The Briefcase #1

the-briefcase-cover

Author : Naz & Mysti

Title : The Briefcase

Genre : Friendship

Featuring : Shim Changmin, Jung Yunho (DBSK)

Authors Note :

Well, ini salah satu proyek iseng, yang–thank goodness!–sudah jadi salah satu buku! Ini sedikit beda dari biasanya; dimana bahasa dialog yang digunakan adalah bahasa yang benar-benar dipakai sehari-hari. Dan dengan niat untuk share pada para reader, ceritanya akan ditampilkan sedikit di blog ini, a bit look like a teaser. Hope you don’t mind it.

Enjoy it. Komentar selalu ditunggu ❤

Handini melihat Mel yang memasuki kamar Guesthouse mereka dengan busana serbahitam. Matanya memerhatikan penampilan Mel dari atas hingga bawah. Sahabatnya itu membiarkan rambut pendeknya begitu saja, seperti biasanya. Yang berbeda padanya adalah pengenaan jaket kulit feminim, kaos bertuliskan Hangul—yang diiringin tulisan Inggris ‘The Fool’, celana pensil kelonggaran; semuanya berwarna hitam. Mel terlihat begitu kontras dengan wallpaper kamar yang berwarna merah muda dan bercorak bunga.

“How do I look?” tanya Mel, sok asyik.

“Fool,” jawab Handini.

“Hah? Masa’ udah keren-keren begini kelihatannya fool (baca: bodoh)?” Mel meregangkan jemarinya, menaik-turunkan telapak tangannya, menetar kepada pakaiannya sendiri.

Handini memutar bola mata. “Gak, gua cuma baca tulisan di kaos lu. Oh, ya, kamar mandinya gak ada yang pake?”

Mel mengangkat bahu. “Tadi sih terakhir gua tinggalin kamar mandinya masih kosong.”

“Ya iya lah pas lu tinggalin kosong, masa’ ada orangnya? Berarti lu mandi gak sendiri, dong?” ledek Handini.

“Hiii… serem bangat omongan lu. Maksud gua, setelah gua selesai pake kamar mandinya, gak ada lagi orang yang masuk tadi,” jelas Mel.

Handini sebenarnya sudah mengerti maksudnya dari awal. Hanya senang saja menggodanya. Ia lantas berpikir untuk segera mandi sebelum kamar mandinya digunakan orang lain. Begitulah kalau menginap di guesthouse yang murah itu, harus berbagi kamar mandi dengan tamu lain, pikirnya. Akan tetapi, Windroad & Flower Guesthouse yang terletak Jongno-gu ini, tidak buruk juga. Kamar single dengan tempat tidur tingkat yang mereka tempati cukup nyaman, belum lagi pemandangan kebun kecil di lobi yang bersuasana akrab bisa terlihat dari kamar mereka.

Sembari mengambil handuk dan peralatan mandi, ia melirik Mel sekali lagi. “Hyung, lu beneran yakin kita beraksi pake baju mahal kita hari ini?” tanya Handini. Hari ini hari kepulangan mereka kembali ke Jakarta. Backpacking ke Seoul selama tiga hari sudah cukup menguras uang. Orang tua mereka juga sudah mengkhawatirkan mereka, mengingatkan untuk hati-hati dalam segalanya—begitu pula pemakaian uang.

“Iya, dong, Min, kita sok-sok belanja di Apgujong dan Cheongdam-dong sampai-sampai dompet kita kering, masa’ hasil belanjaan kita gak kita pake pas balik ke Jakarta?” Mel kemudian terbahak-bahak sambil mematut dirinya di depan cermin.

“Ha ha ha, padahal gak ada yang tahu kita nginap di guesthouse berkamar personal termurah di Seoul,” timpal Handini. Ia juga mengambil baju yang kemarin dia beli di butik ternama di Apgujong; jas panjang hitam, celana jeans ketat hitam keabuan dan kaos berpola papan catur. Agaknya dia tak mau terlihat terlalu suram karena serbahitam seperti Mel.

Sekitar lima menit, Handini telah kembali dari kegiatan menghigieniskan dirinya itu. Badannya menjadi lebih segar sekarang. Ia menemukan Mel sedang tidur-tiduran di kasur bawah tempat tidur tingkat mereka. Lagi-lagi dirinya terlihat bertentangan dengan seprei kasur yang berwarna putih itu.

“Lu masih ngantuk, Hyung?” tanya Handini sambil mengelap rambutnya dengan handuk.

“Enggak. Cuman lagi nginget-nginget dulu kita ngarep banget ke Korea buat ketemu DBSK. Sekiranya sekarang udah beneran di Korea, kita gak bisa ketemu mereka,” kata Mel muram.

Handini duduk di kursi kayu berukir di depan sebuah meja, memandang Mel datar.

“Yaah… meski sebenernya masih bisa sih ketemu mereka, tapi gak bakal langsung ketemu lima-limanya dalam satu kesempatan,” dan Mel makin bermuram durja.

Cukup lama ia duduk, bengong—meresapi ucapan Mel, mendadak Handini memetik jari. “Kita bikin jadi kenyataan aja, Hyung.”

“Apanya?” Mel menoleh.

“Ketemu mereka,” jawab Handini antusias.

“Tapi gimana caranya? Sekalipun bisa ketemu, mereka udah gak berlima lagi.”

“Ckck. Ini nih yang gua sebelin. Semangat yang menurun. Kita harus punya harapan, dong, Hyung.”

“Iya, tapi ‘kan lu denger sendiri kalo Changmin oppa lu—

“Jangan sebut sebutan itu. Bikin gua emosi aja.”

Mel nyengir. “Iya, iya. ‘Kan dia, Changmin, yang bilang kalau dia kesal sama perpisahan ini, khawatir juga, sih. JYJ juga bilang gak akan balik—haah… gua males ngomongin ini.”

“Gak usah dengerin apa yang mereka omongin setelah momen perpisahan itu, Hyung. Mereka berlima lagi emosi, itu aja, makanya ngomongnya begitu. Apa lagi si paling kecil itu,” ujar Handini, merujuk pada Changmin.

Mel mengerjap-ngerjap, bermuka melas, seolah-olah dia terlibat jauh dalam permasalahan ini. Mungkin dia tidak tahu duduk letak persoalan sebenarnya, namun akibat dari persoalan itu yang paling menyakitkan hatinya. Dia padahal hanya penggemar, memang.

Sementara Handini sibuk memikirkan ucapan yang dikutip Mel tadi. Dia kesal dan khawatir, katanya—apa-apaan, pikirnya. Lantas mengapa dia bisa main banyak drama sesenang hatinya? Bersikap petantang-petenteng seperti dia biasanya pula. Cih.

“Hah!” Handini bangkit dan mengepalkan tangan. “Gua jadi pengen getok kepalanya beneran!”

Mel menengadah, mencermati Handini. “Siapa? Changmin?”

“Ya!”

Terpingkal, Mel memegangi perutnya sendiri. “Jadi rencana lu buat getok kepalanya Changmin pake koper masih belum ilang juga?” tanya Mel sembari kesusahan menahan tawanya.

Setelah sukses menguasai dirinya, ia terduduk. “Itu ‘kan ide spontan gua, Min. Gua mikirnya waktu itu tujuan kita ke Korea emang langsung mau itu. Jadi kita kucuk-kucuk datengin SM dari bandara, pas banget ketemu Changmin, dan lu yang lagi bawa koper getok dia, terus kita pulang, deh. Sumpah, tapi ide termustahil yang pernah ada.”

Handini  menampilkan wajah terusik dengan pertanyaan Mel barusan. “Lu meragukan gua, Hyung?”

Mel masih dalam keadaan terkikik. “Hahaha. Gua gak meragukan lu. Gua tau lu serius mau getok kepalanya, tapi terlalu banyak keganjilan yang ngehalangin perwujudan rencana itu, Min. Gak mungkin bisa lah.”

“Oke, hari ini kita ke SM!” tegas Handini.

Masih tidak menganggap sahabatnya serius, Mel masih tersimpul seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Gua serius, Hyung.”

***

            “Sonnim, da wasseumnida,” ujar supir taksi, menandakan Handini dan Mel sudah tiba.

Mel mengedarkan pandangan ke luar jendela taksi abu-abu itu. Ia menemukan sebuah gedung persegi empat lantai yang bercat krem gading. Itu gedung kantor SM entertainment, atau SM Village Office, begitu yang disebutkan oleh data yang mereka cari di internet.

Ne, gamsahamnida,” Handini memalingkan penglihatan dari gedung itu ke wajah supir taksi, “Yeogeumi eolmajiyo?”

“Icheon sabaeksipgu, Sonnim,” jawab si supir taksi seraya menunjuk angka 2429 di argo.

Handini segera membayar sejumlah won sesuai tarif yang tertera setelah berkata, “Ne, algesseumnida.”

Mereka berdua menghabiskan waktu senggang mereka sejak kelas satu SMA hingga sekarang—di kala kuliah mereka yang hampir selesai untuk mempelajari konversasi Korea memang. Waktu kelas dua SMA sebenarnya mereka pernah mengikuti kursus Bahasa Korea secara formal di tempat kursus, hanya saja, belajar formal itu hanya bertahan tiga bulan. Mereka lebih menyenangi belajar otodidak. Sekarang, mereka merasakan manfaat dari belajar otodidak itu. Walaupun, bagaimanapun juga, tak bisa dielakkan, dasar-dasar pelajaran dari kursus Bahasa Korea itu juga membantu mereka.

Kini keduanya menjejakkan kaki di jalanan beraspal itu. Koper tua berwarna cokelat mahoni milik Handini ikut mendarat pula. Taksi silver itu telah melaju pergi.

“Ini dia, SM Entertainment,” Mel berucap dramatis seraya menengadah, memerhatikan kantor itu, berlagak merasai semilir angin pagi Seoul. “Sekarang apa?” tanya Mel kemudian.

“Masuk,” jawab Handini kontan.

“Emang yakin artis-artisnya pada ada di sini?” Mel mulai menunjukkan seri muka takut. Sebetulnya ketakutan itu sudah ia coba simpan beberapa saat lalu, namun kini sudah sangat parah, tak bisa dibendung lagi.

“Kalo gak dicoba, mana tahu. Ayo!” ajak Handini.

“Um… tapi…”

“Lu bilang lu pengen liat Shindong, anak lu itu,” Handini berkacak pinggang, mengerling Mel. “Kali bisa ketemu, Hyung. Gua juga pengen liat abang gua, si Donghae.”

Keduanya memang memiliki anggapan khusus pada kedua anggota Super Junior itu, Shindong dan Donghae. Mel menganggap Shindong adalah anaknya, sedangkan Handini menganggap Donghae adalah kakak laki-lakinya. Alasannya sederhana. Karena, kedua anggota Super Junior itu, mereka menimbulkan rasa simpatik kekeluargaan bagi Handini dan Mel. Khusus untuk Mel, ditambah alasan bahwa Shindong sangat lucu dan menggemaskan.

Super Junior, boyband beranggotakan banyak orang yang juga satu naungan manajemen dengan DBSK itu, diyakini mereka juga sedang ada di tempat ini.

Melangkah serempak, mereka menuju pintu masuk lobi kantor SM Entertainment. Jika keduanya memakai kacamata hitam, mungkin mereka sudah dikira sedang syuting film Matrix, atau lebih tepatnya—parodi film itu. Mel pasti akan bernafsu untuk memerankan Neo, kalau itu benar terjadi; dia suka sekali kepada Keanu Reeves.

Mereka menemui lobi simpel namun mewah milik SM. Semua tempat dilapisi pualam putih gading yang indah kecuali meja resepsionis yang dilekati marmer hitam dan dinding kaca di sebelah resepsionis berdiri. Mel menunjuk-nunjuk tempat itu, mengisyaratkan agar bertanya saja. Kendati demikian, Handini memutuskan untuk menggiring Mel menjauhi tempat itu dan memasuki area lain.

“Annyeonghaseyo,” ucap seseorang di belakang mereka.

Menengok, mereka pun menemukan seorang sekuriti berseragam. Tidak menduga ini, mereka pun melemparkan senyuman hambar kepadanya.

“Mueoseul dowa deurilkkayo?” tanya bagian keamanan itu.

“Eum… dia nanya dia bisa bantu kita apa, ‘kan, Min?” bisik Mel.

Handini diam, hanya memberikan respon kedipan mata kepada Mel kalau pertanyaan pemastian tadi tepat, lantas  berbicara kepada satpam itu kalau mereka berdua adalah sekadar pengunjung. Ketika sang satpam ingin menanyai lebih lanjut, bagian resepsionis memanggilnya sehingga beliau menengok. Handini bersicepat menarik tangan Mel agar mereka menjauh dari situ. Entah ada yang melihat mereka atau tidak. Sepenglihatan Handini tadi ada beberapa sekuriti menjagai pintu masuk lobi, mudah-mudahan mata mereka kurang awas.

Sekarang mereka sudah ada di depan lift. Beberapa pekerja, nampaknya, yang berbusana formal mengantre di depannya. Demi menghindar dari kecurigaan, keduanya memutuskan untuk menaiki tangga saja. Bagaimanapun, mereka telah beredar di sebuah kantor tanpa tanda pengenal.

“Setahu gua, ini ilegal, Min,” ucap Mel. Kepalanya tak berhenti bercelingak-celinguk.

“Gak usah ngasih tau gua, Hyung,” timpal Handini. Ia agak emosional. Mungkin karena menahan kepanikan atau karena tak tahan membawa koper tua miliknya. Sebenarnya sudah kosong, koper itu. Tas lain yang berisi baju mereka dan tetek-bengek bawaan masih dititipkan di loker guesthouse. Hanya saja, koper itu memang berat meski tanpa isi.

Mereka sudah di lantai dua sekarang. Ada sekuriti pula rupanya. Segera mereka berbelok ke sebuah lorong lantas mendapati beberapa pintu berwarna dasar putih dengan corak bintang pink.

“Ini tempat ganti baju kali, ya, Min?” tanya Mel pelan-pelan.

“Mungkin,” Handini menjawab. Ia memperhatikan tulisan di bagian bawah pintu. “Star…t?”

“Mungkin ngambil dari kata ‘Star’ terus digabung sama huruf ‘t’ jadi ‘Start’. Bintang dimulai? Eh, memulai jadi bintang?”

“Gak tau, dah.” Handini mengerutkan keningnya. Hingga mendadak ia mendengar bunyi pintu terbuka. Buru-buru ia mendorong Mel supaya mereka dapat bersembunyi di balik meja kosong—mungkin tempat resepsionis di lantai itu.

Terdengar suara seorang pria, hanya berdeham. Handini dan Mel dapat menyaksikan pria yang rupanya memakai setelan jas dan setengah baya itu berlalu, menuruni tangga yang berjarak jauh dari mereka itu. Ketika Mel ingin berdiri, keluar dari persembunyian, bunyi pintu terbuka lagi. Ia mengumpet kembali. Untung saja, tak ada orang yang melintasi  tempat mereka sembunyi sesudah itu.

“Makanya jangan main berdiri-diri aja, Hyung. Liat situasi dulu,” Handini menasehati, menjadikan Mel bersungut-sungut.

Seperti membaca catatan pengingat, sekonyong-konyong Mel membelalakkan mata, tersadar sesuatu, “Sebentar dulu, Min, kita mau sampai kapan ngumpet begini? Tujuan kita apa sebenarnya?”

“Ckck. Masa’ musti gua kasih tau lagi, Hyung?”

Mel mengingat benar kalau Handini ingin berurusan dengan anggota termuda DBSK itu, melakukan tindakan yang tidak akan diterima Cassiopeia, fans club DBSK, manapun. Bahkan tindakan ini akan dipermasalahkan penegak hukum, pastinya. “Iya, gua tau. Tapi apa iya lu bener mau getok kepalanya—

“Ssst… ada orang,” Handini membungkam mulut Mel. Mereka kemudian mendapati pria berbadan cukup subur dengan rambut unik.

“Itu Shindooong…,” bisik Mel cukup keras. Namun agaknya tak cukup keras untuk didengar oleh Shindong. Handini memelototi Mel sehingga rekannya itu melipat kedua bibirnya ke dalam.

Pemuda berwajah bulat itu melalui tempat mereka sembunyi begitu saja, tanpa ada kecurigaan. Mereka menahan napas, tentu saja. Dan akhirnya mereka selamat.

“Itu bener-bener Shindong, Min!” Mel berheboh ria ketika Shindong sudah jauh, mengacungkan kedua lengannya segala.

“Iya, tau, Hyung. Udah jangan bikin keributan. Misi kita belum selesai,” Handini memeringati.

Kening Mel berkerenyit. “Emang sebenarnya misi lu apa sih, Min?”

Handini mendecakkan lidahnya, menonjolkan air muka bosan karena pertanyaan berulang Mel yang serupa.

Melihat mimik mukanya itu, Mel berkata, “Bukan apa-apa, Min. Gua rancu sama misi lu itu. Lu gak bener-bener mau pukul kepalanya Chang—

Suara ribut orang bicara tertangkap telinga. Handini dan Mel merunduk. Tiba-tiba hening, tak ada suara orang bercakap lagi. Saling menatap dan mengeluarkan mimik muka heran, Handini dan Mel membisu.

Ada suara langkah kaki mendekati. Tak ada suara sedikitpun, yang bisa terjaring oleh telinga manusia, mereka keluarkan.

Kaki-kaki yang melangkah itu muncul. Ternyata itu milik seorang pria berpostur tinggi dan gagah. Ia membawa telepon genggam yang sedang ia gunakan, menjauh, mendekati lift. Handini dan Mel sama-sama terkesima begitu mendapati tampak samping dari pria itu. Hidung mancung dan mata sipitnya, dia Jung Yunho, ketua DBSK. Ia sedang menelepon dengan serius, terus melangkah menuju lift. Bahkan langkahnya pun terlihat gagah, begitu pikir keduanya.

Ketika sedang terperangkap dalam keterpukauannya masing-masing, sosok lain muncul, sosok semampai yang lumayan kekar juga. Mel perlu memicingkan mata untuk mengetahui itu siapa, tak seperti Handini yang segera bilang, “Itu Changmin.”

“Apa?” Mel terlonjak.

Pemuda itu, yang dikatakan Handini adalah Changmin, menengok ke belakang. Dan tertampillah wajah bulat dan mata besarnya di pandangan Handini dan Mel. Mel membesarkan pupil matanya. Ya, benar, itu Changmin, gumamnya dalam hati. Sudah sangat pasti. Terdapat sekitar tiga detik mereka menganalisa keseluruhan tampilan pemuda itu dan waktu itu lebih dari cukup untuk memastikan itu Changmin yang sebenarnya.

Changmin mengangkat bahu, barangkali merasa bunyi yang ia dengar adalah kesalahan. Ia memutar kembali tubuhnya dan kembali beranjak.

Mel menarik-narik jas panjang Handini, panik sendiri. Sementara itu, Handini nampak seperti sedang menguatkan hati, mengepalkan kedua tangan, dan mendadak mendapat suntikan keberanian itu. Mendapati sosok Changmin yang masih bergaya, padahal hanya berjalan, dengan semena-mena. Menemukan ekspresinya yang tenang-tenang saja, bahkan lebih ke arah menjengkelkan. Handini gerah melihat itu. Hal itu membuat rencana asal-asalannya jadi betul-betul ingin ia realisasikan.

Handini memandang koper di sampingnya, berdiri, mengindahkan pelototan penuh kengerian Mel, menghampiri sosok jangkung itu dari belakang lalu berteriak, “Hya!”, membuat Changmin menengok setengah-setengah.

Dan sebelum Changmin mendapatkan gambaran penuh wajahnya, Handini segera melompat setinggi-tingginya lantas mendaratkan pukulan. Kepala bulat itu bertemu dengan koper persegi, menghasilkan bunyi yang lumayan keras.

***

 

Advertisements

4 thoughts on “The Briefcase #1

  1. anonymous says:

    Gw udh baca bukunya. Sebenarnya gw gk tau dbsk tpi gw tau lwt buku ini. Pas gw baca, gw pikir di “dunia nyata” dbsk udah berlima lagi.. eh gk tau udh ada jyj & tvxq. Hahah.. walaupun gw bukan fan dbsk tpi gw sedih bgt pas tau mereka gk berlima sampe skrg..

    • Mysti Adelliza says:

      Haloooo…
      Waw…. makasih banget udah baca bukunya ^^ #terharu
      Kamu gak tau dbsk tapi tetep baca bukunya? Sankyuuu… kkk… emang banyak yang berharap kalau mereka kembali berlima, walau di “dunia nyata” mereka BELUM berlima ^^
      Sedih juga karena mereka BELUM berlima lagi, ;( dan senangnyaa tau kalo kamu juga ikut sedih karena mereka masih kepisah. Tapi harapan kalo mereka balik berlima tetep ada sampe sekarang ^^
      Btw, makasih sekali lagi udah baca buku ini dan komen di sini ♥

  2. kaiexo says:

    aku udah baca bukunya,aku ngefans banget ama DBSK terutama yun ho.makanya sedih banget waktu mereka ngak berlima lagi.

    • Mysti Adelliza says:

      halo… makasih udah datang ke blog ini dan berkomentar..
      makasih juga udah baca bukunya 😀
      Wah, fansnya yunho ya? hehe…
      Ya, saya juga sedih mereka udah gak berlima lagi TT tapi masih ngerasain sedikit senang ngeliat mereka masih berkarya sampai sekarang 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s