The Briefcase #2

the-briefcase-cover

Author : Naz & Mysti

Title : The Briefcase

Genre : Friendship

Featuring : Shim Changmin, Jung Yunho (DBSK)

Authors Note :

Well, ini salah satu proyek iseng, yang–thank goodness!–sudah jadi salah satu buku! Ini sedikit beda dari biasanya; dimana bahasa dialog yang digunakan adalah bahasa yang benar-benar dipakai sehari-hari. Dan dengan niat untuk share pada para reader, ceritanya akan ditampilkan sedikit di blog ini, a bit look like a teaser. Hope you don’t mind it.

Enjoy it. Komentar selalu ditunggu ❤

Tubuh Changmin oleng. Koper tua itu cukup kuat menyentak kepalanya.

Changmin memaki-maki dengan bahasanya. Mel dan Handini tahu pasti itu bukan perkataan yang baik, meskipun mereka tidak terlalu mengerti apa artinya. Lagipula tubuh mereka kaku, memandangi Changmin yang hampir limbung. Keduanya mengalami syok; Mel karena tindakan yang ia pikir takkan benar-benar dilakukan Handini, sedangkan Handini karena merasa urat takutnya yang tadi sempat putus kini tersambung lagi.

“Hya!” Changmin memekik. Matanya mengerjap-ngerjap, mungkin pandangannya buram.

Handini dan Mel tersadar.

“Kabur, Min!” seru Mel mendadak. Dan ia segera turun melalui tangga.

“Hah?” Handini kebingungan. Melihat Changmin yang berusaha berdiri dengan stabil, ia yakin ia masih pusing, ia mendapati kaki Changmin yang sulit tegak. Dan, ah, dia menemukan sesuatu yang tergeletak di dekat kakinya, entah itu apa. Begitu ia ingin memastikan, Changmin menderanya lagi dengan teriakan. Handini tersentak. Ia melihat sekitar, Mel sudah tak ada. “Hyuuuung…,” ia pun mengikuti langkah Mel.

Changmin pusing bukan kepalang. Matanya berkunang-kunang. Namun ia masih bisa mendengar suara Hyung—panggilan kakak sesama laki-laki—nya, Yunho, memanggil santai. Changmin pun berteriak, mengatakan keadaannya yang buruk dengan nada yang sama sekali tidak enak didengar.

Yunho, yang tadi tidak terlalu mencurahkan perhatian pada keributan di belakangnya, sadar sesuatu telah terjadi kepada Changmin yang menjawab panggilannya dengan hardikan. Ia lantas menoleh, mendapati Changmin yang tidak dapat berdiri stabil. Yunho kemudian membawa tubuh cekatannya untuk menghampiri Changmin.

Changmin mengelak untuk segera ditolong Yunho, berteriak-teriak menyuruh Yunho memburu dua penyerbu itu. Akan tetapi, Yunho bersikeras mengutamakan untuk menolong Changmin. Selain karena tak ingin orang-orang mengetahui soal ini, dan mungkin akan menimbulkan huru-hara, ia juga tidak tega melihat Changmin yang kesakitan. Tangannya melingkarkan lengan Changmin di lehernya. Changmin akhirnya menurut. Walaupun biasanya ia menolak untuk diperlakukan seperti orang lemah, kali ini tidak. Mungkin kepalanya benar-benar nyeri.

***

            Terbelalak, itu yang masih dilakukan oleh Mel. Dia sudah melakukan hal itu sekitar satu setengah jam. Raut wajahnya menunjukkan kalau ia baru saja terkena hipnotis; melongo. Di sepanjang pengambilan barang-barang mereka yang dititipkan di loker guesthouse, pelaksanaan check out, bahkan perjalanan taksi mereka menuju bandara Incheon, Mel seperti orang yang otaknya diistirahatkan sementara.

“Mau sampai kapan bengong begitu, Hyung?” tanya Handini sembari mengunyah roti rasa kopinya. Begitu sampai di bandara Internasional Korea Selatan yang megah itu, Handini malah mengajak Mel untuk jajan di kedai roti bandara. Katanya sebagai pembunuh waktu menunggu keberangkatan pesawat mereka. Kini hasil belanjaan, roti-roti itu, sudah dibawa oleh mereka ke ruang tunggu, tempat mereka duduk.

“…”

“Hyung,” panggil Handini lagi.

Mel masih seperti nampak seperti kena bius.

“He, Hyung.” Kali ini Handini  menyenggol pundak Mel dengan pundaknya.

Mel tersentak. Otaknya aktif kembali. Dia menengok kepada Handini lantas berteriak, “Apa yang udah kita lakuin, Min?!” Rambut pendek lurusnya diacak-acak sendiri. Mulutnya komat-kamit berkata seperti kata astaga berulang-ulang.

Handini terbahak-bahak. “Kenapa baru panik sekarang?”

“Gak. Gua tadi lagi menyelami apa sekarang gua di dunia nyata atau alam bawah sadar—

“Ini nyata,” potong Handini lalu mengigit rotinya lagi.

“Iya, gua tau, suara mbak-mbak di pengeras suara itu yang bikin gua sadar,” Mel merujuk suara pemberitahuan bandara yang kini terdengar.

“Perasaan tadi lu kesadar gara-gara gua senggol,” Handini terus menyantap roti bulat itu.

“Kekaget ya, karena senggolan lu. Tapi kalo kesadar ini nyata, kesadar atas apa yang baru kita lakuin—tindakan brutal kita tadi, adalah karena suara merdu mbak-mbak ini.”

“Gak ada kaitannya,” Handini memutar bola matanya sembari menggeleng, “Lagipula yang bertindak brutal, pukul kepala si Changmin, itu ‘kan gua. Kenapa lu yang risau?”

“Masalahnya, kita gak pake penutup muka apa-apa. Atau paling gak penyamaran apa kek yang bisa melindungi identitas kita,” Mel berucap gelisah.

“Hah elah. Heboh banget sih, lu, Hyung. Emang apa yang bisa diperbuat—

“Apa yang bisa diperbuat? Banyak, Min. Gimana kalo manajemen DBSK nuntut kita atas penyerangan tadi? Bakal banyak pihak yang terlibat. Polisi sini, polisi Indonesia, Interpol, detektif, tukang pukul daerah setempat—

“Haaah… Lu kebanyakan nonton film action, Hyung. Gak bakal gitu lah,” ujar Handini santai, membiarkan Mel menatapnya dengan wajah khawatir. Sebetulnya Handini juga cemas. Tidak manusiawi jika tidak cemas apabila berada dalam kondisi semacam ini, hanya saja ia memang terbiasa menutupi dengan sikap sok tenang. Bermain cantik, itu istilahnya. Di dalam hatinya, Handini was-was dan berdoa semoga kepulangan mereka ke Jakarta lancar-lancar saja. Lebih-lebih, ia berharap peristiwa ini tidak pernah terbit di media mana pun.

“Ngomong-ngomong, suara mbak-mbaknya merdu, ya?” ucap Mel.

Handini hanya menampilkan cengiran miring pada ucapan tidak penting Mel itu. Namun demikian, hal itu membangun kesigapannya ketika rupanya namanya disebutkan oleh bagian pusat informasi itu. “Lu denger gak, Hyung?”

“Apa?”

“Nama gua disebut. Coba, coba didengerin lagi.”

Keduanya menghayati pemberitahuan pusat informasi yang membahana ke seluruh penjuru bandara itu sekarang. Dan, memang iya, nama Handini secara lengkap disebutkan sekali lagi, dinyatakan sebagai pemilik paspor yang diketemukan oleh seseorang. Mata keduanya bertemu sekarang.

“Paspor lu ilang, Min?”

Handini, yang makanannya sudah habis itu, berwajah panik. Dia mulai mengobrak-abrik barang-barang bawaannya, mengecek kantung baju dan celananya. Begitu terus berulang tiga kali. “Iya, ilang, Hyung,” Handini memelas.

“Ya udah, ayo kita ke pusat informasi itu.”

Dengan mudah mereka menemukan pusat informasi bandara internasional Incheon. Di sana telah ada petugas wanita yang ramah menyambut mereka dan menginformasikan kalau tadi ada seorang pria yang menemukan paspor Handini. Mereka berdua diminta untuk menunggu sebentar.

Sambil menenggerkan sikut mereka di konter marmer milik pusat informasi itu, menyandarkan punggung mereka ke sana, keduanya menunggu. Bicara ngalor-ngidul, kebiasaan mereka itu pun, dilakukan.

Hingga sesuatu mengusik Mel. Sudut pandang matanya mendapat sesuatu. “Eh, Min, lu liat orang itu, deh,” Mel menunjuk ke arah samping kanan dengan mulutnya, “kok kayaknya ngeliatin kita terus dari tadi, ya?”

Handini melihat ke arah yang ditunjuk Mel. Ada seorang pria bertopi, berjaket hitam dan bercelana jeans. Topinya sengaja ditekan terlalu masuk menutupi kepalanya sehingga matanya agak tak nampak. Ketika Handini melihatnya, pria itu mengalihkan pandangan. Handini berpura-pura menghadap tempat lain, lantas mendadak melihat pria itu lagi. Dan pria itu tertangkap sedang mengamati mereka!

“Umm… Bukannya kegeeran, ya, Hyung, tapi…”

“Tapi apa?” Mel nampak takut. “Tapi gua bener? Dia ngeliatin kita?”

“Iya, Hyung, mending kita pergi, deh, yuk,” ajak Handini dengan gigi terkatup. “Pergi ke mana kek gitu.”

“Ke toilet cewek aja. Dia gak bakal bisa masuk, ‘kan?” Mel bicara cepat-cepat. Tangannya memegangi lengan Handini. Tubuhnya membelakangi pandangan pria itu.

Handini melotot.

“Kenapa, Min? Kok lu gak bergerak?” Mel makin berekspresi ngeri.

“Orangnya ke sini, Hyung.”

“Ap—

“Silyehamnida,” pria itu berujar permisi.

“Ne,” jawab Handini dan Mel serempak, menghadap pria itu. Terdapat getaran di sahutan Mel.

Pria itu lantas menunjukkan buku paspor berwarna hijau tua di hadapan muka keduanya. Handini bengong.

“Itu paspor lu ya, Min?” Mel mengitarkan pandangan pada Handini lantas pada paspor itu. Dia kebingungan mengapa Handini harus terbengong dan bukannya langsung mengambil paspor dan mengucapkan terima kasih pada pria itu.

“U-know Yunho?” Handini mengucap tanya.

Pria itu tersenyum tipis, kemudian menempelkan satu telunjuknya di depan bibirnya.

***

            Di luar dugaan, Yunho bukan mencoba menggugat Handini dan Mel atas tindakan mereka. Dia, dengan bahasa Korea yang sopan, justru bertanya alasan mengapa keduanya melakukan hal itu kepada Changmin.

Handini jelas tidak mungkin langsung memberi tahu Yunho kalau itu awalnya hanya rencana bodoh dia dan Mel lantas berubah menjadi tindakan spontan yang ia lakukan begitu menemui Changmin yang asli. Ia melirik Mel yang bermuka seperti baru saja kerasukan. Handini tahu sahabatnya itu masih dilanda keterkejutan. Pasti pertemuan langsung dengan Yunho adalah hal terakhir yang ada di pikirannya setelah kejadian pemukulan itu terjadi.

“Mengapa kalian melakukan hal itu?” tanya Yunho lagi.

Mel melirik Handini.

“Kenapa kau sampai mendatangi kami segala?” Handini balik bertanya. Bahasa Koreanya sangat mumpuni.

Yunho memasang ekspresi kaget lantas bersegera kembali menguasai diri. “Sebenarnya Changmin yang memaksaku untuk ini,” jawabnya.

Mel menganga.

“Dia itu… Aaah… Sebetulnya aku malas mengatakan ini, tetapi—

Handini dan Mel memandang Yunho bingung.

“Lupakan saja,” ucap Yunho. Senyum santun ia lontarkan.

“Dia menjadi emosional secara gila-gilaan setelah DBSK berpisah, ya?”  Handini menebak-nebak, lagi-lagi dengan ucapan dan bahasa yang patut diacungi jempol.

Yunho memperbesar pupil matanya. “Kau tahu kalau kami—

            “Kalau kalian DBSK? Tentu saja kami tahu,” sela Mel.

Handini menyikut pinggang Mel, menimbulkan keluhan heboh dari si rambut pendek—bondol itu.

Gigi-gigi putih ditampilkan Yunho, nampak seperti senyum berterima kasih. Dia kemudian mencerling wajah Handini dan Mel satu persatu. “Maksudku,” ia memperjelas, “kalian tahu kalau kami masih bergelut dengan konflik itu?”

            “Pastinya. Kami adalah fans kalian sejak tahun 2005,” Mel menjawab semena-mena.

“Tepatnya, kami selalu mengikuti perkembangan kalian,” Handini memperbaiki jawaban Mel, plus mengeluh, “dan itu melelahkan, mengapa kalian harus segala terbagi? Harusnya kalian berlima lagi.”

Yunho tersimpul. “Terima kasih atas atensi kalian. Kalian sungguh baik.” Ia menggaruk-garuk kepala bagian belakangnya yang tertutup topi.

“Ne,” jawab Mel, “byeolmalsseumeulyo.”

            Handini berkerenyit kening, menekuk muka. “Kenapa jawab ‘sama-sama’, Hyung?” tanya Handini dan hanya mendapat gelengan grogi Mel. Oleh sebab itu pun, Yunho tertawa. Handini memandang Yunho lagi lantas bertanya, “Tadi kau bertanya mengapa kami melakukan itu, pemukulan itu?”

Yunho mengubah mimik muka menjadi serius. “Changmin yang memaksaku untuk menanyakan. Kau tahu, ini memang aneh dan cukup memalukan—

“Memalukan dirinya sendiri, maksudnya kali, ya, Min,” bisik Mel.

            “—akan tetapi, kau benar, belakangan ini dia memang cepat marah. Hal kecil bisa menjadi hal besar. Haah… Dia itu.” Yunho menghela napas berat.

            “Kenapa kau sampai-sampai melakukan ini? Sendirian pula. Bukannya bisa menyuruh orang kalau hanya untuk melabrak saja, ‘kan?” tukas Handini, bercampur sinisme sedikit.

            “Oh, tidak, tidak. Jangan salah sangka. Aku tidak mau melabrak kalian.” Kedua tangannya mengisyaratkan penyanggahan. “Aku hanya ingin menanyakan alasan mengapa kalian melakukan penyerangan itu,terang Yunho.

“Berkat suruhan Changmin, ‘kan?” tanya Handini.

Yunho menganggukkan kepala.

“Jadi, kau menurut kepadanya?” tanya Handini. Ia lantas tertawa garing.

“Aku hanya tak bisa menolak permintaannya. Aku tak ingin dia marah. Aku ingin menjaga mood-nya. Mood-nya susah stabil belakangan ini,” jawab Yunho tenang.

Ketiganya diam. Larut dalam pikirannya masing-masing.

“Jadi, apa alasan kalian?” Yunho menuai pertanyaan yang sama.

“Tuh, Min, kasih tau, dah. Yunho mana udah sopan dan baik banget ngomongnya dari tadi,” Mel mengisiki lagi.

Senyum sungging tertera tipis di wajah Handini. “Aku melakukannya demi meluruskan jalan pikirannya lagi,” Handini menyahut.

“Meluruskan jalan pikirannya?” Yunho berkerut dahi.

“Ne,” tegas Handini, “dia ‘kan, yang tidak berkeinginan DBSK kembali berlima?”

“Ah, bukan. Bukan begitu,” Yunho kembali mengeluarkan tangan-tangannya yang menyangkal. “Sebenarnya bukan begitu.”

            “Lalu?” Handini dan Mel bersamaan bertanya.

***

            Mel berpikir secara berlebihan ketika itu. Ia mengerutkan keningnya, menautkan alisnya, mengerucutkan bibirnya, benar-benar seperti memikirkan persoalan hidup-mati. Dia merupakan satu-satunya penumpang di taksi itu yang berwajah demikian, sebab Handini tetap bermimik muka santai. Taksi silver itu membawa mereka terus melaju dengan kecepatan stabil. Keheningan merayapi suasana di dalamnya.

Ada alasan mengapa Mel bertingkah seperti itu. Pertama, ya, perjumpaan dengan Yunho. Pemukulan Changmin yang dilakukan Handini sebetulnya sudah cukup membuatnya syok. Dan didatangi oleh Yunho adalah hal yang lebih tak pernah terpikir olehnya. Kedua, alih-alih memperkarakan penyerangan itu, Yunho malah beramah-tamah dengan mereka. Oh, tentu saja, dengan maksud menanyakan penyebab pemukulan, keramah-tamahan Yunho itu. Meskipun begitu, hal itu juga kurang dapat diterima oleh akal Mel. Dia tidak akan berbuat hal yang sama jika menjadi Yunho. Dan terakhir, yang paling menakjubkan, Yunho bahkan membantu mengurus perpanjangan trip mereka di Seoul; mencarikan rumah sewa untuk mereka.

Kembali Mel mengingat percakapan terakhir yang membuat keganjilan ini terjadi.

“Aku tidak bisa menjelaskannya,” Yunho berkata.

Handini dan Mel saling memandang. Mereka kini berpikir memang mereka tidak punya hak untuk menanya-nanyakan lebih jauh soal pribadi macam itu, meskipun mereka sangat ingin tahu.

Joesonghamnida,” ucap Mel, “kami terlalu banyak mengorek-ngorek masalah itu, ya?”

            “Walaupun begitu, kembalinya kalian berlima adalah hal yang sangat kami harapkan. Joesonghamnida, kalau aku bertindak di luar batas, pukul kepalanya si maknae itu, hanya saja, aku—aku pikir ini mungkin bisa setidaknya mengingatkannya.” Handini sedikit menunduk, berwajah menyesal. “Bicara kadang tidak cukup, tindakan biasanya lebih mengena.”

            Mel mengawasi air muka rekannya. Pasti dia sedang akting, pikir Mel.

“Umm, kalau begitu, kalian mau membantu kami?” Yunho mendadak menawarkan sesuatu yang tak terkira.

“Bantu apa?” Handini mendongak.

“Menyatukan kami lagi,” Yunho berujar riang.

“Kami berdua? Membantu kalian?” Mel bertanya seolah-olah ia sedang ditawarkan tugas untuk mengawal presiden.

“Ne,” jawab Yunho, “tak pernah ada fans yang bertindak aktual seperti ini. Kupikir kalian mungkin bisa membantu kami. Paling tidak, sebagai pengantar pesan.”

            “Ta-tapi… Kami harus ke Jakarta siang ini. Tiket kami tiket pulang pergi. Dan kami tidak punya uang lagi,” Mel berjujur ria. Handini menyikut pinggangnya.

Yunho tercengir. “Soal itu, aku yang urus. Bagaimana? Kalian terima tawaranku?”

            Mel terkesiap. Handini baru saja menepuk bahunya. Dan dia menjadi tersadar dari lamunan pembicaraan terakhir dengan Yunho yang mengawali perjalanan taksi mereka ini.

“Udah sampe, Hyung. Bengong mulu lu,” ucap Handini.

Mata Mel mendapati rentetan rumah-rumah kecil yang tersusun rapi. Atapnya segitiga dan berdinding putih. Ini merupakan rumah-rumah sewaan dekat jalan Hongdae, begitu kalau tidak salah ia dengar dari Yunho di bandara  tadi.

“Kita harus nemuin pemiliknya dulu. Kata Yunho, rumah gede di ujung itu rumah pemiliknya. Yuk, kita ke sana, Hyung,” ajak Handini ceria.

Mel sebetulnya bingung mengapa dia seceria itu. Dia tahu Handini memang mudah sekali berubah mood. Tadi kesal sekarang ceria. Akan tetapi, ini masalah serius dan, menurut Mel, terlalu tergesa-gesa untuk mengiyakan masalah seserius ini. “Min, lu yakin kita bisa lakuin ini?” Mel akhirnya mengeluarkan pikirannya.

Di balik rambut keriting menggantungnya, wajah Handini nampak yakin. “Ya, kita pasti bisa, Hyung,” jawabnya pasti.

***

Advertisements

2 thoughts on “The Briefcase #2

  1. HyunJae says:

    Annyeong eonni… Aku dah beli loh novelnya, begitu liat covernya homin lgsung aku ambil. bagus deh. Berharap dbsk bisa comeback b5 lg,, bikin kek gt lagi eonni…

    • Mysti Adelliza says:

      annyeong, chingu 😀
      WELCOME ^__^
      wah, asyiik~ gomawo udah beli, chingu #bow
      gomawo juga apresiasinya ^^

      ne, chingu, hope so. AKTF aja, ne~ 😀

      buat kayak gini lagi? nanti dipikirin dulu, ya, chingu. hehehe. makasih sekali lagi 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s