The Briefcase #5

the-briefcase-cover

Author : Naz & Mysti

Title : The Briefcase

Genre : Friendship

Featuring : DBSK

Authors Note :

Well, ini salah satu proyek iseng, yang–thank goodness!–sudah jadi salah satu buku! Ini sedikit beda dari biasanya; dimana bahasa dialog yang digunakan adalah bahasa yang benar-benar dipakai sehari-hari. Dan dengan niat untuk share pada para reader, ceritanya akan ditampilkan sedikit di blog ini, a bit look like a teaser. Hope you don’t mind it.

Oh iya, ini adalah teaser terakhir dari The Briefcase yang dimunculkan di blog ini.

Enjoy it. Komentar selalu ditunggu ❤

Pagi yang cerah menyambut. Handini menggeliat dan merenggangkan kedua tangannya ke atas kepala, berdiri di depan jendela, menikmati matahari pagi. Dan itu adalah lima detik sebelum ponselnya berbunyi sangat kencang, mengagetkannya sangat.

Dia bersicepat ke laci kecil di sebelah kasur, tempat ia meletakkan ponsel. Matanya memperoleh nama Mila tertera di layar handphone-nya, menelepon. Dia memang mengimpor beberapa kontak di handphone miliknya ke handphone 3G tersebut. Dia mengingat-ingat, melalui Facebook, Mila nampaknya sudah dia beri tahu kalau sekarang dia di Seoul, dengan kata lain di luar negeri, lantas buat apa Mila melakukan sambungan langsung jarak jauh yang mahalnya hebat ini?, pikirnya. Lewat Facebook juga, di grup Sundae, Mila diberikan nomor telepon baru mereka di Seoul, pastinya Mila tahu kalau mereka tak bercanda ‘kan. Lamat-lamat, ia memutar otak. Ponselnya berhenti berdering. Mungkin Mila hanya iseng, atau hanya kangen dan mau missed call saja. Namun demikian, Mila menelepon lagi. Menyangka ini bisa jadi hal urgen, Handini mengangkatnya.

“Halo, Min,” sahut Mila.

“Ya, Hyung? Kenapa?” tanya Handini.

“Min bener ketemu sama HoMin sama Junsu oppa, ya?”

“Eh, iya, ‘kan udah Min kasih tau lewat grup Sundae kemaren. Eh, sebentar, kenapa Hyung tau Min ketemu Junsu juga?”

“Iya, si Chuchun yang nge-post poto-poto di grup Sundae. Poto Min sama Changmin, poto Changmin sama Junsu,” jawab Mila dengan suara cempreng dannada innocent-nya.

“Ya, kemaren Changmin sama Junsu emang ketemuan—eh,hah? Apa? Poto Min sama Changmin ada? Chuchun Hyung yang masang? Si Mel?”

“Iya,” jawab Mila sekadarnya, “iiih… Min sama Chuchun enak bangeeet… Su mau dooong ke sana,” dan dia mulai menyampaikan maksudnya kini.

“Ke sini?” Handini terbahak. “Ayo dah, nanti kita jemput lu, Hyung, di bandara.”

“Umm, tapi, Su gak punya duit. Gajiannya ‘kan awal bulan, ini masih akhir bulan. Tabungan baru dipake buat lunasin motor kemarin. Mana minta cuti di tempat kerja Su susah banget, Min. Gimana, dooong?” Mila memanjang-manjangkan kata terakhir ucapannya.

“Ya udah, gak usah dipaksain, Hyung. Nanti Min salamin ke Junsu.”

“Yaaah… salamin doang mah gak enak, Hyung mau ketemu langsung, Min,” Mila masih merengek.

“Ya, tapi mau gimana lagi, Hyung? ‘Kan keadaannya gak memadai. Min sih ngarep banget Hyung juga ke sini, biar kita bisa asik-asikan bertiga sama Chuchun Hyung juga,” ujar Handini.

Tak ada respons.

“Halo? Halo?” Handini melihat layar handphone. Rupanya sambungan terputus. Mungkin pulsanya Mila habis atau jaringannya error. Entahlah.

Handini kini melihat Mel, yang masih terlelap, kemudian menendang pelan tulang rusuknya. “Bangun, Hyung!”

Dengan tidak jelas, Mel merespons, seperti bertanya kenapa.

“Lu upload poto-poto apa aja di Sundae?! Liatin ke gua!” hardik Handini.

Mel terkinjat, bangun terduduk. “Poto apa?” tanyanya, kali ini mulai jelas.

“Lu upload poto ‘kan semalem, pas gua lagi tidur, hah?!”

“Lu udah liat Facebook, Min?”

“Cepet buka Facebook-nya!”

***

Handini melihat foto-foto candid hasil jepretan Mel melalui kamera handphoneyang bisa dibilang tidak buruk. Nampaknya ia sudah memilah-milih mana foto yang layak dan mana yang tidak. Meskipun demikian, bagi Handini, ada beberapa objek yang baginya tidak bagus, yaitu dirinya dan Changmin. Kalau ia tidak salah ingat, itu saat dia sedang bersemuka, memberikan usul dan pengarahan. Yang ia bingungkan, mengapa bisa-bisanya Mel ini memfoto tanpa seizinnya dan sialnya, mengapa dia bisa tidak tahu? Padahal biasanya matanya cukup jeli kalau ada keanehan sedikit di sekelilingnya. Dia mengungkapkan keheranannya itu pada Mel.

“Mungkin karena lu lagi deg-degan ada di depan Changmin. Makanya mata lu kurang jeli, eh, kecolongan deh kefoto. Ihhiiiy… Asik niiih,” ledek Mel. Dan bisa ditebak, Handini memukul keras paha Mel lagi.

“Lu kira gua kayak lu,” Handini menyunggingkan senyum kecut.

***

Beberapa kali mereka menghayati foto-foto candid itu, foto-foto terbaru Junsu dan Changmin. Berjuta rasa merayapi mereka; senang, bangga, terharu dan lainnya; semua berpusaran pada dua objek foto yang sepertinya mustahil bertemu itu.

Mereka mengenang jalanan nyaman di desa kemarin, meski berbatu dan terjal, namun dilingkupi pohon-pohon tua yang hijau rindang dan menyegarkan. Sungguh suatu lokasi yang tepat. Handini dan Mel sangat menyukainya.

“Gak sia-sia, ya, kita udak-udak internet cari desa lokasi syuting Over the Mountain, Accross the River itu, ya, Min?” kenang Mel.

Handini mengangkat alisnya dua kali, mengiyakan.

“Sekarang apa, ya, yang ada di pikiran Junsu? Coba liat Twitter, ah,” kata Mel, lebih kepada dirinya sendiri.

“Gak mungkin dia nge-tweet pertemuan rahasia kayak gitu di Twitter, Hyung,” Handini berujar. “Lagipula Changmin kemaren pasti udah minta Junsu gak berkoar-koar di media soal itu.”

“Ya, memang iya. Kali aja dia cuma nulis perasaannya yang bahagia atau nulis pertemuan menyenangkan hatinya itu secara tersirat-sirat, gitu, Min. Bisa aja, ‘kan?” terka Mel.

“Ya udah, gih, liat.”

“Oke,” Mel baru saja mau mengklik menu log out dari Facebook-nya, satu pemberitahuan baru muncul. “Eh, ada apaan tuh, Min?” Tanpa berniat benar-benar menunggui respons Handini, ia pun segera mengklik tanda bertuliskan angka satu yang dilingkupi kotak kecil berwarna merah itu, membuka submenu yang menjelas bahwa Mila baru saja mengomentari kirimannya di grup Sundae.

“Kenapa si Su Hyung? Liat, liat, Hyung.”

“Iya, ini lagi mau diliat, Min,” Mel memperhatikan komentar terbaru di kiriman fotonya. Di sana tertulis komentar Mila yang berkata, “Su mau nyusul kalian, Chunn… Minn…”

“Haaah… Si Su jadi ngarep banget ke sini dia. Kasian,” ucap Handini.

“Kenapa? Bagus, ‘kan, kalo dia bisa ke sini juga?” Mel terheran-heran.

“Emang gua belum kasih tau, ya, Hyung?”

“Kasih tau apa?” Kening Mel berkernyit.

“Tadi si Su pagi-pagi nelepon ke HP Min, bilang dia pengen banget ke sini tapi gak punya uang sepeser pun. Dia belum gajian. Tabungannya baru dipake lunasin motor.”

Mel membuka mulutnya sedikit, tercengang, menampilkan dua gigi besar depannya.

“Dan Su kasian, dia mungkin bisa backpacking-an kayak kita pertama-tama ke Seoul dulu—

“Iya, bisa, jadi inget masa-masa itu, masa-masa menghemat banget, ya? Biaya hidup di sini mahal. Untung sekarang dibayarin Yunho,” sela Mel, “hahaha, gak tau diri banget omongan gua.”

“Dengerin dulu, Hyung,” Handini menukas.

“Ah, iya, Min.”

“Si Su mungkin punya uang untuk backpacking-an sendirian, hah, kasian sendirian dia, tapi tempat kerjanya Su adalah pelit cuti. Inget gak dulu dia bilang kalo gak masuk-masuk tanpa izin cuti di kantornya bisa dipecat?”

Mel menampilkan wajah iba. “Iya, kasian Su. Pasti sekarang dia galau.”

“Iya. Gua juga galau kalo jadi dia,” Handini menimpali.

“Bisa gak sih, Min, kita minta tolong Yunho buat—Ah, tapi gak mungkin, ya, kita aja udah cukup nyusahin Yunho,” Mel mengubur idenya sebelum diungkap secara penuh.

“Iya, kita udah bikin susah Yunho. Apa lagi si Changmin itu entar tambah rewel mulutnya kalo tau kita minta tolong buat bawa satu orang lagi ke sini,” Handini yang sudah mengerti maksud Mel, menyambung.

“Kasian Milanya, tapi. Dia yang pertama tau soal DBSK. Dia yang jadi guru kita padahal. Dia yang paling lengkap koleksinya soal DBSK dulu. Dia juga sampe ambil kursus bahasa Korea lebih lama daripada kita buat ini, ‘kan?”

“Iya, sih. Kasian Su Hyung. Ya udah lah, Hyung, mau gimana lagi. Keadaannya gak memungkinkan. Kita juga gak bisa apa-apa. Dia gak bakal mau keilangan kerjaannya, ‘kan?”

***

Sore itu, Mel dan Handini sedang menontoni acara komedi a la Korea yang dipandu presenter kocak terkenal, Yoo Jae Suk. Entah apa nama acaranya, mereka baru saja menyetel TV mereka.

Tiba-tiba suara handphonemereka menderu, membuat Handini dan Mel refleks menengok ke alat komunikasi kecil berwarna hitam putih itu.

“Su Hyung telepon lagi, Hyung,” beritahu Handini.

“Ya udah, angkat aja, Min.”

Handini menekan tombol angkat.

Loudspeaker-in aja, Min,” pinta Mel.

Segera jari jempol Handini menekan tombol yang mengaktifkan mode loudspeaker.

“Halo, Min?” terdengar suara lucu Mila, yang biasa mereka panggil dengan Su atau Su Hyung—bagi Handini. Suaranya muncul dibarengi kebisingan sekitar yang cukup terdengar.

“Ya, Hyung? Kenapa?”

“Min sama Chuchun nanti jemput Su, ya, di Incheon? Su baru mau berangkat dari Halim Perdanakusuma.”

Mel dan Handini saling menunjukkan mata yang menjegil, bola mata mereka hampir keluar.

“Lu beneran ke sini, Hyung?” tanya Handini ragu-ragu, tapi terdengar seperti menjerit.

“Iyaaa…” jawab Mila. Terasa nada senang di jawabannya. Pasti mukanya sedang menampilkan senyum lebar.

“Lho? Lu bukannya gak bisa ke sini, Su?” Mel nimbrung.

“Bisa, Chuun… Su ngegadain motor Su. Pinjem-pinjem ke temen-temen kerja, kenalan, tetangga. Akhirnya cukup, deh,” terang Mila.

“Ya ampuun… Sampe segitunya,” Handini dan Mel berucap berbarengan. Entah di-set apa otak mereka sehingga bisa kompak begitu sekarang.

“Terus, bukannya susah minta cuti di kantor lu, Hyung?” tanya Handini.

Mila menghela napas. “Iya, Min. Su udah kasih surat izin ke atasan, belum dikasih keputusan.”

“Lho? Kok belum? Kalo gak boleh gimana? Kok lu main berangkat-berangkat aja, Hyung?” tanya Handini cemas.

“Ya udah, gak apa-apa. Nanti kalo Su diberhentiin, ya udah gak apa-apa,” jawab Mila pasrah.

Mel dan Handini saling tatap, berwajah bersalah.

“Harusnya gak usah sampe begitu, Hyung,” ujar Handini.

“Kita jadi gak enak. Harusnya gua gak pasang poto di grup Sundae, ya?” Mel berekspresi seakan-akan sedang mengakui kejahatan masa lampaunya.

“Kalian kok gitu sih ngomongnya? Su udah semangat-semangat, nih, mau ke sana. Su sampe setel lagu Fighting Spirit of Dong Bang Shin Ki berkali-kali, nih,” beritahu Mila.

Mel menahan tawa. “Lah, terus apa hubungannya lagu itu sama hal ini?”

“Maksudnya, buat penyemangat,” jawab Mila.

“Iya, buat penyemangat pemain bola.Itu ‘kan lagu bola, Su,” timpal Mel.

“Eh, iya, ya? Iya juga, sih. Hahaha.”

“Dasar si Su,” Mel mengerling Handini, bermuka tak habis pikir pada Mila.

“Maksudnya, Mila jadi semangat, jadi punya Fighting Spirit untuk ketemu DBSK gara-gara ngedengerin lagu itu. Gak harus buat pemain bola aja ‘kan lagunya, buat semuanya juga bisa,” bela Handini.

“Nah, bener tuh, kata si Minmin,” ujar Mila.

“Oh, gitu toh. Abisnya waktu itu lagunya dibuat untuk event piala dunia di Korea-Jepang, sih. Jadi, gua pikir khusus untuk pemain bola aja,” Mel membela diri.

“Iya, sih, Chuchun bener juga,” timpal Mila, yang mulai menunjukkan sifat mudah berpindahnya.

“Haaah… Lu sebenarnya mau dibela gak, sih, Hyung?” Handini mulai tak tahan pada sifat kurang berpendirian Mila itu.

“Eh, iya, Min, iya. Haah??? Su udah dipanggil. Pesawatnya mau berangkat. Kalian nanti jemput Su, ya? Dah…” Mila menutup teleponnya.

Advertisements

10 thoughts on “The Briefcase #5

  1. huuwwaaa masa ini teaser terakhir yg di munculinnnnn TT~TT maauuu bukunyaaa… pesen deh pesen(?)
    chinguuuu lanjutin sampe abisss donggg.. itu belum tau nasipnya mila, nasip dbsk, 2 pacar aku juga belum munculll… lanjutttt yaaaa.. jebaalllll….

  2. Hiya aku dah beli loh thor dari th lalu malah. Waktu ke toko buku liat covernya homin langsung aku ambil hehe.. Bgus idenya, ya walu ada beberapa bagian yang membingungkan.. Tapi itu ketutup koq.. Terus berkarya ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s