Love By Luck (Unfortunately) Fr. 2

cvr-love-by-luck

Author : Naz & Mysti

Title : Love By Luck (Unfortunately) 3rd Story Fr.2

Genre : Romance

Featuring : Jung Yunho, Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin (DBSK); Kim Ryeowook, Choi Siwon, Lee Hyukjae–Eunhyuk, Cho Kyuhyun (Super Junior)

Authors Note :

Helloreaders. Perkenalkan ini salah satu proyek, yang–thank goodness!–sudah jadi salah satu buku! Buku ini terbagi dari empat cerita pendek (atau mungkin bisa disebut novelet) yang menampilkan masing-masing dua tokoh dari dua grup.  Dan dengan niat untuk share pada para reader, salah satu ceritanya akan ditampilkan di blog ini, a bit look like a teaser. Hope you don’t mind it.

Ini adalah cerita ketiga, dimana Junsu dan Eunhyuk yang menjadi peran utamanya.

Enjoy it. Komentar selalu ditunggu ❤

“Nona,” Eunhyuk berkata kepadaku.

“Haa?” Aku mangap.

“Mau duduk bersamaku?” Uluran tangan Eunhyuk tampak di hadapanku.

Pandanganku kualihkan ke Junsu oppa. Junsu oppa balas melihatku. Aku merasa seolah-olah ada senandung panjang di drama-drama India mengiringi kebingunganku.

“Nona?”

Aku melihat mereka bergantian. Keduanya tersenyum. “Haa… Dua-duanya ganteng. Aku betul-betul diperebutkan ini?” Kurasakan pipiku meluap panas.

“Maaf?” Persis si pelayan tadi, Eunhyuk memintaku mengulangi ucapanku karena lagi-lagi aku berbicara bahasaku sendiri.

Aku kebingungan. Suara-suara riuh di sekitar terdengar. Aku celangak-celunguk. Hampir semua tamu restoran itu melihat ke arah sini. Dan Eunhyuk masih mengulurkan tangannya padaku. “Nona?” Ia mengulang.

“Ya? Eh, boleh, tapi… kita duduk bertiga… dengan Junsu oppa, kan?” Aku meyakinkannya dengan bahasa Korea terputus-putus.

Eunhyuk menampilkan senyum kecut. “O.K.,” jawabnya.

Uluran tangan Eunhyuk kusambut. Kulirik Junsu oppa sekilas. Dia memberikan senyuman. Dan, wah, betapa tampannya dia. Oleh karena itu, aku segera merasa, menyambut uluran tangan Eunhyuk bukan hal yang tepat.

“Kenapa?” tanya Eunhyuk begitu aku menarik tanganku kembali.

“Aku jalan sendiri saja,” aku menjawab seraya berdiri.

Aku dan Eunhyuk akhirnya tiba di meja Junsu oppa setelah melangkah beberapa langkah. Kami menduduki kursi; aku memilih yang berdekatan dengan Junsu oppa. “Halo, Junsu oppa,” sapaku riang.

“Eh? Ha-halo,” sahutnya tergagap. Dia bahkan langsung beralih muka ke tempat lain sesudah itu. “Ah, Nona, itu pesananmu?” ujar Junsu oppa. Telunjuk mengarah ke tempat yang menjadi asalku tadi.

Kutolehkan mukaku ke arah yang ditunjuknya. Rupa-rupanya ada pelayan yang keheranan memandangi mejaku. Sembari memanggil-manggilnya, aku melambaikan tanganku kepadanya.

Pelayan itu pun mengerti dan menyamperi mejaku sekarang.

“Maaf, ya, saya pindah,” pintaku pada pelayan itu. Dan aku hanya dibalas oleh senyumannya. Ketika makananku telah dihidangkannya, aku lantas mengucapkan terima kasih dengan riang.

Eunhyuk berkata, “Nona, bagaimana kalau aku suapi?, tepat ketika pelayan itu meninggalkan meja kami.

“Hah?” Aku mengerling Eunhyuk. “Aku sih maunya disuapi Junsu oppa.” Aku menyengajakan berkata itu dengan mengalihkan mukaku ke Junsu oppa kembali.

Junsu oppa kelihatan kaget. Kata-kataku diulang oleh Eunhyuk. Namun demikian, Junsu oppa sekarang kelihatan kurang mengerti. Eunhyuk mengulang kembali kata-kata permintaanku tadi dengan gigi terkatup, seperti menahan kesal. Junsu oppa kemudian melihatku, nampaknya mengerti. Dia mengambil sendok, menyendok secuil dari makananku lalu berkata, “Sini.”

Aku membuka mulutku, menerima suapannya.

Mendadak Eunhyuk berdiri, bertolak pinggang segala. “Junsu-ah, aku mau ke kamar mandi dulu,” ujarnya.

“Jangan lama-lama, Hyukjae,” Junsu oppa membalas dengan memanggil nama aslinya Eunhyuk.

“Kau ikut denganku,” Eunhyuk mulai memerintah.

Junsu oppa heran. “Hah? Kenapa aku ikut?”

“Pokoknya ikut saja,” Eunhyuk terus memaksa.

“Aku tidak lagi ingin ke kamar mandi. Nanti saja deh ikutnya.” Kulihat Junsu oppa tertawa gembira saat mengucapkan ini.

“Bagaimana kau ini? Aku mau kau ikut.”

“Kalau begitu, kau tunggu saja sampai aku ingin ke kamar mandi, baru minta aku ikut denganmu, bagaimana?”

“Ih! Anak ini! Ayo ikut!” Eunhyuk terus memaksa.

“Masa kita mau meninggalkan Nona ini?” Junsu oppa tetap beralasan.

Bimbang aku, ada apa sebenarnya ini. Mengapa Eunhyuk berperangai aneh tiba-tiba? “Jangan-jangan mau berantem memperebutkan aku lagi.”

“Ya, Nona?” Keduanya menengok kepadaku.

Astaga. Aku telah berbicara yang tidak-tidak dengan keras lagi. “Bukan,” kedua tanganku bergerak bolak-balik ke samping kiri kanan—menyiratkan penyangkalan, “bukan apa-apa, kok.”

“Baiklah, kami ke kamar mandi dulu ya, Nona,” pamit Eunhyuk.

“Iya, Nona, kau—

“Ayo,” Eunhyuk menarik kerah baju belakang Junsu oppa dan menyeretnya.

“Hya! Hyukjae-ah! Pelan-pelan!” seru Junsu oppa.

“Cepat.”

Aduh, gawat ini. Boleh jadi aku benar-benar direbutkan oleh mereka. Kondisinya yang mengatakan seakan-akan pikiran sembarangku ini makin mendekat ke kebenaran. Kalau benar begitu, apa yang harus kulakukan? Mataku mencari ke sana-sini. Dan yang kutemukan hanyalah makananku. Maka dari itu, aku memutuskan untuk makan dulu saja.

Sebenarnya makanan ini tidak enak, aku sudah mencobanya satu suap dari Junsu oppa tadi. Akan tetapi, aku merasa sayang sekali kalau ini tidak kuhabiskan. Belinya ‘kan mahal.

Aku sudah menghabiskan setengah dari porsi makananku dengan susah payah saat Junsu oppa dan Eunhyuk kembali ke meja kami. “Sudah selesai buang airnya?” tanyaku.

“Hah?” Mereka nampak bengong sebentar, tetapi sebentar kemudian duduk.

Eunhyuk kelihatan sedang melirik makananku. “Kau suka makanan itu, Nona?”

Sealamiah mungkin aku menahan rasa tidak sukaku pada makanan ini lalu menjawab, “Ya, suka.” Aku mengakhirinya dengan tertawa supaya lebih meyakinkan. Kemudian aku mencoba untuk menyuap lagi.

“Wah, bagaimana kalau kubelikan satu lagi untukmu?” tawar Eunhyuk, mengagetkanku. “Pelayan!” serunya sembari mengacungkan tangan.

“Tak usah, Eunhyuk,” tolakku pelan-pelan.

“Iya, lagipula tadi katamu kita jangan terlalu baik pada Nona ini,” Junsu oppa menimpali. Kulihat Eunhyuk melotot kepadanya karena ucapannya itu.

Hah? Apa?” aku mengemukakan kebingunganku.

Junsu oppa seperti tersadar. “Ah, tidak, Nona. Bukan apa-apa.”

Aku pun mengernyitkan keningku.

“Bukan apa-apa, kok, Nona,” ulang Junsu oppa. Kali ini dengan senyuman. Duh, manis sekali.

“Sudah, Nona,” mendadak aku mendapati suara Eunhyuk yang sayup-sayup dekat dengan kupingku, “Junsu memang begitu. Aku pesankan lagi, ya?”

Tahu tidak, rupanya bukan hanya suara kisikannya yang tertangkap inderaku, tapi juga aroma kurang sedap dari tubuhnya. “Ih, Eunhyuk bau,” gumamku pelan. Tanpa sadar, aku memencet hidungku, menghalangi bau itu tercium.

“Apa?” Eunhyuk kelihatan bingung. Dia memandangiku yang menutup hidung.

“Gak,” aku melengos.

Junsu oppa, yang roman-romannya menyadari duluan, terpingkal-pingkal. “Nona ini tidak tahan dengan baumu,” tebaknya. Ya, tepat sekali, Junsu oppa, aku hampir bilang begitu.

Eunhyuk nampak tidak senang. Ia menggeram.

“Hya! Hyukjae-ah! Jangan-jangan kau belum mandi, ya?” Junsu oppa melanjutkan ledekannya.

“Ih! Tentu saja aku mandi. Aku’kan idola masa kini,” jawab Eunhyuk.

Aku dan Junsu oppa mencibir bersamaan mendengar ucapan berlagaknya. Kemudian, aku berpikir, apa hubungannya mandi dengan idola masa kini?

“Kenapa kau, Junsu?” Eunhyuk sepertinya mau mengomeli Junsu oppa lagi. Karena itu, aku lebih baik memotongnya. Tapi dengan apa? Ah, itu ada pelayan yang datang mengarah ke tempat ini. Bisa jadi itu untuk mereka.“Itu makanan dataaang…”

Berhasil. Eunhyuk teralih. Dia melihat kepada pelayan yang kutunjuk. “Ya, itu pesanan kami. Aku yang bayar.”

“Hya! Kau mengada-ada. Jelas-jelas aku yang—aduh, kakikuu…”

Aku yang akan mentraktirmu, kau ingat, ‘kan, Junsu? Kau yang memaksaku untuk mentraktirmu. Aish! Dasar kekanakan,” ujar Eunhyuk. Aku heran, mengapa giginya ditangkupkan.

Aku menyela, “Eunhyuk yang mau traktir Junsu oppa?”

“Tentu saja,” jawab Eunhyuk penuh percaya diri.

“Jadi benar kau mau mentraktirku, Hyukjae?”

“I-iya,” Eunhyuk gagap.

“Asyik…,” Junsu oppa nampak ceria.

Aku pun tak mau kalah, aku juga ikut memeriahkan keceriaannya dengan bersahut, “Horeeee!”

Eunhyuk langsung menatapku. Saat aku mau menanya kenapa, pelayan menghampiri meja kami. “Tolong berikan Nona ini menu yang paling enak dan mahal di restoran ini,” kata Eunhyuk pada pelayan ini saat dengan lembut dia meletakkan pesanannya Junsu oppa dan Eunhyuk. Si pelayan mengiyakan, mengatakan bahwa makanan yang satu itu agak lama dimasaknya dan berlalu.

Aku dan Junsu oppa menjadi tercengang, sedangkan Eunhyuk memasang muka tengil.

“Kalau tahu begitu, lebih baik aku memesan yang mahal tadi,” Junsu oppa merengut.

“Memang Junsu oppa pesan apa?” tanyaku sambil melirik makanannya yang diletakkan di mangkuk itu.

“Hah? A-aku pesan salad,” Junsu oppa tergagap lagi.

Apa dia gugup, ya? Coba kalau aku tanya lagi. “Junsu oppa diet, ya?”

Eunhyuk berdeham. “Nona, kau juga boleh memanggilku dengan sebutan Oppa. Jangan sungkan,” ucapnya.

“Iya, Eunhyuk, nanti aku juga panggil Eunhyuk oppa juga, kok.”

Eunhyuk manyun. “Tetap saja kau panggil aku Eunhyuk saja, Nona.” Dia menghelas napas.

Junsu oppa cekikikan.

“Apa yang kautertawakan?” Eunhyuk melototi Junsu oppa, lalu melihatku lagi. “Semua fans wanita ingin memanggilku dengan sebutan Oppa, Nona.”

Iya, iya, Eunhyuk oppa,” balasku, “nah, sudah ‘kan?”

“Mengapa mukamu begitu, Hyukjae?”

Eunhyuk tetap memandangku. “Kau boleh menciumku sebagai permintaan maafmu,” ujarnya, membuat Junsu oppa tertawa.

Di tengah gelak tawa Junsu oppa, aku bertanya, “Cium?”

“Betul. Di sini,” Eunhyuk menunjuk pipinya sendiri.

“Gak mau,” jawabku spontan, memeranjatkan Eunhyuk sekaligus membuat Junsu oppa terbahak-bahak geli. “Kalau sama Junsu oppa, gak apa,” ucapku jujur, menghentikan tawa Junsu oppa. Mungkin itu sinyal darinya. Maka dari itu, aku mendekati Junsu oppa untuk mencium pipinya.

Namun, tak kusangka dan kukira, Junsu oppa malah menengok dan aku jadi mencium bibirnya.

“Hya! Kau bisa dianggap yadong, Junsu-ah!” pekik Eunhyuk.

“Yadong?” tanyaku bingung, tak paham.

“Hah? Maaf, Nona, aku tidak sengaja menengok, “ Junsu oppa membela diri.

“Tidak sengaja?” Mataku membesar dengan sendirinya.

“Iya, tidak sengaja.”

“Kau maunya dia sengaja, Nona?” Eunhyuk menambah untuk menyoalkan itu, membiarkan aku dan Junsu oppa gelisah. “Junsu memang begitu. Selalu bilang kelakuan seperti itu tidak sengaja. Padahal dia melakukannya pada tiap wanita, lho.” Eunhyuk mencoba untuk memanas-manasi aku.

“Hyukjae-ah,” rengek Junsu oppa.

“Sudah, sudah,” leraiku, “jangan berantem. Eunhyuk juga mau dicium?”

“Eunhyuk oppa,” Eunhyuk mengoreksi.

Iya, Eunhyuk oppa, deh. Mau dicium juga?” tanyaku.

“Hyukjae, kau mau dicium olehnya?” Junsu oppa memasang ekspresi polosnya.

Dengan judes, Eunhyuk membalas, “Kenapa kau tanya-tanya?”

“Tadi kau yang bilang—aduh!” Junsu oppa menjerit mendadak, berhenti mengucapkan kalimatnya sendiri. Lantas aku langsung mengamatinya.

“Nona, ayo teruskan pembicaraan kita,” Eunhyuk menutupi tatapan kepada Junsu oppa.

Dahiku kukerutkan. Aku tidak mengerti. “Pembicaraan apa? Junsu oppa kenapa?”

“Pembicaraan tentang kau yang mau cium aku,” Eunhyuk mesem-mesem.

Dan Junsu oppa menceletuk lagi. “Hyukjae-ah! Aduh! Kakikuuu…”

Aku penasaran. Apa sih yang terjadi? Mengapa Junsu oppa berteriak kesakitan terus? Kakinya? Ada apa dengan kakinya? Pun aku memutuskan untuk mencari tahu ke bawah meja. Akan tetapi, yang kutemukan di bawah meja adalah muka Eunhyuk lagi, yang sedang nyengir menghadapku. Ajaib ya, dia bisa ada di bawah meja sini secepat itu. Tangannya menggenggam sesuatu.

“Hya! Junsu-ah! Kau seperti anak kecil saja. Ini kan cuma semut.”

Aku mendekatkan diriku untuk melihat apa yang ia genggam. “Mana semutnya, Eunhyuk?”

“Sudah kubuang, Nona.” Eunhyuk menyembunyikan tangannya. Mencurigakan. Dia pun naik, kembali duduk di posisi semula, begitu pun aku. “Aish! Kenapa bisa ada semut di restoran besar seperti ini?” Eunhyuk menggemakan tanya dengan penuh lagak.

“Semut?” tanya Junsu oppa.

Kupandangi Junsu oppa. Muka polosnya sungguh mengibakan. “Kasihan Junsu oppa, kakinya digigit semut, ya? Gak apa-apa sekarang?” tanyaku prihatin.

“Aku baik-baik saja, Nona,” Junsu oppa menyahut kalem.

Eunhyuk seketika bangun dari bangkunya. “Cih! Aku tak tahan lagi. Aku pulang saja!” serunya.

Aku terdiam, memerhatikannya. Begitu juga Junsu oppa.

“Heh! Aku mau pulang, nih. Tak ada yang mencegahku apa?”

Junsu oppa ngakak sengakak-ngakaknya.

“Kenapa kau tertawa?” Eunhyuk bermuka sebal.

Sambil mengerem tawanya, Junsu oppa menyahut, “Kau tak boleh pergi dulu.”

“Iya, Eunhyuk jangan pergi.” Aku tak tahu sebenarnya apa sebabnya Eunhyuk tak boleh pergi oleh Junsu oppa, tapi aku mengikuti saja omongannya.

“Kau mau aku tetap di sini, Nona?” tanya Eunhyuk. Air mukanya berubah cerah.

“Hah? Eh? Kata Junsu oppa, Eunhyuk jangan pergi dulu tadi.”

“Junsu oppa lagi. Junsu oppa lagi. Ck!” Eunhyuk mendecak malas.

Junsu oppa terkikik. “Kau mau memanggilku Junsu oppa juga, Hyukjae-ah?”

“Hya! Aku benar-benar akan pergi!”

“Kau harus bayar dulu semua makanannya baru pergi.”

“Kenapa aku yang bayar?”

“Tadi katanya kau yang mau bayar.”

Aku seperti menonton pertandingan bulu tangkis, bolak-balik menatapi Junsu oppa dan Eunhyuk bergantian—berbalas ucapan. Melihat mereka sudah diam, aku berkata, “Iya, benar kata Junsu oppa, Eunhyuk tadi katanya mau bayar.”

Eunhyuk melirikku. “Hah! Baiklah! Aku yang akan bayar!” serunya. Dia lalu berjalan meninggalkan kami. Akan tetapi, begitu baru dua-tiga langkah, Eunhyuk berhenti, menoleh sedikit kemudian berjalan lagi.

Junsu oppa dan aku hanya melihatinya.

Serta merta, Eunhyuk balik ke tempat kami lagi. “Hya! Mengapa tak ada yang mencegahku?!”

“Aku takut nanti Eunhyuk tambah marah kalau dilarang pulang lagi,” jawabku takut-takut.

“Kupikir kau ada acara, makanya bersikeras pulang,” Junsu oppa malah punya alasan lain.

“Haaah… Menyebalkan.” Eunhyuk menghempaskan dirinya di kursinya lagi.

“Kau tak jadi pergi?”

“Ck!” Eunhyuk tidak menjawab pertanyaan Junsu oppa. Dia malah menusuk makanannya dengan garpu lalu menyantapnya sambil mendumel.

“Eunhyuk kenapa?”

“Kau benar-benar marah, Hyukjae-ah?”

“Menurut kalian apa, hah?” Mulut Eunhyuk belepotan saat bertanya ini.

Kuputuskan untuk memberitahunya. “Ih, Eunhyuk, mulutnya belepotan.”

“Hah? Masa?”

“Nih tisu.” Aku menudingkan tisu di atas meja kepadanya.

“Aish! Nonaa… Kau harusnya membersihkannya. Seperti di drama-drama,” ucap Eunhyuk. Setelah itu, dia tertawa-tawa.

“Jadi kau sengaja mengotori mulutmu?” Junsu oppa ikut tertawa.

Eunhyuk bermuka malas lagi. “Iya, sengaja. Memangnya kenapa?” tantangnya galak. Eunhyuk pun mengelap mulutnya dengan tisu.

“Eunhyuk galak sekali, sih,” celotehku.

“Iya, Hyukjae-ah. Kau marah-marah terus. Apa karena Nona ini?”

“Hah? Gara-gara aku?” Tuh, benar, ‘kan. Mereka berebutan tadi.

“Hya! Junsu-ah! Habisnya Nona ini gak adil. Dia tidak memanggilku oppa. Padahal di luar sana banyak yang mau memanggilku dengan sebutan itu.”

Junsu oppa tertawa untuk yang kesekian kalinya. “Hanya karena itu?”

“Tidak juga,” sahut Eunhyuk.

Masih dalam keadaan tertawa, Junsu oppa menanya, “Terus karena apa?”

Aku mengarahkan pandanganku kepada Eunhyuk.

Eunhyuk kelihatan sedang berpikir kemudian dia balas melihatku. “Bukankah aku lebih tampan darinya?” tanyanya.

“Ih, Eunhyuk, ih! Percaya dirinya keterlaluan. Lebih tampan Junsu lah.”

“Hya!” Eunhyuk panas lagi. “Apa yang bisa dibanggakan darinya?” Ia menunjuk Junsu oppa dengan mulutnya.

“Junsu oppa ganteng, suaranya bagus,” pujiku tak main-main.

“Terima kasih, Nona,” sambut Junsu oppa riang. Gigi-giginya terlihat semua.

“Lagi-lagi memasang tampang cute-mu. Kau pikir aku tidak bisa? Aku juga bisa,” ucap Eunhyuk. Dan sesudah itu, dia bersegera bergaya cute.

Mulutku memang seperti ini. Sulit direm untuk berkata jujur. “Masih lebih cute Junsu oppa.”

Bisa ditebak, Eunhyuk berwajah ngambek lagi.

Junsu oppa terpingkal-pingkal. “Hyukjae-ah… Hyukjae-ah. Kau seperti anak-anak.”

“Iya, Eunhyuk, jangan ngambek.”

“Orang-orang melihat ke arah kita karena kau heboh dari tadi. Nanti kita bisa ketahuan,” Junsu oppa berujar.

“Biar saja, ah, ketahuan. Biar fans berkumpul. Dan kalian bisa tahu banyak yang memanggilku oppa.” Eunhyuk menjulurkan lidahnya pada kami.

“Jangan begitu, Hyukjae.”

“Iya, jangan begitu, Eunhyuk.”

“Biarin.” Eunhyuk melet lagi. Dia bahkan berdiri. Sepertinya dia mau buat masalah kembali.

“Eunhyuk, ih!” bentakku. Aku tak bermaksud membentak sebetulnya, hanya ingin menyetop tindakannya. Dan ternyata sukses, Eunhyuk duduk kembali walaupun dengan wajah kaget. Dia segera berbisik-bisik dengan Junsu oppa lagi. “Eunhyuk sama Junsu oppa kenapa bisik-bisik?”

“Ah, bukan apa-apa, kok, Nona,” jawab Junsu oppa.

“Pasti memperebutkan aku,” aku menerka.

“Mengapa dia bisa tahu kita rebutan, Junsu?”

“Lho? Memangnya kita rebutan, ya?”

“Jadi benar kalian rebutan aku?” Aku terkejut.

Sejenak, keduanya melongo—tak menjawab hingga Eunhyuk berdeham dan mengatakan, “Tentu saja, ini pertarungan antar pria, Nona.”

“Pertarungan apa?” aku bertanya.

“Pertarungan antar pejantan,” kata Eunhyuk.

Aku mengerucutkan bibir. ‘Tahu, ah. Aku tak mengerti.”

“Sebenarnya aku juga tidak mengerti, Nona,” timpal Junsu oppa.

“Wah, kita sama dong, Junsu oppa.”

“Aku juga tidak mengerti. Kita sama juga, Nona,” Eunhyuk ikut-ikutan.

“Eunhyuk juga tak mengerti?”

“Iya.”

“Kenapa jadi sama semua, ya?” Junsu oppa bernada meledek. “Hyukjae-ah, padahal tadi kau yang bilang ini pertarungan, tapi mengapa kau bilang kau juga tidak mengerti.”

“Iya, ya, Junsu oppa, aku juga bingung.”

Junsu oppa tidak meresponsku, tapi malah menunjukku dan tetap memandnag Eunhyuk. “Kau suka padanya, ya, Hyukjae?”

Advertisements

2 thoughts on “Love By Luck (Unfortunately) Fr. 2

  1. chinguuu.. aku minta pw
    Cheonsawa Agma (Chapter 8)
    The Outline #19
    Cheonsawa Agma (Chapter 9)—END
    The Outline #20
    The Outline #21
    The Outline #22
    Protected: Ruby (Chapter 18)
    doongggggg~ ditungguuu 😀
    gomawooooooo ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s