnya, nama Kyuhyun paling depan *langsung loncat2 girang dikamar, haha*..
    happy bgt, walau tetep masih ada Changmin sang teman mungkin atau saingan ya, hehe..
    dan tadi Changi jd adiknya Sunghyo, tp kayak Sunghyo yg jd adiknya Changi ^^
    apa Kyuhyun jg pangeran?
    ga sabar pengen tau kelanjutannya, xixixi, nama Siwon ama Yoochun belum muncul, pasti mereka berhubungan sama Sunghyo *yaiyalah, mereka couple abadi Sunghyo*

    buat Changi-ssi, kau benar lagi, wajah Kyuhyun memang wajah orang mengantuk tp percayalah dia tetap tampan dgn keadaan apapun, hahhaha..

    ditunggu cerita selanjutnya dengan sabar author, hwaiting!!

    • Mysti Adelliza says:

      Nan_choooooo… ♡♡♡♡

      Wah, Princess Diaries?? Boleh banget. Saya memang jadiin disney (ya, princess diaries termasuk buatan disney) buat referensi utama di cerita ini. Hehehe.

      Hahahaha….
      Saya ikut senang kalo kamu senang sama castnya ^^

      Soal Kyu pangeran apa bukan, nanti diungkap di lanjutannya ^^

      Sunghyo kurang ‘Eonni’ ya? Hahaha
      Siwon dan Yoochun munculnya nanti. Kyaa… couple abadi?!!!

      Hahaha… Kyu ganteng gimana pun juga ya, nancho?
      Changi ga percaya kayaknya^^

      Hwaa… makasih udah komen lagi, ya, nan_cho…
      Makasih juga udah nungguin dengan sabar ♥♥♥

      • Nan_Cho says:

        iya Princess Diaries~

        couple abadi tentunya, tdk mungkin Sunghyo sama ChangKyu author eonni karena mereka milik Changi, kkk, dan Sunghyo tdk mungkin dgn yg lain jg karena Sunghyo hanya milik SiChun, hehe..
        *aku udah menetapkan jg couple2 milik author disini, kkk*

        iya author eonni, menurutku Kyu itu, apapun keadaannya aku pasti tresno mati, kkk..
        *Changi-ssi, kau harus percaya dan cepat menyadari Kyu itu tampan walau menyebalkan, Changmin juga sih*

        sama2 author eonni~
        #wink

      • Mysti Adelliza says:

        Hahahaha…

        Wah, kamu udah netapin ya ^^
        Tapi menurutmu, bisa diganti ga?

        Hahahaha… tresno mati ya ^^
        #berdoa supaya Changi diberi hidayah #lah
        Hahahaha ^^

      • Nan_Cho says:

        ga bisa author eonni!!
        tetap couple yg seperti itu, yg author eonni punya..
        kalo diganti, mungkin aku ga akan baca fanficnya *astaga, kayaknya ga mungkin ga baca, kkk*
        jangan diganti author eonni, jangan..
        soalnya aku udah dapet feelnya kalo baca couple2 punya author eonni itu.. 😉

        hahhaha..
        amien *berdo’a utk hidayah Changi*

  2. asrikim says:

    Wah cerita berbada lg,sunghyo jadi putri dan changi jdi adiknya,kereen~
    dimana si emak2 slalu heboh ya?asri stuju sm changi klau jaejoong emang cantik dri pada tampan kkk~
    changmin emang hrus belajar cra mengperkenalkan diritu,,bang evil seberti biasa yg enggk mau penduli,,seru,seru,seru,

    • Mysti Adelliza says:

      asri~~~
      iya, ini beda lagi ^^
      hahaha, iya dia emang heboh dan narsis pula ^^ jadi kamu setuju ya? hihihi
      #lol changkyu kayaknya harus berlajar dua2nya ^^
      btw, makasih udah mau baca ini juga, asri ^^

  3. monica dahlan says:

    puahahaha jae joong dkata yeoja, changmin dkata tampan, lah si kyu kasian amat dkata kurang tidur kkkkk #geplakauthornim
    kirain kerajaan tempo dulu eh ini kerajaan modern nya
    wah kl sunghyo ga mau d nikahin apa bkal ttp dpaksa (?) nikah jg? penasaran euy!

    • Mysti Adelliza says:

      Wah, monica, kamu kembali~ gomawoyo~
      Hehehehe… soal perkataan2 ke tiga cowok itu… ^^ah mianata~
      Sebenernya ini kerajaan kayak yang di film2 disney, jadi bisa dibilang condong juga di masa lalu sekaligus masa kini #dilempar
      Kalo soal sunghyo nikah paksa apa ga, silakan lanjut baca ceritanya, hehehe…
      Gomawo udah komen ya, monica ^^

  4. Jiminie says:

    Annyeonghaseyo, author…:)
    Cerita ff nya beda dari cerita ff yg pernah aku baca sebelumnya 😀 biasanya tentang percintaan yang seperti drama” -_- dan baru kali ini tuan putri seperti sunghyo , unik , menarik , dan aneh .. bener” tuan putri yg tidak sempurna 😀 wkwkwk tapi aku suka dengan sunghyo karna sifatnya yg unik dan menarik ^_^

    • Mysti Adelliza says:

      Annyeong, jiminie~
      Waah… makasih banget udah coba baca ff yang satu ini.
      Hehehe, senangnya kalo kamu merasa ff ini beda ^^ dan sunghyo memang seperti itu. Senangnya kalo kamu suka sunghyo ^^
      Makasih sekali lagi ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s