The Outline #6

Title                  : The Outline (Part 6)

Author              : Mysti Adelliza

Main Casts      : Shim Chang Min (DBSK), Cho Kyuhyun (Super Junior), Kim Changi (OC)

Support Casts  : Shim Ri Young (OC), Man Hee Hyo (OC), Jung Yun Ho (DBSK), Kim Jae Joong (DBSK), Leeteuk—Park Jung Soo (Super Junior), Shin Dong Hee (Super Junior)

Genre              : Drama, Mystery

Length             : Chaptered

Mentari pagi menyambutnya. Changi akhirnya keluar dari salah satu kamar tamu, yang dia tinggali sendirian sejak semalam. Tiga pelayan membangunkannya, membantunya untuk mandi dan berpakaian, lalu menuntunnya menuju tempat dia duduk sekarang; kursi meja makan.

Nyonya Shim Riyoung, eomma Changmin, memerhatikannya dengan wajah prihatin. “Gwenchanayo?” tanyanya.

Gwenchanayo,” jawab Changi.

“Aku sudah menelepon eomma-­mu. Beliau kedengaran cemas,” imbuh Nyonya Shim, “apa kita perlu ke rumah sakit?”

Gwenchana,” Changi menolak, “tak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Nyonya Shim takjub ketika mendengar ucapan Changi, yang menurutnya manis untuk ukuran orang yang telah mendapati malam yang ganjil. Dia lalu segera merangkulnya. “Kau memang menantu idamanku,” ujarnya,  “kau bagai anak perempuanku sendiri.”

“Kalau begitu, dia saja yang jadi anak Eomma,” ujar Changmin sembari menyuap roti ke mulutnya.

Changi melihatnya. Terkilas balik di ingatannya, apa yang dilakukan oleh Changmin tujuh jam yang lalu di kamarnya.

“Kenapa kau memandangiku?” tanya Changmin.

Aniyo,” sahut Changi cepat-cepat. Karena itu, Changi mengalihkan pandangannya pada Nyonya Shim Riyoung yang masih sibuk mengamatinya. Changi lantas menunjukkan mimik wajah ingin tahu kepada Nyonya Shim, mengapa beliau memandanginya terus. Dan Nyonya Shim, seolah membaca pikiran Changi, membuka mulut. “Sungmin keterlaluan,” ucapnya, “bisa-bisanya ia melakukan pemukulan ini kepada seorang wanita.”

“Sungmin Hyung bilang, dia dan Ryeowook Hyung sebenarnya sudah sopan,” Changmin membela anak buahnya.

Changi memandang Changmin, namun tidak menunjukkan kemarahan yang biasa dia tampilkan—dia masih menganggap keberadaan Nyonya Shim di tempat itu.

Dan yang marah justru Nyonya Shim. “Maksudmu, Changi yang tidak sopan sehingga anak-anak buahmu yang harus membuatnya sopan? Bagaimana mungkin bisa begitu?! Aku yakin Changi tidak seperti itu.”

Eomma tidak tahu apa-apa,” tukas Changmin.

“Sok tahu katamu?” Nyonya Shim meninggikan suaranya.

Changmin mengibas-ngibaskan tangan, menandakan kalau dia menyerah dan tidak mau berdebat dengan eomma-nya.

Nyonya Shim pun menarik napas, menahan kemarahannya. Namun, masih menghadap ke arah Changmin, kemudian bertanya, “Lagipula buat apa kau menyuruh Sungmin dan Ryeowook mengikuti Changi? Lebih-lebih melakukan ini—”

“Aku hanya menyuruh mereka untuk mengawalnya,” potong Changmin sembari menunjuk Changi dengan mulutnya, “dia kelihatan kacau saat pergi dari restoran. Aku takut terjadi sesuatu, jadi—”

“Aku tidak kacau,” kali ini Changi yang memotong, dan, lucunya, tak hanya dia yang melakukan pemenggalan pada kalimat Changmin itu, tapi juga Nyonya Shim yang berbarengan waktunya—menyeru bahagia, “Aigoo, Changminnie. Kau perhatian sekali pada Changi!”

***

Perkebunan buah itu hijau dan luas sekali. Sejauh mata memandang, terdapat pepohonan dan rerumputan hijau saja.

Changi memerhatikan Changmin yang sejak tadi bersama dirinya. Sejam setelah sarapan pagi, Nyonya Shim Riyoung memaksa Changmin untuk menemani Changi berjalan-jalan di salah satu perkebunan buah milik keluarga Shim. Dia melihat Changmin sedang tidur-tiduran di bawah pohon yang tertanam di dataran tertinggi mirip bukit di perkebunan itu.

Changi lalu memutuskan untuk mendatanginya, memastikan dia tidur atau tidak. Dia tidak akan tahu pasti kalau Changmin itu sesuai dugaannya, kalau dia tidak mencari tahu. Mungkin saja dia hanya terlalu perseptif. Setidaknya, dia harus mencari tahu walaupun sedikit. “Sedang apa di situ?” tanyanya kemudian, ketika sudah selangkah lagi mencapai tubuh Changmin.

Changmin melirik wanita yang berdiri tak jauh darinya. “Berpikir,” jawab Changmin kemudian.

Changi mengerutkan kening. “Tentang?”

“Kau penasaran sekali?” tanya balik Changmin dengan roman muka mencemooh.

Kerutan kening Changi makin bertambah. “Kalau kau terus mempertahankan sikap seperti ini, kau–”

“Apa? Kau mau mengadu pada ibuku?” Changmin menyela sambil menaikkan satu alisnya.

Changi merasa kesal, tapi dia harus bersabar. Dia tidak akan mengenal Changmin jika dia mengikuti egonya. Dia, walaupun sulit dia akui, sebenarnya memang ingin mengenal Changmin, juga sebenarnya memang cukup tertarik pada pemuda itu. Dia, walaupun dia tidak mengakuinya pada orang tuanya, sebenarnya memang mengidamkan menikah dan menjalani kehidupan rumah tangga.

“Kau bisa main poker?” Tanpa tedeng aling-aling, Changmin bertanya.

“Bisa,” jawab Changi, seolah itu pertanyaan tanpa isi. “Memangnya kenapa? Kau mau mengajak tanding?”

Ani,” sahut Changmin, “aku tak bisa main.”

“Aneh sekali,” gerutu Changi.

Changmin mengangkat kepalanya dari tangannya, memandang Changi. Changi mundur selangkah dan memasang roman muka was-was. Namun, Changmin, menghadap lagi ke langit, ke pandangannya semula, dengan ekspresi cuek di wajahnya.

“Ada apa dengan poker?” tanya Changi kemudian.

Bibir Changmin mengatup. Alisnya bertaut. Entah apa yang dia pikirkan. “Rekan bisnisku jago main poker,” jawabnya tiba-tiba, “dan dia punya banyak tanah yang potensial di Jeju.”

Changi menampilkan mimik wajah heran. “Lalu apa hubungannya?”

“Kau tidak secerdas yang gelar Cum Laude-mu bilang, ya?” cetus Changmin menjengkelkan.

Changi menahan napas, sekaligus menahan kekesalan. Namun, entah apa, dia pun tidak tahu, dia malah semakin tertarik pada Changmin. Kakinya membawa tubuhnya semakin mendekat ke arah Changmin, seperti tersedot magnet.

“Aku sudah mencoba untuk membujuknya agar mau menjual salah satu tanahnya padaku,” imbuh Changmin akhirnya, “dengan berbagai tawaran harga yang menarik, tapi dia selalu menolak. Dia bilang dia akan menyerahkan tanahnya jika aku bisa menang bermain poker darinya.” Changmin mengakhiri penjelasannya dengan melengkungkan bibirnya ke bawah.

Mungkin karena tidak pernah menemukan pria seperti ini, Changi semakin ingin tahu tentangnya. Hatinya bergelimangan rasa penasaran karena Changmin terlihat seperti bocah umur sepuluh tahun yang sedang menikmati kegiatan tidur-tiduran di bawah pohon. Changi selalu lemah kalau melihat sisi kekanakan seorang pria, apa lagi yang berwajah manis seperti Changmin. “Lantas, kenapa kau menanyakan kemampuan pokerku?” tanya Changi saat dia telah duduk di sampingnya.

“Yah, kalau kau bisa, aku bisa memintamu mengajariku,” jawab Changmin enteng.

“Cih!” Changi mencibir.

“Kenapa? Kau tidak mau?” tanya Changmin. “Sebenarnya, kalau kau tidak mau, juga tidak apa.”

Changi tak membalasnya. Changmin pun mengeluarkan suara seperti helaan napas sambil memandangi awan.

“Aku pernah punya teman yang pintar main poker,” kata Changi setelah hening cukup lama.

Changmin kembali meliriknya, tapi tetap kelihatan tidak peduli.

Changi diam, berkerut.

“Mengapa tidak melanjutkan bercerita?” tanya Changmin kemudian.

Changi ragu. “Kau yakin kau mau mendengar ceritaku?”

Changmin sekarang memandangnya serius.

“Lupakan sa—”

“Aku mau mendengarnya,” pinta Changmin, memenggal ucapan Changi. “Seperti yang kuungkapkan padamu di kencan pertama kita—aku menganggapnya demikian,” Changmin menukas—menyetop Changi yang bermuka tak setuju, lalu melanjutkan, “aku ingin mengetahui dirimu. Tak ada salahnya terbuka. Dan lebih adil jika terbuka sejak awal, sebelum terkait sesuatu yang menyangkut emosi, jadi kita bisa menentukan untuk melanjutkannya atau tidak.”

Changi menyerap, lama. Dia menguras otak, melihat ke sembarang arah. Dia memperhatikan juluran kakinya sendiri yang tertutup celana jeans dari keluarga Shim sambil terus berpikir. “Baiklah,” ucapnya kemudian, “aku akan bercerita.”

“Jadi, bagaimana ceritamu?” tagih Changmin.

“Ceritanya panjang,” kata Changi, “dan… rumit.”

“Yah, paling tidak kau bisa mengungkap kerangkanya dulu,” ucap Changmin.

“Kerangka?”

“Kerangka cerita,” tekan Changmin, “Outline.”

Changi mengerutkan kening sekali-dua kali, hingga kemudian memutuskan untuk membuka mulut. “Baik, kalau begitu.”

“Oke. Kau bisa mulai,” Changmin berkata sambil menekuk salah satu lututnya, masih santai menikmati tiduran di bawah pohonnya.

“Dia mengajariku, temanku itu.” Changi memulai.

“Poker?”

“Ya,” sahut Changi.

Changmin memutar bola mata seraya melengkungkan bibirnya ke bawah. “Lalu?” tanyanya.

“Aku tak pernah paham ajarannya,” lanjut Changi, “dan itu tak menyenangkan. Dia selalu tertawa saat aku salah langkah dan saat terus-menerus kalah darinya.”

“Dan di saat itu pulalah kau mulai tertarik padanya,” terka Changmin, “outline yang sangat klise.”

Changi merasakan wajahnya memanas. “Sok tahu sekali kau ini,” elak Changi.

“Mengelak dengan wajah memerah,” cibir Changmin.

“Mengapa kau bisa menyimpulkan seenaknya begitu?” tanya Changi dengan nada yang lebih teratur, meskipun di dalam hatinya dia menumpuk emosi.

“Pertanyaan yang tepat adalah darimana aku bisa tahu? Dan jawabannya hanya satu; ekspresimu,” Changmin mengeluarkan analisisnya dengan gelagat bosan, “tak ada yang menceritakan teman biasa dengan ekspresi seperti itu.”

Changi diam, tak dapat menyanggah.

“Lalu, karena itu, kau main poker terus dengannya?” tanya Changmin.

“Tidak,” jawab Changi, “tapi poker itu yang mempertemukan kami.”

***

Petang gelap dengan gerimis, delapan tahun yang lalu, Changi menutup payungnya dan memasuki kafe di perempatan jalan. Dia sudah berjanji untuk bertemu dengan salah satu teman kuliahnya. Mereka akan belajar bersama.

Changi lantas duduk di bangku terdekat dengan pintu agar bisa langsung mengenali temannya jika sudah datang. Lagipula jika duduk agak ke dalam, live music kafe itu akan terdengar lebih kencang–alasan yang menurutnya akan menganggu pelajarannya.

Setelah dia menolak untuk memesan pada pelayan dengan dalih sedang menunggu teman, seorang pria mendatanginya.

“Nona, kaulihat kartu as sekop di bangku ini?” tanya pria itu.

Changi sempat memerhatikan penampilan pria yang berpakaian casual itu.

Aniyo,” jawab Changi seadanya.

“Benarkah?” Sang pria bertanya dengan senyum menggoda. “Terselip di selipan busa bangku mungkin? Atau terduduk?”

Aniyo,” Changi menegaskan.

Pria itu nampak tak percaya. Matanya tetap liar mencari-cari ke bangku dan meja Changi.

“Sudah kubilang tidak ada,” tukas Changi.

Hya, Yunho-ah! Palli!” panggil salah seorang pria lain yang duduk dua meja dari meja Changi.

“Sebentar,” jawab pria yang ada di dekat Changi.

“Oh, pantas dia lama di sana!” seru pria yang berteriak tadi seraya menjulurkan lehernya; menoleh ke arah meja Changi, “ada mangsa rupanya!” Seruan itu disambut gelak tawa beberapa pria lain di sekitarnya.

Changi kesal. Dia merasa dihina dengan sebutan mangsa dan gelak tawa bernada miring para pria itu. Amarah menguak dalam dirinya. Meskipun begitu, dia tetap menampilkan senyum emasnya.

Dan pria di depannya melihatnya. Senyum Changi yang tanpa cela mengundang hasratnya untuk berlama-lama di sana. Dengan gerak cepat, dia memindahkan kartu di dalam jaketnya ke tangannya. “Ah, itu dia!” seru pria itu. Buru-buru pria itu merunduk ke bawah meja, pura-pura mengambil sesuatu di dekat kaki Changi.

Tak disangkanya, Changi ikut menunduk ke bawah kemudian mereka mendapat tragedi. Kepalanya tertubruk kepala pria itu saat pria tersebut mencoba untuk kembali berdiri.

Tak pernah sebelumnya Changi mengalami pening separah ini. Apalagi hanya gara-gara terhantam kepala orang. Dahinya terasa nyeri. Dan matanya berkunang-kunang sementara.

“Nona, kau tidak apa-apa?” tanya pria itu.

Changi pura-pura tak merasa sakit. “Tidak apa-apa,” jawabnya. Dialantas menguatkan pandangannya, mengusir kepusingan di kepalnaya. “Pergilah,” ujarnya pada pria itu. “Kau sudah dapatkan yang kaucari bukan?”

“Tidak, Nona,” sanggah pria itu, “kau kelihatan parah sekali. Dahimu memar. Mau diobati?”

“Tidak, pergilah,” pinta Changi berulang, “pergilah.”

Bukannya pergi, pria itu malah duduk di sebelahnya. Tangannya menyentuh bagian belakang kepala Changi dan tangan satunya lagi mengelus dahi Changi yang berdenyut-denyut sehingga dari jauh mereka tampak seperti sepasang kekasih yang akan berpelukan. Changi berusaha menampik usaha pria itu untuk mengobatinya, tetapi tak terlalu berhasil. Pria itu tetap memosisikan mereka seperti itu. Tangannya yang kuat memaku Changi agar tetap diam.

“Tenanglah. Aku punya cream penyamar biru memar. Setidaknya, meski tak diobati, kau tak harus malu dengan memar ini,” ujarnya sopan sambil mengeluarkan sebuah wadah krim dari kantong celananya.

“Tidak, terima kasih,” tolak Changi yang masih mencoba untuk membebaskan kepalanya dari kedua tangan lelaki ini. Meskipun begitu, usahanya tetap gagal.

Cream itu teroles juga di dahi Changi.

“Lumayan, sudah tak tampak memarnya. Sedikit tak rapi, karena kau tak bisa diam, Nona—siapa namamu?” Pria itu tersenyum, menunggui respon Changi.

“As sekop—” ucap Changi seraya memegangi kepalanya yang masih pening.

“Nona as sekop? Namamu as sekop?” tanya pria itu sembari menahan tawa.

“As sekopmu sudah ketemu bukan? Nah,” Changi menelan ludah, menepis gelagapannya, “terima kasih cream-nya. Sekarang, kau bisa pergi?”

Pria itu tersenyum dan mengangguk. Dia pun segera pergi dari meja Changi. Changi bisa mendengar sorakan dari teman-teman pria itu. Dan dirinya semakin jengkel.

“Kau melepaskan tangkapanmu begitu saja? Atau kau sudah dapat nomornya?” tanya salah satu temannya, keras-keras.

“Dia yang akan beri sendiri padaku,” jawab pria itu yakin.

Changi mendengar itu dan dia merasa geli. Setengah berpikir sambil lalu mengapa ada orang sepercaya diri macam itu, dia melirik arlojinya. Dia sudah hampir setengah jam di kafe itu. Temannya tak kunjung datang. Sebab sudah melampaui jam janjinya, dan karena tak ingin merasa lebih jengkel dan terhina lagi, Changi memutuskan untuk pulang.

***

“Dan kau benar-benar pulang?” tanya Changmin, membuyarkan lamunan masa lalu yang dinarasikan Changi.

Ani,” jawab Changi.

Changmin memandang Changi. “Kauberikan nomormu?”

Ani,” Changi menyanggah lagi, “tapi  alamatku.”

Changmin yang tadinya menyimak dengan respek, kemudian langsung menyunggingkan senyum kecut.

“Kau tak tahu ceritanya. Jangan anggap remeh dulu,” Changi membela dirinya.

“Bagaimanapun, kau telah membiarkan si breng—maksudku—pria itu menang,” sungut Changmin.

“Sudah kubilang, kau tak tahu ceritanya mengapa aku bisa berikan alamatku padanya. Jadi, jangan anggap—”

“Memang bagaimana ceritanya?” tagih Changmin.

***

Changi baru saja menyentuh pintu kafe itu dan teman yang sejak tadi ditungguinya telah berdiri di luar pintu, persis berhadapan dengannya.

“Heehyo! Huh… aku sudah hampir lumutan,” omel Changi sembari membuka pintu.

Mian,” pinta wanita berambut ikal yang dipanggil Heehyo itu sambil tercengir, “ada yang ketinggalan tadi, jadi aku pulang dulu untuk mengambilnya. Lagipula baru setengah jam saja, bukan?”

“Baru?” Changi melotot. “Yang benar itu sudah setengah jam!”

Arrasso, arrasso, ayo kita mulai saja belajarnya,” ajak Heehyo berlagak santai seraya menarik Changi ke tempat duduk Changi sebelumnya.

Kedua wanita itu duduk. Heehyo kelihatan lelah sekali. Dia segera bersandar pada sandaran kursi dan menghadap pada Changi. Saat baru beberapa detik keduanya duduk di bangku kafe itu, Heehyo seperti tersadar akan sesuatu lalu memandang Changi sembari senyum-senyum.

Wae?” tanya Changi.

“Omong-omong, aku tak menyangka kau juga penggila poker, Changi!” Tiba-tiba Heehyo berseru dengan nada terpukau.

Mwo?” Changi mengungkap tanya. “Kau ini bicara apa?”

“Dahimu,” unjuk Heehyo seraya merujuk bagian atas wajah Changi, “kau ini berani sekali, memasang tanda prasyarat sebagai penantang baru di dahimu dan berada di kafe tempat berkumpul para jagoan poker pula.”

Mwo?” Changi mulai gusar. “Aku tidak mengerti maksudmu.”

“Maksudku,” Heehyo menjelaskan, “kau telah memakai tanda yang menantang para jagoan poker di tempat ini.”

Changi memutar kepalanya menghadap cermin. Dan Changi harus syok mendapati tanda ungu bertuliskan ‘beginner’ terpampang di dahinya. Dan tanda itu tak bisa dihapus.

“Biasanya, para penantang memasang tanda di tangan—”

“Kau jangan bercanda, Heehyo!” Changi setengah menghardik, menyetop penjelasan temannya itu.

“Untuk apa aku bercanda?” Heehyo bertanya sambil mengangkat kedua tangannya.

“Aku bahkan tak tahu apa itu poker,” Changi berkata sambil sekuat tenaga mencoba menghapus tanda itu, menggosok-gosok tangan pada jidatnya.

“Lantas,” Heehyo mengernyit bingung, “kenapa kaupasang tanda itu?”

“Aku juga tak tahu. Tadi aku tertubruk—Ah!” Changi terkesiap. “Pasti pria itu! Dia yang menuliskannya di dahiku. Duh! Biar kutanyakan kepadanya apa maksudnya!”

“Tak ada waktu lagi, Changi. Lihat! Beberapa orang sudah datang ke sini!” seru Heehyo sambil mengarahkan telunjuknya pada tiga pria mendatangi mejanya.

Changi mulai merasai histeria yang merayapi dirinya. “Kenapa mereka mendatangiku?” tanyanya.

“Mereka pasti akan mendatangimu berkat tanda itu. Dan, saranku, setidaknya kau harus mengalahkan satu di antara mereka, baru kau bisa beralasan untuk pergi. Kalau tidak, entah apa yang terjadi padamu,” Heehyo memberitahu.

“Sudah kubilang padamu, aku bahkan tak tahu poker itu apa,” tekan Changi dengan gigi mengatup.

“Nona, kau ‘beginner’? Bagaimana kalau kita main?” tanya seorang pria setengah baya.

Changi menggeleng-geleng.

“Pasang tandanya pun berani. Jelas ingin menantang. Coba perlihatkan padaku sehebat apa permainanmu,” tantang pria lain.

Changi melotot pada Heehyo. Heehyo malah mengangguk sembari memberi tatapan memberi semangat.

“Mau pasang taruhan berapa? Semoga saja kau tidak bokek,” ucap pria yang terlihat paling muda di antara mereka.

Changi menggeser duduknya menjadi lebih dekat pada Heehyo.

“Heehyo, kenapa mereka begitu bersemangat? Memang apa hadiahnya?” tanya Changi setengah berbisik.

“Uang, tentu saja, dan banyak, juga pengakuan jagoan poker terhebat bulan ini,” jawab Heehyo, “yang paling banyak memenangi pertandingan, dialah yang mendapatkan semua itu.”

Mwo?” jerit Changi lalu dengan segera dia menutup mulutnya. “Kenapa kau bawa aku ke kafe dengan kegiatan begini?”

“Hm—sebenarnya,” Heehyo menjawab ragu, “ini tempat satu-satunya aku bisa makan gratis.”

Mwo?!” Changi tak bisa menahan keterkejutannya.

“Kafe ini milik pamanku,” terang Heehyo.

Mwo?!” Changi tak henti-hentinya kaget, namun dalam sekejap, dia mendapatkan ide, “kalau begitu telepon pamanmu, minta tolong padanya untuk membereskan ini.”

“Tak bisa, Changi-ah,” ujar Heehyo, “pamanku ada di Italia. Dia tidak akan mau pulang hanya untuk urusan iseng macam ini. Dia menyerahkan kafe ini pada Tuan Park dan padaku. Jika aku sedang tidak bisa, Tuan Park yang menangani. Jika aku bisa, Tuan Park mengurusi dirinya sendiri. Dan Tuan Park juga sama, seperti pamanku, tidak mau terlibat soal hal iseng begini.”

“Ta-tapi, ini sama sekali bukan keisengan—”

Palli, Nona,” ujar pria itu tak sabar. Dua pria lagi mengiyakan dan mulai mendesak Changi.

Changi panik.

“Nona as sekop!!!” seru suara yang baru dia kenal hari ini, namun terasa begitu familier.

Dia tahu seharusnya dia tak menoleh. Dia yakin seharusnya ucapan itu tak ada hubungan dengan dirinya. Dia pun percaya tindakan bijaksana yaitu tak memedulikan panggilan itu adalah yang paling benar. Namun, seperti terkena mantera entah apa, dia memalingkan wajahnya ke sumber suara itu. Matanya menangkap mata pria itu, yang kini juga menangkap matanya.

“Mau main denganku?” tanya pria itu.

Changi menautkan alisnya. Dia jengkel sekali pada pria ini, pria yang telah melibatkannya dalam situasi yang tidak dia mengerti ini; situasi dimana dia tak bisa melarikan diri.

Dengan marah, Changi berjalan ke meja pria itu, menghiraukan pangilan pria-pria yang ada di mejanya. Dia berjalan ke sana dengan langkah kaki yang cepat; langkah kaki yang membawanya ke tempat seseorang bernama Jung Yunho.

***

“Apa yang kaulakukan padanya?” tanya Changmin.

“Menurutmu?” tanya balik Changi.

Changmin menyunggingkan senyum. “Senang, ya, bisa mengeluarkan pertanyaan menjengkelkan itu?”

“Bagimu itu menjengkelkan? Kau lupa seberapa menjengkelkannya dirimu sejak tadi?” tanya Changi seraya merengut.

“Kau mau melanjutkan atau tidak?” tanya Changmin.

***

Changi hampir melompat untuk menerkam pria yang memasang senyuman nakal itu terhadapnya, namun Heehyo menariknya lebih dulu. Heehyo pun memaksa Changi duduk baik-baik di hadapan pria itu untuk bermain dengannya dengan dalih agar mereka bisa cepat pulang. “Sudah kubilang padamu, setidaknya, kau harus kalahkan satu agar kau bisa lepas dari ini,” tegas Heehyo pada Changi saat itu.

“Lepas dari ini?” tanya si pria, “kaupikir ini kutukan?”

“Aku—aku hanya menyarankan,” ujar Heehyo.

Pria itu mengembangkan senyumnya lebih lebar. “Duduklah,” dia mempersilakan, “kau akan berterima kasih padaku setelah merasakan nikmatnya bermain poker.”

Changi melempar pandangan pada Heehyo. Dilihatnya perempuan itu langsung duduk dengan santai di kursi yang ditunjuk si pria. Pelototan mata Changi timbul begitu saja karena mendapati kesantaian Heeyo.

Wae?” tanya Heehyo saat menemukan Changi yang masih berdiri dan melotot padanya, “tenang saja, Changi, pria ini akan membantumu,” Heehyo mengalihkan pandangannya pada si pria, “ya, kan?”

Pria itu mengangguk perlahan. “Namaku Yunho, Jung Yunho.” Da memang terlihat berbicara pada Heehyo, tetapi jelas sekali dia menanti respon Changi karena matanya meliriknya Changi.

Changi pura-pura tidak menghiraukan dan sibuk mengamati sekitar. Dia melihat suasananya sudah aman dan berpikir Heehyo bisa mengendalikan semuanya. “Kau saja yang menggantikanku bermain dengannya, Heehyo,” ucap Changi dan dia mulai berbalik arah.

Yunho tampak panik sekejap dan dalam beberapa detik dia mendapat ide.“Chakamanyo, Chaerin,” panggilnya.

“Itu bukan namaku,” balas Changi.

Yunho mengejarnya dan menghadang Changi. Dia menggerakkan tubuhnya mendekati Changi dan tangannya mencoba untuk meraih Changi. Changi sempat menghindar saat tangan Yunho mendarat di dahinya.

“Tanda ‘beginner’ ini akan bisa hilang jika dibasuh dengan toner tertentu. Dan aku punya toner itu,” kata Yunho.

Changi diam, tampak berpikir. “Jadi—?”

“Jadi, duduklah bersamaku,” ujar Yunho, “aku akan berikan toner itu. Kau pun akan selamat dari para pria yang berniat mengalahkanmu dan kalau kau memilih bermain bersama mereka, kau pastinya harus membayar mereka jika kalah. Aku akan membantumu, tenang saja.”

Sebetulnya toner itu tak terlalu penting, pikir Changi, namun ucapan Yunho mengenai pria-pria yang mungkin saja akan membahayakannya tadi baru saja teringat di benaknya. Dia sedang tak membawa uang banyak dan dia tak mau mengambil risiko untuk menawari pembayaran dengan cara hutang pada orang-orang di tempat itu. Ya, orang-orang itu, yang mendatanginya tadi. Changi bahkan kini melihat mereka yang tak melepas pandangan darinya.

“Baiklah,” jawab Changi.

Persiapan permainan pun dimulai. Yunho memberitahukan peraturan umum poker kepada Changi. Heehyo yang berperan sebagai pembagi kartu pun mengocok kartu-kartunya. Dua dari teman Yunho, yang bersiul-siul meledek Changi dan Yunho tadi, ikut bermain.

Changi masih berkernyit. Dia menerima dua kartu dari Heehyo dan melihatnya; kartu as sekop dan raja sekop. Changi melirik cermin dinding di sampingnya dan mendapati wajahnya yang tampak makin kesulitan. Dia juga menangkap pandangan Yunho, yang tersenyum melihat tingkah lakunya. Changi meliriknya sinis dan Yunho membalas dengan mengedipkan sebelah matanya.

Changi makin tampak cemas, namun dia mencoba mengikuti jalan permainan. Dia melihat satu kartu lagi dibuka oleh Heehyo di meja, kartu ratu sekop yang muncul. Changi makin tak mengerti; dia harus apakan kartu-kartu ini? Dia tidak berbicara apa-apa dan hanya menggeleng ketika beberapa dari mereka meninggikan atau menurunkan nilai taruhan. Beberapa detik setelah Heehyo membuka kartu kelima di meja, Changi sudah melewati batas ketidakpahamannya. “Heehyo, apa yang harus kulakukan semua ini?” tanyanya dengan berbisik.

Flush!” teriak salah satu dari teman Yunho.

Temannya yang satu lagi berjengit. Dia mengomel-omel tak jelas, yang terdengar seperti ucapan bahwa kartunya benar-benar jelek.

Sementara itu, Yunho senyum-senyum saja. Dia menurunkan kartunya di meja dan berkat itu kedua temannya tercengang. “Straight Flush!

Changi mengernyit, giginya digertakkan. Dia tak tahan lagi. “Apa yang mereka bicarakan?” bisiknya pada Heehyo lagi.

Heehyo menghembuskan napas pendek, lantas mengintip kartu Changi. Dia lalu sumringah sembari mengarahkan tangan Changi untuk meletakkan kartunya di atas meja.

Changi mencoba menahan. “Heehyo, apa yang kau lakukan? Kalau aku kalah, bagaimana?” tanya Changi.

Akan tetapi, Heehyo hanya menyengir dan terus memaksa Changi merelakan kartu-kartunya dipublikasikan. Karena tak ada pilihan lain, Changi pun melepaskan kartunya.

Yunho dan kedua temannya menatap kosong pada kartu-kartu Changi ketika semuanya bertebaran rapi di atas meja.

“Nah!” seru Heehyo. “Changi dapat Royal Flush.”

Kedua teman Yunho lalu meninggalkan meja itu dengan tampang kesal, lain halnya dengan Yunho yang hanya menyandarkan tubuhnya ke kursi. Changi yang masih tak mengerti dengan situasi ini merapat pada Heehyo yang sedang membereskan kartu. “Heehyo, maksudnya yang tadi apa?”

Heehyo menaruh kartu-kartu yang telah tersusun rapi itu, menyerongkan badannya sedikit ke arah Changi, “Maksudnya, kau telah menang, Changi-ah.”

Changi terbelalak. Dia bahkan tak tahu apa arti dari permainan tadi dan doa kini menang.

Heehyo menoleh pada Yunho yang masih duduk di kursinya. “Berikan uang taruhan kalian kepada Changi,” ujarnya seraya menggerakkan tangannya seperti orang menagih.

Yunho tersenyum kecil. “Sebetulnya,” dia mulai berujar, “kami bertaruh, siapa yang menang akan mendapatkan hak menggunakan apartemenku dan membawa Yujin,” unjuknya pada Changi, “ke sana malam ini.”

Changi melotot.

“Namanya Changi, bukan Yujin, ya ampun,” sahut Heehyo, “dan maksudmu… yang menang taruhannya… berhak mengajak Changi ke apartemenmu?”

Yunho mengangguk-angguk. “Lebih tepatnya, mengajaknya bermalam di apartemenku.”

***

“Biar kutebak,” potong Changmin, “selanjutnya kau pasti menonjoknya, ya kan?”

“Kau pikir aku preman?” balik bertanya Changi.

Changmin memasang wajah terkejut. “Memangnya kau tidak marah? Itu adalah perkataan paling menghina, yang pernah kudengar, yang dilontarkan pria kepada wanita. Kau pantas marah, kupikir. Kecuali kau memang suka dijadikan objek para pria.”

Changi merunduk dan mengatupkan bibirnya kuat-kuat. Entah apa yang dipikirkannya. Kemudian dia menghela napas dan memandang Changmin. “Sadar tidak,” Changi bertanya, “kalau kau juga pernah mengeluarkan kata-kata yang menghina padaku?”

“Kapan?” Changmin mengedikkan bahu.

“Tidak mau mengaku lagi,” ujar Changi sambil berjengit.

“Sudah, jangan bahas aku,” sanggah Changmin, “sekarang kan kita sedang membahas dirimu dan kelainanmu yang tak marah karena diberikan kata-kata penghinaan macam itu.

“Siapa bilang aku tak marah?” tanya Changi seperti menantang.

***

Yunho merasa syok. Kejadian yang baru saja terjadi di hadapannya adalah hal yang baru baginya. Lima menit yang lalu, Changi berdiri di hadapannya, mengambil pisau steak yang sedang tergeletak di meja sebelah, dan menancapkannya di meja mereka hingga nyaris mengenai jemari Yunho jika dia tidak segera menariknya.

“Kau—ingin—bermalam—bersamaku? Bagaimana—kalau—di—rumahku—saja?” tanya Changi, dimana kata per kata diucapkannya dengan jeda dan diiringi dengan tatapan penuh ancaman.

Yunho hanya bisa menatapinya seperti orang bodoh.

Changi mencabut pisau dan mengukir sebuah tulisan di meja seperti tindakan seorang sadis yang tenang.

“Ini alamatku,” ujar Changi, “kau bisa datang kapanpun kau mau. Kita bisa lebih dekat dan aku pun bisa mengetahui segala sesuatu tentangmu.” Changi menggoreskan pisau itu dengan tekanan kuat sembari menyelesaikan kata terakhirnya.

Heehyo dan kawan-kawan Yunho hanya bisa ikut tercengang.

“Kuberikan kau waktu berpikir. Datanglah jika kau sudah siap,” ujar Changi enteng. Dia lalu mengambil tasnya, mengucap pamit pada Heehyo, dan beranjak pergi.

***

Changmin memerlihatkan wajah yang sama dengan Yunho dulu saat mendengarkan cerita itu. “Bahkan, kupikir, lebih baik kau menonjokinya sampai babak belur saja daripada kau berbuat begitu.”

Mwo?” tanya Changi.

“Ah, tidak,” jawab Changmin panik, “lanjutkan saja.”

“Tidak mau, aku tadi mendengar sedikit gumamanmu dan aku harus dengar,” todong Changi.

“Tak perlu. Lanjutkan saja,” Changmin menolak.

Ani,” Changi makin tegas memaksa.

Changmin mengernyitkan dahi. “Baiklah. Tadi aku bilang, lebih baik kau menonjoknya saja daripada berbuat begitu.”

Changi diam lantas menimbulkan suara berisik dari mulutnya. Changmin meliriknya dan mendapatinya tengah menahan tawa. Changi terus menekuk wajah, masih menahan kikikannya karena merasa ucapan Changmin barusan sungguh di luar dugaan, sungguh memuaskannya. “Sumpah, aku juga ingin begitu kalau aku mengingat-ingat lagi kejadiannya. Tetapi, saat itu yang kupikirkan adalah membuatnya jera karena telah menganggu dan merendahkanku. Selain karena faktor jarak kami yang terlalu jauh, kupikir, bisa saja dia lebih jago bertarung dan malah menangkap tinjuku nanti. Maka aku mengurungkan niat untuk meninjunya dan langsung mendapat ide seperti itu saat melihat pisau di meja sebelah.”

Changmin berjengit dan wajahnya itu malah makin membuat Changi geli. “Untung saja, kau tak melakukan hal yang sama padaku di restoran kemarin lusa,” ucap Changmin.

Changi tersenyum lebar. “Akhirnya kau akui juga kalau tindakanmu di restoran kemarin itu tindakan merendahkan orang.”

“Siapa yang mengakui?” Changmin melebarkan mata.

Changi menampilkan senyum seorang ibu yang mendapati anaknya berbohong.

Changmin menyeringai, menimbulkan bunyi decak dari mulutnya—namun bukan dengan arogansi yang biasa dia tampakkan, melainkan dengan rasa yang sedikit kelihatan seperti kegrogian.

“Aku lakukan itu pada Honie karena dia telah mengeluarkan kata-kata yang merendahkanku. Kau tahu itu. Lalu kau baru saja berkata, untung aku tak melakukan hal yang sama padamu juga kemarin. Itu tandanya kau mengakui kau juga telah melakukan penghinaan padaku bukan?” Changi menanyakan pertanyaan yang pastinya memukul telak Changmin.

Changmin diam dan menyesali dalam hati mengapa dia mengucapkan itu, namun kemudian dia tercengir saat menemukan celah agar memukul balik Changi. “Honie? Jadi itu panggilan sayangmu pada playboy poker itu?” tanya Changmin yang kemudian terkikik.

Changi, yang sama sekali tak terpengaruh akan candaan Changmin, merenung. “Kau tahu tidak,” tanya Changi pelan, “mengapa aku tak lakukan hal yang sama padamu seperti yang kulakukan padanya?”

Chagmin melirik Changi dan memperoleh air mukanya yang kini murung.

“Karena aku tak mau menimbulkan efek buruk itu sekali lagi,” tambah Changi, “karena aku tak mau mengulangi kesalahan yang sama kedua kalinya.”

Changmin sebetulnya berniat untuk meledek Changi, bilang kalau-kalau Changi kemarin lusa melakukan hal yang sama kepadanya, belum tentu akan berefek sama padanya. Akan tetapi, begitu melihat kemurungan Changi yang semakin gamblang, Changmin mengganti niatnya itu. “Memang apa yang terjadi padanya setelah itu?” tanya Changmin

***

Sabtu pagi, tepat seminggu sejak kejadian di kafe tersebut, Changi yang sewaktu itu masih berumur dua puluh satu tahun sedang menikmati hari liburnya di rumah. Sayangnya, kesantaiannya berakhir seketika saat pintu kamarnya dibuka oleh eomma-nya.

“Changi, ada tamu untukmu,” beritahu sang eomma.

Changi bangkit lalu beranjak keluar kamar. Mungkin Heehyo, pikirnya. Dia berjalan ogah-ogahan menuju ruang tamu dengan masih menggunakan piyama tidurnya. Dia kaget sekali begitu menemukan tiga pria asing duduk di ruang tamunya. Changi sontak bersembunyi di balik dinding yang membatasi ruang tamu dengan lorong menuju kamarnya. Changi kemudian mengintip dari baliknya. Dia melihat salah satu dari pemuda itu bangkit, mendekatinya.

“Changi,” panggilnya.

Nuguseyo?” tanya Changi was-was.

“Kau lupa pada kami?”

Changi memutar ingatannya dan teringat. “Ah, kalian teman-temannya si pria di kafe itu?”

Ne,” jawab satu-satunya pria yang sedang berdiri itu, “kami perlu bicara denganmu.”

“Sebentar dulu, aku mau ganti baju dulu,” sahut Changi.

Di antara dua pemuda yang duduk di sofa, salah satunya mencibir. “Cih! Kami tak punya banyak waktu. Sudahlah, tak apa, kami tadi sudah melihatmu dengan piyama itu—”

Dan Changi hanya bisa membelalakinya dari balik dinding hingga pemuda itu menutup mulutnya namun tetap melemparkan pandangan merendahkan. Changi, walaupun merasa sebal karena dilempari pandangan seperti itu, kemudian kembali ke kamarnya.

Setelah beberapa menit berlalu, Changi sudah rapi dan duduk di hadapan tiga pria itu.

Ketiganya tak mengeluarkan reaksi apa pun, meskipun mata mereka memandangi Changi dari atas hingga ke bawah. Masing-masing bergolak dalam pikiran mereka dan intinya sama; mengapa Yunho, sahabat mereka yang playboy berat, bisa tertarik pada wanita seperti ini? Sungguh berbeda dengan tipe wanitanya Yunho yang biasa. Walaupun demikian, tak dapat disangkal oleh ketiganya, Changi memang memiliki senyum yang manis–terlalu manis bahkan sampai bisa dibilang mengandung banyak makna lain.

Yang tadi berdiri dan hampir mendekati Changi akhirnya membuka mulut. “Baiklah,” dia berdeham sebentar dan melanjutkan, “seperti yang kubilang tadi, ada sesuatu yang ingin kami bicarakan padamu.”

Changi sebetulnya gugup luar biasa. Bayangkan, ini merupakan kali pertama ada pria yang datang ke rumahnya selain saudaranya. Dan mereka ada tiga. Akan tetapi, Changi berusaha setenang mungkin menanggapi mereka.

Melalui perkenalan singkat, Changi mengetahui kalau yang sejak tadi bicara mewakili mereka bertiga bernama Leeteuk, yang satunya Shindong, dan yang tadi mencibir bernama Jaejoong.

“Sebelumnya, terima kasih atas penulisan alamatmu yang lengkap di meja kafe itu. Jadi kami  bisa langsung menemukanmu,” ucap Leeteuk, yang sempat mengacuhkan Changi dan Jaejoong yang bersamaan ingin menyela dan melanjutkan, “akan tetapi, kami juga mau meminta pertanggungjawaban atas perbuatanmu itu, perbuatan yang sudah mengakibat kekacauan pada sahabat kami, Yunho.”

Changi terperangah. “Seingatku, aku tak melukainya. Tak ada apa-apa yang terjadi padanya.”

“Memang,” Shindong berucap, “setelah kau melangkah pergi dari kafe itu, tak ada keanehan apa pun padanya. Dia memang sempat terpelongo, namun dia cepat kembali ke dirinya yang biasa. Kami bahkan main poker lagi.”

Changi mendengarkannya dengan saksama, meskipun dahinya berkernyit.

“Sehari setelah itu pun,” Shindong melanjutkan, “kami masih seperti biasa saja. Hari kedua, kami malah sempat ke klub dengan para wanita. Tapi, di hari ketiga, kami tidak melihatnya lagi. Dia tidak ke kampus. Dia tidak ke tempat berkumpul kami di klub.”

Changi menaikkan satu alisnya. “Kalian anak kuliah juga, rupanya?” tanyanya iseng, namun begitu Jaejoong mau bangkit dengan kepalan tangan, segera dia berwajah serius. “Apa kalian tidak mengecek ke rumahnya?”

“Sudah,” jawab Shindong, “dan pamannya bilang dia sudah tidak pulang sejak lama. Kata pamannya, Yunho ikut acara kampus; acara yang kami yakini hanya bualan Yunho.”

“Mungkin dia menginap di rumah pacarnya,” ujar Changi.

“Dia sedang tak punya pacar sekarang,” jawab Shindong.

“Atau bersama mantan pacarnya, barangkali.”

“Kami tahu semua mantannya. Dan tak ada yang tahu Yunho ada dimana.”

“Tidak mau beritahu kalian, mungkin,” Changi berujar lagi. “Kalau kalian begitu mencemaskannya, kalian datangi saja satu per satu pacarnya.”

Jaejoong bangkit. “Kaupikir mantan pacarnya bisa dihitung dengan jari? Jadi, kami bisa datangi satu per satu dan menanyakannya? Mantannya banyak. Dan mereka semua mengerikan!”

“Mengerikan?” Changi melontarkan tanya. “Maksudmu?”

“Yunho tak pernah putus secara baik-baik dengan mereka. Jadi, semanis apa pun sikap awal wanita yang kami telepon, dalam sekejap akan berubah menjadi mengerikan saat kami sebutkan nama Jung Yunho,” terang Leeteuk.

Changi berjengit, namun dalam hati, dia ingin tersenyum. Pasti pria itu telah melakukan hal-hal yang melecehkan kaum wanita, pikir Changi. Lantas, Changi mulai mengaitkan pada dirinya, lalu mengapa mereka datang padaku?

Seperti memiliki telepati, Jaejoong pun segera menjawab pertanyaan yang ada di pikiran Changi tersebut. “Dan kami datang padamu karena,” ucap Jaejoong, “kejadian yang terjadi kemarin.” Jaejoong menaikkan salah satu kakinya ke pangkuannya dan berdeham. “Kejadian itu belum pernah kami lihat sebelumnya. Kemarin kami melihat Yunho ada di kafe milik temanmu itu—siapa namanya? Ah ya, Heehyo—Yunho ada di sana duduk memandangi tulisan yang kautinggalkan di meja. Dia duduk di sana tanpa melakukan apa pun, tak bergerak sedikit pun. Heehyo bilang, dia melakukan itu sejak dia hilang, lima hari yang lalu.”

Terbelalak, hanya itu yang bisa diekspresikan oleh Changi.

“Heehyo sudah memintanya untuk pulang, mengancam akan memanggil polisi untuk mengusirnya, dan banyak cara lain, namun Yunho tetap diam,” Shindong menambahkan.

“Maka Heehyo tak bisa berbuat apa pun. Yunho memiliki kartu anggota kafe itu sehingga dia berhak menyewa tempat hingga kapan pun. Heehyo senang sekali saat kami datang. Dia jadi memiliki harapan agar bisa segera membereskan Yunho,” timpal Leeteuk, “sayangnya, kami bahkan tak dihiraukan olehnya.”

“Ka—kalian bilang tadi—dia memandangi tulisan di meja itu sejak lima hari yang lalu?” tanya Changi, mengungkapkan apa yang paling menarik otaknya untuk berpikir.

Ketiganya mengamini.

***

Changmin melemparkan dengusan mengejek. “Terasa sekali tidak bagimu kalau itu kebohongan? Pasti tiga anak tikus itu bicara begitu padamu atas suruhan si Yun—”

“Itu bukan kebohongan. Heehyo sendiri pun bersaksi sama,” sela Changi dengan galak karena lagi-lagi Changmin memotong ceritanya begitu saja.

“Hm…” Changmin memiringkan letak bibirnya. “Bisa saja Heehyo juga ikut konspirasi mereka.”

Changi melirik Changmin. “Bagaimana dengan video dari kamera CCTV kafe?” tanyanya.

Changmin diam, merasa sulit berkelit kalau sudah dihubung-hubungkan dengan teknologi.

***

Jok mobil Leeteuk membuat Changi yang mendudukinya sama sekali tak bisa diam. Kedua rekan Leeteuk; Jaejoong dan Shindong, yang duduk di belakang merasa risih melihatnya. Apalagi Leeteuk yang bersebelahan dengannya. Maka, Leeteuk pun melemparkan pertanyaan basa-basi, “Kursinya tak nyaman, ya?”

Changi melirik padanya. “Kau sudah tahu yang membuatku tak nyaman adalah semobil dengan kalian.”

Leeteuk menghela napas. “Naik mobilku lebih cepat, Changi. Kalau kita naik bus—”

“Aku tidak meminta kalian naik bus,” penggal Changi, “aku bilang kita berpisah; aku naik bus, kalian naik mobil. Nanti kita bertemu di sana.”

“Baru kali ini ada wanita yang sebegitu tak relanya naik mobil dengan kita,” ujar Shindong.

“Aku berbeda dengan yeojayeoja yang pernah kalian temui,” tegas Changi.

“Oh ya?” tanya Jaejoong dengan nada meremehkannya.

Ne, geuromyo. Aku tak sama dengan yeojayeoja cengengesan yang kalian ajak jalan ke restoran atau kafe lalu berakhir di hotel.”

Shindong tertawa terbahak tiba-tiba. “Jadi, kaupikir kami akan melakukan sesuatu semacam itu padamu, begitu?” tanyanya.

Hya, kau pikir kami kurang kerjaan?!” Jaejoong mulai berucap sinis lagi, “lagipula buat apa mengajak wanita berwajah biasa dengan kecenderungan sakit mental seperti—”

Shindong menutup mulut Jaejoong yang makin di luar batas itu lalu memandang Changi. “Percayalah pada kami, Changi. Kami membawamu hanya untuk menyelamatkan Yunho.”

“Percaya?” tanya Changi dengan nada arogan. “Setelah aku dijadikan taruhan oleh kalian bersamaan dengan kamar di apartemen Yunho beberapa hari yang lalu itu, kalian pikir aku bisa percaya pada kalian?”

Kali ini Leeteuk yang tertawa. “Oh, masalah itu? Itu bohong. Kami tak memakai taruhan. Yunho yang mengarang itu agar dia bisa meluncurkan serangannya padamu,” jelas Leeteuk.

“Serangan?” tanya Changi, memasang wajah polosnya. Dia merasakan debaran di hatinya mendengar itu.

“Serangan selanjutnya. Aku juga tak tahu apa itu. Si brengsek itu penuh kejutan. Aku yakin dia bertujuan agar kau tak cepat pergi. Kalau dia tak ucapkan itu, kau pasti sudah langsung pulang, bukan?” tanya Leeteuk.

Changi tak sempat menjawab karena kini mobil yang ditumpanginya itu sudah terparkir di halaman kafe milik paman Heehyo.

Empat pintu mobil terbuka dan keluarlah empat pembukanya dari dalam mobil. Leeteuk, berdampingan dengan Changi, menginjakkan kakinya lebih dulu di tangga kafe itu dan segera menemukan Heehyo yang segera menyambut.

“Changi!” seru Heehyo semangat. “Aku mencoba menghubungimu sejak lima hari lalu. Tapi kau selalu menghindariku. Apa kau masih marah padaku soal seminggu lalu?”

Ya, Changi memang menghindari Heehyo. Dia bukannya tak mau berteman dengan Heehyo lagi. Dia hanya ingin memberi Heehyo pelajaran sedikit.

Changi hanya menyeringai pada Heehyo lalu segera menyambangi pria yang menjadi sangat jelek hari itu. Dia duduk di meja yang sama dimana permainan poker mereka seminggu lalu dilakukan. Penampilannya berbeda sekali daripada saat Changi bertemu dengannya. Dekil sekali.

Changi duduk di hadapannya. “Kau mau tanding ulang?” tantang Changi.

Yunho mengangkat wajahnya, memandang langsung mata Changi.

“Tindakanmu seperti bocah, kau tahu? Hanya karena kalah sekali lalu kau menyusahkan semua orang seperti ini.”

Mendadak, Yunho bangkit. Matanya menatap Changi. “Ya, aku mau tanding ulang,” ujarnya dengan suara yang antara lemah dan kuat.

“Baiklah,” Changi menyanggupi. Dia melihat Heehyo menggerakkan bibirnya, membentuk ucapan terima kasih.

“Tapi dengan satu syarat,” Yunho bersuara lagi, mengalihkan pandangan Changi kembali kepadanya, “hadiah taruhan seminggu lalu itu menjadi benar-benar berlaku.”

Seperti disusupi iblis jahat dalam satu detik, tangan Changi tergerak dengan sangat cepat dan menampar keras wajah Yunho.

Sedetik kemudian, iblis jahat itu keluar dari tubuh Changi, meninggalkan Changi yang menangkap sinyal bahwa dia telah menambah runyam suasana. Dia menyesal seketika.

Yunho tak bergerak, meskipun Jaejoong memanggil dan mengguncang-guncang tubuhnya. Sebaliknya, Shindong hanya bengong dan Leeteuk terkesima. Merasa dirinya penyebab suasana buruk ini, Changi takut. Terlihat sekali di wajahnya, dia takut. Dia takut dihakimi kelima orang itu. Saat Changi sibuk memikirkan keburukan apa yang akan terjadi padanya, Yunho mulai bergerak dan berjalan ke dekatnya. Dan saat Changi baru sadar si pria dekil ini sudah di hadapannya, Yunho memeluk Changi seerat mungkin tanpa sempat membiarkan Changi berbuat sesuatu lebih dahulu.

“Aku menyukaimu,” ucap Yunho.

Sekarang yang dirasuki adalah Heehyo, Leeteuk, Shindong, dan Jaejoong, namun bukan oleh iblis jahat, melainkan oleh setan bernama ‘kaget’.

Changi seperti orang tak sadar. Tak pernah ada satu pria pun yang memeluknya atau dia biarkan memeluknya. Satu-satunya pria yang pernah memeluknya adalah appa-nya sendiri. Itu pun hanya di momen-momen tertentu seperti kelulusan atau ulang tahun. Maka tindakan Yunho saat ini adalah tindakan yang sama sekali di luar pikiran Changi.

Jaejoong memerhatikan kedua jemari Changi yang perlahan tapi pasti merayap menuju punggung Yunho. “Huh… Wanita itu sebenarnya suka juga pada Yunho. Lihat, dia juga membalas pelukannya—”

Jaejoong mendadak melotot dan berhenti untuk memberi spekulasi penuh keburukan lagi karena Changi segera membuktikan ujarannya salah. Tangan Changi menjambak dengan begitu keras rambut hingga kepala Yunho terdongak ke belakang. Sontak Yunho berteriak kencang, melepas pelukannya terhadap Changi, lalu melompat-lompat kesakitan memegangi bagian kepalanya yang terlepas rambutnya.

Changi memandang kumpulan helai rambut di tangannya. Melihat itu, wajah jahat Changi berganti dengan wajah bersalah. “Hah?! Apa yang telah kuperbuat?”

Leeteuk, Shindong, dan Jaejoong terkejut sangat melihat perubahan drastis ekspresi Changi itu. Dan setan ‘kaget’ menyusupi mereka lagi.

Heehyo, yang merasa Changi akan lebih menimbulkan permasalahan baru di kafe yang kini sedang di bawah tanggung jawabnya, menghampiri Changi yang masih bertanya-tanya dengan wajah lugu. “Sudah, Changi, ayo kuantar mencari bus,” ajak Heehyo.

Changi mengangguk dengan polos. Keduanya pergi begitu saja, meninggalkan empat pria itu. Yunho sepertinya telah menunjukkan kepada mereka bertiga, seperti apa wanita biasa ini sebenarnya.

***

Yunho sudah tak melompat-lompat sambil berteriak nyeri.

“Kepalamu pitak sekarang,” unjuk Shindong polos. Dan meledaklah tawa Leeteuk begitu mendengarnya.

“Wanita itu tahu saja andalanmu adalah rambutmu. Dan sekarang kau harus selalu pakai topi,” timpal Jaejoong.

“Bagaimana kalau di kampus? Bukankah dosen sering mengomel kalau ada mahasiswa yang memakai topi di kelas?” tanya Shindong, yang sudah tenang meski di sampingnya Leeteuk masih terbahak-bahak.

“Oh, ya,” ujar Jaejoong, “matilah kau. Satu kelas akan menertawakanmu.”

Yunho menyeringai. “Masa bodoh dengan kelas. Masa bodoh dengan orang-orang satu kampus.”

Leeteuk akhirnya berhenti tertawa. “Bagaimana dengan gadis-gadismu? Apa yang akan kaukatakan pada mereka?” tanyanya.

“Mereka takkan meninggalkanku hanya karena kepalaku pitak,” ujar Yunho percaya diri.

“Oh ya?” Jaejoong mencibir.

“Tinggal bilang saja, aku bertarung dengan para berandal jalanan yang mau menodongku,” kata Yunho, “melihat aku tak terluka sedikit pun dan mendengar hanya beberapa helai rambut yang berhasil mereka bawa dariku, bukankah itu justru malah membuat mereka makin terpana kepadaku?”

Jaejoong berdesis. “Cih! Konyol! Memangnya mereka akan percaya?”

“Aku ketua unit kegiatan mahasiswa Karate. Kenapa mereka harus tak percaya?” balas Yunho.

Leeteuk terpingkal-pingkal lagi. “Baiklah, dan tak ada yang tahu ternyata para berandal jalan itu adalah jelmaan dari seorang wanita kurus yang terlihat begitu lemah lembut, yang menjambak rambutmu secara sadis saat kau memeluknya.”

Yunho melirik kesal pada Leeteuk dan melemparkan asbak kepadanya. Untungnya, Leeteuk adalah wakil ketua unit kegiatan karate, dan refleks menghindarnya luar biasa.

***

“Nampaknya kau juga tertarik pada teman-temannya?” sindir Changmin.

Changi meliriknya. “Kenapa kau berpikir begitu?” tanyanya.

“Tidak kenapa-kenapa,” ucap Changmin dengan tawa tertahan yang disengaja ditunjukkan, “hanya saja kau sepertinya mudah… sekali.”

“Maksudmu?” cetus Changi. Dia sudah berdiri sekarang, mengepalkan tangannya dengan lengan diluruskan di samping badannya. “Maksudmu aku wanita murahan?”

“Aku tidak bilang begitu,” elak Changmin.

“Tapi ucapanmu mengonotasikan begitu,” tukas Changi.

“Terserah kau mau berpikir apa,” ucap Changmin sambil menengadah pada Changi, “dan kau mengepalkan tangan seperti itu sekarang… kau ingin menamparku?”

“Tamparan,” Changi melantangkan suara dan memberi jeda pada ucapannya, “terlalu bagus untukmu.” Wanita itu pun berbalik, menyibakkan rambut keritingnya, lalu melangkah meninggalkan Changmin yang mengerutkan kening.

***

Advertisements

54 thoughts on “The Outline #6

  1. bumisme says:

    ahhhh gila gila makin seru aja ceritanya & chingudeul kreatif bgt loh soal kafe poker itu wkw
    trnyata changi emg konyol kelakuannya dan spertinya changmin sudah jatuh pada pesona kim changi hehe

  2. ahnjoohee says:

    ketemu lagi kan unnie(?) kkkk~ nih huwaa makin seru ini ciyus /lebay-_- acieee makin panjang(?) wkwk makin suka aja sama karakter changi disini(?) jadi ayah dari anak changi itu yunho unn? :O itu bener bukan changi punya anak terus suaminya meninggal dan suaminya itu yunho? /ngarang-_- makin penasaran akuuuu >_< good job unnie-ya :-*

    • Mysti Adelliza says:

      ahahaha…
      ne, kita ketemu lagi, chingu ^^
      seterusnya bakal makin panjang kok, hehe. wah, suka changi ya? kkk
      daripada penasaran mending lanjut baca aja, chingu 😉
      gomawo udah komen, ne :*

  3. SalsaKyu! says:

    Yunho ternyata jail banget yah. Brengsek juga sih(?) eh.
    Aku suka pas Yunho ngasal aja panggil namanya Changi, masa dia manggil Chaerin/ Yujin ke Changi.
    Aku pernah liat adegan kayak gitu di drama, trus keinget lagi krn baca ini *abaikan

    • Mysti Adelliza says:

      Jahil ya? Ahahaha. Namanya juga lagi usaha pendekatan, chingu #apadeh
      Iyakah? Drama apa? 😀 Saya malah sebenernya nemuin itu di film barat. #lah
      Btw, makasih udah komen lagi, Salsa #bow

  4. Nan_Cho says:

    baru kali ini aku bisa bayangin cast yg bukan Cho Kyuhyun dgn sempurna..
    Yunho, penggambaran Changi ttg Yunho di otak aku perfect, muka nakalnya waktu ganggu Changi, perilakunya, semuanya, jd feelnya lebih dapet..

    scene ChangChan disini mulai akrab mereka walau Changi masih sedikit ketus dan Changmin yg menyebalkan..
    omg, jd kangen Kyuhyun coba, kkk~
    gimana nasib itu bocah..

    • Mysti Adelliza says:

      nan_chooooo~
      wah, kamu bisa bayangin Yunho dengan sangat baik rupanya ^^
      senang dengernya hehehe
      Changchan terasa akrab di sini ya? kkkk
      hehehe, Kyu nanti tampil kok, nan-cho~
      btw, makasih udah komentar ya 🙂

  5. iec_4 says:

    Jd..krn truhan konyol dr keisengn yunho..
    dsar playboy..da jja cr licikny..
    krystla b‘arti ankny yunho???

    • Mysti Adelliza says:

      Iya, chingu^^ gara2 taruhan^^ Hehehehe…
      Kkkk… playboy dengan cara licik ya? hahahah
      Krystal anaknya siapa nanti diungkapnya, chingu^^
      Btw, makasih udah komentar ya 🙂

  6. asrikim says:

    Part ini kocak abis,,aq sampai ngakak bacanya eon,,,kasihan amat tu yunho dijambak gitu sm changi,,,aq suka karakter changi dipart ini enggk terduga,,,dan sekarang sedikit2 masa lalu changi molai terunggkap,,,awal mulanya ketemu sm yunho dan temen2 nya yunho,,,dan kli ini pajang puas bcanya,,,dan jg changchan jg udh molai agak deket walaupun changi msih agk jutek dan changmin msih aja seenaknya klau ngomong,,,pokoknya seru,,,
    Fighting buat duo eonni

    • Mysti Adelliza says:

      Huwooo… Kamu kembali komen, asrikim^^
      Hehehe, senang dengernya kalo menurutmu part ini kocak.
      Wah, jadi kamu suka karakter Changi di part ini aja? Hehe
      Ne, emang sedikit demi sedikit keungkap masa lalunya^^
      Kamu lebih suka kalo panjang ya ffnya?^^
      Makasih, asrikim, udah komen lagi dan makasih juga dukungannya^^

  7. asrikim says:

    Sama2,,enggk jg dipart2 sebelomnya asrikik jg suka karakter chang””cuma dipart ini nunjukin sisi lain seorang kim changi yg lain,,biasanya kan dia polos banget tp disini dia bisa berubah kayak babon yg ngilihat anaknya mau dicuri,,hehehe

  8. Dwee규 says:

    Hoo.. jadi itu tooh awal mula changi ketemu yunho..  ̄0 ̄ changi…changii… kliatan polos tp ternyata bisa sadis jg.. hahaha… 😀
    Yunho jg.. bisa” playboy macam dy galaau gt krna seorang changi… XD

  9. zio09 says:

    awal pertemuannya Changi sama yunho keren…
    rada gak masuk akal sih kalo yunho stress gr” kalah main poker sama Changi, tapi kegilaannya yunho itu keren menurutku.. hahaha

  10. hyochun says:

    yaampun, changi emang jelmaan preman kayanya.. kkk~
    jadi awal cinta yunho-changi itu dimulai dari poker? poker love #ehh hahaha
    yunho jatuh cinta pada changi hanya karena itu ? ckckck emang playboy tingkat akut 😀
    jae jadi namja yg ceplas ceplos #bayangin #ngakakgegulingan hehehe
    yah..aku bayangin changmin disini tu mempesona ala paradise ranch deh hyaaa >_< :* apakah poker juga yg menjadikan chang-chang deket? .. lihat saja nanti ^^ #nextpart hehe

    • Mysti Adelliza says:

      Hahahaha…
      Iya, poker love ^^
      Yunho suka Changi karena dia dari awal nolak Yunho, ga kayak cewek2 yang selama ini dia temuin hehe
      Hahaha, dia bukannya kadang cerewet kalo ke Yunho hahaha
      Changmin emang mempesona di sini, tapi sayangnya, saya ga nonton paradise ranch ><
      Iyaaa… liat aja hehehe…
      Makasih udah komen lagi, hyochun ^^

  11. monica dahlan says:

    wah ada yunho jgn” appa dr anak nya changi iyu yunho ya? #plakk sok tauu ><
    ya ampun changi itu emang rada aneh n susah d tebak ya hahaha kata nya manis tp ko jambak rambut orang ampe pitak kkkkkk tp wajar c, yunho nya nyebelin sih hehehe 😀

  12. harum567 says:

    Wkwk part ini lucu eonni. Baca part ini sampe 1 jam. Nggak selesai2 karena ketawa. Changi ganas banget wkwk, rambut yunho sampe dibubut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s