The Briefcase #3

the-briefcase-cover

Author : Naz & Mysti

Title : The Briefcase

Genre : Friendship

Featuring : Shim Changmin, Jung Yunho (DBSK)

Authors Note :

Well, ini salah satu proyek iseng, yang–thank goodness!–sudah jadi salah satu buku! Ini sedikit beda dari biasanya; dimana bahasa dialog yang digunakan adalah bahasa yang benar-benar dipakai sehari-hari. Dan dengan niat untuk share pada para reader, ceritanya akan ditampilkan sedikit di blog ini, a bit look like a teaser. Hope you don’t mind it.

Enjoy it. Komentar selalu ditunggu ❤

Kostum ala film Matrix, begitu Mel menyebutnya, sudah tergantung rapi setelah dikembalikan oleh jasa laundry yang dibayari oleh Yunho. Busana serba hitam itu kelihatan mentereng lagi sekarang. Handini mencermatinya; pakaian yang juga membantu Yunho menemukan mereka—selain paspor Handini tentu saja.

Dua hari sudah berlalu dari momen persetujuan di bandara itu; persetujuan perekrutan menjadi kurir informasi. Dan Yunho memang benar-benar menepati janjinya. Mengenai Mel yang berkata bahwa dia dan Handini sudah tak memiliki uang sepeser pun, Yunho benar-benar mengatasinya. Rumah sewa ini, makanan mereka, pembelian handphone baru mereka, semua telah didanai Yunho.

Handini sungguh merasa ini keajaiban yang bertubi-tubi, namun ia—yang bersemboyan tak ada yang mustahil—berpikir ini sah-sah saja. Berbeda dengan Mel yang setiap hari berkata bahwa dirinya merasa tidak enak pada Yunho, mengatakan pada Handini untuk memikirkan sekali lagi benar atau tidaknya tindakan mereka ini. Dan refleksi keskeptisan Mel itu selalu ditanggapi oleh candaan dan gurauan menenangkan oleh Handini; “Tenang, Hyung, semangat aja, setia aja.” Kontan saja, Mel langsung bersungut-sungut, mengomel sendiri; itu tak ada hubungannya. Meskipun demikian, Mel tetap setia dan semangat berada di samping Handini, melaksanakan perjanjian ini.

Mereka berdua bahkan telah meminta restu pada orang tua masing-masing di Jakarta untung memperpanjang liburan di Seoul. Setelah berdebat cukup lama di telepon, melalui handphone baru pemberian Yunho, akhirnya direstui. Untung mereka tidak ditanyai nomor siapa yang mereka pakai untuk menelepon. Barangkali orang tua mereka berpikir bahwa anak-anaknya menggunakan telepon umum. Dan lagi, untung pula Handini dan Mel tidak pernah memberitahu kalau uang mereka habis beberapa hari lalu itu. Dan tentu saja, mereka pun tidak memberitahu apa tepatnya alasan mereka memperlama liburan ini.

“Mau sampai kapan ngeliatin kostum mahal itu, Min?” tanya Mel seraya melirik, membebaskan pengamatannya dari netbook di depannya.

“Dipikir-pikir,  kostum ini mungkin yang bikin si Changmin jadi penasaran sama kita, ya?” tanya Handini sembari melipat tangannya untuk bersedekap. Kedengarannya seperti ia yang kegeeran, Mel sempat ingin meledeknya, namun Handini segera menguraikan, “Pasti dia pikir kita pasukan entah apa. Atau jangan-jangan dipikirnya kita ini anggota mafia yang disuruh seseorang untuk celakain dia.” Handini sekarang tertawa.

Mel memasang mimik muka enggan dan menghembuskan nafas penuh keluh.

“Kenapa?” Handini mengercitkan kening.

Setelah satu helaan napas lagi, Mel berujar, “Min… Min… masih aja mikir yang penuh aksi kayak begitu, ya, lu? Baru aja gua mikir lu mulai melunak ke Changmin, setelah tau dia sebenarnya masih mau DBSK berlima lagi, taunya masih aja.”

“Melunak gimana?”

“Dulu lu ‘kan suka sama dia,” Mel menghindari pelototan Handini, “nge-fans—maksudnya, sampe panggil-panggil Changmin oppa,” Mel benar-benar tak berani melihat Handini yang sepertinya ingin menerkamnya kini, “terus sekarang lu sebel sama dia dengan alasan dia yang kelihatannya gak pengen DBSK berlima. Nah, sekarang gimana?” Mel tahu Handini pasti sebal mendengar pertanyaan dia ini. Akan tetapi, dia ingin tahu hati Handini bagaimana ketika Yunho memberi tahu kalau perkiraannya soal Changmin salah—meski Yunho tidak benar-benar menerangkan bagaimana duduk persoalannya.

“Gak ada kaitannya. Lagipula sekarang yang kita urus ‘kan perjanjian kita ke Yunho untuk nyatuin DBSK lagi, udah gak ada urusan sama suka atau gaknya gua ke dia,” jawab Handini dingin.

Benar-benar keras kepala, pikir Mel. Padahal Mel tahu, Handini masih menyukai Changmin, sebagai penggemar dan sebagai perempuan.

“Ngapain ngeliatin gua pake pandangan begitu?” tantang Handini.

Mel tergegau. “Ah, enggak,” jawabnya buru-buru, “ngomong-ngomong, nanti jadi ‘kan dua orang itu ke sini?”

Handini mengangguk sekenanya seraya memanyunkan bibir. Dia mengerti yang Mel maksud adalah Yunho dan Changmin, dua superstar yang akan menyelinap diam-diam ke rumah sewa mereka; menemui keduanya. Hanya saja, topik yang baru dibahas telah membuatnya jengkel.

“Jam berapa mereka datangnya, ya?” tanya Mel, mendongak—memandangi jam dinding.

“Jam tiga, ‘kan?” jawab Handini retoris.

“Ooh. Sip dah. Ini baru jam dua lewat—

Terdengar bunyi ketukan pintu. Mel menggigit bibirnya, merasa telah salah bicara. Handini menajamkan pandangannya pada Mel.

Ketukan pintu terdengar lagi.

“Itu mereka, Min?” Mel bertanya bisik-bisik. Wajahnya ketakutan. “Katanya jam tiga tadi?”

“Gak tau. Cek, gih,” jawab Handini, tetap tenang.

“Kok jadi gua yang ngecek? Lu aja deh, Min.” Mel menempelkan kedua telapak tangannya, memosisikannya di bawah dagu, memohon.

Handini mendengus, menumpu berat badannya untuk berdiri, lantas berjalan menuju pintu. Tangannya menarik gagang pintu pintu itu untuk menyingkap pengetuknya.

            “Annyeonghaseyo.”

Itu Yunho.

            “Aish.”

Dan itu Changmin.

Sungguh suatu perbedaan besar; Yunho melebarkan senyum karismatiknya dan Changmin menunjukkan senyum kecutnya.

Selama dua hari belakangan, walaupun tidak berjumpa, mereka terus mendiskusikan bagaimana rencana ke depan mengenai kembalinya DBSK melalui telepon seluler—terima kasih kepada Yunho yang membelikan handphone baru secara cuma-cuma serta memberitahukan nomornya dan Changmin kepada Handini demi kelancaran pembahasan ini.

Tadinya Handini dan Mel sempat menolak ketika Yunho memberikan satu telepon seluler baru untuk mereka berdua, namun Yunho menjelaskan bahwa itu mempermudah komunikasi. Kebetulan sekali, handphone milik Handini dan Mel tidak dapat menggunakan fasilitas 3G—sehingga tak memiliki sinyal dan menjadi tidak berguna di sana. Oleh karena itu lah, Yunho membelikannya. Mel tadinya sempat mengusulkan untuk dibelikan SIM Card saja daripada harus dibelikan handphone baru. Tapi itu ternyata tak ada pengaruhnya. Lagipula, di sana SIM Card atau kartu seluler merupakan satu paket dengan handphone-nya. Mengganti kartu sama saja dengan mengganti handphone.

Kendati demikian, dua hari berikutnya, Yunho bilang melalui SMS bahwa maksud masing-masing kurang dapat tertangkap lewat jika dibicarakan lewat telepon seluler. Maka dari itu, mereka sepakat untuk bertemu di tempat ini.

Mengetahui itu, Mel mengisiki Handini bahwa barangkali Changmin ingin balas dendam lantas ia menyuruh Yunho untuk bertemu. Namun demikian, Handini menyepelekan kisikan Mel; menganggapnya berlebihan. Meskipun begitu, sekarang Handini agak getir, merasa kalau mungkin saja Mel benar.

***

            Di meja makan rumah sewa mereka, Handini dan Mel menyebutnya meja lesehan, duduklah berhadapan keempat orang ini. Handini dan Mel bersebelahan dan di depannya berdampingan Yunho dan Changmin. Yunho menghadap dua gadis ini, memasang wajah cerahnya. Changmin menghadap samping, bersedekap, tak mau memandang Handini atau Mel sedikitpun.

Dasar bocah, maki Handini dalam hati. Meskipun begitu, ia mengakui itu memang daya tariknya.

“Jadi, apa yang sudah kalian lakukan?” Yunho membuka suara.

Mel menganga. Dia dan Handini hanya bersantai-santai dua hari ini, tidak melakukan sesuatu yang berarti. Mendadak ditanya seperti itu oleh Yunho, jelas dia tidak bisa berkutik.

“Kami surfing di internet,” jawab Handini dengan mudahnya. Mel membelalak padanya.

Changmin menengok begitu menyimak jawaban Handini. Ia berkata sambil menunjuk Handini, “Nah, lihat. Mereka pasti tidak melakukan apa-apa. Jawabannya gamang,” ia melirik Mel dan menunjuknya juga, “ia malah panik. Changmin mendecakkan lidah berkali-kali sambil menggeleng-gelengkan kepala. Mereka pasti hanya menghabiskan uangmu, Hyung.”

“Mampus kita ketauan, Min,” Mel berbisik.

“Tenang, Hyung,” sahut Handini. Ia mencerling mantap Yunho dan Changmin lagi. “Kami…,“ dia melihat layar netbook milik Mel. Facebook dengan tulisan Hangul terpampang di sana. Free Wi-Fi di rumah sewaan mereka ini memang membahagiakan, tetapi begitu tahu semuanya bertuliskan Hangul—Mel langsung kecewa. Untung begitu log in segera berubah menjadi latin.

“Apa? Kalian apa?” Changmin bertanya, menantang, tetapi dengan ekspresi meremehkan.

Kami mencoba untuk menghubungi salah satu dari mereka bertiga lewat jejaring sosial,” tegas Handini.

“Lewat apa?” Changmin menanyakan.

“Jejaring sosial,” Mel merepetisi.

            “Bukan, maksudku, jejaring sosial apa?”

Mel mencoba menjawab lagi, “Facebook.”

“Cih,” Changmin bermuka meremehkan, “kalian yakin kalian menemukan mereka di Facebook? Mereka yang asli?”

            Handini melirik Mel tajam. Mel memasukkan bibirnya lagi ke dalam mulutnya, menampakkan wajah bodoh. “Ya, memang tidak pernah diketemukan. Tapi tak hanya Facebook, kami mencoba Twitter,” Handini meralat ucapan Mel. Sebetulnya mereka tak pernah mencoba keduanya. Sekalinya mencoba pun, mereka takkan mencoba Facebook, mereka tahu orang-orang yang mereka cari—Jaejung, Yoochun, Junsu—eksis di Twitter, atau lebih tepatnya, memberitahu alamat Twitter resmi mereka kepada publik.

            Orang-orang yang mereka cari; Jaejung, Yoochun dan Junsu adalah anggota DBSK yang lain. Kim Jaejung, wajah DBSK, anggota tertua yang memutuskan mangkir dari DBSK. Park Yoochun, pencipta lagu terterampil di DBSK juga berkeputusan demikian. Dan terakhir, Kim Junsu, si pemilik suara terkhas di DBSK pun melakukan hal yang sama. Ketiganya pergi di waktu bersamaan dengan alasan ketidakadilan manajemen mereka, SM Entertainment. Hal yang sungguh disesali para fans DBSK yang sudah terbiasa melihat keintiman kelima personilnya, Jaejung, Yunho, Yoochun, Junsu dan Changmin. Lebih-lebih, ada masalah yang belum selesai nampaknya di antar kelima member ini.

“Lalu?” tanya Changmin, sedikit menyentakkan Handini.

Handini sebenarnya telah memiliki pikiran untuk menghubungi ketiga orang itu melalui Twitter, mengingat ketiganya sering meng-update Twitter mereka; terutama Junsu.

Aku telah mengirimkan beberapa tweet kepada Junsu, dia belum membalasnya. Padahal dulu temanku pernah dibalas sekali,” jawab Handini, sebagian awal bohong, sebagiannya lagi jujur.

“Jeongmalyo?” Changmin mengubah mimik mukanya. Tampak sedikit antusiasme di dirinya, menanyakan kebenaran dari informasi itu.

Handini mengangguk, memasang tampang tanpa ekspresi.

“Kalau sudah dibalas, apa rencanamu?” tanya Yunho.

Aku berencana mempertemukan kalian dengan mereka,” jawab Handini mantap.

Changmin tersenyum meremehkan. Mel menyesali mengapa kekecutan di wajahnya itu datang kembali. Bikin bergidik lagi saja, pikir Mel.

“Aku yakin itu bisa terjadi,” Handini berkata meyakinkan, seakan-akan tahu apa yang ada di pikiran Changmin setelah melihat senyum kucingnya. “Aku pikir ada baiknya kalian bertemu kembali, harus diam-diam pastinya. Dengan begitu, keakraban kalian terjalin lagi. Dan jika itu sudah terjadi, pendiskusian kembalinya kalian berlima bisa dilakukan dengan leluasa dan tidak canggung.”

            Yunho dan Changmin terdiam, saling menatap sejenak hingga mendadak Yunho memegang tangan Handini. “Gomawo,” ucap Yunho setelah Handini buru-buru menarik tangannya.

“Aku senang kalian mau membantu. Dan aku senang kalian cukup mengenali situasi kami; ketatnya manajemen kami, penuhnya jadwal kami. Aku sebetulnya sudah lama ingin melakukan ini sendiri, hanya saja, kondisinya tidak memungkinkan.” Yunho lantas berwajah sedih.

Handini dan Mel tersenyum iba. “Tenang saja,” ucap keduanya bersamaan.

Kami akan membantu kalian,” lanjut Mel, “oh, iya, kalian belum minum, ya? Biar kuambilkan.”

Tidak perlu repot-repot,” ujar Yunho.

“Tidak apa-apa. Dia sudah biasa repot,” Handini menyunggingkan tawa, menjengkelkan Mel. Dia melihat Mel yang berdiri untuk mengambil gelas. “Es buah kaleng aja, Hyung,” Handini menyarankan.

“Sip, Min,” jawab Mel.

Yunho berdeham, membuat Handini memasang wajah ‘kenapa’ kepadanya. Wajah Yunho dan Changmin kebingungan. Kemudian Handini menebak, mungkin karena mereka tidak mengerti percakapan Mel dengan dirinya, dengan Bahasa Indonesia tadi.

            “Kalau boleh tahu, siapa nama kalian?” tanya Yunho kemudian.

            “Saya Handini, dia Mel.” Mel yang ditunjuk Handini tersenyum mengangguk kepada Yunho sembari tetap meracik dan kemudian menyajikan minumannya. Dia terpaksa kaget begitu Changmin segera mengambil segelas es buah yang baru saja ia letakkan di meja.

Mendengar jawaban Handini, Yunho kelihatan makin heran. “Oh,” ucapnya kaku, “eum… kalian perempuan, ‘kan?”

Changmin tersedak, mengagetkan satu ruangan lagi, lantas dia pun melepas tawa. Tingkahnya membuat Yunho dan Mel itu ikut tertawa juga. Namun Mel, anehnya, mengeluarkan tawa yang terpaksa.

“Kenapa kau berpikir seperti itu?” Handini, satu-satunya yang tidak tertawa, mengerutkan kening.

“Oh, bukan apa-apa. Joesonghamnida, kalau menyinggung, aku—aku hanya heran mengapa kau memanggil dia,” Yunho menunjuk Mel, mengapa kau memanggil dia ‘Hyung’? Hyung itu ‘kan panggilan untuk sesama lelaki.”

Handini membuka mulut, mengeluarkan suara seperti alfabet latin pertama yang dipanjang-panjangkan. “Itu ternyata,” imbuhnya.

Mel menggaruk-garuk kepala. “Sebenarnya, kami mengikuti kalian,” jelas Mel malu-malu, “Handini memosisikan diri sebagai Changmin, makanya dia memanggil aku—yang memosisikan diri sebagai, umm, Yoochun—dengan sebutan ‘Hyung’. Changmin ‘kan memanggil empat member DBSK yang lain dengan sebutan ‘Hyung’. Terdengar bunyi tamparan di bawah meja. Mel mengelus pahanya, Handini baru saja memukulnya. “Itu tadinya hanya buat candaan. Entah mengapa keterusan sampai saat ini,” tambah Mel.

Yunho manggut-manggut. “Lantas kau memanggil Handini dengan…”

“Min,” jawab Mel singkat, “kependekan dari Changmin.”

Kali ini Yunho menyambut dengan ‘O’ panjang. Hampir saja Mel mengira Yunho mau menyanyikan O Jung Ban Hap, salah satu lagu fantastiknya DBSK.

“Buat apa memosisikan diri sebagai kami?” Changmin bertanya dengan intonasi tinggi. Salah satu alisnya terangkat.

“Memangnya kenapa? Apa kami melanggar hukum dengan melakukan hal itu?” tanya balik Handini, dengan nada yang sama mengesalkannya seperti Changmin.

Changmin menautkan alis sedemikian rupa, menunjukkan pandangan terusik kepada pertanyaan dan sikap Handini.

Yunho mencoba untuk meredam suasana yang makin panas antara Changmin dan Handini, “Bukan, hanya saja, kami baru kali ini menemukan fans yang seperti kalian. Ya ‘kan, Changmin?” Yunho merangkul Changmin.

“Hmm,” jawab Changmin seadanya.

“Dia persis banget lu, Min. Suka jawab pake ‘Hmm… Hmm..’ gitu,” bisik Mel pada Handini. Dan tamparan keras mendarat di paha Mel lagi.

***

            Tentu saja, Handini dan Mel belum pernah mengirim tweet pada Junsu sama sekali. Mila, teman mereka, pernah dulu—hanya mengucapkan ucapan fans ‘oppa, hwaiting’ atau sejenis itu dan Junsu membalasnya dengan ucapan terima kasih yang biasa. Meskipun itu bukan sesuatu yang berarti, Handini dan Mel yakin Junsu lebih berpeluang besar untuk dihubungi dan dimasukkan di tahap awal rencana mereka.

Rencana mereka, atau mungkin lebih tepat disebut rencana Handini saja, itu mendadak. Dia baru saja membuatnya ketika ditanyai Yunho dan Changmin beberapa jam lalu. Kini kedua orang tenar itu sudah pulang, dia mulai ribut.

“Kita kirim apa ke Junsu, Hyung?” tanya Handini.

“Lah, gak tau. Tadi lu bilang gitu ke HoMin—Yunho dan Changmin, gua pikir lu udah ada ide mau kirim apaan. Malah gua kira lu emang udah kirim kayak yang lu omongin tadi,” jawab Mel polos.

“Yailah. Jelas-jelas lu tau, gua kurang minat sama Twitter. Gua gak mainan gituan. Facebook gua aja jarang dimainin.”

Mel mendengus. “Ya udah, kirim ‘oppa, hwaiting’ aja noh kayak si Mila, kali dibales.”

“Ih, males banget. Bukan perilaku gua banget manggil-manggil ‘oppa’ begitu. Lagipula gak ada kaitannya kirim tweet kayak begitu dengan rencana kita, kita ‘kan mau nemuin Junsu, atau JYJ—Jaejung, Yoochun, Junsu—ke HoMin.”

“Oh iya, ya. Masa’ iya kita mau nyuruh-nyuruh ketemu aja setelah ngasih ucapan khas fans? Junsu pasti anggep kita sambil lalu entar,” ucap Mel. Dia mengelus-elus dagunya kemudian membenamkan wajahnya ke tangkupan kedua telapak tangannya. “Ha-ah! Terus gimana, ya?”

“Apa pake ancaman aja?” Handini seperti mendapat ide.

Mel menampakkan wajahnya lagi, versi yang khawatir. “Yang bener aja, Min. Nanti kita bakal diserang Cassiopeia—nama kumpulan fans untuk DBSK—gak siap mental gua.” Mel mendekatkan kedua pundak ke leher, menggetarkan kepalanya, seperti sedang meriang.

“Bukan ancaman gimana-gimana. Bukan ancaman kematian—

“Gak ngaruh. Ancaman bentuk gimanapun, pasti Cassiopeianya marah kalau kita kasih ke Junsu.”

“Si Changmin suka ngancem Si Junsu tapi dia gak diapa-apain Cassiopeia—Ah! Kita pake nama Changmin aja!” seru Handini.

“Nanti malah Changminnya yang jadi dibenci, Min. Mana orangnya gak tau lagi. Nanti kita diserang dua pihak.”

“Kita kasih tau dulu. Bilang ke dia, ini taktik. Entar kita SMS Yunho. Nah, kalau HoMin udah setuju, kita tweet si Junsu, pake akun Twitter buatan kita, minta si Junsu nge-follow kita. Agak maksa juga gak apa, kalo pake cara ramah si Junsu gak mau. Tapi jangan munculin nama Changmin dulu. Nah, pas si Junsu udah follow, kita bisa kirim message ‘kan ke dia, di situ lah kita mulai ancamannya. Cassiopeia gak ada yang bisa lihat ancaman kita di message, ‘kan?”

“Terlalu berisiko, Min, tiap tahapnya. Dan sekalipun Junsu nanti mau follow kita, pas kita ancem dia langsung unfollow, gimana?”

Handini diam. Mel memang ada benarnya. Akan tetapi, Handini langsung menyahut, “Kita coba dulu aja. Gak bakal ada yang tahu ‘kan gimana hasilnya.”

***

            Tahap pertama, bilang pada HoMin lewat SMS. Butuh waktu satu hari hingga akhirnya Yunho memberikan kata setuju melalui media yang sama. Barangkali mereka sibuk, atau Changmin yang awalnya tidak mau kini sudah dibujuk Yunho agar mau. Yunho bahkan menambahkan beberapa model ancaman ala Changmin sebagai referensi, membuat Mel dan Handini tertawa-tawa tak menyangka.

Tahap kedua, pengiriman tweet—meminta Junsu untuk mem-follow akun @bambaiya01 yang mereka buat. Sekitar lima belas kali sehari mereka buat tweet yang sama selama tiga hari berturut-turut. Mereka tidak mengecek efek apa yang telah mereka buat. Apakah Cassiopeia di luar sana sudah heboh dengan tweet sensasional mereka atau tak ada yang membahas itu sama sekali, Handini dan Mel tidak tahu dan tidak mau tahu. Mel yang melarang untuk melihat-lihat, dia tidak siap mental kena cerca. Mereka menutup mata atas balasan pihak lain. Mereka hanya membuka mata atas balasan dari Junsu, si empunya akun @1229thexiahtic.

Tak ada balasan apa-apa. Ini sudah hari keempat dari tahap kedua. Yunho sudah berulang kali menanyakan lewat SMS. Dan keduanya menyesal harus memberikan jawaban nihil kepada Yunho. Namun, Handini dan Mel terus mengirimkan tweet sejenis pada Junsu, meski semangat mereka sudah berkurang.

“Mungkin Junsu cuma anggep angin lalu. Dikiranya kita fans iseng, Min. Dia abain tweet kita, tapi update Twitter terus,” keluh Mel.

“Sabar, Hyung, kita harus coba terus. Paling gak sampe seminggu ini. Kalo gak bisa juga, kita ganti taktik lain.”

“Taktik lain apa?” Mel menunjukkan wajah cerah penuh harapan.

“Kita coba dulu yang ini,” sambut Handini dingin, membekukan wajah Mel lagi.

“Haah… Untung aja, waktu si Yunho sama Changmin dateng kemaren si Changmin gak bales mukul kepala lu, Min. Kalo gak bisa keblenger lu,” oceh Mel.

“Gua rasa keinginannya menyatu lagi sama JYJ lebih kuat dibanding marahnya sama gua,” telaah Handini.

“Widiih… Lu udah kayak soulmate-nya aja, tau banget,” ledek Mel dan sesegera mungkin dia mendapat cubitan Handini. Sambil mengelus-elus lengannya yang perih kena cubit, Mel berkata, “Ngomong-ngomong, apa kata Mila, Dede sama Ipi begitu tau kita punya koneksi sejauh ini sama HoMin, ya? Pasti mereka heboh. Mila apa lagi, pasti pingsan.”

Handini terbahak. “Kalo gitu, kita kasih tau mereka aja, Hyung. Buat asik-asikan aja.”

“Lewat apa? Facebook?”

“Boleh. Gih, kirim. Di wall grup Sundae aja, lu yang nge-post,” usul Handini dan segera diiyakan oleh Mel. Mila, Dede dan Ipi adalah teman sepermainan mereka yang juga menyukai DBSK. Mila kecanduan Junsu, Dede terpesona Yunho dan Ipi menyukai Jaejung. Kelima gadis ini membuat grup tertutup di Facebook dengan nama Sundae untuk membicarakan kelima personil DBSK itu di dalamnya.

Mel pun bergegas mengepos di dinding grup Sundae perihal perjalanan mereka ke Seoul dan, yang lebih membuat gila, pertemuan mereka dengan HoMin. Tentu Mel tidak menceritakan dengan detail. Selain karena Mila tidak begitu suka membaca cerita panjang, pastinya akan menimbulkan huru-hara—meski anggota dari grup Sundae itu hanya lima orang. Terutama mengenai pemukulan Changmin.

“Sundae-deul… Gua sama si Mince sekarang di Seoul. Kita ketemu Yunho sama Changmin, lho.” Begitulah isi pos yang dibuat Mel. Sederhana tapi tetap berkesan berlagak.

Tak sampai dua menit, Dede sudah lebih dulu membalas pos itu. “Ketemu poster HoMin maksudnya?”

“Bukaaan…,” Mel mengetik balasan, “ketemu orangnya beneraaan…”

“Yang bener aja, ah!” balas Dede.

“Beneeer….” Mel tak pelak untuk ngotot.

“Hahaha, kalo gitu gua nitip salam dah buat my sweety Yunho,” sambut Dede.

“Liat noh, Min, si Dede malah nitip salam dia,” tunjuk Mel terhadap layar netbook-nya.

Handini yang sedang menghabiskan persediaan makanan di kulkas langsung memburu netbook Mel. “Pasti dia gak percaya, Hyung. Sekalinya percaya, paling kita dikira cuma liat sambil lewat aja,” ujar Handini sembari mengunyah.

“Iya, kali, ya. Yaudah lah biarin aja. Yang penting kita udah mengabari. Eh, Mila juga bales, tuh, katanya ‘mau dooong…’. Hahaha. Pasti dia juga beranggapan kayak si Dede. Kita dikira nonton acara musik mungkin, ya, sama mereka.”

“Bisa jadi,” sahut Handini. “Gak bakal ada yang nyangka kita ketemu HoMin kayak yang beneran kita alami di sini.”

Mel mengangguk-angguk, mengerucutkan bibirnya ke samping. Tiba-tiba bunyi celenting mengejutkannya. Ia melirik angka satu yang dilingkupi kotak merah menyembul di atas menu pemberitahuan, di layar Facebook di hadapannya. “Ada pemberitahuan baru,” ujar Mel. Ia mengkliknya dan mendapati rekannya, Ipi, yang mengomentari kiriman di dinding grup Sundae.

“Apa?” Handini ingin tahu.

Mel me-reload halaman grup itu dan dengan cepat menemukan komentar terbaru dari Ipi.

“Kalau kalian ketemu Akang Jaejung juga, titip salam, ya, dari eneng.”

Begitulah isi komentar dari sahabat mereka yang paling kalem itu.

“Pasti Ipi juga ngira kita bukan ketemu HoMin kayak yang sebenarnya kejadian di sini,” imbuh Mel sambil tersenyum datar.

“Kayaknya sih gitu.”

Mel kemudian mengetikkan sesuatu lagi.

“Mau nge-post apa lagi, Hyung?”

Mel mengklik tanda ‘post’ sebelum berkata ini, “Gua nulisin alamat kita di grup Sundae. Biar pada percaya. Ini gua lagi cari denah atau foto lokasi rumah sewa kita ini, nunjukin ke mereka.”

Handini terpingkal. “Mau norak-norakan ya, Hyung?”

“Iya dong, mumpung lagi bisa norak, nih. Entar kalo udah gak bisa lagi, gua nyesel dah,” sahut Mel.

“Sekalian aja upload poto-poto tiap sudut dan perlengkapan rumah ini, dalem dan luar,” usul Handini asal-asalan.

“Ide bagus, Min.” Mel menjentikkan jari, menyisakan tawa Handini di belakangnya.

***

            “Gak dibales-bales sama Junsu, Min,” Mel mengeluh. Tampak bibirnya makin dilengkungkan ke bawah. “Jangankan follow, reply aja gak.” Tangannya mengusap layar netbook-nya. Matanya tertuju pada halaman mention Twitter mereka yang kosong, tanpa ada balasan.

“Haaah… gimana, ya? Udah berapa tweet yang kita kirim?” Handini membuka, lantas men-scroll up dan men-scroll down halaman beranda Twitter mereka, mencermati.

“Yang jelas, banyak,” Mel sudah tampak tidak pasti apakah dia bersungut-sungut atau berbicara. “Giliran Mila aja ditanggepin tweet-nya. Haaah… Junsu… Junsu… Ckck.” Kini Mel merebahkan diri, membiarkan punggungnya menempel dengan lantai. “Kenapa gitu, ya? Kenapa Mila ditanggepin tweet-nya tapi kita enggak, ya?”

“Mungkin karena isi tweet Mila lebih menyenangkan daripada kita,” terang Handini bijak, “lebih nyata juga.”

“Emang isi tweet kita gak nyata, Min?” Mel menghadapkan bola mata hitamnya kepada Handini.

Handini terkekeh. “Kita jadi orang misterius yang nyuruh-nyuruh Junsu follow back kita. Bukan cuma gak nyata, gak normal juga itu, tau.”

Mel tersadar dan ikut tertawa. “Iya, ya. Freak juga malah.”

Keduanya lantas terdiam, membisu dalam kebingungan yang mendadak melanda masing-masing.

“Apa kita ngirim pake punya Mila?” tanya Handini.

“‘Kan gua udah bilang gitu aja, Min, dari kemarin-kemarin. Kirim aja yang kayak Mila punya tweet-nya—‘oppa, hwaiting’ gitu, kali dibales,” sahut Mel sok tahu.

“Lu gak ngerti maksud gua, Hyung? Handini mengernyitkan dahi.

“Hah? Emang apa maksud lu, Min?”

“Maksud gua, kita kirim tweet pake akun Mila,” jelas Handini.

Mel membentuk huruf O dengan bibirnya.

“Akun kita mungkin udah di-black-list Junsu, entah dia ngerti black-list ato gak—yang jelas, dia pasti udah merasa gimana gitu sama akun kita. Makanya pake akun Mila aja yang reputasinya masih bagus di mata Junsu.”

Mel manggut-manggut lalu berkata, “Sip. Ya udah, yuk, tanyain.”

Melalui pesan Facebook, Mel dan Handini meminta Mila mengasih tahu akun dan password Twitternya. Cukup lama menunggu, akhirnya Mila merespons lewat media yang sama, “Buat apaan?”

“Bales aja gini, ‘Buat ngedukung Junsu,’ gitu, Hyung,” ucap Handini sambil mengarahkan telunjuknya ke keyboard netbook, mengomandokan Mel untuk mengetik.

“Nanti dia tanya lagi, ‘Dukung apanya?’, gitu, Min.”

“Bilang aja buat polling penyanyi terbaik atau apa gitu.”

Mel meng-OK-kan dengan cepat lantas bergegas menuliskan balasannya kepada Mila.

“@Millahaesu.”

Tertulis balasan pesan dari Mila. Kata kuncinya pun dia lampirkan di bawah teks bermakna username-nya tersebut.

“Nih, username sama password-nya udah dia kasih, Min,” unjuk Mel.

Handini bergeming.

“Min.”

“Hm…”

“Gimana? Langsung log in pake akun Mila, nih?” Mel menengok ke arah Handini.

“Nanti dulu, Hyung. Dipikir-pikir, kasian juga Si Su—panggilan untuk Mila, kalo kita pake akunnya untuk rencana ini.”

“Oh, iya, nanti kita ‘kan mau ancem-ancem Junsu lewat message, ya?” Mel memastikan, “tapi kayak iya aja Junsu mau follow back akunnya Si Su.”

“Tapi, seandainya Junsu mau follow back akun Mila yang kita pake, apa iya kita tega ngancem Junsu pake akun itu?” Handini menebar pertanyaan pemastian yang lebih penting.

“Iya, ya. Gak etis, ya?” Mel beretorika. “Nanti Mila kenapa-kenapa gara-gara kita.”

“Betul,” Handini menunjukkan acungan jari telunjuk sembari membelalak, lantas bersedekap, “kasian si Su entar.”

“Terus gimana? Pake akun buatan kita itu aja? @bambaiya01?”

“Ya udah, kita pake akun itu lagi lah, Hyung.” Handini menegaskan.

***

Bangun pagi Handini disebabkan oleh gedoran pintu yang mengejutkan. Dia terlonjak dan menemukan Mel yang sedang terlelap di depan netbook-nya.

“Hyung… Hyuuung…,” Handini mengguncang-guncang bahu Mel, “ada orang, tuh.”

Dengan sempoyongan Mel bangun, menemani Handini membuka pintu. Pintu rumah sewa mereka pun dibuka untuk menyingkap wajah Yunho dan Changmin lagi. Sangat pasti, kedua gadis itu terperanjat.

Changmin malah memasang wajah yang mengejek.

Joesonghamnida,” pinta Yunho sopan, “kami mengganggu kalian pagi-pagi. Tapi kami hanya punya waktu pagi ini. Dan Changmin ingin mengatakan sesuatu.”

“Mwo?” tanya Handini, berkacak pinggang.

Bukankah seharusnya tamu itu dipersilahkan duduk dulu, ya?” Changmin mengangkat kedua alisnya lama, sambil bersedekap.

“Oh, iya, silakan masuk, silakan masuk,” Mel berujar kaku.

Setelah duduk berempat, persis seperti kemarin, Mel yang merasa dirinya berantakan segera menghindari pandangan kedua tamunya. Beberapa detik kemudian, bahkan dia sudah menyingkir ke dapur—berkilah membuatkan minuman.

Apa yang ingin dibicarakan?” tanya Handini.

“Soal rencana Twitter,” jawab Yunho. Sikutnya ia geser dan kemudian tak sengaja mengenai touch spot dari netbook yang terbuka di sampingnya, membuat lampu layarnya menyala. Yunho mendapati halaman Facebook berbahasa yang tak ia mengerti, Bahasa Indonesia, namun ada satu hal yang menarik perhatiannya.

“Kenapa dengan rencana Twitter? Ada yang salah?” Handini, yang mungkin mood paginya terganggu, menjadi agak judes dalam bertanya.

“Apa sudah ada perkembangan? Dia sudah balas?” Changmin melempar pertanyaan, tidak terlalu peduli pada wajah menyebalkan yang dipasang Handini. Hal itu membuat Handini menjadi menarik lagi serangan yang baru mau ia lontarkan.

“HA!” seru Yunho, membuat ketiga orang selain dirinya nanap. Bahkan Mel sampai-sampai ketumpahan teh panas yang sedang ia buat.

“Kenapa, Hyung?” tanya Changmin.

“Aku baca ini,” unjuk Yunho pada layar netbook, “ada namamu dan namaku, lalu aku disebut my sweety Yunho oleh seseorang.”

Melihat kegirangan Yunho, Mel dan Handini hanya saling pandang. Mereka tahu yang sedang dilihat Yunho adalah komentar Dede di grup Facebook mereka.

“Siapa dia? Yang menulis ini? Dia suka padaku, ya?” tanya Yunho, percaya diri.

Handini dan Mel hanya dapat terdiam.

“Hyung, kita harus serius,” Changmin memperingatkan.

Yunho nampak teringat lalu membetulkan posisi duduknya kembali, berdeham, kemudian bicara, “Aku dan Changmin berpikir, mungkin harus pakai kata-kata Changmin sesungguhnya agar Junsu tergerak untuk menghiraukannya. Sampai sekarang Junsu tidak membalasnya, ‘kan?”

Handini dan Mel kembali saling melemparkan pandangan, lantas serempak mengamininya.

***

            Handini bisa melihat betapa Changmin mengharapkan Junsu membalas. Dia mengetikkan banyak tweet yang berbeda-beda yang mengaitkan akun Junsu beberapa detik sekali. Dia melarang yang lain melihat, padahal percuma saja—toh nanti Handini dan Mel tetap dapat melihatnya.

Hingga dua jam kemudian, Yunho, yang sudah tiga kali melihat jam, mencolek Changmin. “Changmin, waktu kita sudah mepet.”

“Sebentar lagi, Hyung.” Changmin tak menggerakkan bola matanya sedikit pun.

“Wah, gawat, tanda-tanda dia kecanduan ini,” keluh Yunho.

“Kecanduan apa?” tanya Mel.

“Changmin itu mudah kecanduan hal-hal semacam ini. Dia suka hal-hal canggih. Begitulah,” Yunho menjelaskan seolah-olah perilaku Changmin adalah langka.

Handini melirik Changmin yang makin serius memperhatikan Twitter, bertanya-tanya dalam hati apakah dia sebegitu mudah tergoda dengan teknologi canggih.

“HA!” Tiba-tiba Changmin memekik. “Dia sudah follow akunku!”

Mel dan Handini membeliak. “Yang benar?”

“Benar! Lihat ini!” seru Changmin senang.

“Apa itu follow?” tanya Yunho. “Jejaring sosial yang lainnya?”

“Bukan,” jawab Mel canggung, “itu—

Sekarang, saatnya kirim message kepada si pandir itu,” ucap Changmin bahagia. Dia bahkan menambahkan tawa jahat konyol di belakang pernyataannya. Setelah itu pun, jemarinya mulai lincah mengetik.

“Tuh, ‘kan, dalam waktu beberapa detik saja, si Changmin sudah jenius dalam mengolah Twitter. Benar-benar hebat maknae-ku ini,” puji Yunho.

Mel berkerut kening. Dalam pikirannya, ia bertanya, sepertinya sudah dua jam Changmin mengacak-acak Twitter, kenapa Yunho bilang beberapa detik saja? Lagipula Twitter ‘kan cukup mudah. Dirinya pun melihat Handini, yang memasang tampang yang seolah berujar, ‘Terserah, deh.’

***

            Ketika Yunho dan Changmin pamit, Mel sudah geregetan untuk melihat message yang dikirimkan Changmin kepada Junsu. Dia juga ingin tahu tweet-tweet apa yang ditulis Changmin yang membuat Junsu mau mem-follow-nya. Akan tetapi, Handini meminta Mel untuk bertahan sampai Yunho dan Changmin benar-benar pergi.

“Ayo kita liat, Min,” kata Mel semangat di kala Handini menutup pintu. Keduanya bersicepat menghampiri netbook.

Handini, yang mendapat tempat di depan netbook itu terlebih dahulu. pun menghidupkannya, mengaktifkan sambungan Wi-Fi, membuka website Twitter dan me-log in dengan akun @bambaiya01.

“Liat, liat tweet terakhirnya,” ujar Mel antusias.

Handini men-scroll down halaman tersebut dan menemukan tweet terakhir yang dibuat beberapa menit sebelum menit pemberitahuan bahwa Junsu mem-follow. Mereka pun mencocokan menit pemberitahuan itu dengan membuka e-mail. Hingga kemudian, mereka menemukan tweet ajaib itu.

            “Ingat biji-biji semangka?” Handini membacai isi tweet itu. Lalu ia memandang Mel yang membalas dengan pandangan yang sama; tak mengerti.

“Coba liat pesannya, Min.”

Menu message pun diklik. Dan pesan yang baru saja dikirim kepada Junsu segera dibuka.

Handini segera membacakannya, “Heh, Mario Bros, temui aku. Apa kau tidak mau menemuiku? Kau harus mau. Kalau tidak, kusemburkan biji-biji semangka di mukamu.”

Kedua gadis ini saling melirik kemudian tenggelam dalam tawa terpingkalnya masing-masing, terguling-guling di lantai.

“Ancaman yang luarrr biasa,” Mel masih tertawa.

“Pasti Junsu tatuut,” timpal Handini.

Dan mereka terbahak kembali.

Hingga netbook yang speaker-nya selalu dinyalakan itu mengeluarkan suara. Mel gegau, terduduk, memeriksa netbook-nya. “Bunyi apaan—Hah! Ada pesan masuk, Min.”

Handini duduk dengan sigap. “Apa? Dari siapa?”

Mel buru-buru membuka pesan baru tersebut dan melongo. “Junsu,” sebutnya, penuh getaran, “ada pesan masuk dari Junsu.”

***

 

Advertisements

2 thoughts on “The Briefcase #3

  1. cloudsungie says:

    hhuuwwaa chingudeulll isi pesannya junsu apaaaaa… aaa udah kepoooo.. mau baca novelnya langsunggg TT~TT
    anw, changmin alwaysss ya jadi kulkas polos nyebelin kkkk~
    ditunggu part 4 secepatnyaaaa 😀

    • Mysti Adelliza says:

      annyeong, cloud ><
      senang liat kamu lagi XD
      isi pesannya junsu ada di chapter 4…
      wah, senangnya kalo kamu mau baca novelnya…

      hahahah… yep, as always, Changmin :))
      oke~
      ne, chap 4 segera, tunggu ya 😉
      baca yang lain aja, chingu, sembari menunggu. hehehe… 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s