The Outline #4

Title                  : The Outline #4

Author             : Mysti Adelliza

Main Casts      : Shim Chang Min (DBSK), Cho Kyuhyun (Super Junior), Kim Changi (OC)

Support Casts : Kim Sung Rin (OC)

Genre               : Drama, Mystery

Length             : Chaptered

Laporan-laporan yang dibuat oleh para stafnya ditumpuk di mejanya. Dia yang memaksanya menjadi seperti itu. Dia yang meminta para stafnya agar menyelesaikannya hari ini. Dan kini dia menyesal. Dia menjadi tak punya waktu untuk istirahat siang.

Saat selesai mengecek salah satu dari laporan-laporan itu, sayup-sayup terdengar suara eomma-nya. Semakin lama semakin keras. Dia bangkit, menoleh ke kiri lalu ke kanan dengan panik, tetapi dia tak menemukan eomma-nya yang menghampiri dan memanggil-manggilnya seperti dalam bayangannya. Beberapa detik setelahnya, dia baru tersadar. Telepon genggamnyalah yang berbunyi sejak tadi. Dia baru ingat tadi pagi ia baru menyetel nada dering khusus untuk panggilan rumah dengan suara eomma-nya yang dia rekam ketika membangunkannya. Seraya menertawakan dirinya yang telah bertindak konyol, dia mengangkat telepon genggamnya.

Yeoboseo, Eomma.”

“Kenapa lama sekali diangkatnya?”

“Ah,” dia mengerling sekitar dan menghembuskan napas lega karena tak ada yang memerhatikan kekonyolannya barusan, “pekerjaanku menumpuk, Eomma.”

“Oh,” desah eommanya, “malam ini tidak akan lembur, bukan?”

Aniyo. Wae?”

Tak ada jawaban.

Eomma?”

Ne, mian, Changi-ah. Eomma hanya—sedang berpikir.”

“Berpikir apa?”

“Malam ini, Shim Changmin mengundang kita untuk makan malam. Kita sekeluarga diundang. Begitu juga dengan keluarganya. Hm… Kupikir dia tertarik padamu. Tetapi sikapnya pada kita saat terakhir bertemu, dua hari yang lalu itu—tidak begitu menyenangkan, kau ingat? Dan, hal itulah yang membuat Eomma  bimbang,” ujar eomma-nya.

Kali ini anak perempuannya yang tak memberi jawaban.

“Changi-ah? Kau masih di situ?”

“Ah, ne, Eomma.”

“Changi,” panggil sang eomma getir, “kau akan pergi ke sana, bukan?”

Kim Changi menghela napasnya. “Baiklah, Eomma. Aku akan pergi,” tandasnya.

***

Malam dengan sinar rembulan sempurna pun tiba. Changi tak sempat pulang, berdandan, berganti pakaian, dan berbelanja bingkisan untuk keluarga Shim seperti yang dia lakukan saat kunjungan terakhir.

Setelah menyelesaikan segala tugasnya dengan waktu yang lebih dari yang diperkirakan, dia pun melaju ke restoran yang alamatnya diberitahu eomma-nya tadi siang melalui pesan teks. Sebetulnya eomma-nya sudah mencoba memberitahukan alamatnya melalui telepon. Dia melihat beberapa pemberitahuan panggilan tak terjawab sepanjang siang, namun tak dia perhatikan karena ponselnya diset dengan mode diam. Pengaturan nada dering menjadi mode diam itu pun spontan dia lakukan setelah selesai menerima telepon dari eomma-nya tadi pagi, takut kalau-kalau nanti ada yang mendengar nada dering konyol rekamannya.

Dua puluh menit dengan tancapan gas, dia berhasil sampai di tempat tersebut. Dia pun segera turun dan masuk ke restoran mewah itu.

Di dalam, dia menemukannya, Shim Changmin, pria yang baru dilihatnya dua hari lalu. Dia tak bisa memungkirinya; hari ini namja itu kelihatan tampan dengan setelan jas yang dikenakan. Yah, kurang lebih seperti hari pertama mereka bertemu, sebetulnya. Changi mungkin sudah jatuh cinta padanya sejak awal dan semakin menyukainya berkat penampilannya yang sekarang jika dia tidak ingat perilaku kurang sopannya dua hari lalu.

Mendadak, Changi merasakan keganjilan; di sekeliling namja itu tak ada siapapun. Dia tak menemukan eomma dan appa-nya. Begitu pula kedua orang tua namja itu. Bahkan, dia tak menemukan satu orang pun kecuali Shim Changmin yang duduk sendirian di tengah ruangan.

“Anda Kim Changi-shi?” tanya seorang pelayan seraya mendekatinya.

Terkejut, Changi lalu mengangguk.

“Anda sudah ditunggu oleh Tuan Shim. Mari saya antar.”

Changi mencengkeram tas kerjanya keras. Dia masih bergeming di tempatnya berdiri sekarang. Pikirannya masih berkecamuk. Apa yang namja ini pikirkan? Jangan bilang kalau dia menyewa restoran ini. Untuk apa?

“Nona?” panggil pelayan tersebut.

“Ah, ne,” jawab Changi. Dia lalu berjalan didampingi si pelayan, menghampiri Changmin yang kini menopang dagunya dengan telapak tangannya. Dia menemukan tumpukan piring kotor di depan Changmin yang tengah dibereskan pelayan lain.

“Tuan Shim, Nona Kim sudah datang.”

Changmin mengangguk dan pelayan-pelayan di sekitar mereka itu pun pergi. Dia mengarahkan penglihatannya ke Changi yang kini berdiri di hadapannya.

“Duduklah,” pinta Changmin—walaupun nadanya lebih terdengar seperti perintah.

Changi tak bergerak. “Dimana yang lain?  Appa? Eomma? Keluargamu? Dimana mereka?”

“Lihat jam berapa sekarang, Nona.”

Changi melirik arlojinya. Pukul 22.00.

“Mereka sudah pulang.Ini sudah bukan jam makan malam. Kau sudah dicoba berkali-kali ditelepon oleh orang tuamu,” imbuh Changmin.

Dalam hati, Changi menyesali kenapa dia belum mengubah pengaturan tanpa bunyi di ponselnya.

“Lagi pula mereka antusias sekali saat aku mempersilakan mereka pulang lalu bilang akan menunggumu,” timpal Changmin.

“Kenapa sama sekali tak ada tamu lain?” tanya Changi, mencoba mengabaikan perkataan Changmin sebelumnya.

“Apakah itu pertanyaan paling penting yang ingin kaulontarkan padaku sekarang?” tanya balik Changmin.

Changi mengernyitkan keningnya.

“Ada baiknya kalau kau duduk dulu,” pinta Changmin—kali ini lebih lembut.

Kursi itu sudah terbuka sejak tadi dan Changi segera mendudukinya.

“Apa maumu?” tanya Changi tak sabar.

“Nah, itu pertanyaan yang kunanti sejak tadi,” ujar Changmin disertai senyum puasnya. Dia lalu mengeluarkan sesuatu yang sejak tadi ada di pangkuannya; sebuah laptop. “Ada yang ingin kutanyakan padamu.”

Changi menunggu beberapa detik saat Changmin membuka, menyalakan, mengotak-atik, lalu membalik laptopnya agar mengarah pada Changi.

Wajah Changi mendadak pucat. Di monitor itu, dia melihat seorang anak perempuan manis yang kira-kira berumur enam tahun. “Kau mungkin kenal anak ini?” tanya Changmin.

Changi memandang curiga pada Changmin.

“Tenang saja, dia tidak kuapa-apakan. Aku hanya ingin tahu.”

Penyataan itu justru makin membuat Changi curiga, namun daripada berlarut-larut, dia memperjelasnya, “Dia Soojung.”

“Siapa dia?”

Changi mengerut, menatap Changmin tajam. Dia menundukkan pandangannya sejenak, seperti sedang memejamkan mata kemudian menatap namja itu lagi. “Uri dongsaeng,” jawabnya akhirnya.

Senyum hambar terkunci di wajah Changmin. “Kau yakin?” tanyanya.

“Kau—”

“Aku tahu gadis kecil ini anakmu,” tukas Changmin.“ Tidak perlu menyembunyikannya.”

Changi melotot, merasa disudutkan. Kedua tinjunya mengepal di bawah kolong meja. Dan dia kini menyadari mengapa Changmin menyewa tempat ini. Interogasi perlu tempat yang senyap.

“Aku cukup tahu banyak tentangmu,” ujar Changmin menimpali keheningan yang dilakukan Changi, “aku tahu orang-orang yang kau kenal. Atau lebih dari sekadar kenal, misalnya,” Changmin mengotak-atik laptopnya dan mengarahkannya lagi pada Changi, “Jung Yunho, Kim Heechul dan Kim Kibum. Kau mungkin kenal mereka?”

Tiga namja di monitor itu; Changi merasa terkena serangan jantung bahkan hanya dengan mendengar nama dan melihat foto mereka. Maka, dia memasang roman wajah yang sangat marah, dan bertanya setengah mengejek pada Changmin, “Kau sakit jiwa, ya?”

Changmin menampilkan mimik muka heran lalu mengiringinya dengan tawa meremehkan.

“Kau—apa sih yang kau dapatkan dari semua ini? Kau jelas mengerti, bukan? Ini privasi,” ucap Changi yang masih berupaya tenang.

Sambil mengelus dagu dengan arogan serta menatapi Changi dengan ekspresi menyebalkannya, Changmin menjawab dengan pertanyaan, “Salahkah aku jika ingin tahu tentangmu?”

Changi masih berusaha tampak setenang mungkin dengan berucap, “Aku tidak suka caramu. Kau—tindakanmu ini seakan-akan mengupas lagi sesuatu yang seharusnya sudah—” namun usahanya itu tak dapat membendung matanya yang kini digenangi air.

Changmin memberikan seri muka kaget paling mengesalkan yang pernah ada. “Sesuatu? Sesuatu katamu? Dan kau kini menangis. Hah. Akting yang menakjubkan. Seharusnya kau jadi aktris. Tetapi, Nona, yang aku inginkan darimu hanya kebenaran, bukan akting berurai air mata,” ujar Changmin dilanjutkan dengan sedikit tawa yang sama sekali tak enak dilihat oleh mata Changi.

“Kau tak pernah punya teman, ya?” tanya Changi, yang hatinya makin panas bergolak itu, sinis.

Air muka Changmin mulai berubah, sedikit tercengang dengan pertanyaan itu, meskipun wajah yang menunjukkan sikap merendahkan pada Changi itu tetap dia tunjukkan setelahnya. “Maksudmu?” tanyanya.

Changi sudah tak tahan melihat kesombongan namja di hadapannya ini dan mulai berteriak, “Hentikan sikap menjengkelkanmu itu!”

Changmin terperanjat.

“Kau tampak senang sekali ya? Kau senang membongkar urusan pribadi seseorang, mencampurinya, hah?”

Mulut Changmin ternganga sedikit demi sedikit. Dia merasa yeoja yang membentak-bentak di hadapannya pantas untuk diperhatikan sekarang.

“Tak pernahkah kau tahu, kalau ingin tahu seseorang secara intens kau harusnya mengenalinya, bertanya padanya, memberinya  kesempatan dengan percaya padanya. Bukan dengan menyelidiki di belakangnya, lalu mengumbarkannya di depan orang itu!Kaupikir semua orang di dunia ini kriminal? Harus diselidiki, diinterogasi sampai dia mengaku?” Changi meluap-luap.

Changmin akhirnya mengerjap-ngerjap. Dia kini menyadari kalau dirinya terkesima.

Changi kesal berlipat ganda karena rupanya hardikannya sama sekali tak ditanggapi dan namja yang dia hardik ini justru memasang tampang bodoh di hadapannya. Maka, dia pun mengambil tasnya dan berbalik untuk pergi.

Changmin bangkit, mengejarnya, dan, dengan sigap, menggenggam tangannya.

Changi menoleh, memperoleh namja yang jauh lebih tinggi dari dirinya itu sedang mengunci gerakannya dengan genggaman. “Mwo?!!” tanyanya kasar.

“Sebelumnya, aku tak menyangka reaksimu akan seperti ini dan—salahkah jika aku mencari informasi tentang calon istriku lalu menanyai kebenarannya kepadanya?” tanya Changmin.

Aniyo, kau tidak salah,” jawab Changi, masih murka, “sudah kubilang, yang salah adalah caramu.”

“Nah, kau bersikap begini hanya karena masa lalumu buruk, bukan? Jika masa lalumu cerah ceria, kau takkan—”

Geuromyo!!!” Changi mulai marah lagi. “Teruskan saja caramu ini dan aku jamin kau takkan mendapat satu orang pun di dunia ini yang mau menjadi istrimu, atau bahkan temanmu sekalipun,” ujarnya pedas. Lalu dengan kasar, dia menarik tangannya dari genggaman Changmin.

Changmin memandangi Changi yang berlari keluar sembari memijit angka-angka di telepon genggamnya. Panggilannya tersambung pada namja bertubuh kecil yang ada di depan restoran.

“Ya, Changmin-shi?” tanya namja itu.

“Dia pergi. Kalian ikuti dia,” komando Changmin.

***

Advertisements

50 thoughts on “The Outline #4

    • rizqiesyaf says:

      gomawoyo uri chingudeul uda mampir
      blm sempet buka blog sendiri hahaha

      jangan changi tetap sama abang changimin aja kan mereka couple favorit aku

      sorry ya banyak maunya
      sebenernya cuma minta satu doang kyuhyun jangan sengsara ^^

  1. rizqiesyaf says:

    rada egk enak perasaan gara2 kyu mulai masuk ke dalam poster hahahaha

    anarkis changmin di sini ^^

    aku cuma cinta sama jang wooyoung 2pm chingu
    yang lain cuma bisa di kagumi eh (?)

    semangat terus nyarik penerbitnya
    aku cuma bisa berharap kalian bakal sukses dan buku kalian akan terbit

    aku pasti beli lalu foto lalu upload
    terus aku bilang ini authornya temen aku (?)

    rizqiesyaf imnida 95line
    setelah sekian lam (?) baru bisa sekarang berkenalan secara resmi

    tetap semangat
    dan aku selalu menanti karya kalian
    penasran dan mulai nebak nebak sama part selanjutnya ^^

    fighting \(^^)/

    • Mysti Adelliza says:

      wuah… annyeong, chingu
      seneng liat komenmu lagi ^^

      kyu kan termasuk peran utama, ya dia ada di posternya pasti 😀

      whoa, anarkis ya? hihihi

      kamu suka wooyoung? pantes aja di blog kamu isinya banyak wooyoungnya ya ^_^

      hihihi, makasih supportnya, chingu

      btw, salam kenaaal >_<
      panggilnya kiki aja ya? hehe

      • rizqiesyaf says:

        iya tapi …
        kyu dapet couple lain ya please kyu nemuin cinta juga please jangan buat uri evil tersiksa hahahaha

        ntar aku kirimin kalian changmin deh kerumah masing2 hahahaha 😛

        hahaja iya
        kalian pernah mampir ke blog aku ?

        wah terharu (^^)

        yap semua orang manggil aku qie

        bangapta \(^^)/

        let’s be friend ^^

  2. bumisme says:

    ahhhh aku suka karakter changmin disini wkw dia sigap(?) orgnya trs byk ngomong *kan di ff sebelah dia aga misterius gitu*.
    meski dia suka seenaknya sendiri hehe

    • Mysti Adelliza says:

      Ahahaha. Changmin lebih menarik di sini daripada di Ruby ya? Di Ruby emang Changmin agak kurang “Changmin” sifatnya, makanya sering terpikir untuk diganti orangnya. Hehehe.

      Senang kalo kamu suka, chingu.
      Gomawo udah lanjut komen.
      Ayo, ayo, lanjut lagi. Hehehe.

  3. iec_4 says:

    Ckck..changmin psti ru nemuin org sprti changi..
    mpe trpana wkt changi mrh“ gegr tndkanny..
    msh pnsran appany krystl?? yunho kah??

  4. jengqish says:

    Thor aku makin penasaran dan gak mau berhenti2 baca karna saking kepo nya, kkk. Changmin akhirnya terpesona juga. Dan lagian si changi juga nutupin klo dia punya anak kenapa gak jujur aja coba, capedeh. Numpang baca selanjutnya lagi ya thor.

    • Mysti Adelliza says:

      Hwaaa… senengnya kalo kamu penasaran dan belum mau berhenti baca ^^
      Ne, Changmin terpesona juga^^
      Changi berbuat gitu ada alasannya, chingu.
      Yuk, silakan dilanjut bacanya^^

  5. taritory says:

    Thor pnasarann dee sbnrnya couplenya dsini siapa sii…chanchang oto kyuchan..???
    Aq sii pengennya kyuchann…hehehheehhe
    Gilaa changmin terang2an bgt y orgnyaa…lwkwkkwkwkwkw

  6. asrikim says:

    Makin bikin penasaran aja ceritanya,,,aq sebel deh sm si changmin kata2nya pedes banget dan nyakitin,,,semua orangkan pasti punya masa lalu termasuk changi,,,,seharusnya walaupun dia menyuruh orang untuk mencari inpormasi tntang changi dan mendaptkn inpormasina itu”” kan enggk hrus lanhsung ditembakin kechanginya gtukan,,kasihan kan changi mslalu yg mungkin ingin dikubur dan tidak ingin diingat jd teringan kembali,,,eonni kyu kok enggk nongol2 sih,,,gimanatu nasibnya bang evil,,,jd ikut sedih klau dia patah hati hiks,hiks,,,mian klau comennya kepanjangan,,eonni fighting,,

    • Mysti Adelliza says:

      Wah, makin bikin penasaran ya, Asri?
      Hehehe, jangan sebel dulu sama Changmin.
      Kyu emang belum nongol di sini. Nanti dia pasti muncul, sabar ya^^
      Wah, gapapa kalau kepanjangan. Malah senang banget ngeliat komen panjang.
      Makasih komentarnya, btw^^

  7. mayang says:

    dr awal bca part nie aq bertanya” kira” changi jdi.a am syapa ???!!!
    sebener.a dr awal bca before story.a aq udda suka am changi am kyu , makan.a aq bca lanjutan.a , tp setelah dibca lgy ternyata ini fokus am changmin and changi , dan kyu gg terlalu di bahas disni , tp gpp degh karna udda terlanjur dibaca aq lanjut aja , lagian cerita.a menarik kok ^^
    next ^^

    • Mysti Adelliza says:

      Hehe, kalo itu ga bisa dikasih tau, Mayang. Hehehe… Kalo dikasih tau di komenan part ini, jadi spoiler dong.
      Tapi kalo kamu penasaran jadinya sama siapa, ada baiknya kalo dibaca terlebih dulu? hehehe…
      Oh, ya, berarti dirimu lebih suka Kyuchan daripada Changchan ya?
      Btw, jeongmal gomawo ya udah mau baca ff ini. ^^

      • mayang says:

        aq emang lebih suka am kyuchan , soal.a lebih dapet feel.a , hehehehe
        kl am changmin aq gg dapet feel.a mungkin krn aq gg pernah bca ff changim kali ya , aq cuman suka bca ff kyu doank , dan ini ff changmin yg pertama kali aq bca , jd agak susah dapet feel.a ,
        makan.a aq mnta pw dluan aq pgen bca part akhir dlu kl am kyu jd.a aq terusin bca.a kl gg am kyu ya mau gg mau hrus ikhlas 🙂
        gpp kan aq bca part ending.a dlu sebelum aq lanjut bca , ke part 6 ,hehehehe ^^v

      • Mysti Adelliza says:

        Wah, kamu gak pernah baca ff Changmin toh.
        Tapi baca sesuatu yang baru ga buruk juga kan? ^^

        Umm… Sebetulnya terserah padamu, chingu^^
        Tapi disarankan lebih baik kamu bacanya runut, karena bagian ending bakal ga terasa apa-apa kalo bacanya ga berurutan, puncak konfliknya ga dapet karena petunjuk-petunjuk menuju puncak konfliknya ditebar dari part 1-20.
        Tapi ya kembali lagi padamu. ^^

  8. Zio09 says:

    Kyu gak temasuk dalam masa lalu.nya changi gr” kyu kan beraninya melihat dari jauuh~ ah kyu di sni kurang jantan *ups~

    Ah pengen cpt tau masa lalu saat dia ngandung krystal….next yah~

    • Mysti Adelliza says:

      Hahaha…
      Kyu ngamatin dari jauh sekaligus jadi sahabat baiknya Changi, chingu. Lumayan jantan lah #eh

      Hehehe…
      Yang bagian itu ga diceritain >,<

      Btw, makasih udah komen^^

  9. hyochun says:

    kebongkar .. tapi changminnya juga nyebelin.. meskipun dia bisa, dia juga harus jga hati tu orang.. masa selidiki di belakang, yah meskipun membantu.. tapi bener kata changi, lebih baik mendekati n bertanya langsung, itu jauuh lebih baik cwang oppa 🙂
    dan aku baca kata2 yg keluar dr mulut cwang itu terdengar datar loh .. bener gaauthor-ssi ? hehe
    dan sepertinya cwang oppa suka sama changi ^^

  10. harum567 says:

    Changmin nya minta dijambak wkwk. Liat nama kibum jadi inget belum nonton film dia *loh?* lanjutkan eonni bikin ff nya (y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s