Darkness Eyes #1

Title                       : Darkness Eyes (Part 1)

Author                  : Mysti Adelliza

Main Cast            : Kim Jun Su (DBSK), Min Min Mi (OC)

Genre                   : Drama, Sport

Length                  : Chaptered

Annyeong, Chingu-deul, apa kabar? Saya mau mempersembahkan FF baru nih, chaptered–alias bersambung, dan cast-nya Junsu. Enjoy and comment please^^

Kim Junsu tengah memandangi tayangan berita televisi di ruang latihan klub anggar. Dirinya tengah menunggu pengumuman daftar peserta Kejuaraan Anggar Internasional di klub latihan anggarnya. Banyak junior dan senior anggar yang berada di sana, menemani dirinya yang telah mengumumkan ke semua orang tentang dirinya yang sudah pasti masuk daftar.

Manajernya telah melarang sikap berkoar-koarnya yang selalu dia tampilkan sebelum ada kepastian. Akan tetapi, atlet anggar nasional, yang namanya kerap menghiasi koran olahraga ini, mengabaikannya. Dia terlihat begitu yakin kalau dia pasti ada dalam daftar tersebut. Dan para penggemar Junsu mendukung dengan gegap-gempita. Berkat dukungan itu juga pun, Junsu pun berkata dia telah menyiapkan paspor dan koper khususnya untuk segera bertolak ke Tokyo pada para wartawan.

Dan sekarang, ruang latihan klub anggar telah dipenuhi berbagai jenis orang. Tak hanya anggota dan para pelatih klub yang memenuhi tempat itu, tetapi juga pers dan penggemar fanatik Kim Junsu.

Semua mengarah ke televisi menyimak pria dari Kementerian Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata yang sedang berpidato.

“Berikut nama-nama peserta dari Korea untuk Kejuaraan Anggar Internasional yang akan diselenggarakan di Tokyo, Jepang…” Suara dari televisi itu menggema dan menggaung.

Junsu melebarkan matanya dengan antusias.

“Jung Yunho,” pria itu berucap di dalam siaran langsung tersebut.

Junsu menoleh ke sana kemari, memastikan kalau anggota klubnya tidak ada yang bersorak. Tiada yang bersorak menandakan kalau Jung Yunho bukan anggota klub Junsu.

“Park Jungsoo.”

Nama kedua tersebutkan di televisi. Dan lagi-lagi, tak ada yang menampilkan antusiasme karena mendengar nama itu. Mereka mengabaikannya begitu saja dan kembali menajamkan kuping untuk mendengar nama selanjutnya.

“Park Yoochun.” Nama ketiga disebut. Dan kali ini baru ada gerakan dari sekumpulan orang yang sedang menonton, sorakan serentak terdengar.

Junsu menunjuk televisi sambil berseru, “Dia temanku, Yoochun! Dia juga luar biasa dalam bermain anggar!”

“Berikutnya, Park Changi,” pria itu menambahkan.

Terdengar kembali riuh rendah keramaian di ruangan tersebut.  Hal itu menandakan kalau sudah ada dua nama yang mereka kenal. Sudah ada dua nama yang mewakili klub. Dan Junsu merasa sebentar lagi peruntungannya akan keluar menghampirinya. Dia hanya harus menanti dengan tenang dan berlagak santai.

“Changi, ya?” Junsu bertanya pada sembarang orang di sekitarnya, “aku sering berlatih tanding dengannya, si Park Changi itu.”

“Maka kalian akan menjadi trio klub ini yang mengoyak Tokyo nanti,” seseorang di sekitar Junsu menimpali.

Junsu senyum-senyum bangga, terbuai dan semakin percaya diri karena ucapan itu. Dia melewati tiga nama wanita yang kemudian satu persatu disebutkan. Sesungguhnya dia agak heran mengapa mereka menyisakan satu pria terakhir di balik penyebutan empat wanita. Lantas karena mendengar salah seorang yang berkata kalau yang disebutkan yang terakhir biasanya yang terbaik, Junsu langsung membusungkan dada kembali. Lebih-lebih, saat kerumunan di sekitarnya mulai menyebut-nyebut namanya yang kemungkinan besar keluar di akhir daftar tersebut.

“Belum tentu Junsu yang akan masuk,” seorang wanita berambut lurus dan bermuka bulat menyeletuk. Junsu dan orang-orang di sekitarnya langsung menengok pada wanita itu. Dan ternyata itu adalah manajer Junsu sendiri.

“Jangan dengarkan dia,” Junsu mengisiki para pendukungnya, “manajerku memang tidak suka melihatku senang.”

Aniyo, Junsu-ah,” bantah manajernya, “aku hanya berusaha membuatmu lebih realistis. Aku akan sangat senang kalau namamu yang disebut, tapi sekarang belum disebutkan.”

Junsu kelihatan masygul, lalu menggerutu.

“Dan peserta terakhir yang akan pergi ke Tokyo adalah…”

Agaknya semua orang di ruangan itu menarik napas, menanti. Terlebih Junsu, saking tegangnya dia, sampai-sampai menahan napas.

“Peserta terakhir adalah,” ucap pria itu dengan penuh jeda di tiap kata-katanya, “Lee Hyukjae.”

Junsu seperti terkena serangan jantung.

***

Terminal bus di Seoul terlihat kelabu di mata Junsu. Minuman beralkohol yang dia konsumsi tiga hari belakangan juga ikut membuat dia tidak tertarik pada apa pun yang ada di sini. Padahal dulu, ketika dia bepergian mengikuti kejuaraan-kejuaraan anggar di tingkat junior, dia begitu peduli pada apa pun.

Junsu duduk di sebuah kursi di terminal. Rambut yang biasanya rapi itu kini berantakan. Pakaiannya pun tak dapat dibilang layak. Tak lupa dia memakai masker dan kacamata hitam agar tidak ada yang mengenalinya.

Pengaruh alkoholnya memang sudah hilang. Dia sudah sadar. Akan tetapi, kesedihan yang melandanya masih menempel.

Masih terngiang di ingatannya ketika nama saingannya, Lee Hyukjae—atau yang biasa dia panggil Eunhyuk, yang justru tersebut pada akhir daftar peserta kejuaraan di Tokyo. Padahal, menurutnya, dia sudah melewati seleksinya dengan sempurna. Padahal semua orang telah menggadang-gadangkannya. Padahal dia tahu, dirinya sendiri yang meyakinkan, kalau kemampuan Eunhyuk masih di bawah dirinya.

Junsu menangkup mukanya dalam kedua telapak tangannya. Tindakan itu telah dia lakukan beberapa kali. Dan, sebetulnya, itu sama sekali tidak membuatnya lebih baik.

Tak ada yang bisa membuatku lebih baik, batin Junsu.

Berita dirinya terus-menerus diulas di media. Ucapannya yang penuh ambisi dan keyakinan kalau dia ada di daftar peserta pun kerap kali diputar ulang, menimbulkan komentar-komentar miring masyarakat. Semua yang menjumpainya kalau tidak memandang remeh, pasti bermuka mengasihani. Bahkan manajernya terus mengomelinya berkat sikap berkoar-koarnya tersebut. Dia tak tahan lagi. Dia pikir dia harus pergi.

Junsu bangkit., mendekati papan yang menampakkan perjalanan apa saja yang hari ini ada di terminal.

Jeongup. Dia menemukan nama tempat yang begitu asing baginya. Perjalanan dari terminal menuju ke sana akan dilaksanakan satu jam lagi. Dia mungkin bisa menanyakan tentang itu. Segera dia menghampiri loket pembelian tiket dan langsung mengantre untuk membeli tiket untuk perjalanan hari ini.

Ketika saatnya dia berhadapan dengan kasir yang berwajah agak terkejut begitu melihatnya membuka maskernya, mulutnya yang terbuka segera dipenggal oleh sang kasir, “Semua tiket terjual habis, Tuan. Kecuali tiket menuju Jeongup.”

Melihat reaksi si kasir, Junsu segera menepis semua pertanyaan yang tadi ingin dia tanyakan. Dengan semangat, dia berkata pada kasir itu, “Aku pesan satu tiket ke Jangeum itu.”

“Jeongup, Tuan. Jeongup,” ulang kasir loket tersebut.

Ne,” jawab Junsu, “aku pesan satu tiket.”

Setengah jam kemudian, Junsu sudah merapikan dirinya sedikit. Dia bertolak ke toilet, membenahi diri. Dia meminum secangkir kopi di kafe terminal. Dan kini dia sudah lebih segar. Dia melirik ponsel yang dia letakkan di meja. Sengaja dia tidak menghidupkan telepon genggamnya, karena dia tidak mau menerima telepon dari siapapun sekarang. Sepupunya yang juga tinggal di Seoul, Tan Hankyung, sudah pernah meneleponnya dua hari lalu—menanyakan kabarnya. Junsu bisa menebak, Sepupunya itu pasti telah mengetahui kabar kegagalannya menjadi peserta Kejuaraan Anggar Internasional.

Beberapa lama setelahnya, Junsu pun mendengar pengumuman kalau busnya akan berangkat.

Kakinya pun melangkah yakin, membawanya menaiki bus yang membawa dirinya menuju Jeongup.

Begitu menaiki bus, Junsu menemukan kalau bus itu sepi penumpang. Hanya ada beberapa penumpang yang sibuk dengan barang bawaannya atau mengobrol dengan rekan seperjalanannya. Junsu melewati mereka dengan buru-buru, menghindari agar sebisa mungkin tak ada yang mengenalinya.

Dirinya mendapatkan tempat duduk di dekat jendela. Dia duduk nyaman di sana, memandang awan putih berarakan yang terkena sinar matahari. Dia menyeringai.

Sampai jumpa Seoul yang menjengkelkan, ucapnya dalam hati.

Dan roda bus yang dia tumpangi berjalan.

***

Advertisements

21 thoughts on “Darkness Eyes #1

  1. rizqiesyaf says:

    hallooo (^^)/ chingudeul

    jarang banget bisa update tentang ff kalian TT
    mungkin mulai minggu depan bakalan hiatus TT
    wah aku pasti kangen kalian
    hiks hiks nungguin the outline
    changchang couple

    tapi itu sudah kewajiban uts menghantui chingudeul TT

    ditunggu part 2 nya
    penasaran gimana sih rasanya pergi ke tempat yang kita juga masih buta akan daerahnya

    buat kalian berdua
    fighting \(^^)/

    • Mysti Adelliza says:

      hallooooo… Kiki-ah…
      Wah, gomawo udah mampir dan komen lagi 😀
      Ooh.. Kamu mau uts? Waah… Semoga sukses ya. Mudahan nilainya bagus2 hehehe.
      Udah diduga, kamu lagi sibuk. Hihihi.
      makasih udah ngikutin the outline, dan yang lain, sebentar lagi proyek2 yang lain bakal kita pos, jadi kalo kamu udah selesai uts, banyak yang bisa dibaca (kalau kamu come back ke sini) hehe
      Darkness eyes juga bakal dilanjut. Ini kan novel juga 😀
      Sekali lagi, jeongmal gomawo, kiki. 😀 we’ll miss you too. 😀

  2. bumisme says:

    hai chingudeul aku komen lagi hehe
    ketauan deh abis obrak-abrik blog ini wkw
    trnyta ada yg maincast nya junsu disini, dia sombong bgt sih deuhh-__-
    ga sabar baca next chap nya

  3. Nan_Cho says:

    aku kira ceritanya ttg fantasi ternyata bukan, hahaha *salah tebak lagi*
    menarik, menarik, menarik..
    atlet anggar yg ambisius tiba2 galau terus pergi entah kemana utk meninggalkan Seoul yg menjengkelkan, apa di Jangeum eh! Jeongup, kkk *gara2 Junsu typo*
    apa nanti Junsu ketemu sama Minmi? atau Minmi itu manajernya? ah.. lagi2 nebak, hehe..
    Park Changi, namamu memang eksis dimana saja *KyuChang belum nampak, kkk*

    hola author eonni~
    aku baru mampir di fanfic ini, hehe..
    setelah kemaren mempersiapkan feel utk baca fanfic Junsu dgn nonton JYJ Concert jd suara Junsu waktu berbicara nyapa penonton sudah terekam di otakku, sejenak meninggalkan feel dari KyuChangChan utk dptkan feel MiSu couple, xixixi

    • Mysti Adelliza says:

      Huwaaaaa…
      Nancho~!! ♡♡♡♡ holaaa~
      Kamu baca ini juga akhirnya #gegulingansenang
      Senangnya kalo kamu suka ff ini…
      Hahaha, Junsu emang agak-agak… jadi kamu jangan kebawa dia ya hahaha
      Yep, Junsu pasti ketemu Minmi hahaha
      Ayo tebak2 ^^
      Changi ada tapi cuma cameo, nancho hahaha

      Waaw… kamu sampai mempersiapkan diri untuk dapet feelnya #terharu
      Mantengin si Junsu pula^^ makasih nancho^^
      Feel KyuChangChan belum ilangkah? #garuk2kepala

      Btw, makasih banget udah baca dan komen ff ini^^

      • Nan_Cho says:

        hahaha, iya..
        nama Changi jd cameo..

        pastinya author eonni, suara Junsu kalo lg bicara kayak anak kecil beda sama suaranya kalo lagi nyanyi, jd dengerin lagunya aja kurang nendang (?), kkk.. ^^
        beluuummmmm..
        feel KyuChangChan sepertinya sdh permanen kayak feelnya Kyuhyun yg udah permanen, hahaha..
        tenang aja author eonni, feel utk KuChangChan selalu di hati 😉

  4. Nan_Cho says:

    hahaha, iya..
    nama Changi jd cameo..

    pastinya author eonni, suara Junsu kalo lg bicara kayak anak kecil beda sama suaranya kalo lagi nyanyi, jd dengerin lagunya aja kurang nendang (?), kkk.. ^^
    beluuummmmm..
    feel KyuChangChan sepertinya sdh permanen kayak feelnya Kyuhyun yg udah permanen, hahaha..
    tenang aja author eonni, feel utk KyuChangChan selalu di hati 😉
    *mian MiSu couple, hanya sedikit membahas KyuChangChan, ^^*

    • Mysti Adelliza says:

      Hahaha…
      Setuju, suara Junsu pas lagi nyanyi sama ngomong beda.
      Apalagi ketawa hahaha
      Hahaha… belum ilang ya?
      Senangnya kalo efeknya permanen (?)
      Hihihi…

      (Minmi : gapapa, chingu) (?)
      Hahahaha…

  5. asrikim says:

    wah ceritanya kereeen~
    kita menjadi orang emang tidak boleh sesumbar,,sebelom mendapatkan hasilnya,,pada akirnya kita sendiri yg terluka kalu apa yg kita katakan,tak sesuai apa yang terjadi,,
    kyaaa~kasihan sekali sijunsu,,kau jg sih,sudah dibilangin jangan sesumbar dulu dan berkoar2 intuk sesuatu yg blom pasti,kau mlh melakukannya,pda akirnyq kau sendiri kan yg terluka,mlu dan jg sedih,,wah tapi kira2 pengalaman apa ya,yg bkal didapatkan junsu di jeongup?bikin penasraaaan~mau bca lanjutannya ah,

    • Mysti Adelliza says:

      Kyaaa… asri~~
      Kamu baca ini? #terharu
      Makasih ya asri udah mau baca DE series ^^
      DE series masih dalam tahap pengembangan, tapi senangnya kalo kamu suka ^^
      Dan, wah, kamu udah ambil intisarinya dari bab 1nya, seperti asri yang biasanya hehehe…
      Silakan dibaca selanjutnya, chapter 2 sampai final menunggumu 😉

  6. hyochun says:

    Wohoo.. aku baca darkness eyes.. aku sukaaaa bsnget darkness eyes, jd baca ini .. keke bang xia jadi cast ^^
    Wah.. jeongup mana tuh?? Apakah kota entah beranta?? #halah abaikan
    yah.. xia oppa jadi orang yg terlalu berambisikah?? Gausah nebak2 next ajalah 😀

    • Mysti Adelliza says:

      Waaah… kamu milih ini buat dibaca berikutnya? Betapa senangnyaaaa ^^ #narinari
      Dan darkness eyes emang keren lagunya ^^ dan ini juga, kabarnya, lagu favoritnya Junsu di album itu ^^
      Iya, junsu jadi main cast-nya. ^^
      Hahaha, Jeongup beneran ada lho ^^
      Nah, tepat, jawabannya ada di next chapter haha, btw, gomawo udah baca ini, hyochun :*

  7. harum567 says:

    Tau cerita kura kura dan kelinci kan? Junsu bagaikan kelincinya *entah siapa kura kuranya* Apa junsu bakal ketemu kembang desa di jeongup? Nyahaha. Kayaknya ff ini daebak juga, penasaran.

    • Mysti Adelliza says:

      Ooh… Dongeng itu ya? Ya tau! Si kelinci sombong banget ga taunya kalah kan? Kkkk…
      Waah… Kembang desa? Tebakan jitu kkk…
      Makasih udah penasaran kkk…
      Makasih juga udah komen haruummm ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s