Love By Luck (Unfortunately) Fr. 1

cvr-love-by-luck

Author : Naz & Mysti

Title : Love By Luck (Unfortunately) 3rd Story Fr.1

Genre : Romance

Featuring : Jung Yunho, Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin (DBSK); Kim Ryeowook, Choi Siwon, Lee Hyukjae–Eunhyuk, Cho Kyuhyun (Super Junior)

Authors Note :

Helloreaders. Perkenalkan ini salah satu proyek, yang–thank goodness!–sudah jadi salah satu buku! Buku ini terbagi dari empat cerita pendek (atau mungkin bisa disebut novelet) yang menampilkan masing-masing dua tokoh dari dua grup.  Dan dengan niat untuk share pada para reader, salah satu ceritanya akan ditampilkan di blog ini, a bit look like a teaser. Hope you don’t mind it.

Ini adalah cerita ketiga, dimana Junsu dan Eunhyuk yang menjadi peran utamanya.

Enjoy it. Komentar selalu ditunggu ❤

3rd Story : Coincidentally Hoped

Kebetulan itu tidak ada. Katanya sih begitu. Eh? Iya, ‘kan? Dan lagipula aku pun berharap kebetulan memang tidak ada.

***

          Panorama kota Seoul sungguh memanjakan mata. Jalanan beraspal lancar, sisi jalanan bertanam bunga-bunga dan pepohonan rindang, trotoar bersih dan nyaman, semuanya nampak segar. Belum lagi, kemodernan kota yang sangat menakjubkan. Tata kota yang menarik; gedung-gedung dan sarana-prasarana yang apik. Meskipun demikian, kebudayaan asli tetap dijaga dan dipelihara; terlihat dari gaya pondasi bangunan dan atap khas adat istana yang masih digunakan. Betul-betul penggabungan yang bagus. Aku sudah sering melihat pemandangan-pemandangan ini di internet, menemukannya di drama, film dan video klip musik kenamaan namun tetap serasa berbeda jika dibandingkan dengan melihatnya langsung seperti ini. Betul, aku sudah menginjakkan kaki di kota impianku, Seoul! Hore!

Keletihan karena duduk lama di sepanjang perjalanan pesawat Jakarta-Seoul telah lenyap. Meskipun aku kini harus duduk kembali di bus kota yang mengantarkanku dari lokasi sekitar bandara hingga pusat kota Seoul, tempat janjianku dengan teman-temanku, keletihan itu tetap tak terasa. Hal itu dikarenakan keindahan pemandangan yang kutemukan ini.

HP-ku bergetar. Aku buru-buru mengambilnya dari dalam tas sandang kulitku. Kulihat layarnya, ada SMS rupanya. Temanku yang lebih dulu tiba di Seoul memberitahukanku kalau tempat janjian kami berlimabelas diganti menjadi di halte keenam yang bus ini singgahi. Padahal awalnya adalah di tempat penghentian terakhir bus. Ya ampun, bagaimana? Aku tidak menghitungi sudah berapa halte yang telah aku lewati. Segera aku men-sms temanku satu itu balik, menjelaskan keadaanku, menginformasikan posisiku dari nama daerah yang sedang aku lintasi—untungnya aku dapat membaca hangul. Beberapa menit kemudian, ia membalas lagi. Teman kerjaku itu bilang kalau aku turun saja di halte berikutnya.

Lalu aku mengeluh. Beginilah kalau mengadakan perjanjian dengan teman-teman kerjaku, mereka suka mengubah-ubah tempat janjian. Ya, kami, teman sekantor, lima belas orang, janjian ke Seoul untuk menonton konser Super Junior yang bertajuk Super Show 4. Dua dari temanku lebih dulu sampai di Seoul dua hari lalu dan telah mendapatkan tempat menginap yang murah untuk kami semua; salah satunya itulah yang sedang ber-sms ria denganku saat ini, yang akan menjemputku juga.

Halte berikutnya telah terlihat. Aku cepat-cepat memasukkan HP ke tasku dan berjalan ke dekat pintu. Tak lupa, aku memencet bel tanda penghentian bus. Bus berhenti sangat tepat di depan halte, aku pun turun.

Aku memperhatikan bus itu berlalu perlahan dariku tepat sebelum aku mendapati sebuah restoran di hadapanku. Restoran itu restoran bintang lima—terlihat dari meja dan kursinya yang mewah dan rancangan interiornya yang bagus. Ada pula seorang bapak-bapak yang memakai setelan jas yang berdiri di depan pintu penyambutan tamu restoran tersebut. Pasti cuma orang-orang tertentu saja yang bisa masuk ke situ, pikirku.

Aku kemudian duduk di bangku halte, menunggui kedatangan temanku sambil tetap mengamati restoran itu. Kaca-kaca pembatas ruangan luas itu memperlihatkan pelanggan-pelanggan restoran yang modis dan keren beserta hidangan-hidangan yang menerbitkan seleraku. Kuteliti pula mobil-mobil yang terparkir di sekitar restoran itu; mentereng-mentereng sekali, pasti mahal. Aku semakin percaya memang restoran itu khusus untuk orang-orang kaya.

Keasyikan memandangi objek bagus di depanku, tak sadarlah aku apa yang tengah hadir. Sebuah mobil kecil yang mirip dengan mobil yang kulihat di film Mr. Bean mundur pelan-pelan. Ha, tadi mungkin mobil itu sudah lewat, aku tidak memperhatikannya. Namun demikian, nampaknya pengemudinya juga tidak memperhatikan letak restoran yang akan ia kunjungi ini baik-baik. Yep, itu mobil pengunjung juga; kulihat pengemudinya memarkirkan mobil lucu mengkilap itu di tempat parkir restoran itu.

Aku penasaran ingin melihat bagaimana gaya pemilik dari mobil lucu itu, apakah tak ada bedanya dengan orang-orang di dalam restoran. Pemilik mobil yang memakai kaos merah, celana jeans dan topi kelabu itu keluar.

Napasku kutahan. Aku lupa tadi aku mau apa begitu melihat si empunya mobil tersebut. Mataku kukejap-kejapkan. Apa aku salah lihat? Atau aku berkhayal? Pipiku kutampar. Ah, sakit. Berarti aku tidak salah lihat juga tidak berkhayal. Itu benar-benar dia, idolaku, Kim Junsu!

“Junsu oppa…”

Mulutku terlongok dengan sendirinya, berkat mataku yang melihat anggota DBSK favoritku memasuki restoran. Sudah lama aku menggemari dirinya dan grupnya, DBSK. Grup yang terdiri dari lima orang bersuara yahud itu pulalah yang membuatku bercita-cita pergi ke Korea sejak beberapa tahun yang lampau. Dan Junsu oppa, itu panggilanku untuknya, adalah yang membuatku tetap mempertahankan cita-cita ini.

Dan sekarang aku berhasil; aku ada di ibukota Korea saat ini. Meskipun, yah, bukan untuk menonton DBSK. Hiks, habisnya, bagaimana aku bisa menonton DBSK sekarang? Mengingat DBSK yang sedang ada problem. Ya, problem, masalah hukum yang menyebabkan mereka jadi terbagi menjadi tiga dan dua. Duh, aku tak mau mengingat hal menyedihkan itu lagi.

Ah, kenapa aku pusing memikirkan itu? Ada orang yang kuduga Junsu oppa di depanku. Aku tak boleh menyia-nyiakan peluang super langka ini. Harus dipastikan ini. Aku lalu melangkahkan kaki, menyeberang untuk mendekati restoran itu; mengawasinya dari jendela restoran.

“Iya, benar itu Junsu oppa,” aku mengeridipkan mataku, melihatnya melepaskan topinya.

Ya ampun, mimpiku menjadi kenyataan. Aku bisa ketemu Junsu oppa! Asyik!

Junsu oppa sibuk memainkan HP-nya saat seseorang menghampirinya. Orang itu berpakaian santai juga. Mereka berpelukan singkat lalu duduk berhadapan. Kupandangi orang yang baru tiba itu, rambutnya dicat pirang dengan poni panjang yang hampir menutupi matanya secara keseluruhan. Siapa dia, ya?

Kaca jendela bening itu kudekati, kutempelkan mukaku di sana demi menjelaskan pandanganku. Dan si rambut pirang itu yang duduk menghadap jendela, tepatnya menghadapku, kini melihatku. Dia syok.

Berkat itu, Junsu oppa menoleh ke belakang dan melihatku juga. Ini kesempatanku! Aku melambaikan tanganku kuat-kuat, mengucapkan salam selambat mungkin padanya. Mudah-mudahan dia bisa menemukanku.

Kulihat mereka saling pandang setelah itu. Sepertinya usahaku untuk menunjukkan keberadaanku sukses. Sekali lagi, Junsu oppa melihatiku. Segera aku mengeja salam yang lain, kali ini salam cinta, “Oppa, saranghae.”

Tak hanya saling pandang, kali ini mereka berdua sibuk berbisik-bisik. Bahkan mereka curi-curi pandang terhadapku. Kemudian Junsu oppa dan temannya malah menutupi pandangannya dariku. Kenapa, ya? Apa dia pikir aku bermaksud apa-apa? Ah, aku harus menjelaskan kalau aku tidak begitu. Kaca itu kuketuk-ketuk.

“Junsu oppa…,” aku memanggil lagi.

Dan, benar, Junsu oppa panik. Dia ketakutan? Apa aku masuk saja, ya? Lantas aku mengulang tindakan terakhirku, memanggil-manggil, mengetuk-ngetuk kaca.

Junsu oppa dan temannya menengok kepadaku. Mereka senyum-senyum terpaksa. Aku memeras otak, daripada aku kehilangan kesempatan bertemu dengan Junsu oppa dan lebih baik aku mengorbankan uang untuk masuk ke restoran ini saja. Dompetku kukeluarkan. Kuhitung persediaan uang yang tersisa. Sepertinya masih cukup. Biarlah aku masuk saja, kupikir, nanti aku pesan saja yang paling murah.

Tak berpikir panjang lagi, aku berlari ke pintu masuk restoran itu. Aku pun sampai di sana dan menemukan bapak-bapak berjas di mimbar penyambutan tamu.

“Annyonghasimnikka,” sapa bapak itu, “sudah pesan tempat?”

“Eh?”

Bapak ini memakai bahasa Korea. Eh, tapi, pastilah, ini ‘kan di Korea. Dia tentu akan berbahasa Korea terus menerus. Begitu pula semua orang. Aku haruslah menyesuaikan diri. Syukur sekali aku sempat mengikuti kursus bahasa Korea sebelum ke sini—sehingga aku sanggup berbahasa Korea secara umum. Lebih-lebih, sewaktu sekolah menengah aku belajar mati-matian agar bisa bercakap-cakap dengan Junsu oppa—sehingga aku dapat mengucapkan dalam bahasa Korea mengenai hal-hal yang berkaitan dengan penggemar dan idola tercintanya.

“Sudah pesan tempat?”

Aku lantas menggaruk-garuk kepala, mengingat-ingat kata-kata untuk menjawab pertanyaan begini. Kemudian timbullah pikiran, apa aku urungkan saja niat nekatku ini; menghampiri Junsu oppa-ku? Kulihat lagi meja Junsu oppa, tempat ia bersenda-gurau dengan temannya.

“Nona?” tanya bapak itu.

“Ya? Eh, belum,” jawabku.

Bapak itu mengangguk anggun lalu berkata masih dengan bahasanya, “Mari saya antar.”

Dengan canggung, aku mengiyakan dan mengikutinya. Akan tetapi mataku tak bisa lepas dari Junsu oppa. Begitupun setelah aku duduk di meja yang dipilihkan oleh bapak berjas, yang rupanya tak jauh dari meja Junsu oppa; jaraknya cuma dua meja dan, kabar baiknya, aku dan Junsu oppa kini bisa bertatapan.

“Silakan, nona, ini menunya.” Daftar menu diberikan kepadaku, menyadarkanku pada keadaanku yang sekarang.

Aku memindai menu-menu masakan Korea itu dengan cermat, terutama di bagian daftar harga. Sesekali kulirik Junsu oppa supaya dapat melihat wajah cakepnya. Ini ketiga kalinya kulirik dia hingga aku menemukan dia sedang melihatku, dengan mulut menganga pula! Hihi, dia lucu sekali. Temannya, yang duduk membelakangiku, mengelih padaku.

Terpampanglah wajah teman Junsu oppa itu dengan jelas di depan mataku. Dia, ternyata, adalah Eunhyuk, anggota Super Junior yang paling jago dance. Dari informasi yang kuperoleh gratis dari internet, aku mengetahui kalau mereka berdua memang berteman akrab sejak kecil.

“Ooooppppaaaaa…,” panggilku lagi Junsu oppa tanpa suara.

Junsu oppa dan Eunhyuk melongok, namun justru kembali ngobrol. Aku mengayunkan tanganku terus kepadanya dengan semangat. Tapi mengapa Junsu oppa tak mencerling kepadaku juga, ya? Apa dia pura-pura tidak melihat? Jangan-jangan dia masih berpikir aku mau melakukan hal buruk padanya. Dia ‘kan sering berpikiran negatif, begitu kata media-media tentangnya.

“Sudah siap pesan, Nona?” tanya pelayan perempuan yang berbaju kemeja putih dan rok span dan celemek hitam.

“Eh?” lagi-lagi aku menanggapi penyadaran dari seseorang dengan kikuk. Aku mengamati daftar menu lagi. “Hah? Mahal-mahal banget. Harga-harganya berapa kali lipat dari ongkos bus yang tadi kutumpangi ini,” keluhku.

“Maaf, Nona?” Si pelayan bertanya lagi. Kalimat Koreanya terdengar dilambat-lambatkan. Mungkin dia mendengar keluh kesahku dalam bahasa Indonesia tadi.

“Eh? Saya pesan yang…,” tangan dan mataku menelusur, mencari harga termurah dari makanan di sini hingga akhirnya aku menemukannya, “…yang ini!”

“Minumnya?” tanya pelayan itu sembari mencatat di memonya.

“Tak usah. Saya pesan makan saja,” jawabku. Senyum berseri-seri kutampilkan. Aku meraba tas sandangku, merasakan tempat air minumku di dalamnya. Untung sekali, baru mengisinya di bandara tadi.

Pelayan itu balas tersenyum, memasukkan memonya ke saku celemeknya. “Baik. Silakan menanti sepuluh menit,” ucap pelayan itu sebelum pergi.

Sedetik sesudah pelayan itu pergi, aku bergegas mengamati Junsu oppa lagi. Dia masih tidak memberanikan diri untuk mengarahkan wajahnya kepadaku. Aku pun melanjutkan aksiku untuk menggerakkan tanganku ke kanan dan ke kiri, mencari perhatiannya. Junsu oppa sepertinya bisa mengindera tindakanku, namun dia tetap tak menengok kepadaku. Dia malahan berdiri dan bertukar tempat duduk dengan Eunhyuk. Alhasil, Eunhyuk yang kini duduk hadap-hadapan denganku.

“Yaahh…,” aku berkeluh kesah, membiarkan pemandangan Junsu oppa-ku berganti menjadi Eunhyuk.

Eunhyuk, berbeda dengan Junsu oppa yang takut-takut—mengalihkan pandangan dariku, malah bergaya sok keren; mengangkat-angkat alis, memiring-miringkan kepala, mengelu-elus dagu. Apa-apaan itu tingkahnya? Sebab perilakunya yang tidak sedap dipandang, bibirku melengkung ke bawah dengan sendirinya. Aku menopang daguku seraya mencari kesibukan dengan mengetuk-ngetuk gelas kosong di atas mejaku.

Bagaikan mendapat telepati, sudut pandang mataku mendapati seseorang sedang melihat ke arahku. Aku kemudian mendongak untuk melihat Junsu oppa, siapa tahu dialah yang sedang memperhatikan aku. Dan ternyata, benar, aku sedang diamatinya!

“Junsu oppa…,” aku menyapanya dari kejauhan kembali. Tentu saja sapaanku diiringi dengan lambaian.

Junsu oppa langsung berbisik-bisik kembali lagi dengan Eunhyuk. Apa yang mereka bicarakan, ya? Aku, bukan? Hehe, bisa saja, ‘kan? Mana tahu ternyata mereka sedang rebutan untuk menyapaku balik.

Tiba-tiba Eunhyuk bangkit dari bangkunya, memukul-mukul meja, berbicara heboh kepada Junsu oppa. Pun Junsu oppa mengikuti langkahnya pula. Aku dilanda rasa kaget. Agaknya pemikiran semauku mengenai mereka yang berebutan itu benar. Detik-detik selanjutnya, keduanya masih sibuk berbicara ramai sampai-sampai penghuni restoran ini berfokus kepada mereka.

Aku panik. “Aduh, bagaimana ini? Nanti tambah berantem,” aku berpikir keras. Kupandangi mereka. “Jangan berantem,” bibirku kugerak-gerakkan mengikuti bahasa mereka. Tak ada bunyi yang kukeluarkan. Hanya jemari salah satu tanganku yang kunaik-turunkan untuk menyetop tingkah laku mereka.

Eunhyuk menatapku.

Aku mengisyaratkan kata larangan dengan kedua tanganku. Eunhyuk membelalakan matanya. Ia lalu menunjuk-nunjukku sambil meneruskan keberisikan yang tadi ia buat. Junsu oppa ikut menengok ke tempatku berada. Keduanya melihatku sekarang.

“Huwaa… Aku benar-benar direbutkaaaan,” gumamku. Kepanikanku merajalela.

Dehaman dilancarkan oleh Eunhyuk. Kerah bajunya ia rapikan. Lantas ia pun mendatangiku.

Hah? Iya, dia mendatangiku. Bagaimana ini? Bagaimana ini?

-To Be Continued-

Advertisements

2 thoughts on “Love By Luck (Unfortunately) Fr. 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s