The Briefcase (Prologue)

the-briefcase-cover

Author : Naz & Mysti

Title : The Briefcase

Genre : Friendship

Featuring : Shim Changmin (DBSK)

Authors Note :

Well, ini salah satu proyek iseng, yang–thank goodness!–sudah jadi salah satu buku! Ini sedikit beda dari biasanya; dimana bahasa dialog yang digunakan adalah bahasa yang benar-benar dipakai sehari-hari. Dan dengan niat untuk share pada para reader, ceritanya akan ditampilkan sedikit di blog ini, a bit look like a teaser. Hope you don’t mind it.

Enjoy it. Komentar selalu ditunggu ❤

Suara high-pitch dari lagu bertempo cepat membahana di ruangan itu. Lagu berbahasa Korea dengan campuran sedikit Inggris itu berasal dari sebuah laptop yang volume speaker-nya diputar penuh. Seperti disengaja. Pemilik ruangan tersebut mengongkang-angkingkan kakinya. Sebagian tubuhnya terbaring di ranjang. Seluruh perhatiannya mengarah pada layar handphone. Jemarinya menekan tombol-tombol angka dan tombol call. Ia mengecek sekali lagi kalau yang ia telepon bernamakan Melchun lalu mendekatkan alat komunikasi itu ke telinganya.

Refference awal lagu yang berjudul Mirotic itu masih berkumandang ketika yang dihubunginya mengangkat teleponnya, “Halo?”

“Hmm…” dirinya menyahut.

“Kenapa, Min?” tanya yang ditelepon dengan ceria.

Sembari memainkan rambut keritingnya, ia menjawab lamat-lamat, “Min bosen, Hyung. Kita jalan-jalan, yuk.”

“Jalan-jalan kemana? Mal Metropolitan lagi?”

“Haaaah,” ia menghela napas malas, “masa’ Mal Metropolitan melulu? Min lagian masih di Semarang.”

“Yah, terus kemana?”

“Yang jauh, gitu. Min bosen nungguin wisuda, nih,” matanya berputar ke arah kalender dekat tempat tidurnya, “masih sebulan lagi. Gak ada kerjaan apa-apaan, Hyung.”

“Terus ke—Eh, eh, itu Mirotic, ya? Lagu yang lagi lu setel?”

Dialihkan pembicaraan, ia pun bermuka kesal. “Hmmm…,” balasnya dengan bibir membentuk garis lurus.

“Widiih… Mana lagi bagian si Om Chuchun lagi, tuh…” Dan yang diajak bicara olehnya, melalui telepon itu, semakin tidak fokus saja.

“Lu dengerin gua gak, sih, Hyung?” tanyanya, mengembalikan topik awal, dengan intonasi yang tidak enak didengar.

“Iya, iya, denger, Min. Emang mau jalan kemana?”

Ia menjawab dengan judes, “Yang jauh. Keluar Indonesia sekalian.”

“Eh?”

Teleponnya ia tutup. Ia sengaja. Belakangan ini, segala hal yang tidak sesuai keinginan selalu memicu tindakan menjengkelkan darinya, seperti mematikan panggilan begitu saja. Dirinya tahu, Mel, teman karibnya itu tidak akan marah karena dia sudah biasa melakukan hal yang sama terhadapnya. Bahkan ia menebak bahwa sebentar lagi Mel akan mengirim pesan teks atau menelepon balik.

            Ringtone yang dikenali sebagai lagu berjudul Hug terdengar. Membacai nama penelepon di telepon selulernya yang sedang bergetar, ia lantas menyunggingkan senyum. Tebakannya jitu. Mel menelepon balik dan berujarkan halo. “Hm..,” ia menjawab telepon seperti itu lagi, seperti terbetik rasa malas pada sahutannya.

“Gua lagi cek di internet, nih. Banyak promo tiket pesawat murah ke luar negeri yang ditawarin baru-baru ini. Ini,” Mel diam sejenak, “ada yang ke London, Ontario, Rio De Janeiro, wow, umm, ada juga Kairo, Johannesburg, buset, jauh-jauh bangat—

“Berapaan?”

“Yang jelas semakin jauh semakin menguras kantong kita,” jawab Mel.

“Kalo gitu, yang deket-deket aja. Asia gitu.”

Mel tak menyambut dengan perkataan apa-apa kecuali dengan ujaran yang dipanjang-panjangkan, “Ookeee… Umm…,” hingga ia memekik, “Mumbai lumayan, nih! Asyik juga, biar kita bisa Bollywood-an, Min.”

“Berapa, Hyung?” Pertanyaannya terdengar memaksa.

“Umm, dua… ah! Ada yang lebih murah dari Mumbai, Min!” seru Mel excited.

“Apa?”

“Seoul. Wah! Iya, Min, murah! Ayo kita ke Seoul! Ha ha ha. Kali aja kita bisa ketemu Dong Bang Shin Ki!” Mel menyeru bahagia.

“Murah? Yang bener?”

“Bener! Ini murah. Ha ha ha!”

“Oke, ayo kita ke Seoul. Kali aja gua bisa ketemu si Changmin. Biar gua bisa getok kepalanya pakai koper gua. Ha ha ha.”

Dia bercanda. Mel pun sama. Bahkan dulu Mel yang menyarankan kalau  koper tua miliknya cocok digunakan untuk memukul kepala Changmin. Mereka berdua sudah membuat gurauan itu sejak mereka belakangan terus-menerus membahas perpisahan grup idola mereka, Dong Bang Shin Ki—disingkat DBSK. Betapa menyedihkannya, betapa menyebalkannya, semua sudah dibicarakan. Masa keemasan grup vokal yang terdiri dari lima pemuda Korea Selatan itu, dari era debut pada lagu Hug hingga puncak popularitas pada lagu Mirotic, keduanya selalu mendiskusikannya. Sungguh disayangkan, DBSK, yang padahal merupakan tim yang sangat kuat dalam industri musik Korea, harus berpisah. Sebagai fans, mereka selalu berharap kelimanya bisa kembali bersama. Hingga kemudian, ketika sedang hangat-hangatnya membicarakan soal itu, dirinya sampai pada kesimpulan bahwa sebetulnya yang paling tidak ingin DBSK kembali berlima adalah member terfavoritnya, Changmin.

Rambut keritingnya ia kibas. Mel sudah menutup teleponnya, berkat pulsa yang terbatas. Ia melirik laci meja di samping tidurnya lantas membukanya. Paspornya tak ada. Masa berlakunya dua hari yang lalu habis. Ia sudah menyerahkan kepada agen perpanjangan paspor untuk mengurusnya di kantor imigrasi, seingatnya hari ini seharusnya sudah jadi. Dia menyernyih sembari berpikir, jikalau hari ini paspornya jadi, maka ia memutuskan akan benar-benar pergi ke Seoul.

Handphone-nya berdering lagi. Ia melirik, nomor yang tak dikenal. Sejenak ia mengerutkan kening, mencermati nomor itu.

“Halo.” Ia tetap mengangkatnya juga.

“Nona… Handini?”

“Iya, saya sendiri. Ada apa, ya?” tanyanya curiga.

“Kami dari agen perpanjangan paspor. Paspor Anda sudah diperbaharui. Anda bisa mengambilnya segera.”

Advertisements

6 thoughts on “The Briefcase (Prologue)

  1. bumisme says:

    Eonnideul!!!>.< *ketawaevil(?)barengkibum* wkw
    aku kembali lagi setelah sekian lama ga buka wp kalian dikarnakan kesibukan skolah-__-
    pas buka wp kalian lgsg klik ff terus previous sampe ff trahir yg aku baca, si darkness eyes tuh wkwk
    eh.. Eh.. Trnyta abis darkness eyes ada prolog ini.
    dan….Selamat untuk eonnideul yg lagi2 sudah terbit bukunyaaa, critanya menarik'-'. Oh iya buku ini bisa di dpet di toko buku apa aja??
    Keep writting eonnideul!!

    • Mysti Adelliza says:

      bumisme~
      kyaaaa… >< glad you came back
      wah~ gomawo masih mau kembali bacain blog ini ^0^
      ne~ gomawo juga ucapan selamatnya, hehe.
      ini ada di toko buku gramedia dan toga mas 😀
      makasih sekali lagi~

      • Soo Mun says:

        saya juga mau buat novel ceritanya sudah ada dikepala saya. tp saya masih bingung mau nuanginnya dalam kata2. bisa bantu ga?

        o iya, kirim naskahnya ke penerbit araska itu lewat pos atau online?

      • Mysti Adelliza says:

        bantu seperti apa? saya mungkin bisa nunjukin kamu untuk baca beberapa artikel penulisan, hehe… karena saya sendiri masih belajar (dan sekarang masih belajar) dari situ.
        untuk pengiriman ke araska, bisa via email. untuk lebih lengkapnya silakan tanya langsung penerbitnya di facebook. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s