The Briefcase #4

the-briefcase-cover

Author : Naz & Mysti

Title : The Briefcase

Genre : Friendship

Featuring : Shim Changmin, Kim Junsu (DBSK)

Authors Note :

Well, ini salah satu proyek iseng, yang–thank goodness!–sudah jadi salah satu buku! Ini sedikit beda dari biasanya; dimana bahasa dialog yang digunakan adalah bahasa yang benar-benar dipakai sehari-hari. Dan dengan niat untuk share pada para reader, ceritanya akan ditampilkan sedikit di blog ini, a bit look like a teaser. Hope you don’t mind it.

Enjoy it. Komentar selalu ditunggu ❤

Handini dan Mel tak pernah menduga usaha kecil-kecilan mereka dapat berbuah semanis ini. Junsu membalas pesan Changmin. Tak dapat dielakkan lagi. Junsu sungguh-sungguh membalas message itu. Isinya menanyakan tempat dan waktu pertemuan mereka. Kedua gadis ini hanya bisa menerka kalau Junsu telah merasa yang mengirim pesan kepadanya adalah Changmin. Dan, ya, memang benar itu Changmin. Meskipun kini mereka yang mengambil alih mengatur pertemuan dua anggota terkecil di DBSK itu.

Mereka sempat memikirkan beberapa tempat bagus di Seoul, namun semuanya pasti ramai. Kalau kedua orang ini tertangkap kamera bagaimana? Handini kemudian menyarankan agar di tempat sepi saja bertemunya.

“Bagaimana kalau di desa-desa gitu, Hyung? Di pegunungan. Biasanya isinya ‘kan orang-orang tua yang gak kenal artis-artis Seoul,” usul Handini.

“Bener juga. Kayak di film Vacation mereka berdua, ya?” Mel memetikkan jari. “Ah, di desa itu aja. Tapi apa nama desanya?”

“Atau desa yang di acara Over the Mountain, Accross the River-nya mereka, itu kalo gak salah nama desanya disebutin, deh.”

“Sip, ayo ke situ aja.”

***

Handini dan Mel menyiapkan segalanya. Changmin mereka kirimi SMS agar mendatangi desa yang merupakan tempat mereka mengambil gambar untuk acara yang tadi mereka sebutkan. Setelah itu, mereka mengirimkan pesan Twitter bergaya-gaya Changmin lagi kepada Junsu agar pergi ke tempat yang sama. Kedua gadis itu telah sepakat untuk tidak memunculkan diri saat pertemuan berlangsung. Sebab ini pertemuan penuh privasi, sepertinya tidak etis jika mereka berdua ikut nimbrung.

Kedua pihak, Junsu dan Changmin, setuju dengan tempatnya. Bisa jadi karena tempat itu senyap, makanya keduanya menyetujui. Kini saatnya mereka menentukan waktunya. Tentu jika mengikuti hasrat, Handini dan Mel mau hari ini juga mempertemukan Junsu dan Changmin. Hanya saja, kedua selebriti itu memiliki kesibukan yang ampun-ampunan, pasti sulit menemukan waktu yang pas. Mereka pun memutuskan untuk menanyai kedua pihak atas waktu senggang masing-masing.

“Changmin bilang dia cuma besok siang bisanya, nih, Min,” Mel menunjukkan SMS yang tertera di layar ponsel.

“Nanti dulu, kita liat si Junsu bales apa.”

Seharian penuh mereka menanti jawaban Junsu. Hingga akhirnya di jam sebelas malam kurang sedikit, Handini mendapati message Twitter Junsu yang mengonfirmasikan kalau dia hanya dapat bertemu lusa pagi.

Keduanya galau. Mereka mulai merasa ini mendekat ke arah sulit. Dua gadis ini berpikir, berpikir dan berpikir—mondar-mandir di kamar sewa mereka.

“Bukannya gua belain si Changmin, ya, Hyung, tapi,” Handini membuka diskusi akhirnya, “dia dalam naungan manajemen ketat yaitu SM Entertainment yang luar biasa itu.Gua pikir yang susah diganti waktunya tuh dia. Mungkin yang masih bisa diakalin si Junsu.”

“Tapi gimana? Junsunya bilang dia bisanya cuman lusa,” Mel melemparkan sanggahan.

Handini menatapi atap kamar sewa itu. Lama. Hingga kemudian, ia menengok kepada Mel. “Ancem lagi aja,” usulnya.

***

            “Ketemu besok siang atau kukirimkan biji-biji semangka ini melalui paket. Aku sudah punya penyembur otomatisnya. Kubeli di Los Angeles 2010 kemarin. Begitu kaubuka paketnya, biji-biji mungil ini akan menampar-nampar mukamu.”

Begitulah isi ancaman manis berikutnya yang dikirimkan kepada Junsu.Kali ini bukan buatan Changmin, melainkan Mel dan Handini. Agak berlebihan memang, tapi mau bagaimana lagi. Perihal biji semangka itu sangat signifikan, hal yang membuat Junsu mem-follow akun ini.

Dan rupanya, mereka tak perlu menunggu sampai besok untuk melihat balasan Junsu. Bunyi speaker netbook terdengar nyaring, tanda pesan masuk.

            “Baiklah, Changmin-ah.”

Itu balasannya Junsu, membuat Handini dan Mel berjingkrak-jingkrakan seperti pasien rumah sakit jiwa. Mereka melemparkan diri ke kasur dan tertawa-tawa senang.

“Dia betul-betul ngira kita adalah Changmin, ya?” Mel antusias bertanya.

“Kayaknya gitu,” sambut Handini.

Sesungguhnya, keduanya tak habis berpikir mengapa Junsu dengan mudahnya menyangka bahwa pemilik akun ini adalah Changmin. Tak ada identitas Changmin yang tertampil di sana. Ya, memang tweet-tweet kiriman Changmin lumayan sensasional. Mungkin itu yang membuat Junsu yakin pengirimnya adalah Changmin, meski tak ada petunjuk sama sekali.

“Tapi kalo cuma gitu, kok dia percaya, ya? Siapa tau cuma orang yang kebetulan suka kasih anceman yang mirip kayak anceman Changmin,” Mel mengatakan pemikirannya. “Kayak anceman kita barusan, kita cuman niru-niru Changmin, ‘kan?”

“Yaaah… Kali Junsu udah percaya itu Changmin karena semua tweet kiriman Changmin yang bukan buatan kita—tapi buatan Changmin yang asli—mungkin emang pernah diucapin Changmin ke dia,” bela Handini objektif, “atau—

“Atau apa?”

“Atau dia emang gampang dikibulin orangnya,” ujar Handini sembari membendung tawa.

Beberapa detik kemudian, keduanya pun serempak melepaskan tawanya masing-masing. Bola mata mereka yang memancarkan harapan dipejamkan demi membayangkan besok si suara berkhas dan si suara high-pitch bersua.

***

Hari itu, Changmin datang lebih awal. Dia menunggu di bawah salah satu pohon yang tersusun rapi di samping-samping jalanan terjal bebatuan. Dia naik bus, sepertinya, tak ada kendaraan yang ia bawa di sekitarnya. Entah bagaimana ia bisa selamat menaiki bus tanpa dimorat-maritkan oleh fans, hanya Tuhan dan dia yang tahu.

Yang jelas, Handini dan Mel yang datang sesudahnya, segera mendapat semprotan darinya. “Mengapa bisa-bisanya kalian baru datang?”

Joesonghamnida,” Mel buru-buru menjawab, “tadi ada macet.”

            “Macet? Yang benar saja?”Changmin mengeraskan suaranya.

Mel rasanya ingin memukul kepalanya sendiri, mengapa dia memakai alasan klasik ala Jakarta seperti itu kepada orang Korea. Dasar bodoh. “I-Iya. Busnya, eh, maksudnya pedal gas busnya macet, tak bisa diinjak supirnya,” ia lantas meralat, dan tambah kacau.

Changmin mendecakkan lidah. “Lantas, mengapa kalian memakai busana norak ini lagi?” Changmin merujuk pada kostum Matrix mereka berdua. Keduanya sengaja kembali memakainya untuk menyamarkan tampilan, namun yang terjadi nampaknya sebaliknya.

Handini menyunggingkan senyum sinis. “Memang kau ada hak melarang dan menilai busana kami?” lawannya.

Changmin membalas dengan senyuman sejenis.

“Jadi, si Junsu belum datang, ya?” Mel memecahkan suasana.

“Kau tidak bisa lihat kalau dia tidak ada?”

Digalaki oleh Changmin, Mel langsung menutup rapat-rapat mulutnya. Dia mundur dan memilih untuk memainkan telepon genggam pembelian Yunho kepada mereka berdua.

Handini lantas membuka percakapan lebih normal, “Apa jaminannya ke manajemenmu sampai kau bisa datang ke sini?” Sebenarnya itu kurang dapat disebut normal, tetapi lumayan lah, karena intonasi yang digunakan Handini lebih bagus daripada biasanya.

Yunho Hyung. Dia yang mengaturnya. Dia akan buat manajer kami sesibuk mungkin hari ini. Sebetulnya dia mau ikut, namun akan terlalu mencurigakan jika aku yang beralasan ingin mengunjungi kerabat harus pergi pula dengan Yunho Hyung,” Changmin pun merespons dengan baik pula.

Mel, yang melihat situasi di hadapannya sudah sedikit lebih ramah, mulai merasa tenang. Ia bahkan sudah berpikir untuk menikmati keadaan sekitarnya. Pemandangan indah desa, kesegaran udaranya dan, ah!—ia baru sadar akan situasi langka di depan matanya; Handini yang dapat mengobrol dengan Changmin! Tanpa saling menyerang dengan sarkasme pula! Mendadak ide iseng muncul di kepalanya. Foto mereka, ah, pikirnya.

Handini, yang tidak menyadari Mel sedang memfoto karena ia segera berpura-pura mengamati pohon ketika dilirik, menarik napas lalu menghembuskannya. “Kami ke sini cuma mengawasi—aku tahu kau tidak mau diawasi,” Handini buru-buru menambahkan kalimat terakhir karena Changmin mau membuka mulutnya untuk menyanggah, “kami tidak akan mengusik pertemuan kalian. Ini privasi kalian. Aku pun mau kasih usul, pertemuan ini pasti akan canggung, maka cobalah tidak mengungkap hal yang memisahkan kalian tapi bicarakan hal-hal nostalgik yang bisa mengakrabkan kalian lagi. Oh, ya, usahakan pertemuannya cepat saja supaya pihak SM tidak perlu meneleponmu segala.”

            “Aku sudah tahu soal itu. Tidak perlu nasihatmu,” sahut Changmin.

Handini mengatupkan gigi, menahan kesal.

“Kenapa semua orang di sekitarku selalu ingin menceramahiku?” keluh Changmin.

“Emang gua pikirin. Gua cuma mikirin kesuksesan rencana gua doang,” Handini bersungut-sungut.

“Mwo?” Changmin mengernyitkan kening.

“Ah, jadi, Yunho juga selalu menceramahimu?” Mel tergesa-gesa mengalihkan percakapan, takut Handini menyulut api lagi.

“Ne,” jawab Changmin, “untung sekarang dia tidak bisa ikut karena menjaminku agar bisa keluar.”

“Cih,” Handini memulai lagi, “bisa-bisanya kau menjelekkan orang saat tak ada. Di depannya, kau memanggil-manggil dia ‘Hyung’. Hah, kau penjilat, ya?”

            “HYA!” Changmin murka.

Sudah, sudah, jangan bertengkar. Nanti mood jalan-jalannya jadi tidak bagus,” lerai Mel takut-takut. Ketika Handini dan Changmin sama-sama ingin membuka mulut lagi, suara derum mesin mobil terdengar mendekat. “Hah, siapa itu?” kontan Mel bertanya.

Handini menoleh, mendapati sedan mini yang melintasi mereka.

“Itu kayak Junsu,” Mel mengira-ngira. Dia lantas menggeleng-geleng sambil memicingkan mata, mengingkari ucapannya barusan sendiri.

Tiba-tiba telepon genggam milik entah siapa berbunyi. Handini dan Mel melihat Changmin yang buru-buru merogoh kantungnya.

“Nah, kau sudah dicari tampaknya,” ujar Handini.

Changmin hanya melirik sinis kepada Handini, nampak sepertinya menyuruhnya diam, lantas menjauh. Mel hanya bisa menahan dan menenangkan Handini yang ingin memukul kepala Changmin lagi.

“Yoboseyo,” sahut Changmin kepada teleponnya.

Kedua gadis itu hanya mendapati Changmin yang lama-kelamaan berjalan makin menjauhi mereka. Nampaknya dia tidak suka pembicaraannya didengar atau dibahas. Padahal belum tentu mereka dapat mengetahui apa isi percakapannya dengan si penelepon.

Sekitar dua-tiga menit berlalu, Changmin telah menutup ponselnya. “Yang tadi Junsu. Hah. Dia pakai nomor lain lagi. Dia pasti ganti handphone, keluh Changmin. “Mengapa dia tidak bisa setia memakai satu saja terus-menerus sepertiku?

“Bukannya waktu itu beritanya kau tidak mau angkat telepon kalau dari nomor asing?” tanya Mel pelan.

“Hah?” Changmin menyorongkan telinga kepada Mel.

Kau tipe penyuka ditelepon oleh nomor asing tidak?” tanya Handini, ogah-ogahan.

Changmin menggeleng.

Nah, kenapa kau mau mengangkat telepon dari Junsu tadi?” Handini mengumbar tanya, berusaha menjelaskan maksud Mel tadi.

“Karena aku ingin saja,” jawab Changmin mantap dan, bagi Handini, tidak berisi. Lebih-lebih, karena melihat ekspresi Changmin yang sewenang-wenang saja.

Setelah memasang wajah yang merendahkan jawaban Changmin, Handini masih bertanya dengan malas-malasan. “Apa kata Junsu?”

“Dia sebentar lagi sampai.” Tepat setelah Changmin berkata demikian, ketiganya melihat sedan yang tadi melewati mereka muncul dari kejauhan dengan cara mundur.

“Ah, itu beneran Junsu ternyata,” Mel berkata.

“Ayo kita ngumpet, Hyung,” Handini menarik tangan Mel, membawa diri mereka berdua menghilang di balik pohon-pohon raksasa itu untuk mencapai bukit kecil dekat tempat itu.

Ya, betul, itu Junsu. Dengan tubuh lebih kurus dari biasanya dan rambut pirang pucat berjambul, ia turun dari mobilnya dan menyapa Changmin yang berdiri dengan tubuh menjulangnya itu. “Annyeong, Changmin-ah.” Junsu, anggota termuda kedua—namun berperilaku seperti yang paling muda itu, tercengir lebar. Satu telapak tangannya digerakkan ke kiri dan kanan, melambai-lambai ramah.

“Handphone-mu masih yang itu, Changmin?” tanya Junsu ketika sudah benar-benar di hadapan Changmin.

            “Ne, wae?” Changmin balik bertanya.

“Kupikir sudah kauganti. Kemarin kutelepon, kau tak mengangkatnya. Apa karena kau malas mengangkat telepon dari nomor tak dikenal?” Junsu memasang wajah prihatin yang lugu.

“Bukan, terlalu berisiko. Kau lupa, telepon kita sering disadap orang-orang?”

            “Oh, betul juga. Jadi sebenarnya kau mau mengangkat telepon dariku kalau seandainya tidak disadap, ya, Changmin?” Masih, Junsu bertampang polos.

“Darimana kau bisa tahu teleponmu bebas sadapan?” Changmin meninggikan satu alisnya.

“’Kan kubilang ‘seandainya’.” Junsu ngotot dengan serius namun mata kekanak-kanakannya tetap terlihat.

“Cih. ‘Seandainya’ juga harus beralasan. Hah, penyakit ‘jenius’-mu tidak hilang-hilang,” ujar Changmin akhirnya.

“Mwo? Kaubilang aku jenius, Changmin?” Sekarang ekspresi Junsu malah bergelora, senang, menyisakan Changmin yang bermuka malas karena Hyung-nya yang satu ini tidak akan pernah mengerti arti sindirannya.

“Sumpah, Min, bocah banget tingkahnya si Junsu,” bisik Mel dari balik pohon. Mereka berdua sudah di atas bukit sekarang, mengamati Changmin dan Junsu dari atas. Meskipun begitu, mereka masih mendengar percakapan kedua orang yang baru bertemu lagi itu. “Padahal di video klip terbarunya gayanya udah sok-sok dewasa. Ck ck ck. Junsu… Junsu…”

“Yaah… Namanya aja si Junsu, Hyung. Dia gak bakal berubah. Mesti kayak begitu-begitu aja.”

Changmin dan Junsu terlibat pembicaraan cukup lama. Mel memutuskan untuk mengabadikan momen indah dan membahagiakan ini dengan foto, Handini mendukungnya.

“Yang close-up, Hyung, jangan sampe berbayang,” perintah Handini.

“Iya, Min, iya,” ucap Mel seraya memfokuskan diri mengambil gambar.

Mereka melihat Junsu nampak sedang menerima telepon setelah itu, melangkah agak menjauh dari Changmin. Handini mendadak segera memanfaatkan momen untuk menghampiri Changmin, entah karena apa. “Mau ke mana, Min?” tanya Mel dan hanya dibalas jari telunjuk yang diletakkan di depan bibir oleh Handini.

Changmin menemukan bahwa Handini sedang menyamperinya. “Ada apa?” tanya Changmin.

Handini memastikan Junsu masih sibuk dengan teleponnya dan tidak menyadari keberadaannya lalu berkata pada Changmin, “Minta alamatnya,” ujar Handini.

Alamat siapa? Junsu? Aku tidak mau. Kau saja,” Changmin berlagak mahal.

Handini menampakkan seri muka jengkel. “Baiklah. Paling tidak buat hari ini berkesan. Ingat pihak SM pasti mencemaskanmu, buatlah pertemuan ini sesingkat dan sepadat mungkin,” kata Handini. “Oh, dan jangan sampai ada yang mengetahui tentang pertemuan ini. Larang Junsu menge-tweet tentang ini.”

Changmin menampilkan wajah seolah berkata ‘aku-malas-mendengarkan-ocehanmu’. Handini kesal, jelas. Namun demikian, kekesalan Handini harus dirinya tahan sendiri ketika Junsu memberikan tanda-tanda kalau ia mau menyelesaikan perbincangan di teleponnya. Begitu Junsu berbalik, Handini sudah lenyap, kembali ke atas bukit.

***

Kedua anggota DBSK ini jelas sekali kecanggungannya. Mereka masih bisa mengobrol, tentu saja, namun tidak seriang dulu. Terdengar ajakan Changmin kepada Junsu untuk makan mie di kedai dekat situ, Junsu menyetujuinya. Meski menyayangkan ajakan Changmin yang tidak jauh-jauh dari makan—Changmin ini terkenal karena kegilaannya pada pengisian perut—Handini lumayan senang karena tahu Changmin pasti sedang mencoba menghilangkan kekakuan itu.

Changmin dan Junsu berjalan sambil bersenda gurau di perjalanan itu, melegakan hati Handini dan Mel. Dan sudah sekitar lima puluh foto mungkin yang telah Mel ambil, baik yang hasilnya menampilkan objek yang jelas maupun yang hanya nampak seperti objek berbayang. Junsu, yang kurang awas, sama sekali tidak merasa ada yang mengikuti. Mel bersyukur Changmin telah tahu kalau mereka mengikutinya, kalau tidak si mata awas itu pasti sudah menyerang.

Di kedai mie, suasana makin hangat. Changmin memesan banyak mangkuk mie, meminta dibayari oleh Junsu. Junsu awalnya bertampang keberatan, namun, boleh jadi karena merasa ini pertemuan langka, dia pun mengiyakan. Mereka bercerita pengalaman, mengenang masa-masa bersama, saling meledek dan makan banyak-banyak. Mengharukan sekali, menurut Mel.

“Hyung, entar mie lu dingin, tuh,” tunjuk Handini dengan sumpitnya.

Mel pun manyun, menyalahkan Handini yang mengusik pemandangan indah yang sedang dia tonton.

“Bukan apa-apa. Ini daerahnya dingin, makan mie panas-panas lebih sedep. Lagian lu bukannya gampang kena flu? Sono, makan yang panas. Kalo gak mau juga, ya udah sini buat gua,” ujar Handini.

“Hah, iya, iya, Min.” Mel pun langsung melahap mienya.

“Eh, Junsunya pergi tuh,” beritahu Handini.

“Mana?” Mel menengok ke arah Changmin dan Junsu.

Handini berdiri, ingin berjalan ke arah Changmin.

“Mau ke mana lu, Min?” tanya Mel.

“Junsu kayaknya ke kamar mandi. Gua mau kasih tau Changmin kalo abis ini mendingan pulang aja. Takutnya nanti SM cariin dia,” Handini menjelaskan rencananya.

“Hati-hati, Min. Jangan sampe ketauan Junsu,” Mel memperingatkan.

“Hm,” jawab Handini, lantas melangkah untuk melancarkan rencananya.

***

Barangkali pertemuan singkat Changmin dan Junsu ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan dulu. Dulu mereka setiap hari bertemu, malahan tinggal sekamar. Dan mungkin pertemuan ini hanya 0,01% kedekatannya dari pertemuan-pertemuan lalu. Akan tetapi, perjumpaan ini menimbulkan kecerahan di wajah Changmin, kendati dia tetap tak mengatakan kesenangannya pada Handini dan Mel. Ucapan terima kasih pun tidak.

“Dia bilang, jangan ancam aku dengan biji semangka lagi,” kenang Changmin diiringi dengan gelak tawa. “Dasar bodoh.”

“Walau bodoh, tapi tetap saja kau senang ‘kan bertemu dengannya?” sindir Handini.

Sempat terdiam sejenak hingga mata berkilat iseng Changmin mendadak terlihat. “Tahu tidak? Junsu, setibanya dari kamar mandi di kedai mie tadi, menangkap keberadaan kalian.”

Mel syok. Handini kaget, meskipun masih mempertahankan kewajaran dari sikap kagetnya. Dia tahu, pasti ada udang di balik batu. Akan tetapi, ia mencoba mengikuti permainannya saja, mana tahu dia bicara hal benar. “Lalu?” tanya Handini.

Changmin menjawab, “Junsu bilang, ‘Lihat, Changmin, ada dua orang berbaju aneh’. Itu dia ucakkan sambil menunjuk kalian.” Dia lantas terkikik-kikik senang memperoleh wajah tersinggung Handini.

Mel yang sensitif itu malah tidak tersinggung dan malah larut dalam rasa takut bahwa rencana mereka sembunyi dari Junsu tadi itu gagal. “Lalu kau bilang apa?” Mel bertanya.

“Aku dapat menanganinya,” Changmin menampilkan mimik muka sok, “kubilang saja kalau ia juga sama anehnya dan tak perlulah dia mengurusi orang lain.” Meskipun tampangnya sok, dapat terlihat kejujuran di matanya. Sepertinya ia betul-betul bilang begitu pada Junsu.

Melihat ekspresi Mel yang bingung mau berkata apa dan Handini yang seolah-olah bertanya ‘hanya-itu-saja?’, Changmin mengubah ekspresinya lalu mendecak. “Sudahlah, saatnya pulang. Kalian juga pulang sana. Lama-lama di sini dengan baju itu nanti kalian ditangkap massa,” ujarnya sambil lalu. Si tubuh semampai itu pun beranjak pergi menuju halte bus.

“Hah? Apa-apaan? Emangnya kita maling apa?” tantang Mel pelan dan berbahasa Indonesia. Mana berani dia kencang-kencang dan memakai bahasa Korea, kepada orang macam Changmin pula.

Handini nampak seperti baru dikejutkan. “Eh, tapi bener juga, Hyung, baju kita item-item gini. Tadi pas jalan ke kedai mie kita juga diliatin. Ayo, dah, kita cepat pulang.”

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s