The Beloved Roulette #1

Title                 : The Beloved Roulette #1

Author             : Mysti Adelliza

Main Casts      : Park Yoo Chun (DBSK), Min Sung Hyo (OC), Kim Jae Joong (DBSK), Shin Ri Rin (OC), Jung Yun Ho (DBSK), Park Min Rin (OC), Kim Jun Su (DBSK), Min Min Mi (OC), Shim Chang Min (DBSK), Park Chang Gi (OC)

Genre              : Drama

Length             : Chaptered

Author’s Note : Annyeong, readers. Saya muncul dengan episode perdana The Beloved Roulette! Hehe. Kalau ada yang menunggu, silakan dibaca…  ^^

Oh ya, kalau masih ada yang belum tahu, The Beloved Roulette ini adalah gabungan dari lima ff (Lychee Dear, Three Card Trick, Take the Gloves Off, My Wife is A Fanster, Sweet Whipped Cream)

Oke, cukuplah pengantarnya, yuk segera dibaca FF-nya 😉

***

Kaki bercelana tanggungnya menjejaki anak-anak tangga berkeramik kuning itu. Dia kemudian meletakkan tangannya di pegangan tangga dan merilekskan kedua kaki tanpa alasnya di lantai. Bergaya dandy seperti biasanya, dengan busana flamboyannya—atasan rajutan merah dipadankan celana pensil krem—semua yang ada di ruangan itu mau tak mau kini memandangnya.

Hey, guys. Dimana Changmin?” tanyanya, antara sok asyik dan terukur.

“Sudah bergaya seperti itu,” Yunho berkomentar, “dan yang kau tanyakan adalah Changmin? Padahal banyak gadis di sini.” Yunho merujuk tiga gadis yang duduk di hadapannya, Minmi, Ririn dan Minrin. “Biasanya kau selalu bermanis-manis pada gadis mana pun.”

Dia menyeringai, lalu bergerak ke meja makan, duduk di kursi di sebelah Junsu. “Aku hanya mencari orang yang tadi mengetuk-ngetuk pintu kamarku seperti orang gila, bilang kalau makan malam sudah siap, dan sekarang menghilang begitu aku keluar. Ke mana dia?”

“Yoochun-ah,” Jaejoong berkata dengan ekspresi tajam, “Changmin memanggilmu sejak jam enam sore dan kau baru turun lima jam kemudian. Ck.”

Hmm.” Junsu melirik jam dinding. “Ini baru setengah tujuh, Hyung. Baru setengah jam, bukan lima jam.”

Jaejoong melirik malas pada Junsu, yang menurutnya tidak paham sarkasmenya.

Yoochun, pemuda yang baru tiba itu, pun terkekeh. Dia memutuskan untuk membahas topik sebelumnya saja. “Setengah jam dan si pemakan segala itu sudah tidak ada di meja makan? Wah, dia pasti menghabiskan makanannya dalam waktu lima menit,” komentar Yoochun.

“Tidak,” sahut Junsu sambil mengemut sumpitnya, “Changmin pergi sebelum memakan nasinya sedikit pun. Dia mengejar Changi. Entah ke mana.”

Yoochun terkejut, namun nampak senang. “Itu tidak terdengar seperti Changmin, kalian tahu, dia tak pernah meninggalkan makanannya. Tapi, ya, mungkin ada sesuatu yang mendesak. Makanya dia pergi.”

“Changi bilang, dia mau menukar kupon hadiah di supermarket,” timpal Minmi. Tangannya mengaduk-aduk sayuran berasap.

“Wow,” Yoochun tambah terperanjat, dan tambah girang, “itu bukan sesuatu yang mendesak, kurasa.”

“Kau benar, dan mereka tetap pergi,” timpal Yunho, lalu mengedipkan mata, “ber-du-a.”

Yoochun menimpali dengan senyum, “Yah, nampaknya sepasang burung merpati itu makin akrab saja.”

“Sepasang burung hantu, lebih tepatnya,” ujar Jaejoong dengan tampang pesimisnya.

“Siapa yang burung merpati? Siapa yang burung hantu?” tanya Junsu. Jaejoong meliriknya lagi, dan kali ini lebih tajam. Itu menciutkan Junsu seketika. Semua langsung menertawakannya.

“Memangnya ada yang memelihara burung merpati dan burung hantu?” Minmi menambah runyam dengan pertanyaannya, lebih menjauhi dari poin sesungguhnya. Dan gadis itu memang benar-benar bermaksud bertanya itu, sama seperti Junsu barusan, membuat dia juga ikut ditertawai.

Minrin terpingkal lebih dari biasanya, namun segera menghentikannya sebelum para lelaki menyadarinya–dia tidak ingin para lelaki menemukan kalau dia bisa tertawa agak keras. Dia melirik Ririn yang bahkan menutup mulutnya rapat agar tak mengeluarkan suara tawanya sama sekali. Ririn benar-benar penjaga imej yang hebat, pikir Minrin. Minrin kemudian melihat Minmi yang sedang menggaruk-garuk kepala lalu berkata, “Minmi jadi bingung.”

Biasanya, lirikan galak Jaejoong akan muncul lagi begitu ada yang berucap bodoh, tapi karena Jaejoong sedang malas meladeni kebodohan lebih daripada Junsu, dia mengembalikan topik. “Changmin dan Changi sungguh mengkhawatirkan. Mereka makin janggal setelah operasi penjebakan yang kita lakukan pada mereka itu. Mereka seperti terkena kutukan burung hantu—diam-diaman dan terus berwaspada.”

Junsu menanyai apa maksud kutukan burung hantu itu, menyebabkan Yoochun tergelak lagi, kemudian menepuk bahu Jaejoong. “Kau terlalu negatif, Hyung,” ujar Yoochun, “beri mereka kesempatanlah.”

“Ya, benar,” Jaejoong berucap sarkastik sambil memutar bola mata. Dia lalu menyipitkan mata sambil berkata, “aku memang harus mendengarkan nasihatmu, Dokter Cinta.”

Gelak Yoochun terdengar lagi, kali ini lebih lepas. Semua bisa mengetahui Yoochun tampak sangat gembira hari ini. Entah karena apa. Yoochun memang sering terbahak, tapi pada hal yang secara garis besar memang komikal, bukan menertawakan tiap hal kecil seperti ini.

“Kau kenapa, Yoochun-ah?” tanya Jaejoong.

“Ada yang aneh,” kata Yunho.

“Betul, kau kelihatan aneh,” Junsu menimpali.

“Bukan kelihatan aneh, tapi ada yang aneh,” koreksi Jaejoong. Dia kemudian memandang Yoochun lagi. “Sesuatu terjadi?”

Yoochun mengernyitkan kening. “Kenapa? Ini kan aku yang biasanya.”

“Tidak, kau yang biasanya tidak seperti ini,” sanggah Jaejoong.

“Benarkah?” Yoochun keheranan.

Jaejoong masih menyanggah, “Tidak, kau biasanya tidak ceria berlebihan seperti ini. Terakhir kau seceria ini adalah pada saat…” Jaejoong mengingat-ingat, mengelus dahinya dengan jempol.

“Punya yeojachingu baru!” seru Junsu.

Semua tercengang, lalu mendadak mengeluarkan dengungan tak percaya seraya memandang Yoochun.

“Astaga, kasihan Sunghyo,” ucap Ririn dan Minrin bersamaan, dan dengan kikikan lemah di akhir ucapan. Keduanya kemudian saling memandang lantas menutup mulut mereka dengan jemari masing-masing.

Yoochun berkerut kening, melihat kedua perempuan itu mengasihani temannya dengan ekspresi girang.

“Benar-benar tak pernah jera kau, Yoochun-ah,” omel Jaejoong.

Yoochun berpaling pada Jaejoong, masih dengan kernyitan. “Apa maksudmu?”

“Seharusnya kau menyimpannya baik-baik kalau kau mau selingkuh, Yoochun-ah,” Yunho menambahkan, “jangan mudah tertebak seperti ini.”

“Apa?” Kali ini dia mengernyit pada Yunho.

“Aku tak menyangka, kau belum berubah,” Junsu ikut-ikutan.

Berikutnya, kebisingan di ruangan itu makin memusingkan. Lama-kelamaan, kesabaran Yoochun berada di ambang batas juga. Dia lalu menghela napas dan memutar bola mata. “Hah. Terserah kalianlah,” ujarnya santai. Dia melirik jam dinding kemudian mengangkat bahu. “Belum waktunya, tapi lebih baik aku pergi saja,” ujar Yoochun sambil berdiri, menuju pintu belakang.

“Kau mau ke mana?” tanya Jaejoong. “Jangan bilang kau mau menemui yeojachingu barumu itu.”

Yoochun sedang memakai sneakers oranyenya saat menjawab, “Aku mau menjemput Sunghyo.”

“Sunghyo siapa?”tanya Yunho.

“Min Sunghyo lah,” jawab Yoochun sambil mengencangkan tali sepatu.

Junsu mengimbuhkan segala, “Min Sunghyo siapa?”

“Min Sunghyo yang kalian lihat tiap hari berseliweran di ruangan ini. Ah, lebih tepatnya, Min Sunghyo yang kalian baru saja pikir telah aku selingkuhi,” jawab Yoochun.

Yoochun sudah membuka pintu ketika dia mendengar kasak-kusuk di ruang makan lagi. “Bohong, dia pasti bohong,” suara Jaejoong paling terdengar, “lihat saja, dia pasti akan membawa mobilnya dan pergi ke klub malam.”

Mendengar itu, Yoochun menghembuskan napas malas dan menyambar sepeda di dekat pintu, beranjak keluar sambil menggiring sepedanya.

Yoochun meletakkan bokongnya di sadel sepeda tinggi tersebut dan mulai mengayuh, keluar dari lingkungan tempat tinggalnya. Dia sudah berada di jalur sepeda yang beraspal hitam. Yoochun mengendarai sepedanya seolah-olah sedang mengikuti turnamen. Dia merasa senang sekali diserbu angin malam, yang menyejukkan dan terasa seperti kebebasan. Pekerjaan gila-gilaannya baru saja beres. Empat lagu baru saja dia selesaikan, empat yang cukup untuk membuatnya tak bisa bersantai-santai seperti biasa dan lumayan memblok dirinya dari Sunghyo.

Padahal baginya itu sulit—menjauhkan diri dari gadis itu, terlebih setelah apa yang telah mereka lewati di Virginia seminggu lalu. Maka dari itu, Yoochun hanya bisa mengebut pekerjaannya yang menumpuk untuk segera dapat bersenang-senang kembali dengan Sunghyo. Dan hari ini dia sukses menyelesaikannya.

Itu sebabnya dia begitu riang tadi. Membayangkan mereka mungkin dapat mengulangi apa yang terjadi di Virginia, sepertiganya saja, sudah memacu semangat Yoochun.

Yoochun sudah mengirim pesan pada Sunghyo, dua jam lalu, menanyai apakah gadis itu ingin dijemput di tempat kerjanya. Sunghyo merespon tawaran itu dengan baik, bahkan menambahkan emoticon senang di pesan teks balasannya. Oleh karena itulah, Yoochun kini bersicepat menjemput Sunghyo.

Kantor Sunghyo tak seberapa jauh. Rasanya baru sesaat Yoochun keluar dari lingkungannya dan kini dia sudah tiba di kantor tersebut. Gedung yang menyiarkan banyak siaran televisi, tempat Sunghyo bekerja itu, terlihat terang benderang jika dibandingkan dengan gedung-gedung di sekitarnya. Yoochun berhenti di salah satu sudut, berniat untuk tak memasuki lahan parkir, dan memarkirkan sepedanya sembarang. Dia masih duduk di sadel saat mengeluarkan ponselnya dari saku celana, ingin mengetik pesan teks.

“Ssst…”

Baru dua kata yang terketik, Yoochun dikagetkan oleh suara itu. Dia pun menoleh ke arah suara itu datang.

Nampak seorang gadis tinggi, namun tidak lebih tinggi darinya, yang berambut hitam panjang—sedikit berantakan.

Sunghyo, batin Yoochun, sambil mengerjap-ngerjapkan mata. Dan itu bukan karena di area tersebut kurang cahaya lampu, melainkan karena Sunghyo malam itu berbeda sekali. Padahal, setelah dia selesai mengetik pesan, Yoochun berencana mengamati tiap gadis berkaos gombrong, atau berkemeja lengan panjang, dan bercelana jeans—sebagaimana Sunghyo berpakaian biasanya. Namun rupanya, Sunghyo, yang memakai busana berbeda, lebih dulu menemukannya. Gadis itu mengenakan baju terusan emas, yang sangat minim—yang membuat Yoochun bersyukur. Bagian bawahnya, yang hanya menutupi setengah paha, agak mengembang dan berlipit. Sunghyo bahkan memakai spike heels cokelat yang mengekspos kakinya lebih banyak. Yang lebih epik, begitu menurut Yoochun, gadis itu mengenakan lipstik hitam.

Yoochun, secara komplit, tercengang.

Berkat tingkah Yoochun, Sunghyo menengok ke belakang berkali-kali. “Ada hantu di belakangku?” tanyanya.

Yoochun terkesiap. “Ah, tidak, tidak.” Dia tergelak sedikit. “Kenapa kau bisa bilang begitu?”

“Kau kelihatan tercengang sekali, seperti melihat banshee,” tambah Sunghyo.

Tercengir, Yoochun telah kembali menguasai diri. “Kalau aku menemui banshee sepertimu, aku tak keberatan,” tuturnya.

Sunghyo tertawa kering, lalu memasang wajah serius. “Sudah berapa gadis yang kau lontarkan rayuan seperti itu?”

“Baru satu,” jawab Yoochun meyakinkan dengan mata membeliaknya, “kau.”

Sunghyo menyeringai kaku, kemudian membuang pandangannya ke lantai berkerikil yang mereka injak.

“Hanya kau yang mengungkit soal banshee soalnya,” gumam Yoochun.

“Apa?” tanya Sunghyo.

“Bukan apa-apa.” Yoochun menyengir. “Ayo, pulang,” ajaknya kemudian.

Pandangan Sunghyo berpaling pada sepeda yang ditunggangi Yoochun. “Naik sepeda?”

Senyum Yoochun nyaris muncul sebelum akhirnya matanya melebar. Dia baru sadar. “Oh, maaf, Dear. Aku tak tahu kalau busana kerjamu hari ini… dan sepeda ini…”

“Ini bukan busana kerjaku hari ini. Kantorku ulang tahun. Ada pesta. Wajib datang. Aku membawa gaun bekas Minmi ini karena aku sedang tidak punya uang untuk membeli setelan formal. Sebenarnya aku benci gaun ini, tapi lagi-lagi Changi dengan mata polosnya memaksaku untuk memakainya, bilang aku akan berdosa kalau aku terus-menerus tidak terlihat seperti perempuan,” Sunghyo bercerita dengan kekesalan.

“Lalu?” Yoochun meminta kelanjutannya.

“Lalu, ya, karena ancaman tunjangan yang akan dikurangi, aku tak bisa mengabaikan pesta itu. Dan aku terpaksa mengenakan gaun ini,” Sunghyo melanjutkan. Dia sesekali mengusap tak nyaman lengannya yang terbuka, atau memanjangkan lipitan baju terusannya.

“Kau kelihatan sangat kesal,” Yoochun menanggapi.

“Tentu saja,” sambut Sunghyo. “Aku bahkan tak bisa mengganti ke pakaian normalku yang kusimpan di loker. Karena kalau aku sekarang kembali masuk, akan ketahuan kalau aku kabur dari pesta itu.”

Yoochun menertawakan kekesalan Sunghyo, yang, menurutnya, jarang terjadi. Dia pun jadi ingat Sunghyo pernah kesal seperti ini sebelumnya. “Kau juga sekesal ini saat memakai atasan tipis dan rok mengembang di Virginia kemarin,” timpal Yoochun, sembari mengingat-ingat.

Wajah Sunghyo agak merah, entah karena malu atau kesal, kemudian dia menjelaskannya, “Benar sekali! Aku memang kesal waktu itu. Itu baju Ririn, yang tidak membuatku nyaman, dan Changi juga yang memaksaku memakainya.”

“Kedengarannya Changi selalu memaksamu,” Yoochun mengedikkan kepala saat berkata. “Lalu mengapa kau mau saja dipaksa memakai pakaian yang tidak kau suka?” tanya Yoochun.

Sunghyo menaikkan satu alisnya. “Ya… kenapa, ya?” Dia menelengkan kepala, berpikir. “Changi bilang, aku harus mengecek busana apa yang paling kau suka, jadi dia memaksaku mencoba baju-baju seperti itu, yang feminim atau yang glamor, aku harus mencoba–”

“Sebentar,” Yoochun menghentikan Sunghyo yang bergumam tak jelas sambil berpikir. Bagi banyak orang, gumaman tak jelas Sunghyo selalu… ya, tidak jelas. Tapi Yoochun, yang kini ingin memperhatikan Sunghyo lebih dari sebelumnya, bisa menangkap jelas apa yang sedang Sunghyo gumamkan. “Jadi kau… mengikuti paksaan Changi karena… kau ingin tahu seleraku?” Yoochun bertanya, ragu-ragu, namun penuh antisipasi.

Sunghyo memandang Yoochun kemudian tersadar. Dia baru saja berkata terlalu jujur.

Yoochun terbahak. “Kau selalu ketahuan kalau kau keceplosan sesuatu,” ujar Yoochun.

“Ah,” Sunghyo mengeluh, menyalahkan dirinya karena sudah tanpa sengaja mengakui yang sebenarnya.

Dear,” Yoochun berucap dengan lebih serius, “kejujuran adalah hal yang selalu kuhormati. Jadi kau tidak perlu malu karena telah jujur.”

Sunghyo tercengir, tak menyangka perkataan sederhana Yoochun soal kejujuran membuatnya bangga seketika. Rasanya sama seperti ketika dia dipuji guru, saat tak sengaja mengucapkan kalau dia menggilai panekuk susu yang penuh gizi.

“Jadi apa kau merasa aku mengacaukannya dengan sepeda ini?” Yoochun mengganti subjek.

“Tidak,” Sunghyo menjawab.

Merasa khawatir, Yoochun bertanya lagi, “Benarkah?”

“Ya,” sahut Sunghyo seraya mengangguk, meyakinkan.

“Baiklah,” Yoochun berkata, “kalau begitu, ayo naik.”

“Oh, masalah itu…” Sunghyo tak dapat melanjutkan ucapannya. Dia memandangi gaunnya, kemudian spike heels-nya yang belum bisa dia kendalikan sepenuhnya. Dia ingat dia bahkan masih oleng saat berjalan.

Napas Yoochun dihelakan. “Benar kan ternyata,” ujar Yoochun. Turun dari sepedanya, Yoochun kini telah mendekati Sunghyo. “Mengapa kembali tidak jujur padaku?”

Sunghyo mengerutkan dahi. “Apa maksudmu dengan kembali tidak jujur?”

Yoochun tercengir. “Kau tahu yang kumaksud apa,” sahutnya.

“Tidak,” Sunghyo menggeleng, “aku tidak tahu.”

“Kau ingin kubuka saja apa yang tidak kau akui itu?” tanyanya.

Sunghyo keheranan, tapi ada rasa ingin tahu tergambar di wajahnya.

“Ada yang ingin kau katakan, bukan?” tanya Yoochun.

“Apa?” gumam Sunghyo.

“Sepeda ini…”

Sunghyo menghembuskan napas. “Sudah kubilang, aku tak ada masalah dengan sepeda yang kau bawa. Aku hanya merasa mustahil bisa naik sepeda dengan busana heboh ini,” Sunghyo berkata lirih.

“Begitukah?” tanya Yoochun. “Tidak ada kesal yang tertahan? Karena… yah, kau kan bilang kau memakai busana itu untukku…”

Sunghyo baru akan membuka mulut, ketika dering ponsel Yoochun menyetopnya. Matanya mencermati Yoochun yang mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu menjawab panggilan tersebut.

Yoboseyo,” sapa Yoochun.

“Yoochun-ah,” suara Jaejoong bergaung tak hanya pada telinga Yoochun, tapi juga sampai ke telinga Sunghyo.

Ne, Hyung?”

“Yunho dan Minrin pergi berdua. Minmi pergi kerja. Junsu sudah tidur. Aku… juga mau tidur. Kalian mau pulang tidak?” tanya Jaejoong.

“Tentu saja, Hyung,” jawab Yoochun.

Jangan lama-lama. Lima menit tak sampai, kalian tidur di teras saja,” tandas Jaejoong sebelum dua detik kemudian panggilannya diputus.

Yoochun lantas memperhatikan layar ponselnya.

“Ada apa?” tanya Sunghyo.

“Kita harus segera sampai rumah. Kalau tidak, yang meneleponku barusan—kau tahu, bukan?—dia akan mengunci pintu,” ujar Yoochun. Mereka diam sejenak hingga Yoochun berkata lagi, “Naik sepeda ini dua kali lebih cepat daripada jalan kaki.”

Sunghyo mengerut, dengan mata dan bibir yang tertarik melebar, ibarat baru saja memakan makanan asam.

“Bagaimana kalau kau duduk menyamping di depanku?” tawar Yoochun.

“Tidak,” Sunghyo segera menolak, menyebabkan Yoochun meringis. “Begini saja,” Sunghyo berkata setelah berpikir, “bagaimana kalau kau pulang duluan dengan sepeda itu? Biar aku jalan kaki. Nanti kalau ada taksi, aku akan naik.”

“Kau gila, ya?” tanya Yoochun. Dia lalu merujuk gaun Sunghyo dan berucap, “Busanamu seperti itu.”

“Benar juga,” ucap Sunghyo yang melotot karena baru sadar. “Kalau begitu, apa kau bawa jaket?”

“Apa kau bisa lihat aku membawanya?” Yoochun mulai terdengar sarkastis.

“Ck.” Sunghyo mendecak. “Apa benar-benar tak ada yang bisa membuka pintu selain Jaejoong Hyung, eh, maksudku Jaejoong Oppa?”

“Tak ada. Semua pergi. Oh, dan bersama pasangannya masing-masing,” jawab Yoochun. “Bahkan Changmin pergi dengan Changi.”

Sunghyo terbengong, seakan-akan itu adalah fakta terunik yang disiarkan acara televisi ‘Ripley’s Believe it or not’. Dia masih dalam keadaan tercengang ketika Yoochun mengirim pesan teks pada Changmin untuk memastikan sekali lagi. Apakah masih di luar rumah? Begitu dia mengirimi Changmin.

Tak lama, ponselnya bergetar, menerima balasan. Yoochun membukanya dan menemukan pesan itu.

Dari : Changmin

Ya, Hyung. Aku masih di luar. Ada apa?

“Mereka masih ada di luar,” Yoochun mengumandangkannya lagi, menyadarkan Sunghyo dari kondisi tercenungnya.

“Oke,” Sunghyo menjawab dengan kesadaran yang tak sepenuhnya. “Kalau begitu, bagaimana kalau aku yang naik sepeda? Kau yang jalan kaki. Naik sepeda lebih cepat jadi… Ah, tapi, tetap saja, gaun ini… sial.”

Yoochun tersimpul. Dia rasa dia harus menempatkan dirinya di dalam pikiran Sunghyo. Apa yang akan dia lakukan jika dia berada di dalam posisi Sunghyo? Dan dia mendapatkan ide. “Kita jalan berdua saja,” ujarnya sambil menarik sepedanya, menuntun di sampingnya.

“Tak masalah jika dikunci pintunya?” tanya Sunghyo, meskipun dia kelihatannya menyukai ide itu. Dia berjalan di samping Yoochun sekarang, yang kelihatan enteng menuntun sepedanya.

“Setelah kupikir-pikir, tidak terlalu masalah jika dikunci,” jawab Yoochun, “asalkan aku bersamamu.”

“Betapa fleksibelnya kau,” sahut Sunghyo sambil meringis, “dan betapa genitnya.”

“Banyak yang bilang aku begitu,” ujar Yoochun sambil mengangkat bahunya.

You’re amazing, Sir,” gumam Sunghyo.

I know,” Yoochun menyahuti gumaman Sunghyo yang pelan sekali lagi, menyebabkan Sunghyo terpana.

Jarang sekali ada orang yang bisa, dan mau, mendengarkan keseluruhan gumamannya. Pasti telinganya tajam sekali, pikir Sunghyo

“Kau tahu, kau terlihat sangat cantik dengan gaun itu,” puji Yoochun tiba-tiba.

Sunghyo melongo, sejenak, kemudian memutar bola mata.

“Kenapa?” Yoochun menyeruakkan keheranannya.

“Kau mengatakan hal yang sama sekali acak. Dan terlalu tiba-tiba. Lagi pula, sudah kukatakan, gaun ini bukan gayaku. Aku tidak nyaman memakainya,” respons Sunghyo. “Setahuku seseorang bisa terlihat menarik kalau dia nyaman dengan busananya.”

“Kau hanya merasa seperti itu. Karena kau baru kali ini memakainya, wajar kau merasa belum nyaman,” Yoochun mengungkapkan logikanya.

“Meskipun baru kali ini atau sering, aku tetap tidak nyaman. Aku tidak suka gaun,” Sunghyo bersungut-sungut, “apa lagi yang super mini.”

Senyum Yoochun muncul lagi di wajahnya. Dia kemudian menaiki trotoar, menjadi lebih dekat dengan Sunghyo, sementara sepedanya masih digiring di jalur sepeda di sebelahnya. “Aku harus menyayangkan kenyataan itu,” ujar Yoochun.

“Kenyataan apa?” Sunghyo mengerutkan kening.

“Kenyataan kalau kau tak suka gaun mini,” Yoochun menjawab, “sayang sekali bukan, kalau keindahan itu harus ditutupi.”

“Keindahan?” tanya Sunghyo.

“Tubuhmu,” respons Yoochun.

Sunghyo melotot. “Kau serius mau berkata itu?”

Yoochun terkekeh mendapati reaksi Sunghyo. “Serius, tentu saja,” jawab Yoochun. “Apa yang salah dengan perkataan itu?”

“Tolong… jangan pernah lagi berkata itu,” ujar Sunghyo linglung, sambil berupaya menyeimbangkan jalannya yang menyusahkan karena spike heels-nya.

“Kenapa?” Yoochun bertanya lagi. “Bukankah kau memang mencari pujianku? Kau memakainya untuk mengecek kesukaanku, bukan?”

Sunghyo mendadak berhenti, menoleh, menghentikan Yoochun juga. “Jadi baju seperti ini yang kau suka?” tanya Sunghyo dengan ekspresi kecewa.

“Sebetulnya bukan bajunya yang paling penting, tapi yang ada di baliknya,” jawab Yoochun.

Ekspresi Sunghyo yang seperti terkena setrum membuat Yoochun ingin tertawa geli. Yoochun kemudian bertanya,“Mengapa kau harus kaget sementara kita telah melalui apa yang terjadi di Virginia—”

“Hentikan,” Sunghyo menyela, membungkam Yoochun. Sunghyo lantas melangkah menjauh, meninggalkannya.

Yoochun mengejarnya, diiringi bunyi rantai sepedanya yang dia tuntun di sampingnya. “Dear,” panggil Yoochun, “kau tak perlu marah.”

“Aku tidak marah. Aku hanya merasa… topik itu belum bisa kukuasai dengan baik,” ujar Sunghyo.

“Maksudmu kau belum terbiasa?” tanya Yoochun.

“Bisa… dibilang seperti itu,” sahut Sunghyo.

“Apa kau mau menguasainya?” tanya Yoochun.

Sunghyo mengernyit.

Yoochun tercengir. “Kau tak perlu merasa takut,” katanya sambil mengelus lengan Sunghyo yang tak tertutup.

Sunghyo refleks menjauhkan diri dari sentuhan Yoochun kemudian menyeringai segan. Yoochun lalu menarik tangannya, mengembalikannya ke stang sepeda. “Maaf,” ujarnya sadar, dan tampak menarik diri.

Meskipun beberapa hal sudah terjadi di antara mereka, dan komunikasi mereka mulai mendalam, Sunghyo masih mudah panik pada sentuhan mendadak, kelihatannya. Karena itu, kini keduanya bergerak canggung di trotoar yang berdampingan dengan jalur sepeda.

Menit-menit berikutnya dihiasi dengan kelengangan. Sunghyo yang sebelumnya memang pendiam, dan pembawaan itu akan kembali apabila dia baru saja bertindak canggung. Yoochun sendiri belum terpikir topik yang bisa menghilangkan kecanggungan ini. Topik terakhir salah, membingungkan pula.

Kesunyian keduanya mengantar mereka pada perjalanan lama, melelahkan dan kosong. Dua-duanya menyelami pikiran masing-masing selama waktu yang tak pernah mereka hitung. Hingga Yoochun tersadar kalau mereka sudah tiba di tempat tinggal mereka.

“Sudah tiba, Dear,” ujar Yoochun.

Sunghyo terlepas dari lamunannya, lalu melihat rumah tinggal itu. Lampunya sudah dimatikan. Para penghuninya di dalam pasti sudah tidur, pikir Sunghyo.

“Nampaknya yang dibilang Jaejoong Hyung sangat benar,” kata Yoochun.

Arlojinya dia cek. Sunghyo tahu kalau Minmi pergi kerja pada waktu semalam ini. Dia juga mendengar sekilas dari telepon Jaejoong tadi kalau Yunho dan Minrin pergi berdua. Dan harapannya yang mengatakan Minrin mungkin sudah pulang pupus, karena dia melihat lampu kamar Minrin mati. Harapan kini hanya berkisar pada Jaejoong dan Junsu.

“Junsu tidak mengangkat-angkat teleponnya,” ujar Yoochun.

Sunghyo menengok padanya dan menemukan pemuda yang lebih tinggi daripadanya itu tengah menempelkan ponselnya ke telinganya. “Bagaimana dengan Jaejoong HyuOppa?” tanya Sunghyo, yang memang selalu gagap menyebutkan panggilan itu pada yang bukan kakak kandungnya.

Handphone-nya sudah ditidakaktifkan,” jawab Yoochun, “aku sudah mencoba meneleponnya sebelum menelepon Junsu. Ah, sial, Junsu benar-benar tak mengangkatnya.”

“Sudah tidur lelap sepertinya,” timpal Sunghyo.

“Kita mungkin harus menunggu yang sedang pergi pulang dulu,” ujar Yoochun.

Setelah mengamati sekitarnya, tidak untuk mencari apa-apa, Sunghyo lantas mengangguk.

Advertisements

28 thoughts on “The Beloved Roulette #1

  1. hodyshipper says:

    i’m back…
    akhirnya cerita ttg mereka ber5 keluar juga,, aku sudah menunggu lama banget #lebay
    bagus chingu, di tunggu lanjutannya

  2. Nan_Cho says:

    aii…
    gegara pengen tau lanjutan ChangChan couple di My Wife Is Fanster langsung baca ini, dan part ini part ttg couple yg memperebutkan leci itu…
    kkk, tp seneng juga ChangChan couple mereka bahas td, sepertinya ChangChan couple jg eksis kayak KyuChan couple di TRC…

    Jaejoong udah kayak ibu2 coba, nyuruh pulang kalo terlambat suruh tinggal diteras, hahaha…

    • Mysti Adelliza says:

      Hwaaaa… #lompatgirang
      Kamu sekarang baca TBR juga! ^^
      Asiiiikk… >,<
      Iya, ini couple leci itu, hehehe…
      Susah untuk tidak mengeksiskan ChangKyu di cerita yang melibatkan hyung-hyungnya, secara duo maknae itu disayang berat oleh para tetua di grup masing2. hahaha

      Nah, Jaejoong kan emang terkenal seperti ibu-ibu #eh
      Makanya dibuat dia begitu di sini. hihihihi

      Oh iya, soal ChangChan couple, My Wife is A Fanster juga ada sekuelnya sebelum dimasukkan ke dalam TBR ini. Kalo mau, bisa kamu cek Fragmented Stories, chingu^^
      Makasih ya nan_cho udah baca dan komen yang ini juga ^^

  3. Nan_Cho says:

    kkk, tp sayang sekali, kata ‘sayang’nya para hyung2 kece itu disalahgunakan oleh 2 maknae evil itu, kkk *malah ngerumpi*

    iya2, Jae cocok bgt emang kayak ibu2, asal jgn jd ibu2 girang kayak Hae di CA, haahaha *dikejar Hae*
    tp ini jg yg seru, jiwa keibuannya Jae di TBR dan jiwa kebapakannya Teuk di TRC.. ^^

    astaga, iya author aku lupa kalo ChangChan pasti jg punya Fragment Stories kayak KyuChan..
    siap sedia ntar baca ChangChan dulu aja, baru ntar kalo kelar baca Ruby.. ^^
    » beberapa hari ini aku sikat semua fanfic author walau ga semua, hehe, yg utama bikin aku suka pake banget karena ada KyuChangChan 😉

    #fighting!!

    • Mysti Adelliza says:

      Nah, benar banget, disalahgunakan. Kata Changi, mereka menjengkelkan.
      Hahaha, tapi itu yang bikin excited bikin ff mereka.

      Hahaha… Jae ibu-ibu, tapi kalo Hae itu gadis kecil keriangan hahaha
      Ahahaha… Teuki kebapakan kah?

      Oke, oke, silahkan baca ChangChan. ^^ Oh ya, hari ini pos cerita baru kok.

      iyaaa… >,< senang banget kamu sikat semua cerita, senaaaang bangeeet…^^

      #fightingjuga :*

  4. Nan_Cho says:

    iya sangat menjengkelkan!!
    Changi-ssi kau benar, kkk…

    hahahaha…
    jd kangen sama panggilan Hae ke Kyu…
    ah, Teuk kebapakan karena dia ‘Presiden Para Gadis’ dan ‘Presiden Para Iblis Wanita’, kkk ^^

    okey…
    ntar aku liat author… ^^

    • Mysti Adelliza says:

      Ahahahaha…

      Tenang, akan diperbanyak momen KyuHae di cerita yang ada merekanya nanti. Hihihi…

      Oooh.. Gara-gara julukan itu, tapi dia langsung gagal begitu ada Riyoung. Hehehe…

      Oke, sip, nan_cho 😉

  5. asrikim says:

    Jaejoong lebih cocok jd eomma dri pda hyung,,ceriwet dan jg glak kkk~junsu sm minmi agak oneng ya disini#tendang junmi,,
    msk yg dri tdi yg dismain sm burung hantu dan merpati itu changchan tp enggk engeh,,sunghyo yoja yg enggk suka sesuatu yg terbuka ternyata#sopannya sunghyo q,,

    • Mysti Adelliza says:

      Hahahaha… Jaejoong emang eomma2, asri hahaha
      MiSu emang radarada mereka hahaha, kamu bisa lebih berasa lagi kalo baca three card trick ^^
      Iya, Sunghyo ga suka yang terbuka. Tuh kan dia jadi malu dibilang sopan sama kamu. Hahaha
      Btw, makasih atas komentarnya, asri ^^

  6. asrikim says:

    Benar kah?klau gitu tak baca,eonni asri minta pw couple yg asri bcaini ya eon sm three card trick klau ada pwnya skalian minta gtu hehehe,,

  7. Nathalie park says:

    Annyeong…q readers baru..mlai tertarik bwt iktin crita slnjt’y stlh baca ff author d’blog sblh..kekekekeke..smkin penasaran sm crta slnjt’y..

  8. erfania says:

    annyeong! new reader *bow
    sebenerny pertama nemu ff ini di wp lain, hehe
    suka banget sama gaya dan cara penulisan author.
    keep writing deh buat authornya! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s