Let’s Get Ugly

1. Title: Let’s Get Ugly

2. Author: Mysti Adelliza

3. Genre: Action

4. Casts: Park Yoochun (DBSK), Choi Siwon (Super Junior), Min Sunghyo (OC)

5. Author’s Note:

Annyeong, Chingudeul… Kali ini saya mau mempersembahkan FF the well-mannered actors, Yoochun dan Siwon. Yang menanti SungChun atau WonSung Couple bisa baca ini. 😀 Nah, sekarang, enjoy it, chingu. Jangan lupa komentarnya, ya. Saya sangat menantikan komentar-komentar yang membangun. ^^

***

Setitik air mata menetes lagi di salah satu pipi Sunghyo. Pasti mukanya jelek sekali sekarang, dia pikir. Itu butiran air mata entah keberapa. Kedua matanya sembap. Kesembapan memburamkan penglihatannya, namun dia masih dapat melihat jam berapa sekarang.

01.45

Jam dinding digital itu mengumumkan kepadanya. Menjelaskan juga, bahwa sudah kurang lebih dari dua jam dia menangis.

Sunghyo menyeka kedua matanya yang berkantung mata. Kelelahan menimbulkan itu–kelelahan pikiran, terutama. Beban yang mengungkungi benaknya itu juga membuat dahi lebarnya berkerut, dan wajah tirusnya hampa, tanpa ekspresi. Memikirkan perkataan orang-orang saja sudah membuatnya seperti ini. Konyol sekali, pikirnya.

Jari-jarinya menelusuri poni dari rambut hitam pendeknya, menarik hampir semua helainya ke belakang, sehingga menampilkan dengan jelas wajahnya yang, dia yakini, nampak kacau. Dia lalu menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya, terisak lagi.

“Kasihan sekali kalau itu benar, kalau Siwon benar-benar ada hubungan dengan wanita itu.”

“Ya, wanita itu aneh. Sudah begitu, sangat tidak cocok dengan Siwon yang berkelas.”

Sunghyo mengangkat mukanya, mencari udara, sekaligus memperlihatkan kesedihan. Ingatan tentang perkataan orang-orang mengenainya terus menyakitinya. Kepalanya ditolehkan ke samping seakan-akan sesuatu yang mengerikan sedang ada di hadapannya. Matanya sangat basah.

“Yoochun pasti memilihnya karena dia satu-satunya wanita yang tersisa.”

“Ya, Yoochun tak punya pilihan. Dia tidak mungkin mengecewakan seorang wanita, seburuk dan seaneh apapun wanita itu. Dia sungguh pria yang baik.”

Sedu sedan Sunghyo makin keras. Dia mengerang. Emosinya mengambil alih, mengomandokan kelenjar air matanya untuk terus memproduksi air mata. Terus-menerus. Dan, jika bisa, tanpa henti.

Hingga, mendadak, pintu terbuka.

Serta merta, Sunghyo mendongak. Mata besarnya yang lembab mendapati sesosok pria.

“Sunghyo,” panggil pria itu.  “Apa yang kau lakukan?”

Pria itu buru-buru bersimpuh di sebelah Sunghyo, membelai rambut Sunghyo yang berantakan. “Kau kenapa?” tanyanya lembut. Raut wajahnya kini ikut kelihatan sedih. “Kenapa kau meringkuk di lantai basah ini?” Tangan si pria menyentuh bahu Sunghyo.

Sunghyo menjauhkan pundaknya dari sentuhan itu. “Tidak apa-apa, Yoochun-ssi. Tidak ada apa-apa.”

Kening pria itu, Yoochun, berkernyit. “Mana mungkin tidak ada apa-apa bisa seperti ini. Jangan coba-coba membohongiku, Sunghyo. Kau tahu itu tidak akan ada hasilnya.” Alis tipisnya terpaut. Mimik mukanya menjadi serius.

Sunghyo mengalihkan pandangannya. Dia tak mau beradu pandang dengan kedua mata yang memiliki kepedihan lebih banyak itu. Ya, Yoochun lebih banyak menangis jika dibandingkan dengan dirinya. Dan yang Yoochun tangisi jauh lebih bermakna. Dia memendam apa-apa sendirian dan pandai dalam hal itu. Sunghyo masih dalam pembelajaran untuk dapat seperti itu, dan lihat apa yang dilakukannya sekarang?

Tak ada yang berbicara. Sunghyo masih dalam keadaan diam, sementara Yoochun menantikan jawaban Sunghyo. Detik-detik kosong itu mereka lewati begitu saja.

Hingga akhirnya, Yoochun tersenyum. “Baiklah,” ucapnya, “jika kau belum ingin memberitahu, tidak apa. Paling tidak, jangan menyiksa dirimu sendiri.” Yoochun memosisikan satu tangannya di belakang leher dan satu lagi di bawah lekukan kedua lutut Sunghyo. “Ayo.”

“Apa yang akan kau lakukan?” Sunghyo bertanya. Mendadak sisa-sisa sedakan tangisnya lenyap seluruhnya dan bergantikan kekagetan luar biasa.

“Memanjakanmu,” bisik Yoochun. Memang tidak dekat di telinga Sunghyo, namun suara rendahnya terasa begitu cepat menelusuk seperti virus berdaya sebar tinggi. Itu mengkakukan tubuhnya sehingga menambah bobot tubuhnya, menyebabkan dia sulit diangkat.

“Kau tidak ingin digendong?” tanya Yoochun.

“Tidak,” sahut Sunghyo cepat dan lebih lantang dari yang keduanya duga. Yoochun kaget dan Sunghyo segera menunduk segan karena itu. “Ah, maaf, aku cuma…” Sunghyo tak bisa melanjutkan perkataannya, canggung sekali. Yah, dia bukannya tidak senang diperlakukan dengan baik seperti ini, mengingat dia tidak pernah diperlakukan demikian oleh siapa pun. Hanya saja, sesuatu dari dalam dirinya, entah apa–mungkin kepercayaan dirinya yang rendah–yang membuatnya menampilkan penolakan.

“Kau bisa berdiri?” tanya Yoochun, yang sudah dengan cepat mengendalikan kekagetannya.

“Ya,” sambut Sunghyo.

Yoochun mengulurkan tangan pada Sunghyo untuk membantunya bangun, namun Sunghyo tidak melihatnya. Sunghyo yang terus menunduk berdiri begitu saja dengan tutup kloset sebagai pegangan.

OK. Dia lebih memilih tutup kloset, pikir Yoochun.

“Seluruh bajumu basah,” ucap Yoochun. Matanya memerhatikan busana Sunghyo; kaos hitam, celana jeans belel dan jaket denim ukuran besarnya–yang kini semuanya basah.

Sunghyo menemukan apa yang telah dia lakukan pada busananya dengan shower kamar mandinya, sadar kalau dia sangat lembab dan kedinginan setelah meringkuk lama di lantai kamar mandi itu. “Oh, ya,” ucapnya kaku. Di dalam hati, dia menyesal telah melakukan hal itu. “Aku harus ganti baju.”

“Kalau begitu, aku akan menunggu di koridor,” timpal Yoochun.

“Kau mau menunggu?” tanya Sunghyo heran.

“Yah, aku datang ke tempatmu bukan tanpa alasan. Ada yang harus kita bicarakan,” balas Yoochun.

Sunghyo hanya meresponsnya dengan seringai setengah hati. Pikirannya masih separo melayang.

Yoochun kenal sikap itu. Dia segera tahu Sunghyo sedang memikirkan sesuatu secara mendalam lagi. Dengan hati-hati, Yoochun membelai kening hingga rambut Sunghyo. “Cepatlah. Aku menunggu,” katanya lembut.

Sunghyo menahan keterkejutannya agar tidak terlalu kentara seperti sebelumnya, supaya tidak menimbulkan tindakan ceroboh juga. Akan tetapi, Yoochun bisa melihat kalau Sunghyo refleks ingin menghindari sentuhannya.

Sekitar satu-dua detik Yoochun tersenyum, memandangi wajah Sunghyo yang tidak diarahkan padanya, hingga dia memutar tubuhnya untuk beranjak. Namun demikian, dia berhenti. Yoochun menoleh dan menemukan sweater rajutannya ditahan oleh tangan Sunghyo. Dia pun kembali menghadap Sunghyo yang telah memandangnya lurus.

“Yoochun-ssi,” panggil Sunghyo, yang dia coba setegas mungkin.

“Yes, my Dear?” Yoochun merespons lunak.

Sunghyo mengernyit begitu mendengar sapaan khas Yoochun yang dilontarkan padanya. “Kau tidak perlu memanggilku itu,” kata Sunghyo.

Yoochun hanya tersenyum sebagai balasannya. “Jadi,” dan dia segera mengalihkan, “ada yang perlu kau katakan?”

Sunghyo teringat barusan dia memanggil Yoochun karena ingin menanyakan satu hal. Dia memikirkan sejenak hingga akhirnya dia memutuskan untuk memandang Yoochun lurus kembali. “Apa benar kau memilihku karena aku satu-satunya wanita yang tersisa?” tanya Sunghyo datar.

“Siapa yang berkata begitu?” Yoochun menelengkan kepalanya.

“Jawab dulu pertanyaanku.” Sunghyo mengerutkan kening.

Senyum menenangkan muncul di wajah Yoochun. “You tell me.”

“Apa kau sekarang bersamaku karena aku satu-satunya yang belum dipilih siapa pun—”

Jari telunjuk Yoochun menekan bibir Sunghyo agar menutup. Sunghyo buru-buru menepisnya. Dia tak habis pikir pria satu ini bisa melakukan adegan opera sabun seperti itu terhadapnya.

Yoochun terkekeh, menertawakan tingkahnya sendiri.

Sunghyo mengerutkan dahi saat mendapati itu, merasa sedikit konyol karena sebenarnya dia ingin tertawa juga. Namun kegelisahannya kembali membuatnya serius. “Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa sebetulnya itu sangat tepat sehingga tidak perlu dijawab?”

Yoochun segera menghela nafas dan menunjukkan integrasi pada pandangannya. “Kau terlalu memusingkan apa yang seharusnya tidak perlu kau pusingkan, Dearest. Kutegaskan, aku tidak akan memilih orang hanya karena dia yang tersisa. Jika kau satu-satunya wanita di seluruh dunia—”

Sunghyo membuang muka dan kini Yoochun menertawakan ucapannya sendiri.

“—jika kau satu-satunya wanita yang tersisa,” Yoochun melanjutkan setelah tertawa, “aku tetap tidak akan memilihmu kalau kurasa kau tidak kompatibel denganku.”

Sunghyo sebenarnya langsung menyetujui perkataan penuh logika Yoochun, tapi karena Yoochun paling pandai membuat pernyataan logis menjadi kedengaran manis, Sunghyo merinding sendiri mendengarnya.

“Kau menangkap maksudku, ‘kan, Dear?” Yoochun mengembangkan senyumnya kembali.

Sunghyo ingin mengiyakannya, namun mendadak sesuatu mengganggu pikirannya. “Kau yakin itu sebabnya?”

Yoochun menghembuskan nafas berat. “Kau suka membuat sesuatu hal menjadi rumit, ya?”

Bibir Sunghyo melengkung muram. Dia ingat guru sekolahnya pernah bilang hanya orang bodoh yang membuat segala sesuatu yang sederhana menjadi rumit. Sunghyo pun mulai bertanya-tanya apa dia bodoh sampai separah itu.

Dearest, sebenarnya jawaban apa yang kau cari? Kalau aku mungkin membohongimu?”

Sunghyo mengerut. Dia merasa buruk karena seolah-olah dia sudah menuduh Yoochun berbohong, padahal dia tidak bermaksud memojokkan seperti itu, padahal dia sendiri juga tidak suka jika diperlakukan begitu.

“Kau tahu, kau mudah sekali merasa tidak aman, tidak percaya pada dirimu. Padahal kau pantas percaya diri. Kau tidak tahu betapa senangnya aku menemukan orang sepertimu.”

Sunghyo sebetulnya menyenangi perkataan Yoochun, tapi, entah mengapa, barangkali berkat predikat ‘si-mulut-manis’ yang Yoochun sandang, Sunghyo tidak terlalu yakin. Kendati demikian, dia tidak ingin membuat Yoochun tidak nyaman dengan hal yang sebenarnya bukan urusan Yoochun ini. Ini adalah urusannya, masalah di dalam dirinya, masalahnya sendiri, yang sebaiknya tidak dia ungkapkan. Tapi dia sudah tak sengaja mengungkapkannya, terima kasih pada spontanitasnya yang impulsif. “Maaf, aku telah—

Dear, dengar,” potong Yoochun, “kau masih tidak percaya padaku, bukan?”

“Aku bahkan tidak percaya pada diriku sendiri,” jawab Sunghyo setelah agak lama, “seperti yang kau bilang.”

Yoochun tersenyum sambil memandangi wajah Sunghyo. “Kau sudah gawat sekali, kau tahu tidak?”

Sunghyo diam, menanti penilaian Yoochun selanjutnya. Meskipun begitu, dia jadi takut sendiri dengan apa yang dipikirkan Yoochun. “Apa kau sekarang berpikir aku bodoh dan picik? Pikiranku dangkal?”

Terbahak, Yoochun mengeluarkan sikap khasnya itu begitu menemukan tingkah dinamis Sunghyo ini.

Seketika, Yoochun diam, menyusul Sunghyo yang sejak tadi diam mengamati Yoochun. “Sekarang begini, apa yang kau inginkan sebenarnya?” Yoochun mengulang pertanyaan.

Sunghyo memerhatikan satu persatu persegi atap kamar mandinya, sambil mencari jawaban di dalam pikirannya. “Tidak ada,” jawabnya kemudian, “maaf, aku sudah menghabiskan waktumu untuk hal tidak penting seperti ini.”

Yoochun menggenggam tangan Sunghyo, keduanya, mengalirkan kehangatan melemahkan yang membuat Sunghyo ketakutan. Muka Sunghyo memanas. Cepat-cepat dia memalingkan muka.

Dear.” Yoochun menghadirkan senyuman yang membuat Sunghyo bingung, namun Yoochun kelihatannya menyukai situasinya. “Kau ingin aku berkata apa?”

Mendengarnya, Sunghyo bermuka sedikit meradang. “Yoochun-shi, terima kasih, kau sudah mengatakan banyak hal, dan kau tidak perlu mengulas ini lagi sekarang–”

“Dear…”

“Tadi kau bilang ada yang kau mau bicarakan, bukan?” dalih Sunghyo. “Silakan keluar dulu,” Sunghyo bergumam, “aku mau ganti baju.”

“Sunghyo,” Yoochun berkata tegas, “lihat aku.”

Sunghyo perlahan melepaskan diri dari gumaman bingungnya dan memandang Yoochun. Yoochun pun mendapati mata Sunghyo yang kosong, tidak memberikan makna apapun. Tidak seperti biasanya.

“Mungkin aku tak harus memberikanmu kata-kata sekarang. Kau sedang kacau dan semua perkataan tidak akan ada efeknya,” kata Yoochun kalem.

“Tidak, aku tidak apa-apa,” kata Sunghyo, “sekarang aku sudah tidak apa-apa.”

Yoochun menggelengkan kepalanya. “Hentikan bilang kau tidak apa-apa. Kau kelihatan… sangat kacau.”

“Maaf,” ucap Sunghyo sambil memicingkan mata, acuh tak acuh, bersikap menutup diri kembali.

“Aku harus melakukan sesuatu supaya kau tidak kacau lagi,” ujar Yoochun. “Apa, ya?”

“Apa kau mengabaikan apa yang baru kukatakan?” Sunghyo kelihatan gusar.

Dengan senyum, Yoochun mengubah jarak antara dirinya dengan Sunghyo, yang tadinya jauh menjadi terlalu dekat.

Sunghyo menarik diri, merasakan kekakuan di wajahnya, mendapati Yoochun yang makin mencondongkan tubuhnya ke dirinya. Dia mulai menjauhkan wajahnya yang semakin terjangkau oleh wajah Yoochun, mencoba menjaga ketenangannya lalu membuka mulut.

Namun, bibir Yoochun sudah menyapu lembut bibirnya sehingga Sunghyo tak bisa mengeluarkan perkataan apa pun.

***

Sunghyo membuka mata, lantas tergesa-gesa bangun dari tempat tidurnya. Matanya mencari-cari dengan panik demi meyakinkan kalau dia barusan mimpi. Akan tetapi, ternyata dia salah. Dia tidak mimpi. Pandangannya menemukannya; Yoochun, yang masih terlelap di sampingnya. Dia berkerut kening memandanginya, namun tidak melompat menjauh. Bahkan tidak bergerak. Dia tidak tahu dia harus senang atau tidak dengan apa yang baru terjadi.

Bel flat-nya berbunyi, menyadarkannya dari kilasan balik yang menampilkan tautan di antara alisnya. Dia diam, menghayati, memastikan apa itu memang untuk flat-nya. Berbunyi lagi, bel itu. Sunghyo sekarang yakin, itu memang belnya. Ini pukul 05.15, begitu dia melihat jam dindingnya. Siapa yang bertamu ke flat-nya sepagi ini?

Sunghyo memperoleh bunyi bel yang berulang, membuatnya buru-buru memakai jas hitam super panjangnya. Diburu bunyi bel, Sunghyo bergegas membuka pintu setelah mengancingi seluruh kancing jas panjangnya. Dia membuka kunci dan rantai selotan dengan kalang kabut, namun tindakannya itu membuat belnya tak terdengar lagi. Kekalangkabutannya itu membuatnya lupa mencari tahu siapa tamunya lewat lubang intip. Dan kegugupan akan sesuatu yang berjalan cepat ini menyegerakan dirinya untuk membuka pintu flat-nya begitu saja.

Pintu itu terbuka, menyingkap seorang pria di depannya.

“Siwon-shi…”

“Lovely…” Senyuman pria bersetelan jas itu merekah. Wajahnya kelihatan pucat. Nampaknya dia habis berjuang untuk sampai di tempat itu. Dia sempat mengangkat tangannya, melambaikan ‘halo’ pada Sunghyo.

“Siwon-shi, kenapa kau ke sini?” Sunghyo berusaha tenang saat bertanya.

“Aku ingin menemuimu, kupikir. Aku ingin—hm, kau tidak apa-apa?” Dia bertanya sambil mengerahkan pandangannya ke dalam flat. Siwon bisa jadi telah membaca kegugupan Sunghyo.

“Ti—tidak.” Sial. Sunghyo merutuki dirinya sendiri, mengapa dia justru merespons dengan  cara yang makin menunjukkan dia sedang menutupi sesuatu? Lagi pula, dia merasa tidak perlu menutupi apa-apa.

Siwon menautkan alisnya, menatap Sunghyo curiga. “Apa kedatanganku mengganggu?”

“Ah, tidak, bukan—maksudku…” Sunghyo kehabisan kata-kata hingga kemudian dia memutuskan untuk menarik napas, menenangkan diri sejenak. Hingga kemudian, dia memandang Siwon lurus. “Sebenarnya kenapa kau ke sini?”

“Bukankah aku sudah mengatakan alasannya tadi?” Siwon sumringah. “Aku mau menemuimu.”

“Kalau begitu, kau kan sudah menemuiku,” Sunghyo berkata selugas yang dia bisa, namun, dalam sekejap, ingatannya mengembalikan akan alasan dia terisak di kamar mandi tadi. Salah satunya adalah penilaian orang mengenai dirinya dan Siwon. Dia ingin menanyakannya juga, sama seperti yang dia lakukan pada Yoochun, tapi mengingat apa yang sudah terjadi setelah pertanyaan itu, pikirannya buyar. Padahal, sesungguhnya, pertanyaan itu tidak berhubungan dengan apa yang sudah terjadi dengan Yoochun. Yang sudah terjadi disebabkan oleh keinginan mereka berdua. Ditambah, Sunghyo pun sadar menanyakan hal pribadi itu sekali lagi tidak benar. Tapi, tetap saja, impulsivitasnya terus mengingatkan.

“Pulanglah,” gumam Sunghyo setelah merasa bisa meredam impulsnya. “Wajahmu pucat pasi. Kau pasti lelah.”

“Pulang? Kita baru saja bertemu,” ucap Siwon, agak merajuk.

“Pulanglah, Siwon-shi,” tekan Sunghyo.

“Sebetulnya ada apa, Love?”

“Jangan panggil aku itu,” larang Sunghyo.

Siwon nampak tidak suka. “Kenapa?”

“Siwon-shi, kita tidak dalam hubungan apapun yang melegalkan panggilan semacam itu,” Sunghyo beralasan, menyesal sendiri karena tidak mengatakan hal yang sama tadi kepada Yoochun. Dia terlalu pusing tadi.

“Lovely…”

Sunghyo menghela napas berat.

“Baiklah, Sunghyo,” Siwon membenarkan panggilannya sesuai kemauan Sunghyo. “Sekarang kutanya, kau mau hubungan semacam apa supaya panggilan tersebut menjadi legal?”

“Apa?” Sunghyo mengernyit.

“Apa aku harus menciummu?” tanya Siwon.

Sunghyo melebar kaget.

“Dan aku tahu,” Siwon berkata sambil menggaruk alisnya, mengeluarkan kebiasaan tangannya bergestur ketika berargumentasi, “sebuah hubungan memang tidak pantas hanya diukur dari sisi itu saja. Hanya saja, aku mengharapkannya sekarang. Aku bersungguh-sungguh. Aku menginginkanmu. Dan keinginan kuat semacam ini mustahil terjadi padaku jika aku tidak dalam perasaan—”

“Tidak,” bantah Sunghyo.

“—suka,” Siwon tetap menyelesaikan opininya, tak mau mendengarkan Sunghyo yang mencoba menyanggah. Dia bergestur lagi setelah itu; mengangkat kedua tangannya. Dan Siwon puas akan opininya, karena Sunghyo terbengong sekarang. Siwon berpikir tinggal satu kalimat meyakinkan lagi yang harus dia keluarkan, kalimat yang benar-benar meluap-luap di hatinya. “Aku menyukaimu.”

“Dengar, Siwon-shi, kau mungkin terlalu lelah, jadi kau tidak tahu apa yang kau bicarakan,” ujar Sunghyo, “pulanglah dan istirahat. Aku akan menganggap aku tidak mendengar apa-apa barusan demi kebaikanmu, juga kebaikan bersa–”

“Tidak,” ucap Siwon. Ekspresinya kini menegang. “Aku serius. Aku tidak main-main dengan yang kukatakan.”

Sunghyo membuang muka. Dia hanya tak menduga Siwon seblak-blakan ini. Dan apa penyebab dia berkata demikian? Sunghyo bahkan tak bisa memikirkan satu penyebab pun.

“Sunghyo?” Siwon mengembalikan kesadaran Sunghyo, mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya.

“Ah, ya?”

“Kau masih bersamaku?” tanya Siwon.

Mendengar kata bersama, Sunghyo segera teracuni impulsivitasnya kembali. “Pikirkanlah,” ucap Sunghyo.

“Hah?”

“Aku hanya seorang yang aneh dan dirimu berkelas. Sungguhkah kau ingin berkata seperti itu kepadaku?” Sunghyo mencoba melontarkannya.

Siwon terperangah sejenak, lalu sekejap saja tercengir. “Jadi kau pikir kita terlalu berbeda, Love?” tanya Siwon, menghiraukan kembali larangan Sunghyo atas panggilan tersebut. “Apa kau lupa bahwa terlalu banyak persamaan di antara kita?”

Sunghyo tak menyangka akan dilempar pertanyaan seperti itu.

“Lovely?” panggil Siwon.

Sunghyo masih tidak menjawab, merasa dia harus memikirkan cara agar dapat keluar dari ini, tapi dia butuh waktu lama untuk memikirkan manuver.

Siwon tersenyum lebar, seperti mendapat tanda kalau peluangnya sudah kelihatan. Dia melangkahkan kakinya, sekali, mendekati Sunghyo. “Mengapa kau tidak menjawab?”

“Dengar, Siwon-shi,” Sunghyo berusaha berkata tegas, meski dia tak bisa terdengar setegas mungkin, karena dia panik begitu melihat kaki-kaki jenjang Siwon semakin dekat ke posisi berdirinya.

“Ada apa?” Suara bariton Siwon mendahului pemiliknya menghampiri Sunghyo.

Sunghyo memaksa otaknya berpikir. Dia tidak boleh membiarkan ini terjadi sekali lagi. Dia tidak boleh menjadi berbahaya dan di luar jalur lebih dari satu kali. Kalau tidak, bencana bisa datang.

Ketika sedang sibuk berada dalam pikirannya, Sunghyo melupakan kewaspadaannya terhadap aksi mendadak Siwon, menarik Sunghyo ke pelukannya. Terkejut, Sunghyo berusaha menghindar. Namun kekuatan Sunghyo yang belum diasah dengan baik membuatnya gagal dan kini dia berada begitu dekat dengan Siwon.

Siwon memeluk pinggangnya erat, membuat Sunghyo tak dapat bergerak. “Pandang aku dan bilang; aku tidak menginginkanmu. Maka aku baru akan melepaskanmu.”

“Aku…”

“Ya?”

“Aku tidak…”

Pandangan Sunghyo teralih.

“Pandang mataku, Sunghyo.”

Telinga Sunghyo menangkap bunyi suatu pergerakan dari perabot di dalam flat-nya. Yoochun-shi?! Sunghyo panik dengan sendirinya.

“Sunghyo?” Siwon memanggilnya lagi, mengembalikannya pada situasi di depannya.

“Tolong lepaskan aku,” pinta Sunghyo datar.

“Kau belum menyelesaikan pernyataanmu,” Siwon berujar lembut.

Dahi Sunghyo berkerut sambil mencoba melepaskan lingkaran lengan di pinggangnya, namun pelukan yang kelihatannya dilingkarkan Siwon dengan nyamannya itu sulit dilepaskan. Sunghyo takut dia akan kembali keluar jalur. Yang terjadi dengannya dan Yoochun memang kasual, tapi kesalahpahaman bisa saja muncul. Bagaimanapun, Yoochun penting baginya, setidaknya begitulah sekarang yang ada di pikirannya.

Di sisi lain, Siwon memaksanya mengakui sesuatu yang memusingkan. Bagaimana bisa dia berada di situasi ini?

“Lovely,” panggil Siwon. Panggilan ini pun Siwon yang menentukannya sendiri. Sunghyo sejak awal menolak keras panggilan itu.

Sunghyo pikir ini tidak diperbolehkan. Ini harus dihentikan. “Aku sudah tidur dengan Yoochun,” ujar Sunghyo akhirnya.

Siwon segera tercengang dan akhirnya melepaskan pelukannya pada Sunghyo. “Apa?” tanyanya.

Sunghyo lega dia bisa menjaga jarak sekarang, lalu yakin harus meyakinkan Siwon. Dia memandang Siwon dengan alis yang menaut dan rahang yang mengeras. “Aku tidur dengannya,” ucapnya sekali lagi.

Hening sejenak. Kekosongan udara seperti dicuri oleh suasana kaku yang terjadi.

“Oh.” Hingga Siwon menggumam.

Sunghyo melihat ekspresi masygul di wajah Siwon. Dia mulai merasa bersalah sekarang, tapi ini lebih baik daripada tidak sama sekali. “Aku memang belum memutuskan apa-apa. Apa lagi Yoochun. Tapi aku sudah merasa itu salah. Dan akan lebih salah lagi kalau melibatkanmu.”

“Salah?” tanya Siwon sambil menelengkan kepala.

“Ya, salah,” sahut Sunghyo.

Keheningan terjalin kembali.

Sampai akhirnya Siwon menghela napas. “Jadi kenapa kau tidak mencari yang benar?” tanya Siwon.

“Hah?” Sunghyo menatap Siwon. Ketidakpahaman terlukis jelas di kerutan keningnya.

“Aku akan membantumu menemukan yang kau rasa benar,” tawar Siwon dengan senyum lebarnya.

“Apa yang kau bicarakan ini?”

“Aku bisa membacanya dari gelagat dan ucapanmu, kalau kau menginginkanku juga,” jawab Siwon, “Yoochun juga berpendapat demikian.”

Sunghyo mengumpat dalam hati. Apa yang telah terjadi di sini? Yoochun juga berpendapat demikian? Apa Yoochun memberitahu Siwon? Apa sebenarnya mereka saling mengetahui apa yang sudah terjadi? Dipikir-pikir, tadi dia memang mendengar pergerakan dari dalam. Apa sebenarnya Yoochun di dalam sedang mendengarkannya?

“Apa kau mau kubantu?” Siwon memeluk dan menumbukkan pelan dahinya ke dahi Sunghyo, membuat Sunghyo yang sedang melirik ke belakang menjadi teralih kembali padanya.

Sunghyo menurunkan pandangannya. “Siwon-shi, aku tidak tahu pasti bagaimana pemikiranmu. Tapi apa kau tidak merasa ini salah sama sekali? Kau pecinta aturan dan norma, kan? Kau orang yang teratur, kau bilang. Lantas mengapa kau melakukan ini?”

“Sekarang kutanya, apa kau merasa ini sepenuhnya salah?”

Sunghyo melongo. “Aku benar-benar tidak bisa mengikuti alur ini,” katanya kemudian.

“Kau tidak perlu mengikuti alur apa pun. Kau hanya harus mendengarkan keinginanmu sendiri,” kata Siwon.

“Maksudmu?”

“Tenanglah.” Bisikan Siwon merasuki seluk beluk telinga Sunghyo, punya kedudukan yang sama menggelitiknya dengan bisikan Yoochun. “Biar aku membantumu, Lovely.

Belum sempat Sunghyo mengungkapkan keheranan dan perisai diri lebih lanjut, Siwon dengan sigapnya membopong Sunghyo dengan kedua tangannya. Kemampuannya yang belum disetarakan dengan Siwon membuat Sunghyo sulit memberikan perlawanan. Dia merasa konyol karena itu. Dilihatnya lantai koridor yang jauh dari tubuhnya. Sunghyo memutuskan untuk tak berontak sekarang, dia yakin dia akan jatuh. Dia mungkin bisa berontak nanti.

“Berpeganganlah, Love,” ucap Siwon sembari berjalan, membawa Sunghyo di pundaknya.

“Kau serius mau melakukan ini?” tanya Sunghyo, ada nada ancaman di suaranya.

Namun ancamannya tidak terdengar oleh Siwon. “Ayo kita bicara di tempat yang lebih nyaman,”  ujarnya. “Bagaimana kalau apartemenku?” tanya Siwon ketika mereka sudah beranjak dari pintu.

“Tidak,” Sunghyo menjawab dengan tegas.

“Baiklah,” Siwon menanggapi. Pria ini tidak mengerti, bukan ‘tidak’ yang seperti itu yang Sunghyo maksudkan tadi. “Kalau begitu, kita ke mobilku saja dulu.”

“Tolong turunkan aku, Siwon-shi,” pinta Sunghyo, berusaha semakin lantang. Dirinya sudah melihat ujung koridor dan sekarang mereka memasuki  tangga darurat. Apa dia harus memberontak di sini?

“Aku hanya membantumu, Love. Percayalah, ini kebutuhanmu,” sanggah Siwon. Sungguh penuh keyakinan di tiap katanya. Sunghyo tidak paham apa yang merasukinya. Dan dia merasa mungkin dia bisa melarikan diri ketika bukan di tangga darurat.

Dengan pemikiran itu, Sunghyo mengamati Siwon yang dengan gagah terus berjalan, membawanya, memasuki tempat parkir bawah tanah.

“Turunkan aku,” Sunghyo merepetisi ketika mereka bergerak ke dekat mobilnya. Kali ini dengan suara yang lebih dalam.

“Baiklah,” Siwon mengiyakan lantas mengeluarkan kunci alarm mobil dari sakunya. “Tunggu sebentar, Lovely.” Dia menekan tombol dan membuka pintu kursi penumpang. Dia pun membaringkan Sunghyo dengan sangat lembut di jok kursi.

Setelah mendapatkan kebebasannya, Sunghyo segera bergerak untuk menggapai pintu terdekat, tepat ketika Siwon masuk ke kursi belakang dan mengunci pintunya.

“Mengapa kau mengunci pintunya?” tanya Sunghyo sambil mengamati kunci pintu yang tak bisa dia tarik.

“Tidak mungkin tidak dikunci, Lovely,” Siwon berkata.

Sunghyo melirik setir dan berusaha tetap berpikir positif. “Kau mau aku mengemudikan mobilnya untukmu?” tanya Sunghyo.

Siwon tertawa, seakan bertanya retoris ‘yang-benar-saja’ melalui tawa. “Sudah kubilang, kan, aku mau membantumu untuk menentukan yang kau rasa akan benar.” Siwon melepas arloji dan jasnya. Ketika dia melepas kancing pergelangan tangan kemejanya, dia melirik Sunghyo yang diam kaku bahkan seolah-olah dia tidak bernapas. “Love, kau kenapa?”

Sunghyo menengok pada Siwon dengan ekspresi yang belum pernah dilihat Siwon sebelumnya. Tanpa emosi, namun mendirikan bulu kuduk. Entah itu ekspresi apa, pikir Siwon, murka?

Love?” panggil Siwon.

“Beritahu aku lebih jelas, apa yang ingin kau lakukan?” tanya Sunghyo.

“Aku ingin meyakinkan dirimu,” sahut Siwon.

“Kalau begitu, bicaralah sekarang.”

“Kata siapa aku akan meyakinkanmu dengan bicara? Aku orang yang lebih nyaman dengan aksi,” Siwon mengucap dengan cengiran.

“Jadi, aksi apa–”

“Ini?”

Siwon mengangkat dagu Sunghyo, menyamakan pandangan mereka.

“Siwon-shi,” Sunghyo berkata sambil menarik diri, “apa yang kau pikir akan kau dapatkan dariku?” Wajah Sunghyo tegang. Matanya tajam menatap Siwon. Siwon ingin mengira Sunghyo sedang malu, tapi ada firasat di dalam dirinya yang mungkin saja mengatakan kalau Sunghyo… marah? Hingga Sunghyo melanjutkan membuka suara, “Kau tidak akan mendapatkan apa pun dariku. Aku yang akan mendapatkan sesuatu dari ini. Yang beruntung hanya aku. Tapi aku tidak berminat mengambil keuntungan dari siapa pun, terlebih dari orang yang sudah kuketahui pasti akan menyesal. Lagi pula, bencana akan datang kalau aku bertindak di luar batas. ”

Siwon mengerutkan dahi, nampak tak dapat menerima maksud Sunghyo. “Aku tidak akan menyesal, Lovely. Dan percayalah, yang beruntung itu aku. Oh, atau mungkin kita berdua. Lagi pula aku ingin sekali melihat kau bertindak di luar batas.”

“Apa?” Sunghyo memicingkan mata.

Mendadak suatu ingatan menjeblak otaknya. “Kenapa perkataanmu sama dengan Yoochun-shi?”

Siwon tercengir. “Well, mungkin karena kami memang sering sepikiran. Terutama jika berkaitan denganmu.”

“Siwon-shi,” Sunghyo berucap tenang, “apa Yoochun-shi mengetahui ini?”

Tanpa pikir panjang, Siwon menjawab, “Ya, tentu saja.”

Keduanya kemudian bertatapan lama, seolah-olah mata mereka yang sedang berargumen. Kaca jendela belakang mobil mewah itu dapat menjadi saksi bisu. Sunghyo tak bisa mendefinisikan apa yang dia rasakan.

Perlahan Siwon mendekatkan diri kepada Sunghyo.

Lantas, bibir mereka bertemu.

***

Advertisements

71 thoughts on “Let’s Get Ugly

  1. hodyshiper says:

    waaahhh.. sunghyo jjang 😀
    love two-times,

    aq setuju kmu sma siwon ajah.. hahaha
    siwon.. siwon… siwon…

    teruskan thor, aq tunggu cerita selanjutny,

    • Mysti Adelliza says:

      gyaaa… hody~~ ❤
      hehe, kenapa bisa jjang? hohoho.

      wah, lebih dapet wonsung ya? ._.9
      padahal rencananya mau bikin para reader galau pilih yoochun atau siwon #lah

      oke. tunggu ya. 😉
      gomawo udah mampir dan, yang paling penting, komen 😀

  2. haruna says:

    aku suka ff y lbh panjang cerita y dan bagus suka ..
    aku bingung lbh suka ma yg mana sama serasi klo sama siwon trus yochun gmana ..?
    tp ff ini mah sama yochun aja ya ada lanjutan y kan …di lanjut ya
    ntr bkn ff wonsung juga yg tbc
    hahaha bnyk request gomawo

    • Mysti Adelliza says:

      Waaah… Haruna~~ ❤
      Ini padahal udah diedit-edit jadi lebih pendek, aslinya panjang banget. Hehe ^^
      Tapi senengnya kalo kamu suka 😀
      Wah, jadi kamu dukung SungChun? Asik! ^_^

      lanjutan ada kok.
      Yang Chocolate Lovely sama Lychee Dear juga bakal ada lanjutannya.
      Makasih udah mampir dan komen lagi, haruna~ 😀

  3. jinggakirana says:

    So… What happen after they’re kissing…???? *tusuk2 tangan author pake sumpit* hahahaa…

    aku lebih prefer sama siwon aja *nempelin obsesi pribadi hahhaa*

    • Mysti Adelliza says:

      ahahahaha…
      annyeong, jingga~ seneng liat kamu mampir lagi 😉
      about what happen after they’re kissing itu bisa diliat nanti di sekuelnya yang mau dipublish~
      kyaaa…
      lebih milih wonsung ya? 😀
      btw, gomawo udah mampir lagi, jingga~ :*

  4. jinggakirana says:

    Ingiiin baca sequelnya.. May I? Tapi di protect 😦

    Kindly need your help to open it Pleasee.. Pleaseeee.. XD *sodorin ramen ke author buat sogokan*

  5. JanRie says:

    Woooowww thor daebakkk bkin FFnya apalagi Let’s Get Ugly haha, ak reader baru dsni salam kenal ya..
    Btw thor wkty mau baca next chap2 dpassword ya? Boleh mnta keywordnya ga?
    #panasaranabis

  6. lee hi says:

    aku new reader disini
    Ya ampun thor ceritanya bagus banget,bikin penasaran…
    Yg sequelnya di protect ya…boleh minta passwordnya?? ^^

  7. @uliezgaem says:

    Di perebutin 2 namja ketcehh,, tinggal sunghyo nya jja nih yg hrus tegas… antara yoochun or siwon….

    klo pke konflik lebih seru nih,,, hehehe

    pngen baca lets ugly part 2 nya thor minta pw ya,, email ku gaem133@gmail.com

  8. seochoi says:

    Thor, bagus banget. NC nya bagus smooothhh banget he he he, jadi Iri sama Sung hyo di rebutin ama dua namja tampan well manner pulaaa he he he. Bahasanya daebak banget dah :D. Thor boleh minta pasword buat fragmen 2 nggak? bisa dikirim ke email ku di Seunghyun.insuk@gmail.com. Gomawoyo *bows*

    • Mysti Adelliza says:

      Annyeong, nungkysafitri.
      gomapta udah komen di sini XD
      gyaa… seneng banget baca komenmu, hehehe…
      sama2 kuat ya karakternya? xixixi
      ah, ya, password ya? Oke, akan dikirim ke emailmu. Tunggu ya 🙂

  9. queenchan says:

    hy author salam kenal nurul imnida aku readers baru disini…
    ceritanya daebak banget, feelnya ngena banget..
    oh iya tadi liat ff ini udah ada sequel nya ya?? boleh pinta passwordnya kah???
    kalo boleh, kirim ke email ya. jeongmal gomawo ^^

  10. byraineedrop says:

    ceritanya keren, jadi pengen baca lanjutannya ^^ alurnya juga bagus. tapi diksinya aku kurang faham, XD ini dua-duanya susah milih siapa tapi lebih suka si Hyo sama si jidat lebar. sempat liat” itu lanjutannya ya?? :3 boleh minta pw wkwkwk

    ok segitu aja… bener idenya keren!!!

  11. dian0191 says:

    ngegantung… tp ad part IIny tp ƘôQ ∂ί protect penasaran jdiny sama sapa??? please mnt PWny nduk… penasarn nich… みϱ”̮みϱ”̮みϱ”̮みϱ (⌒˛⌒) •°•♡ⓣⓗⓐⓝⓚⓢ♡ •°•
    fulldian@gmail.com

  12. Jeje :D says:

    wihhh >.<
    GANTUNG_an baju.. XD
    chingu, boleh minta PW untuk selanjutnya ?? 😀 hehehhe
    jeddahyanti@yahoo.com ke twiteer pun bole @jeddahyanti 😀 hhehe
    #peace chingu cantik.. XD
    tp jgn lama: ya eooni.. XD udah greget soalnya..
    XD

  13. YoungieLee says:

    hallo author aku readers baru nih….aku suka bgt loh sama cerita author yg Let’s get Ugly ini…aku penasaran pke bgt…boleh kah aku meminta password yg sequelnya ga thor???

    • Mysti Adelliza says:

      halo, YoungieLee…
      selamat dataaang.. ^^ salam kenaaal…
      wiiih… senangnya kalo kamu suka banget sama ff ini.
      password ya? boleh aja, chingu. email kamu apa? nanti dikirimin 😉

  14. asrikim says:

    Kyaa~kereen~bangeet~
    yoochun so sweet banget,,
    Sunghyo tetap aja ska merendah kan diri sendiri,,dan ksihan sunghyo hrus dengeren omongan yg tak mengenakan seperti itu,,
    sunghyo terlibat cinta dengan dua namjam,,tpi kira2 siapa ya,yg bkal dipilih sunghyo pda akirnya?
    Kyaaa~ wonsung mau ngapain tu?kyaknya sunghyo suka sm yoochun tp cinta sm siwon#dasar sok tahu,,
    asri berharap sih sunghyo milih siwon tp kalu mau pilih yoochun jg enggk papasih,kan yang jalanin sunghyo ini hehehe,,
    Duo eonni fighting~

    • Mysti Adelliza says:

      Kyaaaa… makasih asri udah mampir juga di cerita yang satu ini…
      Ne, yoochun emang so sweet.
      Hehehe, itulah sifat jeleknya Sunghyo.
      Oh, kalo soal yang mana yang dipilih, jawabannya bakal ada nanti ^^
      Wah, begitu menurutmu ya? Bagus juga buat pertimbangan, asri ^^
      Gomawo sekali lagi ^^

  15. margaretaaryanto says:

    Halloooooooo… Aku baru pertama kali mampir ke blog ini. Trus ini fanfic yg aku baca pertama dari blog ini. Aku suka banget sama jalan ceritanya, kata kata yg di pake juga gampang di mengerti. Awalnya masih gak ngeeh sih kenapa si cewek gitu. Eh semakin kebawah semakin ngeeh. Sih cewek cuma pengen cari cinta sejati nyaa #ciyeee –”
    Mau password buat yg ke dua nya donkk. Email aku : margaretaaryanto@yahoo.co.id terima kasihh

    • Mysti Adelliza says:

      Haloooo, margareta… salam kenal dan selamat datang ^^
      Wow. Jadi ini ff pilihan pertamamu di blog ini? Waah… ^^
      Senangnya kalo kamu suka sama jalan ceritanya ^^
      Oke, segera dikirimkan passwordnya. Tunggu ya.

  16. Fanlee says:

    Aku lebih memilih Siwon dripda Yoochun
    Yoochun jelek XD
    Btw..tlg bilangin sunghyo donk thor,
    Panggil siwon dgn sebutn oppa biar lebih romantis gitu ㅋㅋㅋㅋ^^

    • Mysti Adelliza says:

      Halo lagi, Fanlee…
      Makasih lagi udah komen ya ^^
      Hahaha… yaah… ganteng dan jelek kan relatif. Selera juga kan hehehe…
      Ihihihi… iya, nanti dibilangin ^^
      Sekali lagi makasih, chingu ^^

  17. Spectra_KIM says:

    annyeong~ baru pertama mampir ini pas iseng gugling ktemu ff yuchun yg ini. keren bgt tulisan authornim *.*

    pingin baca sequel’y pas baca* di komen di password yak? boleh minta pw’y kah? kirim di email komen ini kalo boleh 🙂 :* :*

    khamsayong~

    • Mysti Adelliza says:

      Annyeong, spectra kim…
      Wah, selamat datang di blog ini dan salam kenal…
      FF yuchun yang lain ada juga kok, silakan buka menu Cerbung ^^
      Btw, makasiiiih banget atas komentarnya… senaaaang sekali kalo kamu suka ffnya hehehe…
      Iya, lanjutannya di pw. Boleh kok. Kirim ke email ini ya? Oke…
      Tunggu ya…
      Sekali lagi makasih udah komen hehehe ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s