Darkness Eyes #2

Title                     : Darkness Eyes (Part 2)

Author                 : Mysti Adelliza

Main Casts         : Kim Jun Su (DBSK), Min Min Mi (OC)

Support Cast      : Park Sung Rin (OC)

Genre                   : Drama, Sport

Length                  : Chaptered

***

“Tuan.” Sebuah panggilan halus menyapa Junsu yang tengah terlelap.

Junsu terkejut sedemikian rupa sehingga terlonjak dari kursi busnya. Dia menoleh ke sekelilingnya, nampak bingung.

Jeosonghamnida, Tuan, mengagetkanmu,” ucap suara lembut tadi.

Junsu mengerling penyapanya. Ternyata seorang pria. Busana pria itu bisa dikenali oleh Junsu sebagai supir bus yang dia tumpangi. Dia tercengir bodoh pada supir itu lalu mengangguk.

“Sudah sampai, Tuan,” ucap supir itu.

“Ah!” Junsu terkesiap. “Sudah ternyata.”

“Ya, kita tiba di Jeongup sekitar,” supir itu melirik arlojinya, “dua puluh sembilan menit yang lalu. Semua penumpang sudah turun, Tuan.”

“Ah, ya, ya, Janggeum,” Junsu berkata sambil bangkit dari kursinya

“Jeon-gup, Tuan,” koreksi supir itu.

Kendati demikian, Junsu tidak mendengarkan. Matanya sudah beralih ke bangunan yang dicat mentereng di luar bus.

“Wow. Baru kali ini aku melihat terminal bus mencolok seperti itu,” komentar Junsu heboh, membuat si supir tertawa.

Melihat supir itu tertawa karenanya, pun dia ikut tergelak. Hatinya mengatakan mungkin tempat ini memang bisa mengobati kesedihannya. Dia baru beberapa menit di sini, tapi dia sudah bisa kembali tertawa setelah tiga hari meratapi nasib.

“Omong-omong, Anda,” sang supir yang memang sejak tadi penuh senyum bertanya, “itu… atlet anggar itu bukan? Kim Junsu?”

Junsu menyeringai. “Anda tahu, ya?” Dia balas bertanya, dengan merundukan kepala.

“Berita Anda begitu tersebar di penjuru negeri,” jawab supir itu, “tidak mungkin aku tidak tahu. Semenjak pengumuman peserta Kejuaraan Anggar Internasional tiga hari lalu, Anda yang biasanya muncul di media, mendadak menghilang.”

Setelah pengumuman peserta Kejuaraan Anggar Internasional dia memang hanya bisa terisak dengan mengenaskan di apartemennya. Dia sempat menyesali mengapa dia memutuskan untuk tidak memiliki pacar atau istri. Sengaja dia melakukan itu, demi berfokus dalam menanjaki karir. Akan tetapi, sekarang dia menjadi sendirian dan tak ada tempat berkeluh kesah. Jika datang ke rumah orang tuanya, dia akan merasa tidak enak hati. Dia yang memilih jalan ini, jadi dia jelas akan menjadi sasaran kemarahan jika dia datang pada mereka untuk mengeluh.

Bagaimana dengan teman? Teman terdekat Junsu adalah Park Yoochun. Dan pria itu kini tengah mengikuti persiapan Kejuaraan Anggar Internasional.

Teringat akan kompetisi itu, Junsu bersedih dan menyalahkan nasibnya lagi.

“Tuan,” panggil supir itu kembali. “Apakah ada yang bisa saya bantu?”

“Ah,” Junsu menyahut, “jeosonghamnida, saya melamun. Saya akan segera turun. Kamsahamnida.”

“Mari turun bersama,” kata si supir.

Junsu menggangguk sambil melangkah menuju pintu keluar lantas menuruni tangga.

Sesudah turun dari bus, dia pamit pada si supir bus lalu berjalan cukup jauh demi mencapai bangunan panjang di terminal tersebut. Junsu mengikuti orang-orang yang menyeret koper atau menjinjing tas untuk masuk ke dalamnya. Dia menaiki tangga dan memasuki bangunan itu, berjalan berputar-putar. Rupanya di dalam gedung tersebut cukup luas. Penjelajahannya di bangunan itu kemudian berhenti ketika dia menemukan meja bagian informasi. Dia pun segera mendatangi petugas yang tengah merapikan kertas-kertas di meja tersebut.

Annyeonghasimnikka. Ada yang bisa saya bantu?” tanya petugas tersebut padanya.

“Saya ingin bertanya,” ujar Junsu.

“Informasi apa yang Anda butuhkan, Tuan?” tanyanya.

“Satu hal saja,” jawab Junsu, sambil menoleh pada sekitar. “Saya hanya ingin tahu, apa saja yang ada di tempat ini.”

***

Pertanyaannya mengenai tempat apa yang sedang dia injak itu membawanya ke pengetahuan bahwa dia sedang berada di desa yang memiliki jumlah penduduk yang sedikit karena suhu udaranya lebih rendah dari daerah lain. Dan daerah ini jauh dari Seoul. Junsu benar-benar merasa terasing di sini—sesuai kemauannya.

Setelah membeli beberapa peralatan di Gift Shop, dia pun menaiki taksi. Taksi tersebut dikemudikan seorang supir taksi yang ramah dan langsung menanyai Junsu. “Ingin kemana, Tuan?” tanyanya mengenai tujuan.

­Apa di sini ada hotel atau

“Ah,” supir taksi segera menyela ucapan Junsu, “di sini adanya penginapan, Tuan. Dan ada banyak. Dengan pelayanan yang bagus dan pemandangan yang bagus pula. Yang mana yang anda

“Saya pilih yang paling dekat,” jawab Junsu singkat. Dia bangga sendiri bisa mengatakan, memilih sekaligus menentukan sesuatu tanpa lama berpikir seperti biasanya.

“Baiklah,” balas si supir taksi, “Inkigayo merupakan pilihan yang bagus.”

Junsu mengangguk.

Sang supir taksi kemudian membawa Junsu menuju penginapan yang dia sebut Inkigayo. Junsu pura-pura tertidur selama perjalanan. Dia sedang tidak ingin bercakap-cakap sekarang. Namun, dia tidak enak menolak berbicara dengan supir taksi yang sangat ramah tersebut.

Beberapa menit berselang, Junsu dibangunkan dan dimintai ongkos taksi. Karena keramahan dan sarannya, Junsu memberikan tip yang cukup banyak kepadanya.

Setelah taksi itu melaju pergi, Junsu mengedarkan pandangan ke Inkigayo, sebuah penginapan yang cukup besar dan nampaknya lebih cocok disebut hotel. Junsu menaiki tangga, melewati pintu putar lalu menghampiri meja resepsionis.

***

Satu kamar Executive Suites yang dia pesan sungguh memanjakannya. Dan kamar Executive Suites yang Junsu pesan ini memiliki beberapa kelebihan. Berkat itu pun, Junsu merasa dia bisa menghabiskan waktu selamanya di kamarnya.

Namun demikian, niatnya memendam diri itu hanya berjalan selama dua hari saja. Dia yang merasa bosan, akhirnya memutuskan untuk menjelajahi Jeongup di hari ketiga. Terima kasih pada fasilitas Wi-Fi yang ada di sepanjang area hotel, Junsu bisa mencari tahu tentang hiburan apa saja yang dimiliki tempat itu.

Dia terus mencari di ponselnya, namun belum ada yang membuat dia tertarik. Sementara dia sudah bosan luar biasa, dan kelaparan. Dia tidak mau terus-menerus memesan makanan agar diantar ke kamarnya melalui room service. Dia harus keluar.

Sepertinya ada bar atau restoran di hotel ini, pikirnya.

Dia pun mengambil katalog promosi dan penjelas fasilitas hotel. Di katalog itu, dia menemukan bar dan restoran bernama Baksu Bar. Dia meneruskan membaca apa saja yang ditawarkan tempat itu.

Tidak buruk, Junsu menilai.

Hingga beberapa detik kemudian, tanpa pikir panjang lagi, Junsu pun merapikan dirinya sejenak dan segera membawa dirinya menuju tempat tersebut.

***

Annyeonghassimnika,” seorang wanita berpakaian formal, namun provokatif—gaun merah dengan atasan terbuka, menyambutnya di pintu masuk.

Junsu mengangguk kikuk, menyambut salamnya.

Wanita itu melanjutkan ramah-tamahnya dan bertanya, “Apa Anda sendiri atau ada janji?”

“Sendiri,” jawab Junsu.

“Kalau begitu, mari saya antar,” ajak wanita itu sambil mengarahkan tangannya ke arah pintu masuk. “Kebetulan malam ini ada pertunjukkan khusus ‘Goura-goura’, Tuan. Anda datang pada saat yang tepat.”

Junsu mengangguk-angguk, mengamati sekitar. Semua sesuai dengan gambar di katalog hotel di kamarnya. Atmosfernya memang menarik, sama seperti perkataan promosi di katalognya.

“Silakan duduk di meja ini, Tuan. Dari sini, Anda akan dimanjakan pemandangan pertunjukan yang pas. Anda mungkin juga akan dapat berinteraksi dengan para penarinya di lantai dansa nanti,” jelas wanita itu.

Junsu masih merasa canggung. Penari? Dia bertanya dalam hati. Begitu dia ingin bertanya kepada penyambutnya tersebut, wanita itu kembali berceloteh sambil memberikan buku menu, “Ini menu yang bisa Anda pilih, Tuan. Jika Anda siap memesan, silahkan panggil saya, Park Sungrin, atau Min Minmi yang ada di dekat meja kasir dan bar tersebut—”

Anggukan dilancarkan oleh Junsu. Dia tidak melihat pelayan entah-siapa-tadi-namanya yang dirujuk penyambut itu, karena perhatiannya kini terfokus pada buku menu yang disodorkan kepadanya.

“—dan jika Anda ingin bertanya lebih lanjut tentang Baksu Bar, Anda juga bisa bertanya kepadanya atau kepada saya,” lanjut wanita itu.

“Ya,” sahut Junsu.

“Saya undur diri, Tuan. Selamat menikmati,” ujar wanita itu sambil memundurkan langkah.

Junsu hanya tersenyum sambil mengangguk.

Setelah wanita itu benar-benar pergi, dia membolak-balik buku menu tersebut. Dia membaca nama makanan dan penjelasannya keras-keras, alih-alih menggumam. Dia bahkan berpikir, mengomentari sambil menentukan pesanan tertepat yang akan dia pesan pun dengan mulut, bukan dengan otak.

Mendadak dia sadar, dan menoleh pada sekitar, kemudian merasa lega mengetahui tak ada orang yang memperhatikannya. Semua sibuk pada suasana nyaman sekaligus elit restoran ini. Semua memiliki teman makan. Tidak sepertinya. Sendirian.

Tentu saja semua sibuk, gumamnya dalam hati.

Matanya masih menyisir lingkungan temaram karena cahaya lampu yang agak redup, ditambah malam yang memang sudah bergulir. Semua keriuh-rendahan, semua yang bercakap, tertangkap di matanya.

Di sisi lain, dia tahu, tak ada yang memperhatikannya. Dia tiba-tiba merasa kesepian. Junsu lantas memejamkan mata dan memasang wajah terpuruk dalam waktu ekspres.

Dia tidak mengetahui, sungguh dia tak ada ide, kalau ternyata ada seseorang sedang mengamatinya—satu-satunya orang di ruangan itu yang sedang mencermatinya dengan penasaran.

***

Advertisements

16 thoughts on “Darkness Eyes #2

    • Mysti Adelliza says:

      Annyeong haruna~
      Iya, memang jarang. Hehehe. Tapi seru kalo jarang kan? 😛
      Iya saya juga suka Junsu ^^/ and his angel voice.
      Ne, ini bakal cukup panjang, mau dijadiin novel soalnya ^.^
      Btw, gomawo haruna udah mampir, dan yang paling penting, komen ❤ gomawoyo~

  1. Nan_Cho says:

    hayo..
    siapa yg mengamati Junsu?
    kkk..
    Junsunya emang lucu ga tau darimana lucunya yg jelas tiap bayangin scene Junsu diatas aku.nya ketawa mulu..
    hahaha, astaga..
    Minmi pelayan? oke fix, penasaran? lanjut baca aja..
    xixixi ^^

    • Mysti Adelliza says:

      Hayoooo…
      Siapa ya? Hahaha
      Setuju berat! Junchan emang lucu dan nggemesin. ^^
      Hahaha… senangnya tahu kalo kamu ketawa karena scenenya^^
      Iya dia pelayan, dan bartender, dan… um… kasih tau ga ya?
      Hehehe…
      Ayo lanjut, nancho^^
      Makasih udah komen ya^^

  2. asrikim says:

    Wah siapa tu yg diam2 memperhatikan junsu?
    mudah2han junsu bkal betah didesa itu? dan mudah2 jg bang junsu bisa mendapatkan pujan hati jg didesa itu hehehe,,kasihan jg klau dia terus2san menjomblo dan ngerasa sendirian,sedangkan yg lain punya pasangan,,
    Duo eonni mian,,dipart yg dipw asri blom bca dan comen,pdhal asri dah dpt pwnya,,hp asri bermslh eon,enggk bisa buat bka paswortnya,,enggk tahu tu kenapa,pdh kemarin msih bisa,jomalmiane ya eonni,

    • Mysti Adelliza says:

      Hahaha… nanti pasti ketauan siapa yang merhatiin junsu diem2, asri.
      Iya, Junsu bakal betah. Kayaknya sih iya, nanti dia betah #lol
      Gapapa, asri. ^^ kemaren juga udah sempet cek lagi pwmu, apa salah kasih pw, tapi udah bener kok. Yauda gapapa 😉 😉
      Btw, makasih udah baca DE chapter 2 ya asri ^^

  3. hyochun says:

    O ow siapakah orang itu?? O.o
    Ooh.. ternyata desa yg jauh dari seoul toh hehe
    aku baca ini jadi inget vacation.a dbsk dulu deh author-ssi xia oppa seperti mencari jati diri n inspirasi (?)
    tapi beda disini oppa jadi atlet anggar :-*

    • Mysti Adelliza says:

      Yang merhatiin Junsu? Nanti dijelasin kok, hyochun^^
      Iya ><
      Hahaha, iya, ini nulisnya juga terinspirasi vacation. Hahaha…
      Pencarian jati diri dan inspirasi ya? Haha, boleh juga disebut gitu ^^
      Iya, nyoba makein profesi beda2 buat anak dbsk di seri ini ^^
      Btw, gomapta udah komen lagi, hyochun :*

  4. rieski says:

    ffnya panjang suka dehh,ga bosen hahahaha,jarang ya ada ff junsu oppa,siapa tuh yg merhatiin,hayoh hayoh..ga apa apa junsu buat yg merhatiin itu,asal jgn kyu opaa #ngomong apa ini

    • Mysti Adelliza says:

      Wah, kamu suka ff panjang2? Kebetulan nih #apadeh
      Tapi senang banget tau kalo kamu ngerasa ga bosen ^^
      Ff junsu jarang ya? Hehe, jadi mau buat ff junsu lebih banyak lagi ^^
      Hahaha, kalo yang merhatiin kyu nanti berubah genrenya jadi horror atau thriller wkwkwk #digeplak
      Btw, makasih udah komen lagi, rieski ^^

  5. harum567 says:

    Minmi kah yang merhatiin Junsu? Inkigayo? Kaya nama acara musik gitu ._. Suka banget ff yang cast utamanya terdampar(?) di desa 😀

    • Mysti Adelliza says:

      Waww… Ketebak lagi nih kayaknya. Ff ini gampang ketebak ya? Kkk..
      Hahaha… Sebetulnya penamaannya emang ambil dari acara musik kkkk
      Waah… Kalo gitu, kamu suka ff ini dong? Hehehe…
      Btw, makasih udah komen lagi ya, harum ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s